Institut Ibu Profesional,

[Materi 4] Mendidik Dengan Kekuatan Fitrah

Saturday, November 12, 2016 Lendy Kurnia Reny 22 Comments



Setelah berkutat dengan NHW #3 yang bikin deg-degan karena harus mengungkapkan cinta (lagi) kepada suami (tentunya), saat ini saya masuk kelas Matrikulasi dengan materi :

Mendidik Dengan Kekuatan Fitrah
Materi #4 - Matrikulasi Koordinator IIP
---------------------------------------------------------------


Bunda, setelah kita memamahi bahwa salah satu alasan kita melahirkan generasi adalah untuk membangun kembali peradaban dari dalam rumah kita, maka semakin jelas di depan mata kita, ilmu-ilmu apa saja yang perlu kita kuasai seiring dengan misi hidup kita di muka bumi ini. Minimal sekarang anda akan memiliki prioritas ilmu-ilmu apa saja yang harus anda kuasai di tahap awal, dan segera jalankan, setelah itu tambah ilmu baru lagi. Bukan saya, sebagai teman belajar anda di IIP selama ini, maupun para ahli parenting lain yang akan menentukan tahapan ilmu yang harus anda kuasai, melainkan diri anda sendiri.


Apakah mudah? TIDAK.
Tapi yakinlah bahwa kita bisa membuatnya menyenangkan. 

Jadilah diri anda sendiri.
Jangan hiraukan pendapat orang lain. 
Jangan silau terhadap kesuksesan orang lain. 

Mereka semua selalu berjalan dari KM 0, maka mulai tentukan KM 0 perjalanan anda tanpa rasa “galau”.


Inilah sumber kegalauan diri kita menjalankan hidup, kita tidak berusaha memahami terlebih dahulu apa “Misi Hidup” kita sebagai individu dan apa “Misi Keluarga” kita sebagai sebuah komunitas terkecil. Sehingga semua ilmu kita pelajari dengan membabi buta dan  tidak ada yang dipraktekkan sama sekali. Semua seminar dan majelis ilmu offline maupun online kita ikuti, karena kekhawatiran tingkat tinggi akan ketertinggalan ilmu kekinian, tapi tidak ada satupun yang membekas menjadi jejak sejarah perjalanan hidup anda.

Check List harian sudah anda buat dengan rapi di Nice Homework#2, surat cinta sudah anda buat dengan sepenuh hati  di Nice Homework #3. Bagi yang sudah menemukan misi hidup dan misi keluarga, misi tersebut sudah kita tulis besar-besar di dinding kamar, tapi anda biarkan jadi pajangan saja. Maka “tsunami informasilah” yang anda dapatkan, dan ini menambah semakin tidak yakinnya kita kepada “kemampuan fitrah” kita dalam mendidik anak-anak. 


“Just DO It” 
Lakukan saja meskipun anda belum paham, karena Allah lah yang akan memahamkan anda lewat laku kehidupan kita.

Demikian juga dengan pendidikan anak-anak. Selama ini kita heboh pada Apa yang harus dipelajari anak-anak kita,  bukan pada untuk apa anak-anak mempelajari hal tersebut. Sehingga banyak ibu-ibu yang bingung memberikan muatan-muatan pelajaran ke anak-anaknya tanpa tahu untuk apa anak-anak ini harus melakukannya. 


Ada satu kurikulum pendidikan yang tidak akan pernah berubah hingga akhir jaman, yaitu 

Pendidikan Anak Dengan Kekuatan Fitrah


Tahap yang harus anda jalankan adalah sebagai berikut :
a. Bersihkan hati nurani anda.
Karena ini faktor utama yang menentukan keberhasilan pendidikan anda.

b. Gunakan Mata Hati untuk melihat setiap perkembangan fitrah anak-anak. 
Karena sejatinya sejak lahir anak-anak sudah memiliki misi spesifik hidupnya, tugas kita adalah membantu menemukannya sehingga anak-anak tidak akan menjadi seperti kita, yang telat menemukan misi spesifik hidupnyaw

c. Pahami Fitrah yang dibawa anak sejak lahir itu apa saja. 
Mulai dari fitrah Ilahiyah, Fitrah Belajar, Fitrah Bakat, Fitrah Perkembangan, Fitrah Seksualitas dan lain-lain. 

d. Upayakan proses mendidik yang sealamiah mungkin sesuai dengan sunatullah tahap perkembangan manusia. Analogkan diri anda dengan seorang petani organik.

e. Selanjutnya tugas kita adalah menemani
Sebagaimana induk ayam mengerami telurnya dengan merendahkan tubuh dan sayapnya, seperti petani menemani tanamannya. Bersyukur atas potensi dan bersabar atas proses. 

Semua riset tentang pendidikan ternyata menunjukkan bahwa semakin berobsesi mengendalikan, bernafsu mengintervensi, bersikukuh mendominasi dan sebagainya hanya akan membuat proses pendidikan menjadi semakin tidak alamiah dan berpotensi membuat fitrah anak anak kita rusak.

f. Manfaatkan momen bersama anak-anak. 
Bedakan antara waktu BERSAMA anak dan waktu DENGAN anak. 
Bersama anak itu anda dan anak berinteraksi mulai dari hati, fisik dan pikiran bersama dalam satu lokasi. 
Waktu dengan anak, anda dan anak secara fisik berada dalam lokasi yang sama, tapi hati dan pikiran kita entah kemana.

g. Rancang program yang khas bersama anak, sesuai dengan tahap perkembangannya, karena anak anda “very limited special edition” 


Bunda, mendidik bukanlah menjejalkan, mengajarkan, mengisi dan sebagainya. Tetapi pendidikan, sejatinya adalah proses membangkitkan, menyadarkan, menguatkan fitrah anak kita sendiri.

Lebih penting mana membuat anak bergairah belajar dan bernalar atau menguasai banyak pelajaran, lebih penting mana membuat mereka cinta buku atau menggegas untuk bisa membaca.

Jika mereka sudah cinta, ridha, bergairah maka mereka akan belajar mandiri sepanjang hidupnya. 

Salam Ibu Profesional,
/Tim Matrikulasi Ibu Profesional/



Sumber bacaan :
Irawati Istadi, Mendidik dengan Cinta, Jogjakarta, 2013
Harry Santosa dkk, Fitrah Based Education, Jakarta, 2016
Antologi, Komunitas Ibu Profesional, Bunda Sayang, Surakarta, 2014
Materi Matrikulasi sesi #3, Membangun Peradaban dari Dalam Rumah, 2016

NICE HOME WORK #4
📚 Mendidik Dengan Kekuatan Fitrah 📚 

Bunda dan calon bunda peserta matrikulasi IIP, masih semangat belajar?

Kali ini kita akan masuk tahap #4 dari proses belajar kita. Setelah bunda berdiskusi seru seputar mendidik anak dengan kekuatan fitrah , maka sekarang kita akan mulai mempraktekkan ilmu tersebut satu persatu.

a. Mari kita lihat kembali Nice Homework #1. 
Apakah sampai hari ini anda tetap memilih jurusan ilmu tersebut di Universitas Kehidupan ini? 
Atau setelah merenung beberapa minggu ini, anda ingin mengubah jurusan ilmu yang akan dikuasai?


b. Mari kita lihat Nice Homework #2, sudahkah kita belajar konsisten untuk mengisi checklist harian kita? Checklist ini sebagai sarana kita untuk senantiasa terpicu “memantaskan diri” setiap saat. Latih dengan keras diri anda, agar lingkungan sekitar menjadi lunak terhadap diri kita.

Link :

[Materi 2] Indikator Ibu Profesional


c. Baca dan renungkan kembali Nice Homework #3, apakah sudah terbayang apa kira-kira maksud Allah menciptakan kita di muka bumi ini? Kalau sudah, maka tetapkan bidang yang  akan kita kuasai, sehingga peran hidup anda akan makin terlihat.

Contoh
Seorang Ibu setiap kali beraktivitas selalu memberikan inspirasi banyak ibu-ibu yang lain. Bidang pelajaran yang paling membuatnya berbinar-binar adalah “Pendidikan Ibu dan Anak”. Lama kelamaan sang ibu ini memahami peran hidupnya di muka bumi ini adalah sebagai inspirator.

Misi Hidup : Memberikan inspirasi ke orang lain
Bidang        : Pendidikan Ibu dan Anak
Peran          : Inspirator


d. Setelah menemukan 3 hal tersebut,  susunlah ilmu-ilmu apa saja yang diperlukan untuk menjalankan misi hidup tersebut. 

Contoh :
Untuk bisa menjadi ahli di bidang Pendidikan Ibu dan Anak maka Ibu tersebut menetapkan  tahapan ilmu yang harus dikuasai oleh sebagai berikut :

1. Bunda Sayang : Ilmu-ilmu seputar pengasuhan anak
2. Bunda Cekatan : Ilmu-ilmu seputar manajemen pengelolaan diri dan rumah tangga
3. Bunda Produktif : Ilmu-ilmu seputar minat dan bakat, kemandirian finansial dll.
4. Bunda Shaleha : Ilmu tentang berbagi manfaat kepada banyak orang 


e. Tetapkan Milestone untuk memandu setiap perjalanan anda menjalankan Misi Hidup

Contoh :
Ibu tersebut menetapkan KM 0 pada usia 21 tahun, kemudian berkomitmen tinggi akan mencapai 10.000 (sepuluh ribu) jam terbang di satu bidang tersebut, agar lebih mantap menjalankan misi hidup. Sejak saat itu setiap hari sang ibu mendedikasikan 8 jam waktunya untuk mencari ilmu, mempraktekkan, menuliskannya bersama dengan anak-anak.  Sehingga dalam jangka waktu kurang lebih 4 tahun, sudah akan terlihat hasilnya.

Milestone  yang ditetapkan oleh ibu tersebut  adalah sebagai berikut  :
KM 0 – KM 1 (tahun 1) : Menguasai Ilmu seputar Bunda Sayang
KM 1 – KM 2 (tahun 2) : Menguasai Ilmu seputar Bunda Cekatan
KM 2 – KM 3 (tahun 3) : Menguasai Ilmu seputar Bunda Produktif
KM 3 – KM 4 (tahun 4) : Menguasai Ilmu seputar Bunda shaleha

Link :

Nice Homework 4


f. Koreksi kembali checklist anda di NHW#2, apakah sudah anda masukkan waktu-waktu untuk mempelajari ilmu-ilmu tersebut di atas. Kalau belum segera ubah dan cantumkan.

g. Lakukan, lakukan, lakukan, lakukan.
Sang Ibu di contoh di atas adalah perjalanan sejarah hidup saya,  sehingga menghadirkan kurikulum Institut Ibu Profesional, yang program awal matrikulasinya sedang kita jalankan bersama saat ini. 

Sekarang buatlah sejarah anda sendiri. 
Karena perjalanan ribuan mil selalu dimulai oleh langkah pertama, segera tetapkan KM 0 anda.


Salam Ibu Profesional,
/Septi Peni Wulandani/


Apa yang saya tulis pada Matrikulasi sebelumnya, belum ada perubahan. Hingga saat ini, saya masih menekuni peran saya sebagai Ibu yang suka belajar dan berbagi apa yang sudah saya pelajari melalui tulisan.

Semoga bermanfaat.
Salam hangat,

- Fasilitator IIP Bandung.

You Might Also Like

22 comments:

  1. Waktu bersama anak, bukan waktu dengan anak. Noted

    ReplyDelete
    Replies
    1. uhhuuk...iya mbak.
      Dan saya pun masih sering hanya dengan anak...bukan membersamai mereka.

      *Seddihh...

      Delete
  2. Perkara menetapkan milestone ini Len yang berat.
    Dalam menetapkannya mungkin masih bisa. Menjalankan ini yang butuuuuh banget konsistensi agar bisa sampai di tujuan tepat waktu. Dan itu berat T_T

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Nyak...
      Ini tugas-tugas pada aku tulis lagi trus aku tempel di kamar.

      terutama yang checklist harian.

      Kalo Nyak mah...uda lewat KM 3-4 nya yaa...

      Delete
  3. Waktu bersama anak, suatu saat hanya tinggal kenangan, saat anak-anak dewasa dan satu persatu hidup mandiri. Yup, selagi bisa, sekarang ini manfaatkan waktu bersama anak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Inggih mba Lianny...
      Kita sering lupa bahwa hidup itu sebentar saja.

      *mashaallah..

      Delete
  4. Jadilah diri anda sendiri.
    Jangan hiraukan pendapat orang lain.
    Jangan silau terhadap kesuksesan orang lain.

    **ngerasain banget perubahan positif setelah menerapkannya, Alhamdulillah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Un...
      Kl ngliat oranglain terus...ada perasaan tertekan ya...

      Delete
  5. Pngen punya bukunya ih, membaca satu per satu poinya merinding saya, masih jauh dari kenyataan...

    ReplyDelete
  6. Ilmu parenting yang seperti ini sangat berguna bagi para ibu di luar sana. Terima kasih sudah berbagi, Mbak Lendy. Selain materi, praktik langsung dengan berquality time bersama anak itu sangat penting.

    ReplyDelete
  7. Eh, ini emang ada program khusus beneran ya Mbak Lendy? Ini bagus bukan cuma buat dibaca kaum ibu. Tapi saya yang seorang Ayah pun amaze banget bacanya.

    Bisa kiranya bahas ini di grup, Mbak. :-)

    ReplyDelete
  8. aku belum punya anak :(
    rencannya mau bikin nanti malem mbak.

    btw, aku setuju sama mas dika.
    tolong di bahas di grup, Mbak. hehehe

    ReplyDelete
  9. Setuju banget. Misi keluarga itu penting banget. Karena tiap keluarga kan punya misi yg berbeda2. Dan seringnya, kita kebawa ikut2an keluarga lagi. Padahal mungkin misinya enggak pas dengan kondisi di keluarga kita.

    ReplyDelete
  10. aku belum punya anak, bisa beli di mana ya mbak? eh tp bener kata mas dhika dan bena bisa kiranya dibahas di grup. :)

    ReplyDelete
  11. ini bekal banget buat aku nanti kalo udah ada anak, makasih banyak mba ilmu banget nih :)

    ReplyDelete
  12. baca postingan mbak Lendy mencerahkan bangeeet. meski belum berkeluarga, seenggaknya jadi bekal kalau nanti sudah dipercaya untuk membangun keluarga :)

    IG : perempuannovember

    ReplyDelete
  13. Sesungguhnya banyak orang tua yang lupa bahwa mereka memiliki anak. Dengan tulisan ini, mudah2an banyak yang tersentuh dan sadar

    ReplyDelete
  14. Tulisannya mencerahkan banget Mbak. Harus cek tulisan sebelumnya juga nih biar lebih faham.

    Terima kasih ya Mbak

    ReplyDelete
  15. Ilmunya lengkap y Mbak Lendy.. hehe
    Emang si, mendidik anak ngga cuma pakai tegoran. Pendekatan ke anak seringkali susah, pdhal kita kan dulunya juga anak2. TFS, Mbak..

    ReplyDelete
  16. Duh membersamai anak..... seringnya sih dengan anak :(

    ReplyDelete
  17. oke jadi begitu caranya, makasih yah

    ReplyDelete
  18. "... buatlah sejarah anda sendiri"
    penggalan kalimat yang cukup mengena, dan tentu menyemangati.
    terima kasih

    ReplyDelete