Institut Ibu Profesional,

[Materi 10] Membangun Komunitas, Membangun Peradaban

Thursday, December 22, 2016 Lendy Kurnia Reny 3 Comments



Menjelang akhir materi di kelas Matrikulasi Koordinator IIP, kami merasa telah digodog oleh Bunda Septi. Bersama sahabat-sahabat seperjuangan, kami diberi materi penutup sekaligus pengunci dari keseluruhan ilmu yang sudah diperoleh (meminjam istilah dari sahabat RB Menulis, teh Shanty).


Membangun Komunitas Membangun Peradaban
Materi #10 - Matrikulasi Koordinator IIP
----------------------------------------------------------------------------



It takes a Village to raise a CHILD 
Perlu orang sekampung untuk membesarkan anak


Dulu, 
pendidikan dimaknai, dipahami dan dijalankan oleh para keluarga dan komunitas secara berjamaah. Pendidikan adalah sebuah keniscayaan untuk membentuk komunitas yang lebih baik. Demikian juga sebaliknya, komunitas memerlukan pendidikan untuk mengangkat derajat posisi peran personal dan komunal yang lebih baik di muka bumi ini serta memuliakan kearifan dan akhlak yang lebih baik bagi generasi selanjutnya.


Pendidikan bukan lahir karena adanya komunitas atau masyarakat, justru pendidikanlah yang melahirkan komunitas dan peradaban.


Pendidikan adalah tanggung jawab keluarga dan komunitas, karena keluarga dan komunitaslah yang paling paham peran yang paling bermanfaat untuk dirinya, yang paling tahu sisi kekuatan dan kelemahan dirinya.


Maka sudah saatnya kita mengembalikan keluarga dan komunitas yang kita bangun sebagai sentra pendidikan peradaban. Karena sesungguhnya peradaban adalah milik keluarga dan komunitas, karena di dalamnya akan muncul karya peradaban dan generasi peradaban yaitu anak-anak kita.


Tahapan Membangun Peradaban Dalam Komunitas

Membangun peradaban di komunitas bisa dijalankan seiring dengan membangun peradaban pada diri kita sendiri dan membangun peradaban di keluarga. 

a. Setiap manusia memiliki Misi Individual
Setiap manusia dilahirkan dengan karakteristik yang unik, maka tugas dan peran yang akan dijalaninya di muka bumi ini juga pasti unik.

b. Setiap keluarga memiliki Misi Keluarga
Misi keluarga bisa jadi misi bersama yang menjadi ke-khas-an setiap keluarga. Misi keluarga ini bisa jadi kombinasi dari sifat keunikan ayah, ibu dan anak. Atau bisa juga karena ada dominasi sifat yang mewarnai kekhasan keluarga. Di titik ini kita paham, apa rahasia besar Allah mempertemukan kita (suami dan anak-anak) dalam satu keluarga.

c. Setiap komunitas memiliki Misi Peradaban
"Burung yang berbulu sama pasti akan saling bertemu."

Inilah mungkin yang menyebabkan kita bisa berkumpul di komunitas Ibu Profesional, belum pernah saling ketemu muka, tapi rasanya sudah satu chemistry, karena sebenarnya kita sedang membawa misi peradaban yang sama. Yaitu membangun rahmat bagi semesta alam lewat dunia pendidikan anak dan keluarga. 


Values Komunitas

Values komunitas adalah berbagi dan melayani, bukan menuntut.

Maka :
a. Mulailah dari diri kita
b. Berbagi apa yang kita miliki
c. Satu alasan kuat karena anda ingin melayani komunitas, bukan untuk mencari popularitas, atau bahkan untuk memenuhi kepentingan diri sendiri.


Taat Asas

Kemudian tahap berikutnya adalah pahami, komunitas Ibu Profesional ini hadir dan berkembang di Indonesia. Dimana asas kebangsaan yang dianut di Indonesia adalah asas Bhineka Tunggal Ika. Sebagai warga negara yang baik kita perlu taat asas. Maka pahamilah bahwa kita ini adalah beragam.

Perbedaan itu akan menjadi rahmat, maka berjalanlah secara

HARMONI dalam KEBERAGAMAN
GERAK dan KEBERMANFAATAN


Jangan khawatr dengan jumlah, karena banyak dan sedikit itu tidak penting, yang penting adalah gerak anda dan asas kebermanfaatan kita bagi sesama.
Pakailah prinsip sebagai berikut :

❀Andaikata ada seribu ibu yang mau memperjuangkan peradaban melalui pendidikan anak dan keluarga, maka salah satunya adalah SAYA.

❀Andaikata ada seratus ibu yang mau memperjuangkan peradaban melalui pendidikan anak dan keluarga, maka salah satunya pasti SAYA.

❀Andaikata hanya ada satu ibu saja yang mau memperjuangkan peradaban melalui pendidikan anak dan keluarga, maka itulah SAYA.


Rumah adalah miniatur peradaban, bila potensi fitrah-fitrah baik bisa ditumbuh suburkan, dimuliakan dari dalam rumah-rumah kita, maka secara kolektif akan menjadi baik dan mulialah peradaban.

Selamat membangun komunitas, membangun peradaban, 
Selamat bergabung di komunitas Ibu Profesional dan bersiaplah menjadi Ibu Kebanggaan Keluarga.


Salam,
/Tim Matrikulasi Ibu Profesional/

Sumber Bacaan :
Soekanto, Soerjono. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT Radja Grafindo, 2000
Harry Santoso dkk, Fitrah Based Education, Jakarta, 2015
Ibu Profesional, Membangun Komunitas, Materi Perkuliahan IIP, 2015





Nice Homework #10
šŸ“šMembangun Komunitas, Membangun PeradabanšŸ“š

Kali ini kita akan melihat diri kita sebagai seorang yang sudah menjalankan peran di komunitas.
Lihat posisi anda saat ini, kemudian amati peran peradaban apa yang sedang dititipkan Allah di pundak teman-teman semuanya.

Maka buatlah essay pendek, dengan judul posisi anda saat ini.

Contoh
KOORDINATOR KOTA

a. Bagaimana kondisi masyarakat/member yang saya pimpin saat ini?
b. Tantangan-tantangan apa saja yang saya hadapi?
c. Apakah bakat yang sudah Allah berikan untuk saya, sehingga mendapatkan amanah ini?
d. Bagaimana saya menggunakan bakat tersebut untuk kebermanfaatan komunitas?
e. Tahun depan, perubahan apa saja yang akan saya lakukan untuk komunitas/Rumah Belajar/di kota kami?

Pertanyaan-pertanyaan itu hanya contoh, bisa anda modifikasi sendiri sesuai aliran hati yang teman-teman rasakan.

"Allah tidak akan membebani kaumnya, melebihi kemampuannya"


Salam Ibu Profesional,
/Septi Peni/



Komunitas Ibu Profesional - Komunitas pertama yang saya kenal dan membuka pemikiran saya mengenai indahnya menjadi Ibu. Bahwa menjadi Ibu itu bukan aktivitas yang memalukan dan rendah. Di komunitas ini, saya banyak bertemu dengan sesama Ibu yang sedang berjuang dan akan terus berjuang untuk membimbing buah hati menjadi generasi penerus yang islami dan menegakkan dien. Saya tentu sangat membutuhkan dukungan dari lingkungan. Untuk membentuk sebuah kebiasaan, mulailah saya memberanikan diri mengajukan ketertarikan saya dalam hal berkomunitas.

Pada dasarnya, saya senang bersosialisasi. Berhubungan dengan orang baru. Meskipun kadang mungkin terkesan sok tahu, saya sedikit demi sedikit belajar mengontrol diri dan emosi bahwa untuk menjadi seseorang yang tahu itu tidak cukup. Saya harus menjadi orang yang bijak. Sehingga dalam menyampaikan apa yang saya tahu, tidak membuat orang lain merasa digurui.

Maka,
langkah berikutnya setelah saya menjadi koordinator kota Bandung (dulu masih disebut koordinator, sekarang berubah menjadi fasilitator), saya banyak belajar. Hal yang tidak pernah saya lupakan dahulu adalah sebuah proses berharga.

Saling bertukar pikiran. Kadang debat pun tak terelakkan. 
Begitulah kami saling mendekatkan diri. 


Saya merasa kontribusi saya dalam komunitas Institut Ibu Profesional memang belum maksimal. Dikarenakan saya masih memetakan diri saya. Melalui program Matrikukasi, saya sedang mengumpulakan beberapa kepingan ilmu yang sudah saya dapatkan selama ini dan saya mencari benang merahnya.

Terus bergerak dan bergerak, minimal dalam keluarga dahulu, barulah keluar rumah untuk berkomunitas. Inside out. Begitu Bunda sering menyebutkan.

Posisi yang saya pegang saat ini adalah sebagai admin dari Bandung wilayah Utara 1 dan 2. Semoga ke depannya, saya bisa lebih menghidupkan ghirah (semangat) belajar Ibu-Ibu melalui kulwap dan rumah belajar yang tersebar di Bandung.

Amanah lain : (wakil) Rumah Belajar Menulis dan Fasilitator Rumah Belajar Dago.


Terima kasih, Bunda Septi.
Terima kasih, sahabat-sahabat fasil dimana pun berada, khususnya di kota Bandung.

Semoga saya tidak (pernah) berhenti belajar hingga hayat ini tak dikandung badan lagi.


Salam hangat,
// Fasilitator IIP - Bandung //

You Might Also Like

3 comments:

  1. Komunitas itu kalau diurus dengan serius tentu akan memberi banyak manfaat ya mba. berkumpul dgn orang positif dan dengan minat yang sama akan membawa manfaat berganda..

    ReplyDelete
  2. Dengan ikut komunitas, kita ga merasa sendiri menghadapi suatu hal. Bisa saling berbagi pengalaman dan pengetahuan. Memang efeknya berasa banget tapi harus pilih-pilih juga lingkungan yang positif supaya kita ketularan positif.

    ReplyDelete
  3. wah... ini kumpulan materinya banyak sekali. ini untuk materi mengajar atau apa mbak? jadi penasaran hehehe

    ReplyDelete