[Bunda Produktif] Rizqi Itu Pasti, Kemuliaan Harus Dicari

Wednesday, June 29, 2016 Lendy Kurnia Reny 2 Comments

                 




Alhamdulillah,
setelah melewati dua tahapan Bunda Sayang dan Bunda Cekatan dalam proses pemantasan diri seorang ibu dalam memegang amanahNya, kini sampailah kita pada tahapan Bunda Produktif.


Bunda Produktif adalah bunda yang senantiasa menjalani proses untuk menemukan dirinya, Menemukan misi penciptaan dirinya di muka bumi ini, dengan cara menjalankan aktivitas yang membuat matanya berbinar-binar. Sehingga muncul ghirah yang luar biasa dalam menjalani  hidup ini bersama keluarga dan sang buah hati.
Para Ibu di kelas Bunda Produktif  memaknai semua aktivitas sebagai sebuah proses ikhtiar menjemput rizqi.

“Mungkin kita tidak tahu dimana rizqi kita, tapi rizqi akan tahu dimana kita berada. Sang Maha memberi  Rizqi sedang memerintahkannya untuk menuju diri kita”.


Allah berjanji menjamin rizqi kita, maka melalaikan ketaatan padaNya, mengorbankan amanahNya, demi mengkhawatirkan apa yang sudah dijaminnya adalah kekeliruan besar. Untuk itu, Bunda Produktif sesuai dengan value di Ibu Profesional adalah  bunda yang akan berikhtiar menjemput rizqi, tanpa harus meninggalkan amanah utamanya yaitu anak dan keluarga.


Semua pengalaman para Ibu Profesional di  Bunda Produktif ini, adalah bagian aktivitas amalan para bunda untuk meningkatkan sebuah KEMULIAAN hidup.

“Karena RIZQI itu PASTI, KEMULIAAN lah yang harus DICARI”


Apakah dengan aktifnya kita sebagai ibu di dunia produktif akan meningkatkan kemuliaan diri kita, anak-anak dan keluarga?
Kalau jawabannya iya, lanjutkan.
Kalau jawabannya tidak, kita perlu menguatkan pilar Bunda Sayang dan Bunda Cekatan, sebelum masuk ke pilar ketiga yaitu Bunda Produktif.

Tugas kita sebagai Bunda Produktif bukan untuk mengkhawatirkan rizqi keluarga, melainkan menyiapkan sebuah jawaban “Dari Mana” dan “Untuk Apa” atas setiap karunia yang diberikan untuk anak dan keluarga kita.

Maka Bunda produktif di Ibu Profesional tidak selalu dinilai dengan apa yang tertulis dalam angka dan rupiah, melainkan apa yang bisa dinikmati dan dirasakan sebagai sebuah kepuasan hidup, sebuah pengakuan bahwa dirinya bisa menjadi Ibu yang bermanfaat bagi banyak orang.

                                 



Menjadi Bunda Produktif, tidak bisa dimaknai sebagai mentawakkalkan rizqi pada pekerjaan kita. Sangat keliru kalau kita sebagai Ibu sampai berpikiran bahwa rizqi yang hadir di rumah ini karena pekerjaan kita.

Menjadi produktif itu adalah bagian dari ibadah, sedangkan rizqi itu urusanNya.
Seorang ibu yang produktif bekerja itu agar bisa menambah syukur, menegakkan taat dan berbagi manfaat. Rizqi tidak selalu terletak dalam pekerjaan kita, Allah berkuasa meletakkan sekendakNya.

Bukankah Siti Hajar berlari tujuh kali bolak balik dari Shafa ke Marwa, tetapi zam-zam justru keluar dari kaki mungil Ismail?

Maka segala yang bunda kerjakan di Bunda Produktif ini adalah sebuah ikhtiar, yang wajib dilakukan dengan sungguh-sungguh (Profesional).
Ikhtiar itu adalah sebuah laku perbuatan, sedangkan Rizqi adalah kejutan.
Rizqi adalah kejutan yang datangnya dari arah tak terduga, untuk seorang ibu yang menjalankan perannya dengan sungguh-sungguh dan selalu bertaqwa.

Rizqi hanya akan menempuh jalan yang halal, maka para Bunda Produktif perlu menjaga sikap saat menjemputnya, kemudian ketika sudah mendapatkannya, jawab pertanyaan berikutnya “Buat Apa?”. Karena apa yang kita berikan ke anak-anak dan keluarga, halalnya akan dihisab dan haramnya akan diazab.


Salam Ibu Profesional,

/Septi Peni Wulandani/
www.ibuprofesional.com




video




Sesi tanya - jawab dengan Bunda Septi mengenai tema yang dibahas hari ini.

1. Diah Depok
Jadi sebaiknya kita mempraktekkan bunda sayang/cekatan dalam kehidupan sehari-hari dulu baru masuk ke ranah produktif ya?

Jawab :

Mbak Diah, 
namanya pijakan memang harus setahap demi setahap. 
Pijakan pertama yang kuat akan memudahkan langkah kita untuk naik ke pijakan berikutnya. Jadi Kuatkan dulu bunda sayang dan bunda cekatan (kalau bunda sudah memiliki anak-anak), tapi kalau masih gadis atau belum punya anak pijakannya, bunda cekatan baru bunda sayang. Kejar ilmunya dan segera praktekkan, agar lebih memudahlan langkah kita ketika masuk ke bunda produktif.


Bagaimana kalau kondisi memaksa kita untuk masuk ke ranah produktif terlebih dahulu. Bisa kita kerjakan secara paralel, namun perlu sebuah management waktu yang sangat bagus dan mengejar ilmu bunda sayang dan bunda cekatan dengan cepat, mengikatnya dengan amalan/praktek.



2. NiaNio-Depok

Bu Septi,
Saya mau curcol skaligus tanya konkrit. Saya masih kerja di ranah publik karena masih biayai adek-adek saya kuliah dan yang kedua masi kepikiran pembiayaan rumah (KPR).
Ingin betul mantap meyakini bahwa rizki itu pasti...tapi logika manusia saya masih menggoda...takut gak kebayar KPRnya..masih panjang belasan tahun lagi. Hihihi.... Bagaimana tips nya ya?

Jawab :

Mbak Nia, 
khawatir akan kondisi sendiri saat ini boleh, tapi yang tidak boleh adalah mengkhawatirkan rizqi dari Allah. Karena itu janji Dia yang akan menjamin rizqi makhluk Nya, selama kita TAAT kepadaNya. Prinsip saya dan keluarga ketika menghadapi sebuah kekhawatiran/ketakutan adalah memakai prinsip di bawah ini :

How to conquer the fear?
FACE the fear


Bagaimana cara mengatasi ketakutan? 
Hadapi ketakutan tersebut.


Hadapi, susun strategi, apabila gagal, ubah strategi berikutnya.
Karena There is NO FAILURE, only wrong result, so we have to change our strategy.


3. Laila di Aceh
Jika melaksanakan masing-masing pilar bertahap, dulu Bu Septi di tahun keberapa terjun ke pilar Bunda produktif,
Butuh berapa lama "selesai dengan diri sendiri".
Apakah ibu ritme mempercepat/memperlambat dlm menjalani hari-hari menemukan misi diri?

Jawab :

Mbak Laila,
saya menikah tahun 1995, dari tahun 1995 - 2003 saya fokus di Bunda Sayang dan Bunda Cekatan. Sambil momong anak-anak. 2003-2008 saya masuk ranah Bunda Produktif, masih dalam proses menemukan kesejatian diri, belum tuntas selesai dengan diri saya, masih terus mencari, tapi sudah ketemu jalannya. Tinggal kemauan saya sendiri mau lebih cepat atau lebih lambat mencapainya.

Sehingga yang penting adalah ketemu peran hidup, atur ritme kita sendiri, mau berapa lama sampai ke tujuan. Karena proses hidup yang saya pakai adalah :

Menemukan peran hidup - Menemani anak menemukan peran hidup mereka - Membantu teman-teman lain untuk menemukan peran hidupnya.

Tahap saya sekarang masuk di jalur yang ke 3, membantu teman-teman menemukan peran hidupnya.
Setelah itu ?
Tidak tahu, menunggu surat cintaNya, apakah akan mendapatkan tugas baru lagi, atau justru dapat surat cinta untuk pulang berkumpul bersama dengan para kekasihNya , insya Allah.


4. Shanty - Bandung
Kalau lihat materi yang Bu Septi sampaikan tentang kelebihan menjadi ibu produktif seperti membuat hidup penuh makna, meningkatkan rasa percaya diri dan gairah hidup, bermanfaat buat orang banyak, sampai ke meningkatkan imunitas tubuh segala. Ini keren banget.
Semua orang memerlukan hal ini untuk menjadi ibu yang bahagia.
Tapi di bagian awal, Bu septi mengatakan jangan dulu ke Bunda Produktif kalau Bunda Sayang dan Bunda Cekatannya belum beres.
Apa tidak kontradiktif ya Bu? Karena pengalaman saya dulu yang sempat ‘hanya’ mengurus anak dan rumah tangga, tanpa memikirkan kebermanfaatan untuk orang lain rasanya memang kurang optimal dan stress sendiri. Rasanya lebih nyaman dengan saat ini yang bisa menyediakan waktu untuk yang lain juga selain urus anak dan rumah tangga. Walau memang waktu produktifnya hanya sekitar 1-2 jam sehari.

Jawab :

Teh Shanty, 
kata "hanya" mengurus anak dan rumah tangga itulah yang mengurangi keihklasan kita untuk mencapai kebahagiaan sebuah proses. Tapi itu wajar dialami semua ibu, saya saja di tahun-tahun awal juga mengalaminya. Merasa tidak berguna kalau hanya ngurus anak dan rumah tangga saja. ternyata saya ketemu kuncinya :


a. Saya belum menerima fitrah saya sebagai ibu, masih memikirkan ambisi pribadi, karena saat itu melihat teman-teman seangkatan sudah pada "keren-keren" bekerja di sebuah kantor/perusahaan. 

Ternyata definisi "keren" saya saat itu belum berubah, masih rata-rata pemahaman kebanyakan orang.


b. Saya tidak memaknai hari-hari saya sebagai sebuah proses produktifitas.

akhirnya saya switch mindset saya dengan kalimat Pak Dodik sebagai penguat :

"Bersungguh-sungguhlah kamu di dalam, maka kamu akan keluar dengan kesungguhan"

Akhirnya saya buat jam kerja saya bersama anak-anak menjadi jam produktif. 
Tempat saya punya laboratorium untuk melangkah ke ranah produktif. Saya maknai kebersamaan bersama anak-anak saya menjadi kegiatan dinamis dan sangat menyenangkan. Akhirnya Allah memberikan jalan rizki yang tak terkira.


Kebersamaan saya bersama anak 1, diberi bonus usaha oleh Allah sebuah Jarimatika

Kebersamaan saya bersama anak ke 2, menghasilkan abaca-baca
Kebersamaan saya dengan anak ke 3, menghasilkan Jari Qur'an


Setelah anak besar-besar, saya diberikan amanah School of Life Lebah Putih dan Ibu Profesional.

Janji Allah pasti adanya.....tinggal bagaimana cara kita memaknainya.


5. Farda.
Bu septi setiap orang punya masa krisisnya masing-masing.
Nah...pada titik bagaimana ya kita bisa merasa merdeka, bebas dari ego, selesai dengan diri sendiri, dan yang terpenting, terinspirasi dari orang lain tanpa merasa terintimidasi?

Jawab :

Mbak farda,
kalau pengalaman saya, saya merasa merdeka bebas dari ego, selesai dengan diri sendiri, justru setelah berhasil melewati masa krisis. Silakan diamati, biasanya masa krisis itu akan datang secara periodik dalam rumah tangga kita. Kalau dalam kehidupan pernikahan ada yang 3 tahunan, 5 tahunan, atau 7 tahunan, masing-masing berbeda, dan akan selalu ada.

Kalau di anak-anak saya menamai dengan masa badai, hasil pengamatan saya ternyata anak-anak akan muncul masa badai di usia ganjil selama mereka berusia 0-15 th, setelah itu tenang, karena sudah aqil baligh.

Ketika melihat kehebatan orang lain, di masa-masa krisis, maka kata ajaib saya adalah menarik tapi tidak tertarik agar kita tidak terintimidasi. 
Saya hanya akan mengatakan, sudah di KM berapa keluarga sukses tersebut? 
Keluarga saya sedang di KM berapa? 
Apakah perjalanan saya ON Track atau OFF Track
Semakin mendekat ke surga atau menjauh? 
Apa yang sudah baik yang sudah dilakukan keluarga tersebut? 
Terinspirasi apa satu hal yang bisa saya lakukan esok hari agar hidup saya berubah? 


Tulis - Kerjakan satu-satu.


Pinjam istilah Renald Kasali, di change management mau lompat ke kurva s selanjutnya. 
Istilah di keluarga kami High Energy Ending, berhenti saat mencapai puncak. Untuk mencari tantangan gunung berikutnya.









Bagaimana dengan materi kali ini...?
Untuk lebih memahaminya, mari kita kerjakan Nice Homework #6 berikut :


[Bunda Produktif] Ikhtiar Menjemput Rejeki

Menemukan kekuatan diri dengan tools yang sudah dibuat oleh Abah Rama di Talents Mapping
Segera cocokkan hasil temu bakat tersebut dengan pengalaman yang sudah pernah Bunda tulis di NHW#1 – NHW #5.
Semua ini ditujukan  agar kita bisa masuk di ranah produktif dengan BAHAGIA. 


1. Ketahuilah tipe kekuatan diri (strenght typology) teman-teman, dengan cara sbb :
­čö╣ Masuk ke www.temubakat.com
­čö╣ Isi nama lengkap anda, dan isi nama organisasi : Ibu Profesional
­čö╣ Jawab Questioner yang ada disana, setelah itu download hasilnya
­čö╣ Belajarlah membaca hasil dan Lampirkan hasil ST30 (Strenght Typology) di Nice Homework #6.


b. Buatlah kuadran aktivitas anda, boleh lebih dari 1 aktivitas di setiap kuadran
Kuadran 1 : Aktivitas yang anda SUKA dan anda BISA
Kuadran 2 : Aktivitas yang anda SUKA tetapi  anda TIDAK BISA
Kuadran 3 : Aktivitas yang anda TIDAK SUKA tetapi anda  BISA
Kuadran 4 : Aktivitas yang anda TIDAK SUKA dan anda TIDAK BISA


  • Lingkaran merah adalah lingkaran yang menunjukkan kekuatan yang saya miliki berdasarkan hasil tes di web temubakat Abah Rama.

    Hasilnya adalah :
    * Educator : Saya adalah orang yang sangat bersemangat saat melihat orang lain maju dengan cara melatih keterampilan seseorang sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.
    Peran yang sesuai : Guru, dosen, tenaga pendidik, pelatih, dan lain-lain.

    * Journalist : Saya adalah orang yang mudah menyesuaikan diri dalam lingkungan baru sehingga memudahkan saya untuk mengutarakan ide dan berpikir strategis, baik secara lisan maupun non - lisan, atau tertulis maupun tidak tertulis. Mampu mengutarakan ide yang biasa menjadi luar biasa.

    * Distributor : Saya menjadi bersemangat dalam hal mengatur sumber daya, pekerja keras, dan pribadi yang bertanggung jawab.

    * Care Taker : Adalah pribadi yang dapat merasakan perasaan orang lain.
    Peran yang cocok dengan kepribadian Care Taker ini adalah Dokter dan perawat.

    * Server : Yaitu pribadi yang senang melayani dan mendahulukan orang lain.
    Dan yang cocok dengan kepribadian seperti ini adalah profesi dokter, perawat, technical support, customer service, dan bidang lain yang mengutamakan pelayanan.

    * Designer : Saya adalah orang yang memiliki banyak ide dan berpikir analitis.
    Profesi yang sesuai dengan bakat ini adalah arsitek, design grafis, web designer, perancang busana, dan lain-lain.

    * Creator : Adalah pribadi yang memiliki banyak ide, berpikir jauh ke depan dan strategis.
  • Lingkaran kuning (juga) adalah kekuatan saya, namun tidak dominan dalam diri saya.

    * Ambassador : Orang yang bisa dipercaya dengan kekuatan mudah menjalin persahabatan dan senang berkomunikasi dengan orang lain.

    * Communicator : Adalah karakter orang yang senang menjelaskan sesuatu hal yang biasa menjadi luar biasa dan senang tampil di hadapan publik.
    Profesi dengan karakter seperti ini yang cocok adalah presenter, guru, dan penceramah.

    * Seller : Seseorang yang senang mempengaruhi orang lain dengan cara memelihara hubungan baik, menonjolkan suatu produk yang bertujuan agar orang lain mau membeli barang tersebut.

    * Visionary : Adalah seseorang yang elihat jauh ke depan melampaui cakrawala dengan kemampuan analitis ataupun menggunakan intuisi atau perasaan.

    * Interpreter : Yaitu seseorang yang senang menyampaikan sesuatu yang biasa menjadi luar biasa dengan lisan ataupun tertulis dengan analisis yang tinggi.
  • Lingkaran yang hitam dan abu - abu adalah kelemahan saya. Seperti :

    Lingkaran hitam : Treasury, Commander, Administrator, Marketer, Producer, dan Stategist.
    Lingkaran abu-abu : Arranger, Evaluator, Explorer, Mediator, Operator, Selector.





Setelah saya memahami apa kekuatan dan minat saya dalam hidup ini, diharapkan saya bisa makin mendalami potensi tersebut.


Terimakasih, Bunda Septi . . .
Terimakasih, Ibu Profesional.


Salam semangat dari,

- Tim Fasilitator IIP Bandung.

2 comments:

About

Tuesday, June 21, 2016 Lendy Kurnia Reny 0 Comments




Mom Blogger - Have 2 amazing daughter.
Love to Learn.
Love Books and Korean Drama Addict!

for job required - Email : moetz.chayang@gmail.com

Enjoy ma blog, Chingu . . .

0 comments:

[Bunda Cekatan] Belajar Bagaimana Caranya Belajar

Tuesday, June 21, 2016 Lendy Kurnia Reny 6 Comments

                                           


BELAJAR BAGAIMANA CARANYA BELAJAR 
(Learn How to Learn)


Bunda,
sebagaimana yang sudah kita pelajari sebelumnya, bahwa fitrah yang dimiliki anak sejak lahir adalah fitrah belajar. Tetapi mengapa sekarang ada  anak yg senang belajar dan ada yang tidak suka.

Suatu pekerjaan yang berat jika dilakukan dengan senang hati maka pekerjaan yang berat itu akan terasa ringan, dan sebaliknya pekerjaan yang ringan atau mudah jika dilakukan dengan terpaksa maka akan terasa berat atau sulit.

Jadi suka atau tidaknya pada suatu pekerjaan itu bukan bergantung pada berat atau ringannya suatu pekerjaan. Lebih kepada rasa. Maka membuat kita bisa terhadap sesuatu itu mudah, menjadikannya suka itu baru tantangan.

Bagaimana halnya dengan belajar ?
berat atau ringan ?

Bisa berat bisa juga ringan bergantung bagaimana kita bisa mengemasnya dengan cara yang sangat menyenangkan atau tidak.

Bored. Source : Pinterest.


Melihat perkembangan dunia yang semakin canggih dapat kita rasakan bahwa dunia sudah berubah dan dunia masih terus berubah.

Perubahan ini semakin hari semakin cepat sekali.
Maka anak kita sudah tentu akan hidup di jaman yang berbeda dengan jaman kita.

Apa yang perlu kita persiapkan untuk anak kita ?

Anak kita perlu belajar akan tiga hal:
1. Belajar hal berbeda          
2. Cara belajar yang berbeda
3. Semangat Belajar yang berbeda


1. Belajar Hal Berbeda

Apa saja yang perlu di pelajari ?
yaitu dengan belajar apa saja yang bisa:
a.Menguatkan Imannya, ini adalah dasar yang amat penting bagi anak-anak kita untuk meraih masa depannya
b.Menumbuhkan karakter yang baik, seperti, kejujuran
c.Menemukan passionnya (panggilan hatinya)


2. Cara Belajar Berbeda
Jika dulu  kita dilatih untuk terampil menjawab, maka latihlah anak kita untuk terampil bertanya Keterampilan bertanya ini akan dapat membangun kreatifitas anak dan pemahaman terhadap diri dan dunianya.

Kita dapat menggunakan jari tangan kita sebagai salah satu cara untuk melatih keterampilan anak2 kita untuk bertanya.

Misalnya :
Ibu jari : How
Jari telunjuk : Where
Jari tengah : What
Jari manis : When
Jari kelingking : Who
Kedua telapak tangan di buka : Why
Tangan kanan kemudian diikuti tangan kiri di buka : Which one.

Jika dulu kita hanya menghafal materi, maka sekarang ajak anak kita untuk mengembangkan struktur berfikir. Anak tidak hanya sekedar menghafal akan tetapi perlu juga dilatih untuk mengembangkan struktur berfikirnya

Jika dulu kita hanya pasif mendengarkan, maka latih anak kita dg aktif mencari. Untuk mendapatkan informasi tidak sulit hanya butuh kemauan saja.

Jika dulu kita hanya menelan informasi dr guru bulat-bulat, maka ajarkan anak untuk berpikir skeptik

Apa itu berpikir skeptik ?

Berpikir skeptik yaitu tidak sekedar menelan informasi yang didapat bulat-bulat. Akan tetapi senantiasa mengkroscek kembali kebenarannya dengan melihat sumber-sumber yang lebih valid.


3. Semangat Belajar Yang berbeda.
Semangat belajar  yang perlu ditumbuhkan pada anak kita adalah :

a.Tidak hanya sekedar mengejar nilai rapor akan tetapi memahami subjek atau topik belajarnya.
b.Tidak sekedar meraih ijazah/gelar tapi kita ingin meraih sebuah tujuan atau cita-cita.

Ketika kita mempunyai sebuah tujuan yang jelas maka pada saat berada ditempat pendidikan kita sudah siap dengan sejumlah pertanyaan-pertanyaan. Maka pada akhirnya kita tidak sekedar sekolah tapi kita berangkat untuk belajar (menuntut ilmu).

Yang harus dipahami,

Menuntut Ilmu bukan hanya saat sekolah, tetapi dapat dilakukan sepanjang hayat kita.


Bagaimanakah dengan Strategi Belajarnya?

• Strategi belajar nya adalah dengan menggunakan Strategi Meninggikan Gunung bukan meratakan lembah.

Maksudnya adalah dengan menggali kesukaan, hobby, passion, kelebihan, dan kecintaan anak-anak kita terhadap hal2 yg mereka minati dan kita sebagai orangtuanya mensupportnya semaksimal mungkin.

Misalnya jika anak suka bola maka mendorongnya dengan memasukkannya pada club bola, maka dengan sendirinya anak akan melakukan proses belajar dengan gembira.


Sebaliknya jangan meratakan lembah.
yaitu dengan menutupi kekurangannya,

Misalnya apabila anak kita tidak pandai matematika justru kita berusaha menjadikannya untuk menjadi pandai matematika dengan menambah porsi belajar matematikanya lebih sering (memberi les misalnya).

Ini akan menjadikan anak menjadi semakin stress.

Jadi ketika yang kita dorong pada anak-anak kita adalah keunggulan / kelebihannya maka anak-anak kita akan melakukan proses belajar dengan gembira.

Orang tua tidak perlu lagi mengajar atau menyuruh-nyuruh anak untuk belajar akan tetapi anak akan belajar dan mengejar sendiri terhadap informasi yang ingin dia ketahui dan dapatkan. Inilah yang membuat anak belajar atas kemauan sendiri, hingga ia melakukannya dengan senang hati.

Happy. Source : pinterest


Bagaimanakah membuat anak menjadi anak yang suka belajar ?

Caranya adalah :
a. Mengetahui apa yang anak-anak mau / minati
b. Mengetahui tujuannya, cita-citanya
c. Mengetahui passionnya

Jika sudah mengerjakan itu semua maka anak kita akan meninggikan gunungnya dan akan melakukannya dengan senang hati.

 Good is not enough anymore we have to be different,  


Baik itu tidak cukup (karena orang baik itu banyak) tetapi kita juga harus punya nilai lebih (yang membedakan kita dengan orang lain).

Peran kita sebagai orang tua :
• Sebagai pemandu : usia 0-8 tahun.
• Sebagai teman bermain anak-anak kita : usia 9-16 tahun.
kalau tidak maka anak-anak akan menjauhi kita dan anak akan lebih dekat/percaya dengan temannya
• sebagai sahabat yang siap mendengarkan anak-anak kita : usia 17 tahun keatas.


Cara mengetahui passion anak adalah :
observasi ( pengamatan)
engage (terlibat)
watch and listen ( lihat dan dengarkan suara anak)

source : Pinterest


a. Perbanyak ragam kegiatan anak, olah raga, seni dan lain-lain.
b. Belajar untuk telaten mengamati, dengan melihat dan mencermati terhadap hal-hal yang disukai anak kita dan apakah konsisten dari waktu ke waktu.

Diajak diskusi tentang kesenangan anak, kalau memang suka maka kita dorong.


Cara mengolah kemampuan berfikir Anak dengan :


  • Melatih anak untuk belajar bertanya,
    Caranya: dengan menyusun pertanyaan sebanyak-banyaknya mengenai suatu obyek.
  • Belajar menuliskan hasil pengamatannya
  • Belajar untuk mencari alternatif solusi atas masalahnya
  • Presentasi yaitu mengungkapkan akan apa yang telah didapatkan/dipelajari
  • Sedangkan kemampuan berfikir pada balita bisa ditumbuhkan dengan aktif bertanya pada si anak.


Selamat praktek,
Salam Ibu Profesional,

/Septi Peni/





Sesi tanya jawab dengan para Ibu-Ibu pembelajar dala grup Matrikulasi.


1. Jadi lebih mengupas diri dan melatih masing masing anak ya..dan tidak bisa dengan waktu sebentar tapi bisa sepanjang masa..

Jawab :

Betul mbak Ina, karena anak-anak dan kita itu sebenarnya pembelajar sepanjang hayat, kalau ternyata tidak, berarti ada yang salah di prosesnya.


2. Ina-Balikpapan.
Bu Septi saat melepas ananda berjuang di negeri orang apa ada hal yang dikhawatirkan dan bagaimana mengatasi hal tersebut?

Jawab :

Ini proses belajar mbak. 
Ketika anak-anak saat memilih untuk kuliah di LN maka kami memperkuat materi pokok sebelumnya tentang iman, akhlak, adab dan bicara. 
Kemudian melatih kemandirian, melatih kuota gagal anak-anak, menstimulus kecerdasan finansial.


Hal ini yang kami utamakan. Jadi intinya adalah memperkuat "ketrampilan hidup" anak-anak. Setelah itu tinggal nguatin doa.



3.  Uput- Bandung.
Bu Septi, kalo menghadapi anak yang diesel gimana ya?
panasnya luamaaaaaa.....

Jawab :

Mulailah observasi, apa yang paling membuat dia bersemangat, kemudian libatkan diri kita dalam proses belajar bersama mereka,  jangan hanya menyuruh, tetapi memulai sebagai teman bermain. Selanjutnya, dengarkan suara anak, jangan terlalu banyak kasih perintah.


4. Dewi May- Bandung.
Bunda Septi....menstimulus kecerdasan finansial anak sejak usia berapa tahun?
Atau menjelang berangkat ke LN?

Jawab :

Ada tahapannya teh, sejak anak-anak sudah mengenal angka (sekitar usia 7-9 tahun) maka dikenalkan pada nilai mata uang.


Kemudian sekitar usia 9-12 tahun, dilatih dengan mengelola uang saku secara produktif, anak-anak sudah mengajukan mini budget.



Usia 12 tahun ke atas, mereka belajar mengelola uang secara produktif, uang saku sudah menjadi modal usaha anak-anak. Sampai akhirnya mereka siap mengelola uang dari hasil jerih payahnya sendiri di usia 14 tahun.




4. Laila Muhamad dib - Aceh

Bagaimana cara kita mengetahui passion si anak, jika sudah menelusuri dengan pengamatan, terlibat dan seterusnya? Kita selaku ortu merasa telah  menemukan yang "anakku banget", tapi masih ragu-ragu. Ini dibiarkan mengalir dulu atau langsung diarahkan....?
Takutnya ini hanya kesimpulan sementara.
Mengingat usia anak 6.6 tahun. Masih berubah-ubah kan ya kesenangannya?

Jawab :

Mbak laila, 
anak usia 2-7 tahun normalnya adalah selalu berubah-ubah keinginannya. 


Maka tugas kita adalah menemani perubahan itu dan bersungguh-sungguh menanggapinya, jangan disepelekan meski itu keinginan anak-anak yang kadang (masih dianggap kecil) sehingga tidak diperhatikan. 



FOKUS pada PROSES bukan pada hasil. 



Ketika kita menemani dengan sungguh sebuah proses menemukan passion, maka anak-anak akan paham, bagaimana cara merealisasikan sebuah keinginan menjadi realitas. Bidangnya boleh berganti-ganti. Nanti amati, apakah anak-anak konsisten dengan peran hidupnya atau bidang yang ditekuninya. Kedua hal ini akan berbeda perlakuan.



5. Evi Lampung.
Seperti saat ini, anak saya ( 4,5 tahun) bergairah sekali ketika bertanya dan bercerita tentang tata surya. Bagaimana ya bu tips nya, ketika kita ingin memperkenalkan yang lain sedangkan dia masih antusias dengan tema yang ini ?

Jawab :

Mbak Evi, 
kurikulum personal itu mengikuti anak, bukan anak yang diminta mengikuti kurikulum. 
Jadi ijinkanlah anak-anak mempelajari satu hal dengan mendalam, jangan khawatir ketinggalan materi yang lain, toh kita sudah tidak akan membandingkan pencapaian anak kita dengan anak orang lain kan?
Yakinlah bahwa sejatinya anak akan hidup dengan satu keahlian yang dikuasai secara mendalam.


6. Diah Soehadi - IIP Depok
Anak umur 9 tahun, dari kecil suka hal-hal logic math, saat ini suka bikin program komputer khususnya game, waktu luangnya habis untuk maen yoyo dan bikin game.
Apakah masih harus ditambah wawasan atau sudah mulai bisa masuk ke gagasan?

Jawab :

Mulailah masuk gagasan mbak, dengan memandu anak-anak membuat papan mimpinya (vision board). Setelah itu buatlah kegiatan brainstorming bersama anak. Dengan panduan pertanyaan :
a. Mengapa
b. Bagaimana Jika
c. Mengapa tidak


Nanti akan muncul berbagai gagasan anak-anak bisa dari yoyo nya atau dari gamenya. Kita harus pintar-pintar memaknai dimana waktu yang paling banyak dihabiskan oleh anak-anak sebagai waktu yang paling dinamis dan produktif belajar.


7. Diah -Depok.
Lanjut nanya ya bu.
Pernah saya tanyakan , mimpi-mimpinya apa aja?

Jawabannya, sekarang aku pengen bikin game yang ada trik yoyo nya, tapi kalo besar aku mau jadi walikota.

Jawab :

Tanggapi serius, mulai dengan "game yang ada trik yoyonya", jangan pernah tanyakan apapun, yang ada di depan kita saat ini, hadapi, toh kita juga tidak bisa memastikan kelak dia jadi gamers atau walikota kan? Maka perkuat prosesnya. 
Dulu ketika Ara usia 9 tahun bilang ingin jadi peternak, saya tanggapi dengan serius sampai muncul Moo's Project. tapi apakah hari ini dia jadi peternak, ternyata tidak, Peternakan itu ternyata hanya lantaran Ara memperkuat peran hidupnya sebagai integrator. Saat ini di usianya yang ke 18 tahun, Ara sangat mahir sebagai integrator, dalam berbagai bidang.


8. Noni - Tangerang.
Bu Septi... untuk mendidik anak kita menjadi generasi khalifatul fil ardh yang berkualitas.
Berarti kan anak harus  mendapatkan guru pendidik utama yang berkualitas pula. Yang artinya orangtuanyalah yang haruslah lebih dahulu berkualitas.

Apa katagorinya bahwa orangtua cukup berkualitas ilmunya dalam mendidik anak-anaknya...
dan seandainya orangtua belum berkualitas maka prosesnya "learning by doing" dalam proses learning by doing ini mana dulu yang harus diutamakan... mohon masukannya bu Septi.

Jawab :

Mbak Noni, 
anak-anak mungkin bisa salah memahami perkataan kita, tetapi mereka tidak pernah salah mengcopy. maka  berperilaku baik terlebih dahulu untuk bisa dicontoh anak-anak, itu modal awal kita menjadi orangtua yang berkualitas. 


Kemudian mau menemani anak berproses mencari ilmu, tidak harus serba bisa, tetapi selalu punya kemauan kuat untuk menemani, selayaknya petani menemani tumbuhnya tanaman dengan cara alami tidak digegas. 



Ingat dalam mendidik anak kita tidak mengajar melainkan 'tumbuh bersama'. 



Sehingga indikator orangtua berkualitas adalah diantara keduanya, anak dan ortu, bersemangat belajar bersama-sama. Pengalaman saya mendampingi anak-anak secara optimal itu ternyata hanya di 12 tahun pertamanya saja. 

Setelah itu anak-anak akan menemukan orangtua "ideologis" nya yang akan menjadi mentor mereka. Yang paling sedih adalah kalau kita hanya berfungsi menjadi orangtua 'biologis' saja, tidak sekaligus menjadi orangtua "ideologis"nya disaat mereka masih dibawah 12 tahun. Anak-anak akan berbeda value hidup dengan kita, sehingga proses berikutnya mereka akan mencari orangtua "ideologis" yang sevalue dengan dirinya, yang belum tentu sevalue dengan kita. Ini menyedihkan.



9.Evi -Lampung.
Jadi kurikulum personal itu dibuat berdasarkan keinginan anak. Cara nya bagaimana bu?
Apa kita tidak boleh ada target untuk iman, adab dan lain-lainnya?

Jawab :

Selama ini anak-anak dipaksa mengikuti kurikulum yang sudah baku, padahal kurikulum itu harusnya mengikuti karakter unik anak kita. 


Apa tidak boleh bikin target? Boleh. 

Target itu sesuaikan dengan value keluarga dan diskusikan dengan anak. Kalau saya dulu memberikan keleluasaan anak-anak untuk menentukan targetnya sendiri. Dan kita apresiasi ketika target tersebut tercapai, dengan family forum yang bernama mastermind. Kalau tidak tercapai, maka sebulan sekali kami buat family forum yang bernama "False Celebration", sehingga anak-anak akan belajar dari kesalahan mereka.




10. Ai IIP Bandung.
Usia 0-7 tahun, tugas kita sebagai pemandu, untuk pemandu kemandirian, OK.
Tapi saat bermain, kami (saya dan suami) lebih sering jadi teman bermain.
Bagaimana, apakah sudah tepat bu?

Jawab :


Teh Ai, pemandu itu bahasa kerennya adalah fasilitator, maka apa tugas fasilitator adalah menemani proses tumbuh kembang anak, tanpa menjudge apapun, kemudian memberikan makna dalam proses tersebut. Maka baik dalam proses memfasilitasi kemandirian maupun memfasilitasi bermain, semua dalam posisi "menemani" tidak ada yang "menggurui".





11. Fahrina - Singapore.
Bu Septi.. Apa yang sebaiknya dilakukan bila anak sdh 15 tahun dan belum yakin passionnya apa. Bagaimana caranya agar cepat tau passionnya.

Jawab :

Beragamkan aktivitasnya mbak, jangan seragam. Maksud saya seragam, anak-anak hanya berada di lingkungan yang sama terus menerus dengan aktivitas yang sejenis. 
Misal pagi-sore mereka sudah sekolah full day, kemudian hari libur masih diminta memperkuat bidang pelajarannya. hal ini membuat anak-anak kehilangan waktunya untuk mengeksplore dirinya. Sehingga proses menemukan dirinya akan jadi lambat. anak-anak akan jadi orang yang ikut mimpi orang lain, atau ikut arus saja, tanpa tahu potensi kekuatan dirinya.


                                             



NICE HOMEWORK #5
MATRIKULASI INSTITUT IBU PROFESIONAL  BATCH #1
BELAJAR BAGAIMANA CARANYA BELAJAR (Learn How to Learn)


Setelah kemarin kita mempelajari  tentang “Learn How to Learn”  maka kali ini kita akan mempraktekkan bagaimana diri kita sebagai Ibu pembelajar sejati, memahami tentang karakteristik belajar kita, sehingga kelak anda bisa memiliki panduan untuk melihat bagaimana anak anda belajar.

Beberapa hal yang perlu kita ketahui dalam proses belajar adalah
a. Diri Sendiri
b. Kemampuan dan gaya belajar anda
c. Proses yang berhasil anda gunakan dan dibutuhkan
d. Minat dan pengetahuan atas mata pelajaran yang diinginkan


PANDUAN BELAJAR UNTUK BELAJAR
Silakan amati proses belajar bunda saat ini ketika menjadi ibu, baik dalam mengikuti forum belajar di grup Ibu Profesional maupun di forum-forum belajar yang lain. Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini sebagai panduan:

TAHAP 1

Mulai dengan masa lalu.
Apakah pengalaman anda tentang cara belajar? Apakah anda . . .
­čö╣Senang membaca? memecahkan masalah? menghafalkan? bercerita? menterjemah? berpidato?
­čö╣Mengetahui cara meringkas?
­čö╣Tanya diri kita sendiri tentang apa yang kita pelajari?
­čö╣Apakah punya akses ke informasi dari banyak sumber?
­čö╣Menyukai ketenangan atau kelompok belajar?
­čö╣Memerlukan beberapa waktu belajar singkat atau satu yang panjang?
­čö╣Apa kebiasaan belajar anda? Bagaimana tersusunnya? Yang mana terbaik? terburuk?
­čö╣Bagaimana saya berkomunikasi untuk mendapatkan feedback system terhadap apa yang saya pelajari? Melalui ujian tertulis, naskah, atau wawancara?


TAHAP 2

Teruskan ke masa sekarang, ambil mata pelajaran dalam universitas kehidupan ini.
­čö╣Berminatkah anda?
­čö╣Berapa banyak waktu saya ingin gunakan untuk belajar?
­čö╣Apa yang bersaing dengan perhatian saya?
­čö╣Apakah keadaannya benar untuk meraih sukses?
­čö╣Apa yang bisa saya kontrol, dan apa yang di luar kontrol saya?
­čö╣Bisakah saya merubah kondisi ini menjadi sukses?
­čö╣Apa yang mempengaruhi minat anda terhadap pelajaran ini?
­čö╣Apakah saya punya rencana?
­čö╣Apakah rencana itu mempertimbangkan pengalaman dan gaya belajar anda?


TAHAP 3

Pertimbangkan Proses :
­čö╣Apa judulnya?
­čö╣Apa kunci kata yang menyolok?
­čö╣Apakah saya mengerti?
­čö╣Apakah yang telah saya ketahui?
­čö╣Apakah saya mengetahui pelajaran sejenis lainnya?
­čö╣Sumber-sumber dan informasi yang mana bisa membantu saya?
­čö╣Apakah saya mengandalkan satu sumber saja (contoh, buku)?
­čö╣Apakah saya perlu mencari sumber-sumber yang lain?
­čö╣Sewaktu saya belajar, apakah saya tanya diri sendiri jika saya mengerti?
­čö╣Sebaiknya saya mempercepat atau memperlambat?
­čö╣Jika saya tidak mengerti, apakah saya tanya kenapa?
­čö╣Apakah saya berhenti dan meringkas?
­čö╣Apakah saya berhenti dan bertanya jika ini logis?
­čö╣Apakah saya berhenti dan mengevaluasi (setuju/tidak setuju)?
­čö╣Apakah saya membutuhkan waktu untuk berpikir dan kembali lagi?
­čö╣Apakah saya perlu mendiskusi dengan "para pembelajar" lain untuk proses informasi lebih lanjut?
­čö╣Apakah saya perlu mencari "para ahli", guru atau pustakawan?



TAHAP 4

BUAT REVIEW
­čö╣Apakah kerjaan saya benar?
­čö╣Apakah bisa saya kerjakan lebih baik?
­čö╣Apakah rencana saya serupa dengan "diri sendiri"?
­čö╣Apakah saya memilih kondisi yang benar?
­čö╣Apakah saya meneruskannya; apakah saya disiplin pada diri sendiri?
­čö╣Apakah saya merasa sukses?
­čö╣Apakah saya merayakan kesuksesan ini?

Selamat memahami diri dalam proses belajar.

Salam Ibu Profesional.





Dimulai dari masa lalu yang saya rasakan ketika anak-anak adalah kegemaran saya menulis. Saya gemar membaca dan menulis ulang apa yang sudah saya baca. Hingga kala itu, saya merasa ingin menjadi penulis cerpen yang namanya kerap muncul di majalah langganan saya, Bobo.

Alhamdulillah,
minat membaca ini memang tidak serta merta tumbuh. Namun senantiasa dicontohkan oleh kedua orangtua dan kakak-kakak saya. Bapak yang tiap pagi membaca koran sebagai sarapan sehat untuk otak, hingga saat ini pun, yang menurut saya koran sudah bisa diakses online dengan piranti canggih dalam genggaman, Bapak tetap berlangganan koran kesayangan yang selalu diantar jam 6 pagi tepat. Bagaimana dengan Ibu?
Walaupun ibu saya ini tipikal Ibu rumah tangga sejati dengan segudang bakat keibuannya, yakni memasak, baking a cake, menjahit, menyulam, dan tak ketinggalan aktivitas spiritual yang rutin dilakukan bersama Ibu-Ibu pengajian di kompleks perumahan, Ibu pun gemar melahap majalah Kartini dan beberapa tabloid yang ada di rumah kala waktu senggang.
Memang tidak seperti Bapak yang mengkhususkan waktu untuk membaca, namun Ibu juga tak ingin ketinggalan dengan berita hariannya.

Berangkat dari situlah, saya gemar juga membaca apa yang Bapak atau Ibu baca. Karena tampak menarik. Namun karena kadang bahasanya terlalu berat (apalagi kalau bahasannya politik, banyak kosa kata yang saya tidak paham), akhirnya saya menyerah. Saya kembali lagi dengan bacaan yang sudah disediakan kedua orangtua dan buku cerita lungsuran kakak.

Kedua orangtua saya tidak pernah menolak apapun yang saya beli ketika kami berbelanja ke toko buku. Saya dibebaskan memilih. Saya penggemar jenis buku komik, namun saya merasa mubadzir mengoleksinya, jadi saya akali dengan tetap membaca komik namun dengan menyewa di tempat persewaan buku dekat rumah. Dan buku-buku yang saya koleksi adalah jenis novel.


source : pixabay


Cara belajar yang saya sukai adalah dengan menulis.
Namun sayang, dari dulu hingga kini kebiasaan saya tidak berubah. Saya suka sekali belajar dengan deadline. Istilah kerennya, SKS (Sistem Kebut Semalam).
Rasanya semua ide bisa tercurah dengan cepat ketika saya tahu bahwa ini ada batas waktunya.

Hasilnya bagaimana ketika saya bekerja dengan deadline?
Kadang saya merasa puas, namun seringkali pula saya merasa ada kekurangan di sana-sini. Atau malah tidak tuntas dalam pengerjaannya. Bisa jadi ada beberapa point yang tertinggal.

Karena jaman sekarang semua serba online, jadi kebiasaan menulis saya, saya pindahkan dengan menulis di Blog. Ternyata sangat mengasyikkan. Karena menulis ini membutuhkan konsentrasi yang tinggi untuk mendapatkan bahasa yang berasal dari kalbu, saya suka menulis saat anak-anak dan suami sudah lelap.
Dalam waktu malam yang syahdu.

Karena kekayaan kosa kata ketika menulis adalah dengan membaca, saya juga tak lupa banyak membaca buku yang sekiranya mendukung untuk tulisan saya. Atau memang sengaja mengambil buku yang sedang dibutuhkan jiwa.

Misal,
ketika saya sedang belajar dengan Ibu-Ibu IIP, baik di kelas Matrikulasi atau di kelas offline (Rumah Belajar), saya akan membaca buku yang berkaitan dengan tema yang akan dibahas. Ceritanya siih...biar gak kudet (kurang apdet) gituu...heehhe....



Dari dulu sampai sekarang, saya menyukai belajar kelompok. Keuntungan yang saya rasakan adalah ketika saya tidak paham, saya bisa langsung bisa penjelasan dari teman-teman yang ada. Ketika pulang ke rumah, saya hanya tinggal me-review apa sudah dipelajari tadi.

Sama seperti saat ini.
Ketika saya belajar di Universitas kehidupan bersama komunitas Institut Ibu Profesional, saya usahakan mengikuti kegiatan Rumah Belajar yang sekiranya sesuai dengan passion saya. Mengikutinya dengan rutin adalah cara saya mengumpulkan puzzle-puzzle materi dari Bunda Sayang.

Untuk jam belajar, saya selalu meluangkan waktu di malam hari untuk mengkaji dan memahami apa saja yang sudah saya baca di grup, terutama grup Matrikulasi.
Tak jarang, karena cara belajar saya adalah dengan menulis ulang, maka ilmu yang saya dapatkan tersebut, saya copy-paste khusus di word, kemudian saya atur kembali tata letak tulisannya hingga rapih dan enak untuk dinikmati.

Untuk menjadi sukses dalam pengaplikasian ilmu yang sudah dipelajari, tentu membutuhkan waktu. Sedikit demi sedikit seiring dengan berjalannya waktu, saya yakin - saya dapat sukses menjadi Ibu Profesional seperti dambaan keluarga.


Tahap akhir dari tugas kulwap NHW #5 ini adalah mempertimbangkan proses yang tengah saya jalani dengan memahami cara belajar saya yang "agak" lambat menurut orang lain, karena menggunakan cara menulis kembali. Bahkan saat ini, saat membaca sebuah buku pun, saya tulis ulang. Selain belajar membuat mindmapping, saya juga belajar untuk tidak menyia-nyiakan ilmu yang sudah saya baca.

Cara belajar jenis lain yang saya suka adalah auditori. Yaitu mendengarkan oranglain yang memberi materi, dan saya hanya tinggal mencatat point-point penting yang disampaikan. Kemudian saya tulis kembali di blog. Tak lain tujuannya adalah agar ilmu tersebut dapat saya baca (lagi) sewaktu-waktu.

Untuk memahami apa yang saya pelajari, saya gemar bertanya dengan ahlinya. Baik dari lingkungan saya terdekat (yang saya anggap ilmunya lebih umpuni) atau membuka diskusi dengan sesama teman. Menurut saya itu sangat efektif, karena melalui bertemu dan sharing dengan teman adalah salah satu cara saya mengevaluasi diri. Apa yang selama ini saya lakukan sudah benar atau masih harus diluruskan kembali.


Sekian cara belajar saya yang saya pahami hingga saat ini.

Terimakasih.


- tim fasilitator IIP - Bandung.

⁠⁠[18:55, 6/19/2016] IIP - Chika

6 comments:

Blogger

Jalan - jalan Cantik Ke Elisamonic(dot)com

Wednesday, June 15, 2016 Lendy Kurnia Reny 14 Comments

Beauty Blogger dari Bekasi ini memiliki kekuatan dalam me-review hal-hal yang berkaitan dengan keseharian menggunakan bahasa yang asik banget. Ringan dan saya seolah merasa kenal dekat dengan mba Monic. *Eheem...apa saya yang sok kenal yaa...





Karena mba Monic ini adalah seorang Beauty Blogger, maka di blognya pun banyak sekali mengulas masalah kecantikan dan kosmetik. Ada banyak tips juga buat kamu yang mengalami masalah keseharian seputar kecantikan. Seperti tulisan mba Monic tentang:




Dan kelebihan dari postingan mba Monic, beberapa ada tautan link dari tulisan yang berkaitan. Jadi, ketika berkunjung akan terasa lengkap sekali informasi yang diperoleh. Mudah sekali bagi saya untuk merasa betah berlama-lama membaca tulisan yang bernuansa cerah, simple, dan di tiap kata terasa sangat dekat dengan dunia kita.

Header Blog Mba Monic


Merasa tidak bisa dandan, maka saya pun mencari-cari tulisan mba Monic di kategori Beauty. Dan sayapun mendapati ide berdandan yang kece banget. Ga menor (kaya tante-tante), tapi tetap elegan.




Yang menyenangkan, saya selalu merasa segar dengan ide-ide tulisan ataupun dengan gambar yang berkaitan dengan artikel tulisan. Apalagi ditambah tautan video. Kece banget, mba Monic!
Gambar yang ditampilkan pun engga pernah pelit ukuran, selalu dalam size normal. Benar-benar memuaskan pembaca.

Contoh Postingan Mba Monic



Sebenarnya saya masih mencari-cari niche dalam blog saya. Karena saya baru pindahan rumah (baca : baru beli domain, heehhe...). Ternyata kisah yang sama pun dialami dengan mba Monic. Namun doi yang sudah memiliki jam terbang lebih banyak di dunia blogging, sejak tahun 2009, akunya... tentu mantap dalam memilih niche yang pas untuk rumah barunya. Dengan mantap, mba Monic bakal berkata "Saya Blogger Bekasi - Beauty and Lifestyle Blog".

Kisahnya bisa dibaca di tulisan ini,




Kisahnya sederhana dan bahasa yang digunakan komunikatif. Dengan masih mempertahankan platform wordpress, mba Monic terlihat sangat senang bahkan mengajak para pembaca untuk sumbang ide mengenai tema di blog utamanya ini. Rupanya, ada blog lain (sebelum ini) yang juga dikelolanya. Namun sayang, saya belum berhasil masuk ke blog mba Monic yang terdahulu. Jadi belum bisa membandingkan. Kenapa ingin dibandingkan yaa...? Hehee....abaikan. Saya suka begitu kalau bertemu dengan dua hal.



Beberapa ide yang saya dapatkan hasil jalan-jalan cantik saya ke blog manis mba Monic :
  1. Karena blog saya yang terdahulu juga wordpress, saya selalu merasa kurang PeDe dalam memasang gambar, apalagi kalau gambar yang dipasang lebih dari satu, biasanya akan otomatis tersusun secara collage. Dan ini otomatis akan memperkecil size gambar tersebut.
    Ternyata,
    Asal gambar yang kita tampilkan cukup representatif (dan karena ini adalah blog pribadi), jadi sah-sah aja kita mau pasang gambar berukuran besar.
    Malah membuat pembaca merasa nyaman menikmati blogwalking ke blog mba Monic.

  2. Jadilah diri sendiri.
    Karena saat membaca tulisan mba Monic, saya merasakan konsistensi dalam berbahasa. Santai dan selalu membawakan dengan apa adanya.

  3. Belajar menuangkan ide yang out of the box.
    Suka gaya menulis yang tidak biasa teman-teman Blogger Perempuan. Saya merasa beruntung diperkenankan bergabung, karena masih terbilang newbie di dunia per-bloggeran.
    Tulisan review mba Monic ini salah satu yang saya kagumi. Gaya menulis yang tidak terkesan apa adanya, sarat makna dan menggambarkan apa yang di-review dengan gaya bahasa yang tidak berlebihan. Pas banget dengan filosofi mba Monic tentang Balancing Life.

  4. Ide menuliskan sahabat Blogger di salah satu laman khusus.
    Iya yaa....karena kita Blogger, yang hidupnya gak jauh-jauh dari dunia maya alias dunia tidak nyata, jadi kita perlu berkomunitas. Tujuannya selain memperbanyak teman, juga memperbanyak ide dalam menulis. Dan juga, bisa nebeng terkenal....kaya saya. Heehhe...nama blog saya masuk dalam list sahabat Blogger mba Monic. Haturnuhun, mba...
Numpang tenar di Blog Mba Monic


Akhir dari review saya tentang Blogger dari Bekasi yang selalu tampil cantik apa adanya ini adalah terus menginspirasi yaa, mba Monic. Saya menunggu tulisan mba Monic selanjutnya...^^




Yang pingin blogwalking atau cari inspirasi tentang kecantikan, bisa menimba ilmu di sini . . .

Blog : elisamonic.com   ||   Facebook : elisa monic   

Instagram @elisachic  ||   Twitter @elisamonic




Salam hangat,










14 comments: