Abah Ihsan,

[Resume] Fenomena Perubahan Perilaku Pada Anak

Saturday, July 30, 2016 Lendy Kurnia Reny 22 Comments

Pernah melihat anak yang bicaranya kasar?
Atau ((jangan-jangan)) anak sendiri yang seperti itu?

Bagaimana perasaan anda sebagai orang tua?
Pastinya akan kaget, sedih, marah, dan kecewa. Lalu anda bertanya-tanya...darimanakah kata-kata tersebut bisa terucap oleh anak?

Apakah dari lingkungan?
Gadget?
Teman?
Atau secara tidak sadar, kita sendiri yang mengajarkan kepada anak?


Simak penuturan dari Abah Ihsan Ibn Baihaqi.
Ayah dari 6 orang anak yang luar biasa dan penggagas Program 1821.

Founder dari Auladi Parenting School.
Sekolahnya para orang tua dalam mengasuh anak.



Orangtua tentu tidak menginginkan anaknya berkata kasar, berperilaku kasar dan tidak menurut. Namun apa yang sudah orangtua lakukan agar anak sesuai dengan yang kita impikan?

Abah menggagas Gerakan 1821.

Gerakan yang sangat efektif dan bisa dilakukan oleh orang tua manapun. Hanya 3 jam sehari dari seluruh waktu kita selama sehari penuh, menemani anak tanpa gadget. Gadget yang dimaksud tidak hanya TV, handphone, tablet, dan alat komunikasi lainnya, namun benda elektronik yang berbentuk kotak, seperti mesin cuci, kompor, dan lain-lain.

Hanya fokus ke anak.




Manfaat Gerakan 1821 :
  • Mendekatkan hubungan anak dan orangtua. 
    Dengan kedekatan ini diharapkan pengaruh orangtua terhadap anak lebih banyak daripada pengaruh oranglain terhadap anak.

    Orang lain yang dimaksud salah satunya adalah teman.

    Anak-anak (seharusnya) akan lebih terpengaruh dengan orang tua yang dikenalnya lebih dahulu daripada oleh teman, yang baru dikenal beberapa hari. Asalkan orangtua memiliki kedekatan terhadap anak.
  • Bisa menginstal software anak.
    Kita memberikan waktu untuk anak, menerapkan batasan, bahkan memberikan ketegasan terhadap anak.

    Untuk anak di di bawah 10 tahun, kita bisa mengkhatamkan kisah-kisah Nabi dan Rasul. Menanamkan nilai-nilai moral pada anak melalui kisah-kisah teladan tersebut.

    Sehingga jika anak usia remaja tidak mau sholat tepat waktu, harus senantiasa di suruh-suruh, maka cek kembali. 
    Apakah kita sudah menginstalkan software yang benar saat mereka anak-anak?

  • 1821. Memberikan contoh pada anak.
    Contoh bahwa kita peduli terhadap anak, ketimbang dengan gadget dan urusan lain. Bahwa kita siap mendengarkan, bermain dan mengobrol bersama anak.
Dibaca baik-baik untuk para orang tua yang merasa tidak mampu menjalankan 1821.
Mungkin inilah penyebabnya.



Gerakan 1821 itu adalah gerakan tidak wajib bagi orangtua, namun bisa jadi menjadi salah satu cara bagi orangtua untuk membuat kedekatan orangtua dan anak.


Contoh yang bisa dilakukan saat 1821 diantaranya :
  • Bermain
  • Berbicara
  • Belajar

dan gerakan ini efektif untuk segala usia.
Siapa sih...yang tidak suka ketika tiba-tiba orang tuanya menjadi ingin mengobrol bersama anak? Hingga anak dewasa pun, rasanya ingin memiliki kedekatan dengan orangtua. Mengobrol dan bercerita layaknya bersama seorang teman. Teman yang (paling) memahami diri kita.



Anak-anak yang mudah terpengaruh orang lain karena tidak mendapatkan pengaruh dari orangtua.


Peran ayah dalam tumbuh kembang anak.

Tidak ada peran Ayah yang bisa digantikan oleh Ibu, begitupun sebaliknya. Tidak ada peran Ibu yang bisa digantikan ayah.

Jadi selalu ikutsertakan sosok Ayah dalam melakukan pengasuhan.
Karena menurut penelitian, dengan hadirnya sosok Ayah, maka anak akan menjadi lebih percaya diri dan tangguh dalam menghadapi bullying.


Tips Menciptakan Keluarga Harmonis.

Jangan memotong kebijakan salah satu orang tua.
Misal : Ibu bilang "jangan", namun ayah berbicara sebaliknya, dengan alasan, “Masa gitu aja ga boleh?
Hal seperti inilah yang akan melemahkan anak.





Sesi Tanya - Jawab.

1. Anak saya itu sudah SMA Abah, laki-laki. Namun susah sekali bila di suruh sholat. 
Bagaimana caranya yaa, Abah?

Parents - Bandung.

Jawab :

Banyak hal yang harus disadari orang tua sebelum menuntut anak. Kita menuntut anak agar mudah kalau disuruh sholat, namun sudahkah kita menamatkan kisah Nabi dan Rasul saat mereka masih kecil?
Sudahkah kita bangun kedekatan bersama anak?
Memberikan pengertian tentang sholat, bukan hanya menyuruh mendirikan sholat?

Maka :
  • Sediakan waktu bersama anak.
  • Ketemu sama anak, dan ada untuk anak.

Orangtua ketika bertemu dengan anak selalu mengisi dengan nasehat. Di situlah harga diri anak hancur karena overdosis nasehat.

Ibarat gelas kosong yang di isi air terus menerus. Lama-kelaman akan luber dan tumpah. Itulah yang menyebabkan anak tidak menurut saat diberi nasihat.

  • Ajak ngomong saat anak tidak bermasalah.

Kalau sedang bermasalah, dengarkan dulu apa masalah anak.



2. Abah, anak saya itu manja sekali. Masuk sekolah selalu nangis, tidak mau ditinggal. Bagaimana mengatasi anak agar menjadi lebih berani?

Parents-Jakarta

Jawab :

Mengatasi anak manja dan tidak mandiri. Berikut tips dari Abah agar anak mandiri :

  • Menjadi orangtua yang berkompeten.

Karena orang tuanya selalu tidak tega saat akan meninggalkan anak di sekolah. Ketika anak menangis, maka orang tua selalu datang lagi. Peluk, bujuk. Anak keudian berhenti menangis.
Namun ketika berpisah, ia akan menangis lagi. Dan orang tua kembali datang karena alasan tidak tega. Hal ini menimbulkan anak menjadi cemas dan tidak mandiri. Separation anxiety atau kecemasan saat berpisah.

Karakter ini yang terbentuk pada anak.

Bagaimana seharusnya?
Ketika anak menangis saat di tinggal, Tega(s).
Tega dan Tegas dalam menghadapi sikap anak.

Mereka tidak akan menangis lama. Ataupun meskipun lama, itu tidak akan dibiarkan oleh pihak sekolah. Biasanya pihak sekolah yang baik dan berkompeten, bisa mengatasi masalah (umum) seperti ini.



3. Saya punya anak usia SMA. Dan masih tidur bersama orang tua.
Bagaimana cara memisahkannya yaa, Abah?

Parents

Jawab :

"Perintahkanlah kepada anak-anak kalian untuk shalat ketika usia mereka tujuh tahun, pukullah mereka karena (meninggalkan) nya saat berusia sepuluh tahun dan pisahkan mereka di tempat tidur"

(HR. Abu Daud)


Berpedoman pada adab tidur bersama (mudhaja'ah), maka anak memang perlu dilatih untuk tidur sendiri. Tidak tiba-tiba diminta untuk bisa mandiri, tidur sendiri tanpa orang tua ketika berusia 10 tahun. Namun berproses.

Cara melatihnya adalah membiasakan anak tidur ditemani dahulu saat usia 4 tahun, namun ketika anak sudah terlelap, orang tua pindah tidur di kamar sendiri.

Bagaimana kalau anak nangis?
Datangi dan temani lagi. Lalu setelah lelap, pindah ke kemar masing-masing lagi.

Bagaimana kalau anak tidak tidur-tidur?
Abah yakin anak memiliki limit (kemampuan maksimum) bahwa dia akan lelah dan akhirnya tertidur sendiri.

Orang tua harus TEGA(S)dengan anak.
Tega dan Tegas akan membuat anak mandiri, tidak manja.





Pesan terakhir Abah saat acara ini adalah jadilah orang tua yang berpengaruh bagi kehidupan anak. Jika anak sudah merasa nyaman, ia akan cerita segala hal kepada orang tua. Bukan kepada teman. Anak akan nyaman curhat sama orang tua.

Mashaallah,
Nikmat sekali bukan?

Karena orang tua yang mau ngobrol dengan anak, bukan hanya ngomongin anak, akan mencegah pengaruh bullying dari lingkungannya.




Kesimpulan :

Sikap orangtua di hadapan anak :
  • Menyediakan waktu untuk anak
  • Sering sering ngomong sama anak, bukan diomongin.
  • Belajar bersama anak.


Sekian resume dari saya.
Salam hangat,

// Alumnus PSPA // PDA Abah Ihsan dan tergabung dalam Grup 6 - Yuk JOS (Jadi Orang tua Shalih) Bandung.











22 comments:

SABUMI

[Resume] Adab Berteman Dalam Islam

Saturday, July 30, 2016 Lendy Kurnia Reny 9 Comments

Assalamu'alaykum warahmatullah wabarakaatuh.

Di pagi yang cerah ini, melalui grup WhatsApp Sabumi, grupnya para Bunda-Bunda sholiha dalam menuntut ilmu Home Schooling, membahas tentang Adab Berteman.

Bagaimana kita harusnya berteman.
Dengan siapa.
Sampai bagaimana memilih teman yang baik.

Indahnya Islam,
akan membawa seluruh umatnya berujung pada kedamaian.
Yuk, simak obrolannya . . .

Bismillaaah,




Islam.
Sebagai agama yang sempurna dan menyeluruh telah mengatur bagaimana adab-adab serta batasan-batasan dalam pergaulan. Pergaulan sangat mempengaruhi kehidupan seseorang. Dampak buruk akan menimpa seseorang akibat bergaul dengan teman-teman yang jelek, sebaliknya manfaat yang besar akan didapatkan dengan bergaul dengan orang-orang yang baik.



 مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً ، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَة


“Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” 

(HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628)


Hadits ini menunjukkan larangan berteman dengan orang-orang yang dapat merusak agama maupun dunia kita. Hadits yang juga mendorong seseorang agar bergaul dengan orang-orang yang dapat memberikan manfaat dalam agama dan dunia.





Faedah hadist tersebut adalah bergaul dengan teman yang baik akan mendapatkan dua kemungkinan yang kedua-duanya baik. Kita akan menjadi baik atau minimal kita akan memperoleh kebaikan dari yang dilakukan teman kita.


Siapa yang tak mau dengan kebaikan tersebut?


Menurut hadits tersebut dijelaskan batasan dalam berteman yaitu bergaul dengan siapa pasti mau ga mau akan mempengaruhi kita akan menjadi seperti apa.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan teman sebagai patokan terhadap baik dan buruknya agama seseorang. Oleh sebab itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepada kita agar memilih teman dalam bergaul. Dalam sebuah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

المرء على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل

Agama Seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya.”

(HR. Abu Daud dan Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah, no. 927)



"Berteman dengan siapa saja"

Harus dikuatkan dengan tarbiyah dari Ayah dan Bunda, bahwa seperti yang Rasulullah ajarkan, kebaikan berkawan  itu terletak kepada agamanya.


Bagaimana jika pertemanan itu terjadi pada anak-anak kita yang usinya di bawah 10 tahun dan kecenderungan berteman hanya dari kecocokan saat bermain bersama?

Maka lihatlah dari latar belakang keluarganya dan adabnya.
Anak2 masih sangaaaat bisa diarahkan. Dan kalau kita cenderung membiarkan mereka bergaul tanpa batasan dan tanpa nilai, mereka bisa menyerap semuaaaa yang mungkin tidak sesuai dengan value keluarga kita anut.

Sebelum anak masuk dalam usia baligh, orangtua adalah cerminan. 
Bagaimana akhlak anak terlihat dari bagaimana orgtuanya.

Setelah anak baligh, sudah bisa memutuskan sendiri, dan sudah terkena hukum syariat, sudah dianggap mampu untuk berpikir secara mandiri termasuk dalam memilih teman.


Sebelum sampai ke tahap tersebut, maka orangtua lah yang punya kewajiban. Salah satu kewajiban mentarbiyah ini adalah memilihkan kawan yang baik. Diantara kewajiban-kewajiban mentarbiyah yang baik lain seperti : menyediakan bacaan yang baik, lingkungan yang baik, dan seterusnya.


Bagaimana dengan memilihkan teman untuk anak? Bolehkah?

Boleh.
Tapi harus ingat dengan parameter yang bagaimana "teman yang kita pilihkan" ini agar orangtua pun tidak terjebak dalam pola asuh otoriter tanpa alasan. Sebaik-baiknya petunjuk adalah Al-qur'an dan sabda rasul.

Memilih teman yang jelek akan menyebakan rusak agama seseorang. Jangan sampai kita menyesal pada hari kiamat nanti karena pengaruh teman yang jelek sehingga tergelincir dari jalan kebenaran dan terjerumus dalam kemaksiatan. Renungkanlah firman Allah berikut :


وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَى يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلاً يَا وَيْلَتَى لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَاناً خَلِيلاً لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءنِي وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنسَانِ خَذُولاً


Dan ingatlah ketika orang-orang zalim menggigit kedua tanganya seraya berkata : “Aduhai kiranya aku dulu mengambil jalan bersama Rasul. Kecelakaan besar bagiku. Kiranya dulu aku tidak mengambil fulan sebagai teman akrabku. Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Qur’an sesudah Al Qur’an itu datang kepadaku. Dan setan itu tidak mau menolong manusia” 

(Al Furqan : 27-29)


Lihatlah bagaimana Allah menggambarkan seseorang yang telah menjadikan orang-orang yang jelek sebagai teman-temannya di dunia sehingga di akhirat menyebabkan penyesalan yang sudah tidak berguna lagi.


Kalau ada yang menanyakan, lalu parameternya bagaimana?

Cek hadist lagi. Selain hadist nabi di atas, ada lagi penjelasannya.
Secara umum, hendaknya orang yang engkau pilih menjadi sahabat memiliki lima sifat berikut :

  • Orang yang berakal, 
  • Memiliki akhlak yang baik, 
  • Bukan orang fasik, 
  • Bukan ahli bid’ah, dan 
  • Bukan orang yang rakus dengan dunia” 

(Mukhtasar Minhajul Qashidin 2/36).



Akal merupakan modal utama. 

Tidak ada kebaikan berteman dengan orang yang bodoh. Karena orang yang bodoh, dia ingin menolongmu tapi justru dia malah mencelakakanmu. 
Yang dimaksud dengan orang yang berakal adalah orang yang memamahai segala sesuatu sesuai dengan hakekatnya, baik dirinya sendiri atau tatkala dia menjelaskan kepada orang lain. 
Teman yang baik juga harus memiliki akhlak yang mulia. Karena betapa banyak orang yang berakal dikuasai oleh rasa marah dan tunduk pada hawa nafsunya, sehingga tidak ada kebaikan berteman dengannya. 
Sedangkan orang yang fasik, dia tidak memiliki rasa takut kepada Allah. Orang yang tidak mempunyai rasa takut kepada Allah, tidak dapat dipercaya dan engkau tidak aman dari tipu dayanya. Sedangkan berteman denagn ahli bid’ah, dikhawatirkan dia akan mempengaruhimu dengan kejelekan bid’ahnya.


Orangtua sebagai pemimpin akan dimintai pertanggung jawabannya terhadap apa yang dipimpin, dalam hal ini anak-anaknya. 

Seperti dalam QS At-tahrim (66) : 6.




Banyak anak yang sudah dapat pengasuhan baik dari orangtuanya tapi dirusak oleh lingkungannya. Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga kita dan keluaraga kita dari pengaruh teman-teman yang buruk dan mengumpulkan kita bersama teman-teman yang baik. 
Wallahul musta’an.



Tanya
Misalnya kita sudah baik memilihkan lingkungan dan baik (juga) dalam lingkungan menuntut ilmu.
Namun sekarang anak-anak menjadi kurang empati karena lingkungan sekolah yang hedon.
Bagaimana baiknya yaa...?

Karena sekolah jaman sekarang yang otomatis meng klasifikasikan mereka dalam lingkungan begitu....


Jawab :

Penyelesaian untuk kasus tersebut ada 2, yakni :
Yang pertama adalah memisahkan anak dari lingkungan yang dirasa merusak ini. Kalau mengeluarkan dari sekolah  dirasa ekstrim mungkin bisa dengan memisahkan kepada siapa-siapa saja kawan tempat anak-anak kita mendekat. 

Yang kedua adalah tidak putus memberi tahu kepada anak mana yang baik mana dan mana yang buruk. Menyampaikan penilaian terhadap kekhawatiran bunda tentang budaya hedonis, memberi teladan terhadap sikap-sikap yang harus dihindari atau diwaspadai dan menyatakan dengan jelas bahwa klasifikasi demikian adalah salah.

Anak tidak akan bisa berpikir logis sebab-akibat, bila ilmu hanya diberi dari sebelah pihak, teori saja tanpa praktek atau praktek tanpa teori.



Semoga Allah memelihara ukhuwah kita dan mendekatkan kita pada kawan-kawan yang sholeh.
Aamiin.



Wassalamu'alaykum warahmatullah wabarakatuh.


Salam hangat,

9 comments:

Movie

One Way Trip (2015) - Were Friendship Will End Like This?

Thursday, July 07, 2016 Lendy Kurnia Reny 33 Comments

Sahabat.
Siapa siih...yang ga punya sahabat?

Tapi,
Sejauh mana makna sahabat dalam kehidupanmu?
Apakah teman ngobrol yang seru,,.?
Temen bolos masa-masa sekolah?
Atau malah rival dalam hal tertentu?

Apapun itu,
Sahabat adalah seseorang yang mengerti kita.
Seseorang yang se-frekuensi dengan kita.
Tempat kita nyaman berbagi suka, duka, kepedihan, ataupun kebahagiaan.
Dan yang pasti,
Membuat hidup kita menjadi lebih berwarna.


Namun apa jadinya kalau persahabatan kita berakhir seperti yang dikisahkan dalam film Korea yang berjudul One Way Trip berikut?





Judul Film : One Way Trip aka. 글로리데이 / Glory Day
Pemeran Utama : 
  • Ji Soo sebagai Yong Bi
  • Ryu Jun Yeol sebagai Ji Gong
  • Kim Jun Myeon (Suho) sebagai Sang Woo
  • Kim Hee Chan sebagai Doo Man

Sutradara : Lim Soo Rye
Penulis Naskah : Choi Jung Yeol
Produksi : CJ entertainment
Durasi : 93 menit


Kisah tentang empat remaja yang bersahabat. Mereka ingin melakukan perjalanan untuk memberi kenangan sebelum salah seorang dari mereka melaksanakan Wamil alias Wajib Militer.
Dibuka dengan senyuman wajah ke empat remaja dan kemudian suasana mendadak berubah menjadi menegangkan. Pasalnya mereka berempat dikejar oleh 2 orang polisi.
Ada apakah?




Adegan berikutnya, flashback ke waktu dimana mereka sebelum melakukan perjalanan.
Kesan yang saya tangkap adalah lucu. Keseruan dan bercandaan dari sahabat ini membuat saya merasa terhibur. Apalagi akting Ryu Jun Yeol, si pemeran Jung Hwan dalam drama seri Reply 1988.

Akting natural pemeran utama seolah membuat penonton percaya bahwa mereka berempat memang bersahabat di kehidupan sebenarnya.
Aigoo~~

Buktinya apa?
Sumpah serapah yang dilontarkan pada dialog yang mereka lakukan, sungguh bagaikan bumbu humor untuk serial bergenre thriller ini.  Dialog per-dialog terasa begitu mengalir. Bahkan saat mereka marah dan bersedih.

Kekuatan dalam film ini sebenarnya adalah di akting pemeran utamanya. Kalau untuk plot ceritanya sendiri, terkesan kurang ada gregetnya. Apalagi saat konflik yang terjadi pada sesama orangtua saat kasus mereka terungkap. Terasa sekali minornya. 

Ada beberapa adegan saat flashback yang mengingatkan saya pada "kenakalan" remaja. namun nakal dalam batas wajar, bukan yang berlebihan melanggar norma. Karena usia mereka adalah usia-usia dimana mereka penasaran ingin mencoba hal-hal baru.





Adegan Ryu Jun Yeol sebagai Ji Gong yang melarikan diri dari rumah karena bosan dikurung oleh sang Ibu. Kedua orangtuanya sangat kecewa pada doi karena doi gak lulus ujian masuk perguruan tinggi, sehingga saat dijemput Ji Soo (sebagai Yong Bi), Ibunya berbohong pada Yong Bi bahwa anaknya sudah pergi dari pagi-pagi sekali untuk belajar. Haahha....parahnya, anaknya malah loncat lewat jendela apartemennya yang berada di lantai 2.
Omoo~~



Pun saat mereka akan berangkat melakukan perjalanan. Yong Bi yang ternyata belum punya SIM nekat meminjam mobil kaka nya. Meskipun butut, tu mobil yang akan menjadi saksi bisu perjalanan keempat remaja ini.

Adegan di dalam mobil saat Ibu Ji Gong menelepon anaknya yang melarikan diri loncat dari jendela, mereka berdua malah saling mendukung untuk mengacuhkan dering telpon Ibu Ji Gong.




Mereka hanya akan melakukan perjalanan ke Pohang - bermain di pantainya dan makan raw food khas pantai tersebut. Sembari makan es cum-cum (apa yaa..namanya? ^^) di pinggir pantai, mereka asik menikmati pemandangan. Termasuk ngeliatin tiap cewe yang berlalu-lalang di pantai dengan pakaian mini. 

~~shuuu.....speechless deeh...


Rasanya kurang afdol memang kalau di drama atau movie Korea gak ada adegan minum-minum. Ini seperti pertanda sebuah kedewasaan kalau di negeri Ginseng sana. Heemm....

Masalah pun dimulai ketika Ji Gong meminta Yong Bi untuk memajukan mobil mendekati "mobil goyang" ada beberapa jarak di depan. Setelah mereka mendekati, ternyata....
Mereka malah disuguhkan adegan seorang wanita yang dipukuli oleh lelaki dengan sangat keras hingga si wanita gak kuat berdiri.

Yong Bi yang memiliki masa lalu yang sama seperti itu, dimana ayahnya dulu pernah memukuli ibunya, ia merasa perlu membela wanita tersebut.


Akhirnya masuklah mereka dalam sebuah masalah adu fisik. Hingga mereka berakhir dikejar-kejar polisi seperti pada adegan awal film ini.

Kasus bergulir hingga di akhir cerita persahabatan mereka yang harus dipertaruhkan agar mereka bisa sama-sama hidup "bersih".

Dalam film ini, saya memperhatikan...hukum benar berlaku pada pihak yang kuat. Sedih dan miris rasanya melihat lembaga hukum yang seharusnya menegakkan kebenaran, malah membela sesuatu berdasarkan image seseorang. Misalnya, karena ia orang tenar,banyak orang-orang berpengaruh di belakangnya, maka akan menjadi sulit dituntut atau bahkan hanya sekedar dimintai kesaksian.

Ada perasaan tidak puas setelah menonton film ini. Kecewa, sakit hati, sedih sekaligus marah. Saya sungguh tidak menyangka ending ceritanya bakal se-simple ini. Dibiarkan mengambang dan diserahkan pada penonton bagaimana kelanjutan jalan ceritanya.


Apa yang bisa saya pelajari dari melihat film ini?

  1. Bertindak spontan, boleh-boleh saja.
    Namun apabila sudah menyangkut kekerasan fisik, ada baiknya untuk tidak ikut campur dalam urusan orang lain sebagai pihak ketiga.
    Menghubungi yang berwajib, salah satu opsinya.
  2. Sahabat.
    Bagaimanapun keadaan sahabat kita, terimalah ia apa adanya. Tidak saling menyalahkan kejadian yang lalu apalagi sampai mencari kambing hitam.
    Percayalah bahwa segala yang terjadi adalah kehendak Allah dan memang sudah begitu takdirnya.
    *Jiaa....jadi tausiyah...^^
  3. Lebih baik untuk kita fokus pada solusi daripada pada masalahnya.
  4. Dari sudut pandang parenting,
    saya berpikir bahwa penting memberi kebebasan anak untuk mengungkapkan pendapat. Terlepas itu sebuah kebenaran atau kebohongan.
    Anak akan belajar menyelesaikan masalah, bukan berdiri di balik badan orang tua.

    Itu juga salah satu latihan mereka untuk dapat menjadi pribadi yang dewasa dan tangguh.
    Bukan hanya tangguh untuk menghadapi masalah, tapi lebih dari itu, bahwa tangguh mempertahankan kejujuran yang merupakan nilai terdalam yang harus ditanamkan keluarga pada diri anak.
  5. Terakhir,
    Saya ingin menyampaikan sebagai orangtua bahwa anak-anak yang sukses adalah anak-anak yang bahagia. Baik dari sisi psikologisnya (batin) maupun dari lingkungannya.

    Dengan mereka berbahagia, maka akan membuka limbik otak dan membuat mereka mudah menerima pelajaran yang akan diajarkan.

Pertahankan persahabatan, agar kita punya kisah di kemudian hari untuk dikenang. Karena manusia sejatinya tidak bisa hidup sendiri, mereka butuh lingkungan yang tepat untuk bersosialisasi, mengasah kecerdasan emosional anak.


Sekian dari saya,


- movie and Korean drama addict.


























33 comments:

Blogger

Meet Her At Jogja, ceritamanda(dot)com

Sunday, July 03, 2016 Lendy Kurnia Reny 8 Comments


Haihai,
Mengaku Blogger Traveling?
Sudah pernah jalan-jalan ke mana saja?

Kali ini, saya akan mengajak teman-teman semua ke Jogja dan berkenalan dengan salah satu celeb Blogger kita yang femes, Manda - panggilan akrabnya. 

Hayuuk,
kemasi barang kalian dan kita berangkat ke Jogjaaa....yuhuuu....




Jogja adalah tempat yang ramah bagi siapa saja yang pernah ke sana. Selain tempatnya Jawa banget, di sana juga banyak tempat wisata yang wajib dikunjungi. Apalagi wisata culinarynya. Engga perlu ngiler dulu kalau belum pernah ke Jogja, cukup berkunjung ke Blog Manda :






Kita bisa jalan-jalan virtual ke Jogja. ^^

Setelah capek jalan, tentu inginnya makan doonk yaa...di Blog Manda yang hobi masak dan culinary, semua tersaji dengan rapi di Blog Manda yang lain :





Blog Manda yang ini dirawat bersama sahabat-sahabat Manda sesama Blogger yang hobi masak. Mantengin Blog yang super kece ini membuat saya yang gak suka masak, jadi (kepingin) suka masak. Karena resep yang disajikan sangat informatif, mudah dan (pastinya) menggugah selera.


Baca artikel : Resep Dan Cara Membuat Jjangmyeon Khas Korea.


Beres makan, yuuk...kita lanjut lagi perjalanan ke Jogja bersama Manda yang ramah. Melihat keseharian Manda dan belajar dari tips yang diberikan, saya jadi tertegun dan bersyukur bisa dipertemukan dengan Manda. Karena dari tulisan Manda yang menginspirasi, dan extra-ordinary. Seperti :


Baca : Perut Tetap Buncit Karena Pekerjaan Rumah Bukan Olahraga.


Atau tulisan berikut : Tips Nyaman Tinggal Di Perumnas.


Mengenal kepribadian Manda yang ramah membuat saya belajar banyak dari Blogwalking kali ini, diantaranya :


  1. Pentingnya membedakan Blog untuk mendapatkan niche yang sesuai di masing-masingnya. Jadi tidak terkesan Blog gado-gado, kaya saya, hiiks . . . .
  2. Dengan menulis kolaborasi seperti Blog dbento.com, kita bisa makin mengasah tulisan di bidang tertentu dan membuat traffic blog tersebut menjadi ramai. Karena gaya masing-masing penulis menjadikan keanekaragaman di Blog tersebut.
  3. Untuk masalah liputan, Manda mengaku tidak selalu tergantung pada sponsorship. Jadi memang totalitas Manda dalam menulis hingga selalu merencakan liburan bersama keluarga besar sebagai bentuk kasih sayang Manda terhadap kedua orangtua.
  4. Memberikan informasi yang lengkap pada tulisan, seperti - sedang menggunakan kamera apa saat mengambil gambar saat itu serta tips food photography ala Manda yaitu shoot objek dari dekat.
  5. Terakhir, mengenai culinary.
    Manda dan suami sangat menggemari makanan yang aneh.

    "Lhoo kok aneh??"

    Aneh di sini dalam artian masakan yang jarang dimakan karena tingkat kesulitan memasak maupun bahan yang dibutuhkan. Kalau untuk makanan Jawa, Manda gemar memasak sendiri. Karena dapat menyesuaikan selera keluarga.

Sekian review saya mengenai Manda, Blogger Jogjakarta yang cantik dan ramah. Bisa berteman di beberapa sosmed yang kamu punya :

Facebook : Primastuti Satrianto
Twitter @ImaSatrianto
Blog : ceritamanda.com - tamasyaku.com - dbento.com

Ada banyak kisah dan pengalaman Manda sepanjang perjalanan hidup yang bisa kita ambil hikmahnya. Karena Manda love to learn, love her family and always think positive.


Love u, Manda.








8 comments: