Blogger,

Ragam Menu di Rumah Makan Legoh

Tuesday, August 30, 2016 Lendy Kurnia Reny 10 Comments



Percaya kan, salah satu faktor kenapa kita balik lagi makan di sebuah rumah makan adalah karena pelayanannya yang ramah?

Pengalaman ini yang saya dapatkan ketika berkunjung ke Rumah Makan Legoh.

Selain itu, tempat rumah makan ini mudah sekali dijangkau. Bagi yang tidak membawa kendaraan pribadi, bisa naik angkot dan turun di jalan H. Juanda (alias Dago), lalu jalan sedikit untuk tiba di jalan Sultan Agung no. 9, Bandung.

Memang tidak ada tanda khusus yang bertuliskan Rumah Makan Legoh, namun tempat makan yang berdiri sejak 2004 ini sudah famous di banyak kalangan, terutama yang berada di daerah tersebut.

source : google maps

Ngomongin letak, karena rumah makan ini berada persis di hadapan sekolah SMA Aloysius, ada kisah lucu pada jaman dahulu saat rumah makan ini baru berdiri. Jangan dibayangkan Legoh yang sekarang sudah besar dengan tamu yang tak kunjung berhenti, terlebih di saat jam makan siang. Dulu pada saat baru beroperasi, yang nongkrong di rumah makan ini adalah anak SMA seberang. Sehingga tamu berikutnya sudah bisa dipastikan adalah guru yang merazia murid-murid SMA yang membolos pelajaran. Lucunya lagi, owner Legoh memberi kemudahan pembayaran untuk para siswa ini. Siswa diperbolehkan makan dahulu, namun bayar belakangan. Hiihi...kebayang tebelnya buku daftar hutang chef Leon yaa...

Chef yang juga seorang penggebuk drum dari band KOIL ini adalah seorang lelaki keturunan Manado. Zaman dahulu, di rumah makan ini menyediakan menu spesial. Hanya untuk keluarga dan warga Manado yang rindu akan makanan khas kota mereka. Namun seiring berjalannya waktu, menu spesial tersebut ditiadakan. Karena chef Leon ingin lebih meyakinkan customer, yang kebanyakan beragama muslim bahwa rumah makan ini halal. Tidak perlu ragu lagi. Bahkan chef Leon secara terbuka mengundang para tamu untuk melihat kebersihan dapurnya. *waah...gak takut resep rahasianya bocor, chef? hiihi...


Suasana rumah makan Legoh saat jam makan siang

chef Leon

Ternyata salah satu resep rahasia rumah makan ini senantiasa dipadati oleh pengunjung adalah seringnya chef Leon menggunakan media sosial untuk berbagi pikiran dan diskon. Eh...iya looh...bahkan chef Leon sering membagikan resep di akun twitter @rmlegoh. Baiknyaaa...

Sembari menunggu makanan utama yang saya pesan datang, saya membukanya dengan camilan pisang keju aroma yang renyah dengan taburan keju dan susu melimpah di atasnya.

pisang keju aroma susu, 15 K

Tak cukup sampai di situ, menu pembuka lain yang wajib untuk dinikmati sembari ngobrol seru dengan teman-teman adalah tahu pletok. Untuk masalah rasa, jangan ditanya...bikin kita gak bisa berhenti ngemil.

tahu pletok, 10 K

Akhirnya menu teman-teman yang sudah dihidangkan pun menjadi ajang keakraban bagi kami untuk saling mencicipi kenikmatan ragam menu yang ditawarkan di Legoh. Sebut saja jenis makanan nasi goreng. Di Legoh, nasi goreng yang merupakan masakan rumahan, disulap menjadi makanan istimewa.

(kiri) nasi goreng sapi cuka, 33 K dan (kanan) nasi goreng hitam, 23 K

Dengan sedikit curi-curi pandang pada teman yang memesan menu ini, saya bisa membayangkan nikmatnya. Bagaimana tidak? Dalam waktu beberapa menit (lumayan lama siih...) teman-teman saya ini mampu menghabiskan 1 porsi. Padahal kalau makan di Legoh ini, 1 porsi bisa dinikmati untuk 2 orang. Saking banyaknya. Untuk masalah harga, standart lah yaa...masih dibawah 50 K semua.

Awalnya, minuman yang saya nantikan datang. Tanpa menunggu lama, langsung saya teguk dengan semangat. Segarnya...

(kiri) avocado float, 25 K dan (kanan) es kelapa jeruk, 20 K

Memang nikmat kalau di siang yang terik, kita meneguk minuman dingin. Rasanya dahaga yang sedari tadi menggelayut, sirna seketika. Alhamdulillaah...

Tak berapa lama, pesanan saya datang bersama nasi daun jeruk. Saya memesan sup buntut (biasa) karena ada pilihan sup buntut goreng.

(kiri) sup buntut (biasa), 45 K dan (kanan) sup buntut goreng, 49 K

Dagingnya empuk dan potongan tulangnya dibuat tipis, sehingga memudahkan saya untuk menyantapnya (dengan tetap cantik, karena gak susup sana sini, hiihii...). Belum lagi kuahnya yang gurih dan nasi daun jeruk yang segar. Rasanya maknyuus~~

Kalau makan sop buntut ini, saya jadi teringat masakan mama mertua saya di Surabaya. Dan Legoh berhasil membuat saya terkenang dengan mama.

Untuk yang suka makanan pedas, ada beberapa menu baru yang ditawarkan. Dan ini bagaikan uji nyali, bagi saya. Melihat tumpukan cabe merah ataupun hijau di atasnya. Uwoow...

(atas-kiri) sapi rica, 33 K, (bawah-kiri) sapi mentega, 33 K dan (kanan) sapi rawit, 35 K 

Jangan takut hilang kecantikan kalau makan menu ini, karena ternyata daging sapinya sudah dipotongin kecil-kecil, sehingga pas untuk satu suapan. Heuumm~~

Melihat menu ini apa yang terbayang?

Pedas banget kayaknya yaa...? Ternyata tidak juga lho...bagi penggemar masakan pedas tapi perutnya tidak bisa diajak makan makanan yang terlalu peda nyelekit, menu ini aman, menurut saya. Tidak terlalu pedas (berlebihan) di mulut dan ramah di perut.

Bagi yang orang Padang, kayaknya kalau sambal ijo identiknya sama orang Padang yaa...Di sini ada menu baru, sapi sambal ijo.

sapi sambal ijo, 33 K

Aah...asik-asik kan menu yang ditawarkan di rumah makan Legoh ini...Iya doonk, terbukti dengan pelanggan setianya yang pasti gak cuma sekali datang dan menikmati. Mereka akan terus penasaran dengan menu baru di rumah makan ini. Bagi yang ingin sumbang ide, ingin ada menu apa yang disajikan, chef Leon siap menerima tantangan, katanya.


Daftar pilihan menu rumah makan Legoh


Karena rumah makan ini selalu ramai saat jam-jam makan siang, maka kalau belum makan siang atau after lunch, bisa juga nongkrong-nongkrong cantik di sini dengan memilih menu yang tidak terlalu berat di perut. Ada ragam menu mie dan baso. Dan serius deh...makanan porsi Legoh membuat kita kenyangnya kebangetaan...^^

Daftar menu untuk mie dan baso

Yang pingin tau lebih banyak lagi tentang Legoh, bisa kepoin beberapa sosmed yang dimiliki chef Leon. Dan beneran, chef orangnya ramah banget. Suka berbagi dan bercerita. Dan akan tampak makin berbinar ketika diajukan mengenai pertanyaan seputar masak dan musik. Chef Leon juga seorang blogger lho...ada banyak rahasia dapur beserta beberapa pemikirannya yang bisa kita baca.

Rumah Makan Legoh
Jl. Sultan Agung no. 9 Bandung.

Jam operasional :
start from 11 am - 9 pm

Facebook
Rm Legoh

Twitter
@rmlegoh

Blog :
 rmlegoh.com


Salam hangat,















10 comments:

Book

[Book's Review] Mereka Bilang, Saya Monyet!

Thursday, August 25, 2016 Lendy Kurnia Reny 16 Comments




Judul Buku : Mereka Bilang, Saya Monyet!
Penulis        : Djenar Maesa Ayu
Penerbit      : PT. Gramedia Pustaka Utama
Status          : Pinjam di Badan Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Bandung
Genre          : Cerita pendek
Jumlah Halaman   : 135 halaman
ISBN           : 978-979-228-991-6

Rating         : 8/10


Rasa penasaran saya ketika bertemu buku ini tentu dari judulnya yang menggelitik. Membuka halaman demi halaman di awal buku membuat saya makin berpikir, sepertinya ini menarik. Karena setengah terburu-buru dalam memilih buku di bagian fiksi, Perpustakaan Daerah Bandung yang berada di lantai 2, sayapun lekas mengambil buku pilihan terakhir dalam list peminjaman buku saya hari itu.

Pada bab awal, kita disuguhkan dengan tulisan Djenar Maesa Ayu yang menurut saya begitu berani. Berani dalam mengungkapkan apa yang dirasa dengan gaya bahasa yang unik. Penuh diksi dan imajinatif. Selalu melibatkan perasaan dan latar kehidupan yang bebas. Khas kehidupan malam yang sebenarnya tidak saya kenal bagaimana hingar-bingarnya.

Melalui buku ini, mata saya dibuat terbelalak mengetahui fenomena demi fenomena yang terjadi di luar sana. Apa saya yang terlalu naif? Atau memang beginilah dunia dan kemanusiaannya?

Entahlah.


Bab pertama dalam buku ini tentu cerita pendek yang dijadikan judul buku Djenar. 
"Mereka bilang, saya monyet!"


"Sepanjang hidup, saya melihat manusia berkaki empat. Berekor anjing, babi, atau kerbau. Berbulu serigala, landak, atau harimau. Dan berkepala ular, banteng, atau keledai.

Mereka bukan binatang. Cara mereka menyantap hidangan di depan meja makan sangat benar. Cara mereka berbicara selalu menggunakanbahasa dan sikap yang sopan. Dan mereka membaca buku-buku bermutu. Mereka menulis catatan-catatan penting. Mereka bergaun indah dan berdasi. Bahkan konon mereka mempunyai hati."


Itu sedikit cuplikan pada halaman depan buku Djenar. Yang kemudian pada halaman demi halaman berikutnya, saya bagaikan tersihir membaca buku ini. 

Penggambaran sosok monyet adalah bahasa metafora yang ingin ditonjolkan bahwa manusia hendaklah bertindak layaknya manusia. Tidak seperti binatang, yang tidak bisa berpikir mana benar dan mana yang salah. Tidak seperti binatang, yang hanya menuruti nafsu tanpa banyak pertimbangan. Tidak seperti binatang, yang tidak akan pernah puas dengan apa yang sudah ada di hadapannya.

Atau,
si penulis ingin menunjukkan dahsyatnya tulisan yang dibuatnya dalam cerita pendek ini, sehingga membubuhkan kata "monyet" untuk memperdalam makna.
Emm, seperti apa yaa?
"Damn, she's good!"
Seperti itu kali yaa?


Dua kisah cerpen dalam buku ini bahkan diangkat dalam layar lebar yang di sutradai oleh Djenar sendiri pada tahun 2008.Woow, sudah 8 tahun yang lalu. Yang ketika itu, saya masih belum tertarik dengan kisah nyata yang mungkin saja terjadi dan ada di sekitar kita terutama yang hidup di metropolitan city, seperti Surabaya apalagi Jakarta.  

Mengangkat kisah kehidupan wanita yang seringkali menjadi bahan eksploitasi pria. Sebut saja dalam kisah yang berjudul "Lintah". Djenar menceritakan bagaimana kehidupan seorang anak perempuan yang merasa jijik dengan peliharaan ibunya, lintah. 


"Ibu saya memelihara seekor lintah. Lintah dibuatkan sebuah kandang yang mirip seperti rumah boneka berlantai dua, lengkap dengan kamar tidur, ruang makan, ruang tamu, dan kamar mandi dan ditempatkan tepat di sebelah kamar ibu."


Sudah bisa ketebak siapa itu lintah?

Ternyata saya yang naif ini masih belum bisa menebak siap itu lintah hingga Djenar menuliskan bagian, 


"Beberapa kali berhasil membelah diri tanpa sepengetahuan Ibu, lintah makin menjadi –  jadi. Ia lalu membelah dirinya menjadi tiga, empat, bahkan lima. Dan kali ini sudah tidak lagi menyelinap dalam kantung saya. Ia menyelinap ke bawah baju saya. Yang satu menyelinap ke pinggang saya. Yang satu lagi ke perut saya. Dan mereka berputar – putar sesuka hati menjelajahi tubuh saya sambil mengidapi darah saya. Saya semakin membenci lintah. Dan saya mulai membenci ibu."


Penggambaran sosok lintah ini adalah hewan yang merugikan bagi si tokoh perempuan dalam kisah ini. Awalnya ia hanya mengambil perhatian ibu, lama-kelamaan ia mengambil harta hingga harga dirinya sebagai seorang wanita.

Berraat...

Yang aneh dalam tokoh utama ini adalah serasa menjadi anak gadis yang tidak bisa menyuarakan isi hatinya. Entah karena ketidak dekatan hubungan antara anak dan ibu, atau karena agar terlihat dramatis, sehingga tokoh ini hidup bagaikan buah simalakama. Serba salah. Karena di ending ceritanya, sang ibu akhirnya hamil dan menikahi lintah.


Ironis.

Beberapa kisah yang dituliskan Djenar membuat saya berdecak kagum. Karena ironi yang indah dan dituangkan dalam bahasa yang lugas tanpa mengaburkan keadaan. Saya membaca dan saya paham. Ternyata inilah maksud si penulis.


Bagi yang sudah membaca bukunya, akan paham bagaimana Djenar menuangkan ide dan pikirannya dalam bentuk kumpulan cerita pendek. Namun bagi yang belum membaca buku Djenar dan langsung menonton film dengan judul yang sama dengan bukunya ini, mungkin akan merasa sedikit bingung dan terganggu dengan ide cerita model begini.

Bagi saya, ini adalah karya seni bagi yang mengagungkan seni dengan nilai tanpa batas. Namun bagi seseorang yang memegang norma, ini adalah bentuk pemberontakan wanita akan masa lalu yang kelam. Karena saya membaca buku ini dan semua tampak begitu nyata. Saya jadi memikirkan bagaimana seorang penulis bisa berimajinasi seluas ini.

Poster film "Mereka Bilang, Saya Monyet"

Filmnya sendiri dimainkan oleh Titi Sjuman (sekarang Titi Radjo Bintang) yang memerankan tokoh utama wanita. Djenar memilih pemain yang tepat untuk film "Mereka bilang saya, Monyet". Melihat karakter Titi yang dramatical banget, ia adalah sosok pelaku seni yang cerdas. Dibuktikan dengan banyaknya kemenangan dalam beberapa  kategori Festival Film Indonesia (2009) dan masuk menjadi nominasi di beberapa Festival film di Asia.


Melalui buku ini, saya mempelajari beberapa hal :
  • Benar adanya kalau "Don't judge a book by it's cover".
    Awalnya saya selalu melihat buku dari judul dan cover depannya. Kalau menarik apalagi cantik, bisa dipastikan isi bukunya pun begitu.

    Tapi buku Djenar ini unik.
    Dengan cover theatrical, saya sulit sekali menebak kira-kira apa yang ingin disampakan penulis pada pembaca..?
  • Pentingnya menanamkan pemahaman ilmu agama dalam sebuah keluarga. Karena sejatinya, Islam turun dengan rahmatan lil 'alamin, yang sudah mengatur segala seluk beluk kehidupan manusia. Manusia hanya tinggal mengikuti apa yang sudah digariskan.

    Maka,
    janganlah melewati garis itu dan menjadi binatang, yang tak kenal batas dan logika.
  • Ajarkan anak untuk melepaskan emosi yang dirasakan.
  • Belajar untuk memaafkan masa lalu.
    Yang ini saya tidak bisa berteori panjang, karena setiap manusia memiliki luka masing-masing. Sedalam apa luka itu...hanya orang yang bersangkutan yang mampu menyembuhkan.

    Karena sebaik-baik manusia adalah yang memaafkan kesalahan orang lain.

    **sambil diiringi lagu the Corrs "Forgiven not Forgotten"


Sekian review dari saya. Mari kita membaca dan berkenalan dengan dunia (Allah) yang luas ini.

Enjoy!







16 comments:

Blogger,

Memanjakan Wanita Di Indo Wisata Permata, Bandung

Wednesday, August 17, 2016 Lendy Kurnia Reny 9 Comments

Source : google maps (doc. Harto Mulyono)

Apa yang disukai dari wanita?
Tentu keindahan dan kecantikan.

Ada wanita yang tidak suka cantik?
Saya yakin jawabannya tidak ada. 

Ngomongin soal cantik, biasanya selalu dikaitkan dengan barang-barang mahal. Perhiasan salah satu penunjang kecantikan wanita. Kelas dan strata seseorang pun bisa terlihat ketika mengenakan perhiasan yang pantas. Tidak berlebihan yang terkesan norak atau tidak pada tempatnya.

Di Bandung telah hadir Wisata Permata yang terletak di Kompleks Perumahan Citra Green Dago. Tepat bersebelahan dengan Sekolah Stanford. Jadi bagi yang tidak tahu jalan, jangan kuatir kesasar. Karena tempat ini sudah famous, di pusat kota.

Gedung yang megah dan parkiran yang luas adalah nilai lebih dari wisata ini, selain itu ada cafe untuk nongkrong asik bareng keluarga ataupun teman-teman segank. Suasana tenang meskipun berada di pusat kota, karena terletak di dalam perumahan elite.

Baca juga : Mengukir Kebersamaan Di Skylight And Bar.


Untuk masuk ke Indo Wisata Permata ini, kita harus merogoh kocek sebesar 50 k. Mahal?
Engga donk, karena biaya ini akan balik ke kita lagi dalam bentuk voucher makan di Skylight Cafe, Grill and Bar. Asyiik kan...?
Menurut saya, ini paket wisata edukasi yang lengkap.

Setelah melakukan pembayaran, kita akan dipandu naik ke atas menggunakan lift menuju lantai 3. Dan karena lift ini terbatas, jika datang secara berkelompok, maka hanya diijinkan 10 orang secara bergantian. Mungkin juga agar lebih efektif dalam menjelaskan tentang permata sampai sesi tanya-jawab. Sehingga kami pulang mendapat ilmu dan pengalaman yang tak terlupakan selama berwisata.

Kami disuguhkan tayangan film mengenai proses pembuatan permata. Dari mulai bongkahan batu mulia yang sebagian besar diambil dari Martapura, Kalimantan. Batu yang awalnya berupa bongkahan besar tak berbentuk dan berwarna, setelah diolah dengan cara modern, maka diperoleh berlian yang cantik dengan spektrum warna yang berbeda. Berlian yang paling mahal adalah berlian dengan clarity (kejernihan) paling bersih. Dengan kata lain, semakin bening/tidak berwarna), maka semakin mahal harga dari berlian tersebut.

Source : indowisatapermata.com

Maka, jangan ditanya kesulitan dari pengolahan batu mulia ini bila memakai cara tradisional, akan membutuhkan waktu yang cukup lama dan hasil yang kurang memuaskan (masih kasar dan tidak rapih). Beda halnya bila di proses dengan cara modern seperti yang dilakukan di Indo Wisata Permata ini. Hanya beberapa jam, maka sudah bisa diperoleh batu permata yang cantik dan hasil yang rapih. Lengkap dengan sertifikat permata yang menerangkan beberapa history dari batu permata yang kita miliki tersebut.


Pembuatan permata yang bisa kita lihat langsung dari balik kaca transparant.

Usaha ini didirikan sejak 5 tahun yang lalu oleh seorang pengusaha yang bernama Bapak Yopi Mesa Yudi bekerjasama dengan tenaga kerja ahli dari India, untuk menghasilkan maha karya yang cantik dan indah.

Beberapa contoh permata yang sudah menjadi perhiasan yang cantik.

Di Indo Wisata Permata, kita dapat membeli ataupun memesan model perhiasan yang diinginkan. Dan mereka menjamin kualitas dari perhiasan yang mereka keluarkan.

Setiap pembelian permata akan mendapatkan sertifikat GIA.

Mengapa harus mendapatkan sertifikat GIA saat pembelian berlian?


  • Agar kita memiliki keterangan yang jelas mengenai berlian yang dimiliki. Seperti berat berlian, kejernihan, warna berlian, dan potongan. 
  • Karena GIA (Gemological Institut of America) adalah laboratorium terpercaya di seluruh dunia yang bisa mengeluarkan serifikat berlian.
  • Agar menjadi pembeli yang teliti dan apabila ingin dijual lagi, ada kejelasan dan keyakinan pada pihak pembeli akan keaslian berlian yang dimiliki.

Beberapa model yang ada di Indo Wisata Permata
Cincin cantik untuk diberikan kepada orang terkasih

Kecantikan berlian yang terpancar indah

Tidak perlu bingung memilih kalau datang ke Indo Wisata Permata. Anda hanya tinggal menyesuaikan budget yang ada. Dan untuk model, ada beraneka model yang ditawarkan. Dari mulai yang elegan, cute, hingga unique, semua ada di sini. 

Sekian perjalanan wisata edukasi saya hari ini.
Untuk info dan resevasi dapat ke :

Alamat:
Komplek Citra Green Dago
Blok N 1 - 10
Bandung


IG :
@skylight.bdg


Contact Person :
Tita (Manager Operasional) : 0856 2464 777-5
Dian (Public Relation Manager) : 081 12000 499


Jam Operasional :
Senin (libur)
Selasa - Minggu (jam 11.00 - 17.00)


Happy Shopping.


Salam hangat,

































9 comments:

Blogger,

Mengukir Kebersamaan Di Skylight Grill And Bar

Wednesday, August 17, 2016 Lendy Kurnia Reny 17 Comments

Siang yang terik ini membawa saya untuk lebih cepat melajukan kendaraan yang sedang saya kendarai.
Ya,
hari ini kami akan ngobrol cantik di Cafe yang terletak di daerah Dago, dekat dengan tempat tinggal saya saat ini.

Saya tidak asing dengan tempat yang akan saya datangi, karena berkali-kali melewati jalur salah satu perumahan ternama di Bandung, Citra Green Dago. Saya menuruni jalan yang lumayan terjal dan kemudian kembali menanjak untuk mencapai lokasi Cafe ini.

Source : googlemaps (doc. Dedi Supriyadi)


Skylight Cafe, Grill and Bar.

Di sinilah meeting point kami. Pertama kali masuk ke cafe ini, saya disambut ramah oleh salah seorang pegawai Cafe dengan sapaan ramah.

"Sudah ada janji, mba...?"

Dan saya pun mengangguk cepat untuk mengiyakan. Lalu saya dibimbing menuju cafe yang berada di lantai yang sama. Untuk tempat, saya mengakui kenyamanan parkir yang luas untuk kendaraan bermotor. Tidak terlalu jauh dari pintu masuk dan luas. Kenyamanan ini point plus buat saya yang sering kesusahan parkir karena kontur lahan yang tidak rata, apalagi untuk wilayah Dago.

Ketika masuk ke cafe, saya merasa lebih nyaman lagi. Karena suasananya semi-outdoor. Jadi bagi yang memiliki anak balita seperti saya, cafe ini salah satu tempat nongkrong yang pas bersama keluarga.



Setelah dari cafe, kami beranjak ke lantai 3 untuk merasakan sensasi lain dari Skylight Grill and Bar ini. Kami naik lift yang letaknya persis di sebelah tempat makan kami sebelumnya.

Keluar dari lift, kami disambut dengan suasana luxurious. Dengan sofa di kanan-kiri yang bersebelahan langsung dengan kaca transparant, sehingga membuat para tamu dapat melihat view indah kota Bandung.




Mau datang ke sini sendiri, atau bersama pasangan terkasih, tetap saja oke, menurut saya. Karena sejauh mata memandang, kita dimanjakan dengan pemandangan alam sekitar. Terbayang kalau dinner di malam hari. Huumm, pasti lebih indah yaa...?

Sudah asyik duduk-duduk menikmati pemandangan, kurang lengkap rasanya kalau tidak menyantap beberapa menu yang ditawarkan oleh Skylight Cafe.

Cappucino Brulle (25 k)

Creme Brulle (25 k)

Bila hanya ingin ngobrol bersama rekan kerja untuk melepas lelah, Skylight cafe menawarkan kopi yang nikmat. Kedua menu kopi ini, rasanya....luar biasa. Membuat kita kembali berenergi.

Untuk makanan ringannya, bisa sambil mengudap pizza andalan Skylight Cafe.

smoke beef (75 k), meat lover (75 k) dan cheese pizza (70 k)
Kalau ditanya mana yang paling enak, saya tidak bisa memutuskan. Karena ketiga pizza tersebut lezatnya sampai akhir gigitan. Teksturnya crunchy, garing dan lembut. Dimakan selagi hangat sambil bercengkrama, tak terasa sudah tandas semuanya. Yuumm~~


Kalau belum kenyang juga, bisa memesan menu yang lebih berat lagi. Cocok untuk makan siang, seperti saat saya datang ini. Bersama teman seseruan sambil menikmati menu berikut.

Sop buntut (70 k)
Sop ini dipanaskan di tempat yang traadisional, sehingga membuat kita merasakan kembali masakan dengan cita rasa asli Indonesia, yang dikenal dengan keanekaragaman rempahnya.

Bagi yang suka dengan menu berikut, tidak ada salahnya dicoba...


Iga bakar madu (70 k)
Semua tersedia dengan porsi yang menurut saya bisa dinikmati berdua. Karena sejujurnya, saya tidak sanggup kalau harus menghabiskan satu menu.

Untuk masakan western, kita bisa memesan steak yang tertera pada daftar menu. Sekali mencoba steak Skylight Cafe, dijamin langsung ketagihan. Dagingnya di panggang dengan matang, namun tetap terasa empuk. Disajikan dengan saus yang berisi potongan jamur kecil-kecil. Nikmatnya hingga suapan terakhir.

Rib eye steak (190 k)

Terasa ada yang kurang kalau sudah makan nikmat, namun tidak didampingi oleh minuman yang segar di siang yang terik hari ini. Emm, akhirnya kami disuguhi minuman segar ini.


Virgin mojito (30 k)

Virgin Mojito dari Skylight cafe, minuman yang terbuat dari perasan jeruk limun ini terasa makin segar dengan tambahan soda dan daun mint. Cocok dinikmati saat siang hari atau pada saat musim kemarau seperti sekarang ini.


Tetesan terakhir dari virgin mojito cukup membuat saya bersemangat kembali untuk menelusuri destinasi saya berikutnya. Yaitu Indo Wisata Permata yang terletak di lantai yang sama namun di bagian gedung yang berbeda.

Baca juga : Memanjakan Wanita Di Indo Wisata Permata.


Terima kasih sudah membaca ulasan saya mengenai Skylight Grill and Bar.
Untuk info dan reservasi, dapat dilihat di :

Alamat:
Komplek Citra Green Dago
Blok N 1 - 10
Bandung


IG :
@skylight.bdg


Contact Person :
Tita (Manager Operasional) : 0856 2464 777-5
Dian (Public Relation Manager) : 081 12000 499


Jam Operasional :
Tiap hari dari Senin - Minggu (jam 11.00 - malam)



Salam hangat,

















17 comments:

Blogger

Mutmuthea : Muda & Produktif

Tuesday, August 16, 2016 Lendy Kurnia Reny 13 Comments




Gadis muda, enerjik, dinamis, dan produktif.
Itulah kesan pertama saat melihat sahabat Blogger dari Pekanbaru ini.

Namanya lengkapnya Mutia Nurul Rahmah.

Di dunia maya lebih dikenal dengan nama mutmuthea.
Gadis yang belia ini, mengabdikan dirinya di dunia penulisan. Terbukti telah menulis sejak tahun 2009. Dan bisa dibuktikan dari saat membuka blog gadis cantik ini, tulisannya sudah sampai hingga halaman 49. Uwoow banget kan ya...?

Header blog Mutia yang memang Muti banget.



Pertama kali yang ditulis apa, Mut?
Iseng saya membuka tulisan Mutia saat masih awal-awal menulis. Seperti kebanyakan gadis pada umumnya yang sedang memasuki masa-masa puber, Mutia merasakan banyak emosi yang dituliskan di blog pribadinya ini.

Ada kalanya ia jatuh cinta, bahagia, memiliki banyak teman di sekelilingnya, memiliki orang tua yang tidak mengerti anaknya. Perasaan seperti itu juga pernah aku rasain, Mut... Jadi kamu gak sendiri. *Kok malah curhat?

Membaca tulisan Mutia mengingatkanku pada masa muda dulu, dan sekarang masih tetap sama. Namun bedanya, Mutia penyuka IT. Jadi apapun yang dialami diabadikan dalam sebuah tulisan di blog. Sedangkan saya...zaman baru kenal internet, yang ada malah chatting gak jelas di mIRC dan cari teman di friendster.


Baca : Be Wise On Social Media.



Beda masa muda, beda kualitas yaa..?

Masuk ke fase berikutnya, di tahun 2010. Mutia lebih banyak bertutur dalam bahasa Inggris yang dalam dan penuh makna. Belum lagi menulis lagu-lagu yang nge-hits kala itu. Westlife, Nidji, dan Adrian Martadinata. Ada juga beberapa lagu yang ditulis memang sangat meninggalkan bekas di hati Mutia, Kokorono tomo
*Sama Mut, aku juga suka banget sama lagu Jepang mellow itu...rasanya tak lekang oleh waktu.


Melompati waktu.

Saat ini Mutia sudah menjadi seorang mahasiswi semester akhir. Yang tengah bersiap ke jenjang berikutnya. Impian memiliki karir sesuai bidang yang tengah dipelajarinya kini, yakni Jurusan Dakwah dan Komunikasi di UIN Suska, Riau. 

Dan dari segi tulisan, Mutia kini lebih mature ditambah lagi skill photography yang keren. Maka tulisan Mutia adalah satu paket yang utuh. Belum lagi yang konten bahasan tulisan Muti yang kian berbobot. Karena kesukaannya pada dunia IT hingga kini, maka ia punya menu khusus membahas tentang merk SONY. Naah, ini samaan dengan kesukaan saya. Saya pribadi juga (secara tidak sengaja) jatuh cinta dengan si SONY ini.

Source : blog Muti yang berjudul "All About Mirrorless Sony Alpha Series (workshop)"


Namun karena saya awam dengan dunia photography, jadilah hanya mampu pakai tanpa teknik. Sayang banget gak siih...?

Semoga Muti segera menulis tentang dunia photography. Dari mulai teknik foto, lensa apa yang sebaiknya dipakai, dan lain-lain. Senjatanya blogger nihh...


Kegiatan mahasiswi tingkat akhir ini selain berkutat di kampus, tentunya...ia juga sangat aktif di komunitas yang diikutinya. Komunitas Kaskuser, contohnya. Apa saja yang dilakukan bersama komunitas, ia abadikan di blog. Benar-benar gadis yang ceria dan enerjik.


Jadi apa yang bisa saya pelajari setelah blogwalking ke kediaman mutmuthea?

  1. Pentingnya konsistensi dalam menulis.
    Teruslah menulis apapun bahasan yang ingin disampaikan kepada dunia. Karena itu bentuk eksistensi kita di dunia tulis-menulis.
  2. Terus menggali potensi daerah dimana kita tinggal.
    Sehingga membuka cakrawala setiap orang yang membaca. Dan itu bisa menjadi point plus ketika ada orang yang ingin berkunjung ke Pekanbaru.
    "Buka saja blog mutmuthea.com."
  3. Lengkapi skill menulis dengan skill lain.
    Bisa jadi editing, photography, atau bahkan koneksi. Ketika banyak kita banyak bergabung di komunitas tertentu, maka semakin banyak relasi yang terjalin.
    Menengok beberapa sosmed Muti, doi rajin sekali mengunggah foto berkualitas, sehingga mengundang decak kagum followersnya yang sudah menginjak hampir 5000 followers.
    Uwoow banget kan yaa...?
  4. Terahir,
    Tidak perlu menjadi diri orang lain ketika menulis atau berteman (baik di dunia nyata maupun di dunia maya). Karena menjadi pribadi yang bijak dan menyenangkan tidak bisa diperoleh dengan instan. Itu membutuhkan proses.

Itulah beberapa hal yang bisa saya dapatkan dari blogwalking kali ini. Senang bertamu di rumah Mutia yang simple, bersih dan ringan.

Boleh yang mau berteman dan berkunjung ke Blogger Pekanbaru yang masih single - happy :

Blog         : mutmuthea.com
Facebook : Mutia Nurul Rahmah
Twitter     : @mutmuthea
IG             : @mutmuthea



Sekian review singkat saya mengenai sahabat Blogger yang tergabung dalam Blogger Perempuan.


Salam hangat,













13 comments:

Abah Ihsan

[Resume Kompas TV Live] Gerakan 1821 Abah Ihsan : Matikan Gadget Dan Peralatan Elektronik

Sunday, August 14, 2016 Lendy Kurnia Reny 14 Comments



Sudah pernah dengar Gerakan 1821 kan...yang sekarang tengah menjadi perbincangan publik dan menjadi viral di mana-mana. Bahkan para petinggi daerah pun, sudah mulai menerapkan Gerakan ini demi mendekatkan hubungan orang tua dan anak.

Bisakah Gerakan 1821 mendekatkan hubungan orang tua dan anak?
Padahal hanya dengan 3 jam dalam sehari.

Kok bisa?

Kompas,
mengundang Abah Ihsan Ibn Baihaqi dalam acara Sapa Indonesia Siang.
Selama 1 jam bakal ngobrolin Gerakan 1821 dan berbagai permasalahan yang sering dihadapi orangtua dalam mengasuh anak.





Jaman yang sudah semakin maju, segala kebutuhan ada dalam genggaman.
Ingin makan, tidak perlu bersusah payah keluar rumah, tinggal ambil HP dan pakai aplikasi G*Jek, maka makanan pun tersedia dalam hitungan menit. Tidak lelah sedikitpun dan hemat biaya transportasi. Namun, mirisnya...gadget ini bak pisau bermata dua.

Bagaimana tidak?

Saat kita ingin anak-anak menurut dengan tidak banyak bermain yang membutuhkan perhatian ekstra orang tua, gadget hadir bak seorang baby-sitter, yang menawarkan jasa penjagaan anak untuk tidak berlari ke sana-ke mari dan bereksplorasi di lingkungannya.


Kabar baiknya, anak akan diam di tempat dan tidak akan mengganggu pekerjaan para stay at home-mommy.

Mau dengar kabar buruknya?

Kabar buruknya adalah anak menjadi cuek, acuh terhadap lingkungan, kesulitan untuk fokus, menjadi mudah marah dan lebih parahnya lagi...bahkan mampu menghambat tumbuh kembang anak.

Serem kan kalau anak sudah kecanduan begini...

Anak-anak dengan tingkat ketergantungan tinggi terhadap gadget adalah anak-anak BLAST.
Boring
Lonely
Angry (Afraid, Anxious) 
Stress
Tired


Mengapa?
Lihatlah perilaku anak yang biasa diberi gadget ketika usia di bawah 5 tahun, apalagi. Ketika tidak diberi gadget atau bahkan tidak ada, ia akan menjadi anak-anak yang mudah bosan, gelisah dan seperti anak yang bingung tidak tahu harus berbuat apa.

Anak-anak seperti ini biasanya adalah anak yang lonely. Kesepian. Tidak ada yang menemani untuk bermain atau orang tua nya terlalu larut dengan kesibukannya sendiri.

Setelah merasa bosan karena kesendirian, mereka akan menjadi anak-anak yang mudah marah. Bisa menjadi anak yang mudah takut secara berlebihan.

Anak-anak yang terlalu lelah (tired) dan stres adalah sasaran gadget berikutnya. Mereka melepas lelah dengan bermain dan browsing secara berlebihan.

Zaman dahulu, anak-anak BLAST ini belum ada. Karena anak mudah bersosialisasi dan bermain bersama teman-teman di luar rumah. Belum lagi beban sekolah zaman dahulu tidak seperti saat ini dengan ketidak jelasan kurikulum.


Baca juga : [Resume] Fenomena Perubahan Perilaku Pada Anak.



Maka,
Gerakan 1821 ini hadir untuk menghindarkan anak dari BLAST.




Penyakit orang tua, meskipun sudah pulang kerja, tapi yang dipegang tetap gadget. Hal ini mengurangi waktu kebersamaan dengan anak. Maka salah satu alternatifnya adalah melaksanakan Gerakan 1821.


Gerakan 1821 ini adalah salah satu cara, bukan satu-satunya untuk memfokuskan hubungan anak dengan orang tua.

Walaupun hanya berlangsung selama 3 jam, gerakan ini diharapkan mampu membangun interaksi positif kepada anak, agar anak lebih terpengaruh oleh orang tua, bukan pada teman apalagi lingkungan.

Apa saja yang bisa dilakukan saat 1821?
Apa saja, asal tidak menanyakan PR.
Idealnya diisi dengan 3 B (Bermain, Belajar, dan Bicara)

Kebersamaan selama 3 jam tanpa benda kotak.
Jangan dikira gadget hanya HP atau leptop dan TV saja yaa...karena sebenarnya kita sering sekali menduakan aktivitas bersama anak dengan memasak, mencuci, dan kegiatan rumah tangga lainnya. Maka tujuan 1821 ini adalah menimati kebersamaan orang tua bersama anak-anak.

Karena hakikatnya kebersamaan orang tua 100 % dengan anak hanya hingga anak berusia 12 tahun. Itupun kalau diasuh sendiri. Selebihnya, mereka memiliki ruang hidup sendiri.
Saat SMP, pengaruh kita kepada anak hanya tinggal 60 %. Ketika SMA semakin berkurang lagi, tinggal 40 %. Terbayang saat anak sudah kuliah, pengaruh kita sebagai orang tua hanya tinggal 20 %.
Jadi manfaatkan waktu kita sebagai orang tua untuk mempengaruhi kehidupan anak. Jangan sampai menyesal di kemudian hari dengan mengatakan :

"Kurang apa mama (atau papa) sebagai orang tua? Kamu sudah diberi fasilitas mobil, laptop, HP."

Kurang perhatian ke anak.

"Saya selalu perhatian pada anak. Saya suka nasehatin anak saat bertemu. Kurang perhatian yang seperti apa?"



Jadi untuk yang full time mommy, upps...jangan bangga dulu.
Begitupun dengan working mom, jangan juga buru-buru kecewa.

Karena sebenarnya, zaman sekarang banyak sekali orang tua yang hanya berada di dekat anak. Tidak bersama anak.

Bedanya apa?

Orang tua yang hanya di dekat anak, ia akan mendampingi anak namun menduakan dengan gadget. Berbeda dengan orangtua dekat anak, dengan fokus membersamai anak.

Ternyata kebersamaan anak saja tidak cukup kalau orang tua menduakan dengan gadget. Dan bila kebersamaan itu sudah dilakukan, janganlah hanya diisi dengan menasehati anak. Kalau Abah bilang, itu adalah sikap ngomongin anak. Tapi berbicaralah dengan anak. Belajar mendengarkan cerita anak, atau mengajak ngobrol anak hal-hal apa saja yang sudah dilakukan hari ini bersama teman di sekolah. Ada banyak topik yang bisa dibicarakan saat bersama anak.


Luangkan waktu bersama anak saat ini. Kalau tidak, di kemudian hari mereka lah yang menyita waktu kita.

Menjadi orang tua yang memiliki skill dalam mengasuh anak.
Skill mengasuh anak ada 2 yakni :

  • Waktu
  • Ketegasan (bukan kasar)
    Menjadi orang tua lembut, boleh. Namun lembek, jangan!


Apa itu tegas?
Tegas adalah kebebasan yang diberi batas.

Batas seperti apa?
Misalnya anak ingin main sepeda. Boleh-boleh saja, namun ada batasan waktu bermain yang jelas dan disepakati bersama. Kalau sudah melewati batas yang dijanjikan dan anak tidak menepati, maka orang tua boleh mengambil hak anak untuk bermain sepeda di lain waktu.


Kebanyakan anak yang bermasalah karena 2 hal :

Terlalu dibebaskan atau terlalu overdosis nasehat.



Sesi Tanya - Jawab.

1. Saya kerja malam, Abah.
Bagaimana menjalankan program 1821?


Jawab :

Tidak ada masalah dengan 1821. Bisa dilakukan di jam berapapun, yang terpenting adalah kebersamaan selama 3 jam tanpa benda kotak.

Sesungguhnya anak membutuhkan orangtua tidak 24 jam. Ketika bermain, anak tidak butuh kita. Ketika sekolah pun, anak tidak membutuhkan orang tua. Namun sediakan selalu waktu untuk membersamai anak.



2. Kegiatan yang dilakukan saat 1821 adalah belajar, namun karena anak-anak sudah full day, maka biasanya di jam-jam itu, anak anak malah nonton TV.
Bagaimana berbicaranya pada anak, Abah?

Ningsih – Tangerang


Jawab :

Orangtua harus punya pengaruh pada anak. Jika anak merasakan asik dan seru, maka anak akan lebih memilih bermain bersama orang tua daripada menonton.

Contohnya :
Bermain coklak bersama keluarga. Atau bermain lompat tali, kartu bahkan peta umpet.
Karena, normalnya anak itu tidak bisa diam.



Sekian resume dari acara Abah Ihsan di Kompas TV.


Salam hangat,

// Alumnus PSPA // PDA Abah Ihsan dan tergabung dalam Grup 6 YUK-JOS (Jadi Orang tua Shalih), Bandung.



Penutup.

Kata siapa mendidik anak tidak ada sekolahnya?
Abah Ihsan hadir di seluruh Indonesia dengan seminar seputar pengasuhan anak. Untuk yang ingin ikut seminarnya, bisa lihat infonya di

Facebook : Abah Ihsan Official
Website   : Auladi.net


Informasi seminar PSPA "Program Sekolah Pengasuhan Anak" di Bandung


In syaa allah,
2 hari seminar namun manfaatnya bisa di rasakan seumur hidup.

Jadilah orang tua betulan, bukan kebetulan.











14 comments:

Blogger

Be Wise On Social Media

Tuesday, August 09, 2016 Lendy Kurnia Reny 39 Comments

Hari gini ada yang gak punya social media?
Sungguh?

Bahkan anak usia 4 tahun saja ada yang sudah dibikinin akun facebook sama ibunya.
Apa tujuannya?
Saya kurang tahu siih...tapi kalau ada foto sekeluarga gitu, anaknya bisa di mention. Haahha...

Sebegitu pentingnya kah sosmed jaman sekarang?




Ada yang gak kenal sama lambang sosmed yang saya pasang pada gambar di atas ini?
In syaa allah kenal semua yaa...
Kalau gak kenal, kenalan dulu giih...hehhe...


Sudah bijakkah kita bergaul di sosmed ini?
*saya pun menanyakan hal yang sama ke diri saya sendiri, apalagi setelah membaca ulasan dari Blogger beken, mbak Indah Juli, atau yang akrab dipanggil Makpuh ini tentang : 

Medsos Ajang Curhat.



Percaya gak percaya, sepertinya semua orang pernah melewati masa-masa gak jelas saat masih remaja. Eh...kalau ada yang gak nglewatin masa alay, berarti imannya sudah stabil, yaa ga siih? Barakallah...



Sebelum demam facebook, saya melewati masa-masa curhat di medsos dan segala bentuk "keajaiban" saya saat itu, saya pajang di friendster, namanya. Mirip-mirip facebook siih...upload foto, lalu kasih caption, dan berdatanganlah komen dari friendlist kita. Adakah yang mengalami masa-masa ini?

Bedanya,
HP dan internet jaman dulu, gak seperti saat ini. Dulu, HP masih pakai keypad. Warna saja baru "kaya" setelah saya duduk di bangku kuliah. Menikmati HP kecil dengan warna yang cantik. Kamera yang pixelnya masih pas-pasan. Tapi cukup laah...untuk pamer ke seluruh pelosok negeri tentang kehidupan saya saat itu, tentang persahabatan sampai mantan. Upps!
*it's okay, mantannya sekarang sudah jadi Abinya anak-anak kok. Heehhe...^^

Masa FS berakhir, berganti masa-masa kejayaan FB alias facebook. Buku wajah. Awalnya heran, kenapa pamor si FS ini bisa turun yaa...? Padahal fans nya sungguh mengagumkan saat itu. Kalau ketemu temen yang belum dikenal, pasti tanya,

"Kamu punya FS gak...? Nickname nya apa?"

Oh ya,
hiburan lain yang saya cari dahulu ketika internet masih hanya ada di warnet (warung internet) dekat rumah. Dengan membayarkan uang Rp 5000/jam, saya bisa bermain FS dan chatting. Sama siapa? Sama orang yang baru dikenal di dunia maya. Siapa saja. Tidak terbatas usia dan gender.

Begini tampilan mIRC yang nge-hits banget pada jamannya

<imut> Hai, asl pls
<s1outthere> lina f 18

Hiihi...gitu doank bisa ngabisin waktu berjam-jam di warnet. Betah banget buka banyak tab hanya buat chatting. Hadeeuh...*geleng-geleng kepala.

Anak sekarang bagaimana?
Lebih mudah lagi. Karena jaman makin canggih. Semua ada dalam genggaman. Tinggal langganan paket internet untuk sebulan, maka semua aplikasi sosmed bisa langsung aktif.
Gimana gak banyak kejahatan yang terjadi?


Selain aplikasi whatsApp, yang beken di kalangan anak-anak muda adalah aplikasi Line. Banyak iklan dan bahkan bisa invite orang yang tidak dikenal sekalipun asal masuk dalam jangkauan sinyal Line mu. Semudah itu?

Hu umm...!


Beberapa hal bijak yang harus dilakukan dalam bersosial media :

1. Jangan gampang baper alias (Bawa Perasaan)

Ini adalah contoh "Bagaimana Menyikapi Komentar Negatif" dalam social media.
Source : Pinterest.

Kalau masalah baper, pernah juga tuuh...ngalamin.
Melihat orang foto di depan Ka'bah berdua dengan pasangan atau foto dengan pose sambil berdoa. Aahh...atulaa, kenapa sempat puputuan di depan rumah Allah?

But,
Try to think positive.

Semoga Allah segera memanggil saya dan suami honeymoon ke Baitullah dengan seringnya melihat foto Ka'bah.
Aamiin.


Baper yang lain,
*banyak amat yaa..?
Saat ada salah satu teman yang foto saldo ATM. Ommoo~~

Dia ingin menunjukkan betapa suksesnya bisnis yang ia jalankan. Tapi...asa gimana gitu yaa?
Atau ada teman yang nulis status,

"Barusan dapet transferan dari bisnis yang aku jalanin.
Kaget dan gak nyangka."

Errgg...
Iya ya...itu salah satu strategi marketing yang dia pilih. Tapi asa gimanaaa gitu.

Apa cuma sayanya aja yang baperan?



2. Kalau tidak mau dapat komentar negatif, sebaiknya dipikirkan dulu apa yang akan kita tulis dan kita posting (foto, misalnya).

Jangan sampai kita menyalahkan orang lain karena perbuatan kita sendiri yaa... 
Because they write what they're thinking.


3. Karena dunia maya itu luas.
Kita bisa menjelajah ke manapun tanpa batas. 

Mau nonton streaming drama Korea...? BISA.
Mau nonton film dari belahan dunia manapun? BISA.

Karena itu, pintar-pintarlah menyaring segala informasi yang dilihat, dibaca, dan ditonton. Dan satu lagi, jangan asal SHARE.

Pernah kejadian di grup whatsApp. Entah berawal dari grup yang mana, ada berita mengenai seseorang meninggal. Ehh...ternyata, orangnya masih asik karulilingan. Kan kasian kalau begitu sama pihak keluarganya.


Jadi mulai sekarang, teliti saat membaca dan share.
Apakah tulisan tersebut dari sumber terpercaya atau hanya berasal dari majalah gosip yang suka nongol di sebelah kanan facebookmu?
Hahha....




4. Dan di dunia maya, kita bisa menjadi siapapun.
Kalau kata mbak Indah, dunia maya itu abu-abu. Hitam dan putih.

Tapi,
more than that . . .

Dunia maya itu kaya warna.

Saya ingin dikenal sebagai lendyagasshi yang kalem, sholiha dan  sayang dengan sama keluarga. Maka saya bisa mewujudkannya dengan postingan tulisan atau postingan foto yang berkaitan dengan itu. Maka semua mata akan berpendapat seperti apa yang mereka lihat.

Si A yang sekarang lagi happening dan menjadi viral dimana-mana.
Ia sosok gadis remaja yang mudah bersosialisasi, tajir, kreatif dan sekaligus mudah sekali curhat di sosmed


Maka apa yang bisa kita pelajari dari sana?

Bahwa kita jangan mudah menilai seseorang dari apa saja yang ditampilkan. Bisa jadi itu memang dirinya yang sebenarnya, namun banyak kali, mungkin mereka hanya ingin terlihat pada dunia bahwa mereka "baik-baik" saja.

Don't take it too deep laah...

Seperti yang saya katakan sebelumnya. Jangan terlalu baper sama postingan orang lain.
Kalau positif, ambil hikmahnya.
Tapi kalau negatif, mari kita jadikan positif. Caranya?
Yaa...jangan dicontoh laah...


Kalau kata Rasulullah,
Amar ma'ruf nahi munkar.
Mengajaklah pada kebaikan dan meninggalkan keburukan.

Kalau kita bisa mengajak dengan kebaikan, maka lakukanlah. Minimal dengan kata-kata dan mencontohkan perbuatan yang baik dan sopan. Kalau tidak berhasil mengajak pada kebaikan, maka doakanlah. Karena hanya Allah lah sang Maha Pembolak Balik hati manusia.



Itu beberapa tips yang saya terapkan sendiri dalam kehiduan saya. Karena saya orangnya baperan. Mencoba untuk tidak terlalu peduli dengan dunia maya. Kalau saya suka, saya like. Kalau engga, tinggalkan. Dan gak berusaha ingin tahu banget alias kepo.

Kecuali kalau ada seseorang yang berilmu, maka keingintahuan saya biasanya meningkat.

Dibilang kuno, biarlah.
Dibilang gak punya pendapat, ya sudahlah.

Daripada berpendapat tapi malah menyakiti orang lain dan membuat beberapa hati terluka. Heuu...jangan yaa...

Jadi, sayapun mohon maaf kalau ada hati yang terluka karena saya yaa..
Sungguh,
tidak pernah berniat demikian.


Naaah,
jadi be wise on Social Media yaa...
karena semua mata, tertuju padamu.

Jadi, bagaimana pendapat teman-teman tentang social media?



Salam hangat,











39 comments: