feature,

Kantong Jiwa Kosong Dan Berisi

Friday, October 13, 2017 Lendy Kurnia Reny 10 Comments

Assalamu'alaykum,



Ngomongin masalah hati atau jiwa..kita gak akan tahu niih...sedalam apa, sesakit apa dan bagaimana rupanya. Kadang ada orang yang sedih, namun wajahnya tetep menunjukkan senyum. Dan ada pula yang sedang kesal, namun tetap tersungging senyum dari wajahnya.

Bagaimana bisa?
Bagaimana mungkin?


Yaah,
inilah yang disebut dengan kantong jiwa.

Kalau dalam ilmu psikologi, kantong jiwa ini diibaratkan sebagai tas yang berisi bola-bola. Jika tas ini berat karena bola yang terisi di dalamnya penuh, maka jiwa ini sehat. Terkena hantaman permasalahan yang berat sekalipun, ia tidak mudah penyok atau kempes.

Namun jika bola-bola yang terisi di dalam tas tersebut tidak penuh, atau berongga bahkan hanya terisi sedikit, maka begitu ada benturan dari luar, maka akan mudah goncang, penyok bahkan bolanya mungkin bisa terhempas keluar tas.

Kanan - Jiwa berisi, tidak akan mudah goyah
Kiri - Jiwa kosong, akan lemas dan mudah goyah

Apakah seperti itu jiwa anak-anak kita?



Sebelum bertanya ke jiwa anak-anak, saya ingin Bunda mengecek dulu ke dalam jiwa Bunda. Apakah Bunda termasuk yang mudah penyok bila ada masalah?

Sejujurnya,
Saya tipikal yang tidak mudah penyok. Namun sejak kelahiran anak pertama, jiwa saya menjadi seakan mudah goyah dan sangat rapuh. Terlebih bila anak seumuran anak saya sudah bisa keahlian tertentu, dan anak saya belum. Langsung deeh...bapernya gak ketulungan.

Ditambah lagi support system yang gak baik.

Aah...jadi melahirkan anak-anak dengan jiwa-jiwa kosong dan labil seperti mamaknya.
Hiiks~~
Sedih yaa...


Penyebab jiwa kosong ini salah satunya adalah salahnya berkomunikasi orangtua dengan anak sejak dini. Yang biasa disebut 12 Gaya Populer oleh Ibu Elly Risman dari Yayasan Kita dan Buah Hati.

1. Memerintah

"Kak...cepet! Kalau engga, nanti sekolahnya terlambat looh."

Maksud orangtua : agar anak bergegas mengikuti apa yang dimaksud orangtua.
Kenyataannya : Anak menjadi tidak punya pilihan dalam situasi tersebut.


2. Menyalahkan

"Mama, aku tadi jatuh..."
"Iya kaan, mama bilang juga apa...engga nurut siih kalo dibilangin Mama."

Maksud orangtua : Ingin si anak menyadari kesalahannya.
Kenyataan : Anak merasa bahwa apa yang dilakukannya selalu salah.


3. Meremehkan

"Ma, ulanganku jelek..."
"Masa soal begitu mudahnya saja kamu gak bisa...?"

Maksud orangtua : Ingin memberi semangat agar besok nilainya lebih baik.
Kenyataan : Anak merasa gagal dan tidak mampu.


4. Membandingkan

"Masa kaka kalah sama adik? Sikat gigi sendiri saja gak bisa..."

Maksud orangtua : Ingin memberi motivasi dengan memberi contoh yang lebih baik.
Kenyataan : Anak akan merasa tidak dihargai usahanya dan merasa tidak disayang. Orangtuanya pilih kasih.


5. Mencap/melabel

"Iihh...kaka ceroboh deh... selalu saja ada barang yang ketinggalan."

Maksud orangtua : Memberi tahu kekurangan anak.
Kenyataan : Anak merasa...ya memang begitulah dirinya.


6. Mengancam

"Awas kalau berantem lagi sama adik, nanti gak akan mama belikan mainan baru."

Maksud orangtua : Agar masalah cepat teratasi dan anak patuh.
Kenyataan : Anak menjadi cemas dan takut.


7. Menasehati

"Makanya, kamu jadi anak itu nurut sama mama. Karena hal kecil gini kamu gak nurut, gimana nanti kalau masalahnya besar?"

Maksud orangtua : Agar anak nurut, karena orangtua merasa yang paling tahu mana yang benar dan salah.
Kenyataan : Anak kesel, benci dan gak suka sama orangtua yang bawel dan sok tahu.




8. Membohongi

"Kalau suka bohong, nanti hidungnya panjang looh..."

Maksud orangtua : Malas mencari alasan yang masuk akal dan mudah dicerna anak.
Kenyataan : Anak menjadi gak mudah percaya dengan orang dewasa.


9. Menghibur

"Ma, si Sally jahat sama aku."
"Ya, udah...gak usah deket-deket sama Sally. Ada banyak temen yang lain kan..??"

Maksud orangtua : Agar anak merasa tidak bersedih lagi.
Kenyataan : Anak akan menjadi sering lari dari masalah. Cenderung tidak mampu menyelesaikan masalahnya sendiri dengan baik.


10. Mengkritik

"Diih...ulanganmu kok nilainya jelek-jelek siih..."

Maksud orangtua : Ingin agar anak segera memperbaiki kesalahan.
Kenyataan : Anak merasa rendah diri dan selalu salah di hadapan orangtuanya.


11. Menyindir

"Ada apa niih...anak Mama mau bantuin di dapur? Mau tambahan uang saku yaa..."

Maksud orangtua : Memberi semangat atau motivasi.
Kenyataan : Anak akan merasa yang dilakukan selalu ada motif dibaliknya. Merasa tidak dipercaya dan menyakiti hati sang anak.


12. Menganalisa 

"Tau gak kenapa raportmu kemarin jelek? Ya...karena ini niih...main game melulu, sukanya begadang, gak pernah belajar."

Maksud orangtua : Agar anak menyadari kesalahan dengan cepat dan tidak mengulangi lagi.
Kenyataan : Anak merasa orangtua sok tahu dan menyebalkan.





Jadi jauh banget yaa...apa yang kita sampaikan dengan apa yang ditangkap oleh anak?
Sudah berapa banyak bola yang kita paksa keluar dari kantung jiwa anak-anak kita?

Heuu~~


Solusinya adalah 

πŸ’Œ Mulai merubah gaya komunikasi orangtua yang tergesa-gesa.
Coba : Kenali dulu lawan bicara kita.
Sadari bahwa setiap pribadi itu unik dan berbeda.

πŸ’Œ Baca bahasa tubuh, kenali gerak tubuhnya.

πŸ’Œ Membuka komunikasi dengan menjaga perasaan lawan bicara.
Menyadari bahwa anak perlu berpikir, memilih dan belajar mengambil keputusan.

πŸ’Œ Menjadi pendengar aktif.


Ingin yaa...jadi orangtua yang dipercaya anak?
Maka, jangan biarkan kita sendiri yang mengambil bola dari kantung jiwa anak-anak kita dan oranglain yang mengisinya kembali.

Semoga kantung jiwa anak-anak yang tercerabut dapat kita kembalikan dengan sebaik-baik kenangan yang mulai sekarang kita bentuk.


Bagaimana Bunda?
Punya kisah menarik seputar komunikasi dengan ananda?
Berbagi di kolom komentar yuuk...


Semoga bermanfaat.


Salam hangat,


You Might Also Like

10 comments:

  1. Mbak Lendy, ini kemana isinya? Kok sepotong? Kepencet kah?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Teteh....aku gak ngerti kenapa ilang.
      hiikks~~

      Aku tulis ulang...

      Delete
  2. Perbaiki diri demi masa depan anak. Ya gitu deh. Kita juga suka alpa.

    ReplyDelete
  3. Duh, jadi sedih.. Kadang suka khilaf kelepasan melakukan 12 gaya populer dalam komunikasi itu ke anak. Terutama kalo pas pikiran atau hati lagi penuh ama masalah. Harus belajar untuk memperbaiki gaya komunikasi nih. Makasih pengingatnya mbak

    ReplyDelete
  4. Mirip bukunya Ayah Edi ya.. .. Kalo aku kudu namatkan beberapa kali biar paham sekalin instal ulang program di otak T.T soalnya penting banget gaya komunikasi ini buat bonding ke anak saat dia remaja nanti. Mba, mungkin perlu ditambahi kalimat yang seharusnya bagaimana, perbaikan dari kalimat yang bertinta biru itu

    ReplyDelete
  5. Ada istilah kantong jiwa saya baru tahu nih.. Mksh atas sharringnya ya Mba..

    ReplyDelete
  6. Mbaa, suamiku sering banget mengkoreksi aku yang kadang mungkin maksudku nggak memerintah tapi terkesan demikian. Teryata sebagai orangtua memang kita harus banyak belajar ya untuk mendidik anak. Semoga kantong jiwa kita tak kosong ya mba :)

    ReplyDelete
  7. yang paling sering kejadian sih membohongi, barusan kemaren temen main kerumah bawa anaknya, pas mau pulang anaknya nangis karena masih betah dirumah saya. eh emaknya bilang "ayo pulang sebentar lagi ada laba-laba besar datang kesini" sejujurnya dalam hati saya kurang setuju sama sikap temen saya ini sih hehe membohongi anak buat membujuk. Tapi karena saya belum punya anak, jadi gak paham ya betapa sulitnya menenangkan anak yang lagi rewel.. mudahan nanti kalo udah jadi orangtua bisa jadi sosok yang sebaik-baiknya buat anak

    ReplyDelete
  8. Wah banyak nih ceklistku. PR banget buat memperbaiki gaya komunikasi dengan anak. tapi ya gtu kadang lelah dan senewen, ngumpet dulu kali ya pas lagi kesel haha TFS mbk Lendy

    ReplyDelete
  9. Hihi, analoginya pas, tas kantong berisi dan kosong.

    ReplyDelete