article,

Ramadan Pertama Di Arcamanik

Thursday, May 31, 2018 Lendy Kurnia Reny 36 Comments

Bismillah,


Tak terasa yaa...Ramadan 1439 H sudah separuh jalan kita lewati. Dan Ramadan kali ini, kami berada di lingkungan baru. Tentu ada banyak kebiasaan dari lingkungan yang telah kami tinggali selama 8 tahun sangat berbeda dengan lingkungan yang sekarang, seperti :


πŸ•Œ Jarak masjid dari rumah πŸ•Œ 
Rumah dulu, ada 2 masjid yang bisa dengan mudah kami jangkau. Dan jaraknya sama-sama dekat. Yang membedakan hanya jamaahnya. Kalau masjid dekat apartemen mahasiswa ITB Sangkuriang, biasanya mayoritas jamaah laki-laki. Dan untuk perempuan, hanya diberi beberapa shaf di belakang, Sehingga bagi yang membawa anak di bawah 7 tahun, akan merasa bosan. Ujung-ujungnya, sesuai dengan fitrah mereka, yakni bermain. Dan aktivitas ini cukup membuat jalannya ibadah menjadi kurang khusyu'.

Sedangkan masjid yang satu lagi, dekat dengan rumah penduduk. Masjid ini terbilang nyaman, karena baru saja rampung dalam pembangunannya. Sehingga untuk terawih, perempuan mendapat ruangan khusus di atas, sehingga hijabnya sangat jelas.

Masjid Asy-Syifaa wal Hidayah
Jl. Atletik Arcamanik

Sedangkan rumah yang saat ini kami tempati, masjidnya berada di seberang jalan besar. Sehingga untuk menjangkaunya saja, kami membutuhkan bantuan satpam untuk membantu kami menyeberang jalan.

Dari segi kenyamanan saat beribadah, masjid Asy-Syifaa wal Hidayah sangat nyaman. Kala adzan berkumandang, banyak jamaah berbondong-bondong berangkat ke masjid. Ada yang berjalan kaki (seperti kami sekeluarga) dan ada yang menggunakan kendaraan bermotor. Tak heran parkiran di sepanjang jalan Atletik ditutup.

Untuk menampung jamaah ikhwan dan akhwat diberi hijab yang jelas. Dan untuk terawih seperti saat ini, jamaah sampai meluber ke sisi jalan, sehingga pihak (takmir) masjid mendirikan tenda yang luar biasa nyaman beralaskan terpal kemudian dilapisi karpet. Jadi jangan kuatir kalau kelupaan bawa sajadah.



🍲 Para penjual makanan berbuka πŸ²
Dulu, saat masih tinggal di Sangkuriang-Dago, kami tidak pernah melewatkan membeli makanan untuk berbuka. Yaah, hanya sekedar gorengan seperti bala-bala atau gehu dan cilok beserta teman-temannya.



Tapi semenjak pindah, kami tidak pernah sekalipun mencari menu berbuka di luar. Padahal sepanjang jalan (besar) Arcamanik mah...banyaaak... tapi asa hoream (aka. males). Dan tau gak sahabat lendyagasshi?
Jam-jam berbuka itu, bikin sepanjang jalan utama Arcamanik paddaaatt syekalii...ohhoo...bikin keki deeh...

Karena pernah niih yaa... saya ke sebuah mini market bersama anak-anak, jam 5 sore naik mobil. Subhanallah, macet cet. Agak menyesal kenapaaaa tadi naik mobil...?? Ihiikk~~
Jadilah kami berbuka di mini market tersebut dengan menu seadanya.
((emm, iyaa...anak-anak saya inii...agak picky eater, jadi gak akan mau diajakin nyari siomay atau kolak. 😒 Padahal itu kaan....surga dunia banget yaa...))



πŸŒƒ Suasana sahur πŸŒƒ
Hiihi...ini unik banget looh...kalau di Sangkuriang Dago, kami terbiasa terbangun dengan adanya pemuda-pemuda yang berkeliling sambil tatabuhan mendendangkan lagu ciptaan mereka mengenai "Bangun Sahur" pakai bahasa Sunda gituu...

Dijamin.
Yang tadinya bobok nyenyak, langsung bangun begitu rombongan orkestra ini lewat. Karena selain menyanyikannya dengan berteriak, mereka juga sembari menabuh botol kaca dan kencreng.
Serruu yaah??

Dan lewatnya gak hanya sekali doonk...bisa ada 3 kali dengan rombongan yang berbeda.
Jadi kalau gak bangun saat rombongan pertama lewat, masih ada rombongan kedua dan ketiga.

Masih gak bangun juga?
Hahhaa...pernah, saudara-saudara....saking nyenyaknya kami bobok.


Gimana suasana sahur di Arcamanik?
Syepi.
Hanya Pak Muji (satpam khusus di gang saya) yang terjaga sepanjang malam, dan saat waktu sahur tiba, kira-kira jam 03.00, maka Pak Muji memukul keras-keras tiang listrik sepanjang jalan di gang ini, sembari teriak "Sahuuurr...sahuurr..."

Dan,
karena si Bapak sudah berumur, teriakannya tidak cukup nyaring kalau menurut saya. ((Hhaha...maafkan saya yaa, Pak...))

Dibantu juga tilawah dari Masjid Asy-Syifaa wal Hidayah.
Namun hanya beberapa saat dan tidak terlalu keras. Karena jaraknya yang lumayan dari rumah.


Jadi pernah kesiangan gak?
Emm, pernah.
Sekali. Mepet banget bangunnya. Hanya punya 5 menit untuk sahur.
Alhamdulillah,
Ai dan Hana gak protes karena makan terburu-buru dan dekat dengan adzan shubuh.
Barakallahu fiikum, anak-anak sholihaa...




🌻 Suasana saat shaum 🌻
Rumah yang dahulu kami tinggali termasuk memiliki lingkungan yang hangat. Tetangga saling menjaga, silih asuh dan saling antar makanan. Bahkan tetangga non-muslim sekalipun.
Oma tetangga, sering sekali memberikan Ai dan Hana makanan ringan untuk berbuka, katanya.



Sedangkan di Arcamanik, kami masih terhitung warga baru, jadi kami tidak banyak melakukan aktivitas di luar rumah. Untuk waktu-waktu tertentu, seperti weekend, kami saling bergotong-royong membersihkan kendaraan bermotor yang biasa kami pakai selama weekdays, menyiram tanaman ((kami di rumah yang sekarang ini mempunyai mini taman. Lumayan ada beberapa tanaman bermanfaat seperti daun katuk, cabai, pohon pepaya, dan beberapa tanaman yang saya gak tahu namanya. Hihii....sayangnya, saya gak punya hasrat berkebun. Jadi paling banter, siram-siram saja. Suami dan anak-anak yang kebagian nyabutin rumput-rumput liar yang mengganggu)).

Alhamdulillah,
sudah kenal beberapa tetangga, terutama mamih depan rumah yang sering menyapa untuk sekedar basa-basi.

Bosan gak anak-anak di dalam rumah?
Sejauh ini, Ai dan Hana suka menemukan apa saja yang bisa dijadikan permainan. Aktivitas baca buku dan menonton tivi adalah favorit mereka. Selain naik-turun tangga πŸ˜… yang menghabiskan energi juga gak pernah ketinggalan mengisi hari-hari di rumah baru ini.

Baca juga


Terakhir yang paliiing terasa saat Ramadan kali ini adalah . . .



πŸ™ Khadimat πŸ™
Kalau dulu saya memiliki seseorang yang biasa saya panggil "bude" untuk membantu keseharian saya dalam mengerjakan pekerjaan rumah tangga, saat ini saya harus berbesar hati hanya bisa menghadirkan bude seminggu dua atau tiga kali. Tidak tiap hari seperti dulu.

Sebenarnya ada banyak hal yang membuat saya berat melepas bude. Bude membuat saya seperti orang yang sedang jatuh cinta. Apa yang saya sukai, beliau berusaha sekuat tenaga menuruti. Dan sepanjang bekerja dengan saya, in syaa Allah beliau sangat amanah. Terhadap harta benda apalagi terhadap anak-anak.

Saya percaya sekali dengan sosok bude ini.

Semoga Allah merahmati beliau.





Ramadan adalah bulan yang paling kami nantikan sepanjang tahun. Karena selain memperkuat keimanan, kami juga bisa saling menanamkan akidah. Saya tidak lebih tahu dari anak-anak, sehingga kami sekeluarga pada waktu-waktu tertentu ngobrol santai berdiskusi banyak hal.

Dan mashaAllah,
Anak-anak tidak perlu diminta dengan kata-kata, cukup melihat apa yang orangtua lakukan saja, bisa otomatis meniru.

Dan doakan yaa, sahabat lendyagasshi...agar anak-anak sehat selalu dan sanggup mengikuti shaum wajib Ramadan ini hingga full 30 hari.
Cerita ini terinspirasi dari mak Julia Amrih ( http://www.sepradik.com )  yang merupakan post trigger #KEBloggingCollab dari kelompok Najwa Shihab yang berjudul Ramadan Bersama Keluarga, Ngapain Aja?


Lega rasanya bisa curhat tetang lingkungan baru yang kami tempati saat ini.
Kalau sahabat lendyagasshi, punya cerita seru apa niih...saat Ramadan 1439 H kali ini?
Share di kolom komentar yaa...


Haturnuhun.



Salam hangat,



You Might Also Like

36 comments:

  1. Hi mak lendy selamat menempati rumah barunya ya, kapan2 ketemuan yuk, ternyata grup wa kita, ada beberapa yg tinggal di banding ya. Eh ngelantur ini hi... Hi... Maklum tadi hampir kesiangan sahur, untung hanya pakai sate yang belinya semalam, tinggal bakar2 trus sahur deh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Banding dibaca bandung ya hi... Hi...

      Delete
    2. Banding dibaca bandung ya hi... Hi...

      Delete
  2. hmmm ceritakuuu... stay di kampus.. kuliah, bahkan kuprediksi H-3 masih kuliah. duh laaah. seminggu setelah lebaran, masuk kampus lagi buat kuliah. Ya Allah... semoga kuliah dan tugas-tugas bisa dimampatkan seminggu penuh sebelum lebaran semuanya. Aamiin. hahhaa

    Sepertinya, nanti kalau aku sudah mengikuti domisili suami, aku akan nulis beginian juga, membandingkan suasana ramadhan di rumah ortu dan rumah baru. Kupikir cukup menunggu satu lebaran lagi, baru aku dan calonku bisa sah. Huahahaha. Kasih aamiin dong, Teh Lendy

    πŸ’•

    ReplyDelete
  3. Baru tahu pindah rumah ya? Ini sudah menetap gak akan pindah lagi kah?
    Anak2 sekolah gimana?

    ReplyDelete
  4. InsyaAllah smoga makin berkah di rumah barunya ya mba. Saat yang tepat untuk berkenalan dengan tetangga baru :)

    ReplyDelete
  5. Mirip2 cerita Ramadhannya, mba. Kalau mikirin macetnya memang males cari ta'jil di luar mending bikin di rumah jadi sesuai selera juga. Bebikinan kue dan masakan juga bisa bikin waktu jadi ga kerasa. Salam kenal mba (:

    ReplyDelete
  6. Kalau di tempat saya, yang bangunin sahur anak-anak muda tuh. Mereka dari jam 2/3 kayaknya udha kumpul di masjid yang tepatt banget di sebelah rumah. Dan corong TOA nya menghadap kamar saya pas :')

    Daannn lucunya, mereka manggil nama warga satu2 gitu. Kadang ga cuma nama kepala keluarga, bahkan sampai anak-anaknya, dengan nada yang mendyau-dayu. Otomatis kitanya terbangun karena terganggu plus ngakak juga xD

    ReplyDelete
  7. Iya ih kalau di Garut juga para pemuda suka rame-rame keliling bangunin sahur sambil bawa bedug dan kentongan. Rame.

    ReplyDelete
  8. Semoga betah ya Mak di rumah barunya dan anak-anak puasanya full 30 hari.

    ReplyDelete
  9. Serunya ramadan di Arcamanik ya, sekarang sudah nyaman banget berpuasa di kota maupun di desa

    ReplyDelete
  10. Wah, puasa pertama di tempat baru, ya. Cukup berbeda juga dengan tempat sebelumnya. Semoga anak2 betah dan kerasan. Semangaaat. :)

    ReplyDelete
  11. Wah, deket sekarang rumahnya sama rumaku, sesama Bandung Timur. Barakallah untuk rumah barunya, Mbak sayang. 😘

    ReplyDelete
  12. Wah, baru pindah semoga betah dan rumah baru membawa rejeki

    ReplyDelete
  13. wahhh, baru pindahan teh? selamat menempati rumah barunya ya teh, semoga betah tinggal disana dan selamat menjalankan ibadah puasa ya teh :)

    ReplyDelete
  14. seru mba Len, puasa kali ini udah ada yang nemenin hahahah

    ReplyDelete
  15. Pindah ke lingkungan baru, jadi harus beradaptasi lagi ya Teh. Semoga betah di rumah barunya, dan bisa rukun dengan tetangga. Aamiin

    ReplyDelete
  16. Huhuhu aku jga kangen ramadanku tahun kmrn, tahun kmrn di depok enak bangte masjidnya, tahun ini kalau ke masjid harus naik kendaraan., Ada mushola kecil tapi kalau ajak anak ke situ, khawatir anakku lari ke jalan, krn halamannya langsung ke jalan.
    Berharap tahun depan ada kesempatan nemu rumah yg cocok yg dekat masjid besar lg....
    Sementara ini yawes disyukuri aja apa yg ada

    Ini knp curcol yeeeee :))

    ReplyDelete
  17. Wah... Selamat menempuh rumah baru Dan semoga semakin berbahagia disana.... Nyaman Dan akrab

    ReplyDelete
  18. Wah alhamdulillah bisa mendapat suasana baru hehe... semoga suasana lebih baik dan nyaman ya teh... :) Awal2 sih pastinya butuh adaptasi ya teh :)

    ReplyDelete
  19. Semenjak kerja di Jakarta belum ngerasain lagi hawa hawa Ramadhan di Bandung, jadinya pulang pas lebaran aja hehehe.

    ReplyDelete
  20. Hampir sama nih cerita ramadhannya. Memang ya, tiap ramadhan pasti ada kisah tersendiri.

    ReplyDelete
  21. saya pernah tinggal i bandung selama 6 bulan.. dan saya pikir, iklim bandung (lebih tepat cimahi) sangat menunjang untuk berpuasa dengan hawa yang sejuk.. :)

    ReplyDelete
  22. Selamat menempuh hidup baru di lingkungan yang baru mbak. Semoga betah, aman dan nyaman yaa hehe. Nanti mau dong mbak diceritain lebaran pertama di sana hehe

    ReplyDelete
  23. Selamat menikmati suasana puasa di rumah barunya ya mbak, semoga betah dan bisa menyesuaikan diri

    ReplyDelete
  24. Rumah baru, suasana baru dan yang pasti lebih seru apalagi menyambut Ramadhan di sana. Dan sebentar lagi, kayaknya bakal ada tradisi mudik dari rumah baru. Ya palingan mudik jugalah namanya.
    Hehehe, Semoga rumah barunya membawa berkah dalam kelaurga ya Mbak..
    Amiiin

    ReplyDelete
  25. Selamat menempati rumah dan lingkungan baru ya mba.
    Sy jg pernah jd penghuni di komplek baru
    Saya sih yg lakukan pendekatan tetangga, spt antar makanan berbuka gt

    ReplyDelete
  26. Selamat menikmati suasana baru dengan tetangga baru dan kehidupan baru. Semoga tetap khusyuk ibadahnya dan semua aktifitas berjalan lancar. Salam juga buat bude yang selalu amanah dengan tugasnya

    ReplyDelete
  27. Y Allah Mbak adem banget ceritanya.aq ramadhan paling berkesan sama anak-anak nemenin mereka TPA dan berbuka di masjid. Lainnya tarawih sdrian kadang sama anak sulung, hiks masih LDR sama suami soalnya. Doakan tahun depan pindah rumah juga ya

    ReplyDelete
  28. Aku beberapa kali puasa di tempat baru dan adalah suasana yg beda. Tapi soal bangunin sahur pake musik2, ya Allah itu kebanyakan ada dan lumayan bikin tidur kurang nyenyak

    Semoga betah ya Mbak

    ReplyDelete
  29. Rumah baru... dan hangat pula. Selamatya Mbak... Pastilah sangat senang.
    Saat membaca ini jadi ingat kondisi tahun lalu, pindah rumah saat bulan puasa. Dan terasa banget bahagianya.

    ReplyDelete
  30. Semoga Ramadan tahun ini lebih baik dari tahun kemarin ya mbak, banyak berkah dan kebahagiaan yang mengalir di keluarga. Semangat lebaran sebentar lagi. Uhuy.

    ReplyDelete
  31. Masya Allah.. senenggg bacanya. Rumah baru dengan suasana dan pengalaman baru di Ramadan. Anak-anak shalihah semua yaa. Pastilah nyontoh dari abi uminya :)

    ReplyDelete
  32. Wah, selamat atas rumah barunya. Semoga nyaman, dan betah ya. Amin.

    Tapi emang kalo di tempat baru pas puasa tuh butuh adaptasi ekstra, ya. Utamanya pas cari makanan berbuka yang pas dan warteg yang buka 24 jam buat sahur. Maklum, anak kosan.

    ReplyDelete
  33. Selamat pindah ke rumah baru, Teh :)
    Kalau rumahku depannya masjid jadi rame. Terus pemuda nyanyi keliling itu juga ada 3 kloter. Alhamdulillah keriuhan itu bikin saya melek terus hehe

    ReplyDelete
  34. Wah, berkesan ya bulan ramadan di lingkungan baru & suasana baru

    ReplyDelete