feature,

Mengenali Gaya Belajar Anak

Thursday, April 27, 2017 Lendy Kurnia Reny 40 Comments

Assalamu`alaykum,

Bunda-bunda yang berbahagia...pernahkah kita menemui anak yang susah banget diajak belajar? Atau sudah dikasih tau bolak-balik, tapi masih juga gak ngerti.

Kesel, sebel dan gemes...kemudian seringkali tercetus 12 gaya populer, seperti mengancam, membandingkan atau malah meremehkan.
Kalau sudah begini, si anak akan makin malas belajar.

Efek domino dalam pengasuhan inilah yang harus kita cari akarnya. Apa yang bisa kita perbaiki agar anak nyaman saat belajar. Bahkan tanpa disuruh dan bisa menangkap pelajaran dengan mudah.





Melalui seminar yang saya hadiri pada hari Sabtu, 15 April 2017 di Miko Mall dan ternyata selaras dengan materi Bunda Sayang di komunitas Institut Ibu Profesional (IIP). Maka saya akan menampilkan materi 3 Gaya Belajar Anak beserta tips mengoptimalkannya, yaitu :

Auditory
Belajar dengan mengakses segala macam bunyi, suara, musik, nada, irama, cerita, dialog, dan pemahaman materi pelajaran dengan menjawab atau mendengarkan lagu, syair, dan hal-hal lain yang terkait.

Visual
Belajar  dengan citra visual, warna, gambar, catatan, tabel, diagram, grafik, serta peta pikiran, dan hal-hal lain yang terkait.

Kinestetik
Belajar menggunakan segala jenis gerak, aktifitas tubuh, emosi, koordinasi, dan hal-hal lain yang terkait dengan gerakan.



Untuk mengenalinya, kita harus tahu dahulu ciri-ciri dari masing-masing gaya belajar tersebut.
Berikut ciri-ciri dari masing-masing gaya belajar :



Gaya Belajar Auditori
(belajar dengan cara mendengar)

Lirikan ke kiri/ke kanan mendatar bila berbicara. Anak yang bertipe auditori mengandalkan kesuksesan belajarnya melalui telinga (alat pendengarannya). Untuk itu maka ibu/guru sebaiknya memperhatikan siswa/anaknya hingga ke alat pendengarannya. Anak yang mempunyai gaya belajar auditori dapat belajar lebih cepat dengan menggunakan diskusi verbal dan mendengarkan apa yang guru/ibu katakan.

Anak auditori dapat mencerna makna yang disampaikan melalui tone suara, pitch (tinggi rendahnya), kecepatan berbicara dan hal-hal auditori lainnya. Informasi tertulis terkadang mempunyai makna yang minim bagi anak auditori dibanding dengan mendengarkan.

Anak-anak seperi ini biasanya dapat menghafal lebih cepat dengan membaca teks dengan keras dan mendengarkan kaset.


Ciri-ciri gaya belajar auditori :

šŸŒ·Saat bekerja suka bicara kepada diri sendiri
šŸŒ·Penampilan rapi
šŸŒ·Mudah terganggu oleh keributan
šŸŒ·Belajar dengan mendengarkan dan mengingat apa yang didiskusikan dari pada yang dilihat
šŸŒ·Senang membaca dengan keras dan mendengarkan
šŸŒ·Menggerakkan bibir mereka dan mengucapkan tulisan di buku ketika membaca
šŸŒ·Biasanya ia pembicara yang fasih
šŸŒ·Lebih pandai mengeja dengan keras daripada menuliskannya
šŸŒ·Lebih suka gurauan lisan daripada membaca komik
šŸŒ·Mempunyai masalah dengan pekerjaan-pekerjaan yang melibatkan visual
šŸŒ·Berbicara dalam irama terpola
šŸŒ·Dapat mengulangi kembali dan menirukan nada, berirama dan warna suara




Gaya Belajar Visual 
( Belajar dengan cara melihat)

Lirikan ke atas bila berbicara, berbicara dengan cepat. Bagi anak yang bergaya belajar visual, mata/penglihatan (visual) memegang peranan penting dalam belajar. Metode pengajaran yang digunakan ibu/guru sebaiknya lebih banyak di titikberatkan pada peragaan/media. Mengajak mereka ke obyek-obyek yang berkaitan dengan pelajaran tersebut, atau dengan cara menunjukkan alat peraganya langsung pada siswa atau menggambarkannya di papan tulis.

Anak yang mempunyai gaya belajar visual harus melihat bahasa tubuh dan ekspresi muka gurunya/ibunya untuk mengerti materi pelajaran. Mereka cenderung untuk duduk di depan agar dapat melihat dengan jelas. Mereka berpikir menggunakan gambar-gambar di otak mereka dan belajar lebih cepat dengan menggunakan tampilan-tampilan visual. Seperti diagram, buku pelajaran bergambar, dan video.


Ciri-ciri gaya belajar visual :

šŸŒ·Bicara agak cepat
šŸŒ·Mementingkan penampilan dalam berpakaian/presentasi
šŸŒ·Tidak mudah terganggu oleh keributan
šŸŒ·Mengingat yang dilihat, dari pada yang didengar
šŸŒ·Lebih suka membaca dari pada dibacakan
šŸŒ·Pembaca cepat dan tekun
šŸŒ·Seringkali mengetahui apa yang harus dikatakan, tapi tidak pandai memilih kata-kata
šŸŒ·Lebih suka melakukan demonstrasi dari pada pidato
šŸŒ·Lebih suka musik
šŸŒ·Mempunyai masalah untuk mengingat instruksi verbal kecuali jika ditulis, dan seringkali minta bantuan orang untuk mengulanginya.




Gaya Belajar Kinestetik
(belajar dengan cara bergerak, bekerja dan menyentuh)


Lirikan ke bawah bila berbicara dan berbicaranya lebih lambat. Anak yang mempunyai gaya belajar kinestetik belajar melalui bergerak, menyentuh, dan melakukan. Anak seperti ini sulit untuk duduk diam berjam-jam karena keinginan mereka untuk beraktifitas dan mengeksplorasi sangatlah kuat. Anak  yang bergaya belajar ini belajarnya melalui gerak dan sentuhan


Ciri-ciri gaya belajar kinestetik :

šŸŒ·Berbicara perlahan
šŸŒ·Penampilan rapi
šŸŒ·Tidak terlalu mudah terganggu dengan situasi keributan
šŸŒ·Belajar melalui memanipulasi dan praktek
šŸŒ·Menghafal dengan cara berjalan dan melihat
šŸŒ· Menggunakan jari sebagai petunjuk ketika membaca
šŸŒ·Merasa kesulitan untuk menulis tetapi hebat dalam bercerita
šŸŒ·Menyukai buku-buku dan mereka mencerminkan aksi dengan gerakan tubuh saat membaca
šŸŒ·Menyukai permainan yang menyibukkan
šŸŒ·Tidak dapat mengingat geografi, kecuali jika mereka memang pernah berada di tempat itu
šŸŒ·Menyentuh orang untuk mendapatkan perhatian mereka.
šŸŒ·Menggunakan kata-kata yang mengandung aksi.



Sudah terbayang gaya belajar ananda apa, Bunda?
Saya pertama kali dapat materi ini, yang saya lakukan malah mengidentifikasi diri sendiri dulu. Karena prinsip saya, bagaimana saya mau menuntun anak kalau saya tidak mengenali diri sendiri?

Tidak ada kata terlambat selama ia masih mau bergerak berubah kan yaa...

Naah...sekarang dikasih Ibu Septi strategi untuk masing-masing gaya belajar di atas. Simak yuuk...biar bisa mengoptimalkan kemampuan anak.


Strategi untuk mempermudah proses belajar anak auditori :

šŸ“Ajak anak untuk ikut berpartisipasi dalam diskusi baik di dalam kelas maupun di dalam keluarga.
šŸ“Dorong anak untuk membaca materi pelajaran dengan keras.
šŸ“Gunakan musik untuk mengajarkan anak.
šŸ“Diskusikan ide dengan anak secara verbal.
šŸ“Biarkan anak merekam materi pelajarannya ke dalam kaset dan membiasakan mendengarkan sebelum tidur.



Strategi untuk mempermudah proses belajar anak visual :

šŸ“Gunakan materi visual seperti, gambar-gambar, diagram dan peta.
šŸ“Gunakan warna untuk meng hi-lite hal-hal penting.
šŸ“Ajak anak untuk membaca buku-buku ber-ilustrasi.
šŸ“Gunakan multi-media (contohnya : komputer dan video).
šŸ“Ajak anak untuk mencoba mengilustrasikan ide-idenya ke dalam bentuk gambar.



Strategi untuk mempermudah proses belajar anak kinestetik:

šŸ“Jangan paksakan anak untuk belajar sampai berjam-jam.
šŸ“Ajak anak untuk belajar sambil meng-eksplorasi lingkungannya
(contoh : ajak dia baca sambil bersepeda, gunakan obyek sesungguhnya untuk belajar konsep baru).
šŸ“Izinkan anak untuk mengunyah permen karet pada saat belajar.
šŸ“Gunakan warna terang untuk menghilite hal-hal penting dalam bacaan.
šŸ“Izinkan anak untuk belajar sambil mendengarkan musik.



Sudah dapat pencerahan, Bunda?
Maka Bunda bisa mulai mengamati gaya belajar anak dari bagan berikut



Dan pesan Ibu Septi bahwa perjalanan pengamatan gaya belajar pada anak ini tidak bisa dilakukan satu atau dua hari lalu dapat kita simpulkan. Namun butuh waktu berhari-hari hingga kita yakin betul, mereka benar-benar berbinar saat melakukan aktivitas apa?

Dengan begitu,
dengan gaya belajar tersebutlah kita optimalkan perkembangan fitrah belajar anak.

Don`t teach me, 
Because i love to learn


šŸ“šSumber Bacaan :
Gordon Dryden and JeanetteVos, The Learning Revolution, ISBN-13: 978-1929284009
Barbara Prashing, The Power of Learning Styles, Kaifa, 2014
Institut Ibu Profesional, Bunda Sayang : Memahami Gaya Belajar Anak, GazaMedia, 2016


Selamat membersamai anak dalam menemukan fitrah belajarnya, Bunda.


Salam hangat,







You Might Also Like

40 comments:

  1. Klo liat ciri2nya, berarti gaya brlajarku auditory. Hahah. Suka ngomong sendiri, kesel klo keganggu :v

    ReplyDelete
  2. dari dulu aku mikir aku ini visual banget tapi setelah baca kinestetik sepertinya lebih nyambung yang ini deh

    ReplyDelete
  3. anakku auditori klo aku visual suamiku sama kek anakku kami emang keluarga kalem *blah komennya minta digaruk mba Lendy :D
    apapun gaya belajarnya yg ptg goals belajar tercapai y kan mba ^-~

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ahhha...garuk niiih...*dompetnya.
      Aku kalo belajar harus sambil makan, kaka...((modus))

      Delete
  4. Anak saya beda-beda, dong!
    Yang satu auditori yang satunya visual.
    Yang satu suka belajar dalam hening, yang satunya harus pake musik/bersuara.
    Kebayang situasi rumah, kayak gimana, kan? Hihihi....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Menyiasatinya gimana, teh Noe...?
      Yang suka pake musik, pake earphone kali yaa...?

      Delete
  5. Alhmdulillah skrg semakin bnyak penelitian yg bisa membantu dlam thap tumbuh kembang anak, aku yg notabene dr desa dan mempunyai orgtua yg bukan berasal dr sekolah tinggi sangat merasakan dampaknya mba. Belajar seadanya, masih pemikiran jaman dulu yg semua berorientasi pd nilai, kalo nilainya jelek berarti anaknya tidak pintar.
    Pdhl bnyak faktor yg mempengaruhi kecerdasan anak, bisa jadi memang si anak tdk berbakat dibidang tab tp punya bakat dibidang lain.
    Semoga nanti pas aku punya putraputri bisa sabar dalam mendidik anak.. Aamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiin.
      Iya, aku pun sampai saat ini masih susah merubah mindset itu.
      Kalo nilai akademik jelek, berarti anak kurang berbakat di area akademik.
      Terus dimana doonk...?!?

      *orang tua memang harus sabar mendampingi dan membersamai anak

      Delete
  6. Baca dulu, dapet ilmunya dulu, nerapinnya kelak kalo dah menikah dan punya anak
    makasih mba Lendy :*

    ReplyDelete
  7. Saya juga mulai belajar mendeteksi cara belajar anak. Bagi saya sangat diperlukan agar potensi anak dapat berkembang dengan baik. Bayangkan kalau kita sebagai orang tua belum memahaminya bisa jadi kita akan terus bersitegang dengan anak karena kita belum memahami anak secara komprehensif,

    ReplyDelete
  8. mengunyah permen saat belajar bukannya nanti malah kebiasaan ya mba? untuk kedepannya? jadi apabila tidak mengunyah permen nanti malahan anaknya tidak mau untuk belajar dan segala macam mba?

    ReplyDelete
  9. Aku berarti kombinasi xixixxi..

    menghapal kadang sambil denger musik, sering kali jg sambil berpidato di depan cermin..

    heehehee blm punya anak, jd yang di check diri sendiri..

    ReplyDelete
  10. meskipun kdg ketiga gaya belajar tsb terkombinasi, kita sbg ortu ttp perhatikan mana yg lbh dominan ya, terimakasih sharingnya mbak :-)

    ReplyDelete
  11. Kalau Fahmi, putra saya sepertinya saya amati ke visual masuk ke Kinestetik juga masuk nih...

    ReplyDelete
  12. waaah.. ternyata dari lirikan maat saat berbicara kita bisa mendeteksi ya mba ini anak tipe pembelajar apa hehehhe...sering sih nemuin ortu yang ngeluh karena menurut mereka anaknya susah belajar, padahal mungkin metode belajarnya aja yang kurang tepat ya.

    ReplyDelete
  13. Cara belajarky kyknya kombinasi ya... visual bs kinestetik bs. Hehe

    ReplyDelete
  14. Saya termasuk anak yg kuat di visual dan kinestetik mba.. makanya klo belajar cuma dengerin pasti agak susah nangkapnya

    ReplyDelete
  15. Kok kayaknya aku ada sebagian auditori, sebagian lagi visual :D

    ReplyDelete
  16. Orang tua memang harus pinter memadukan cara memberikan ilmu ke anak anak ya mbak. Ngga bisa dengan satu metode aja biar anak ngga bosen. Semakin banyak ilmu parenting sekarang membuat makin mudah bagi orang tua "bersahabat" dengan anak

    ReplyDelete
  17. Karena belum punya anak, maka aku menilai diri sendiri dulu ah. Aku kayaknya tipe visual dan auditory, gabungan antara keduanya. Terima kasih banyak ya Mbak Lendy atas ilmunya.

    ReplyDelete
  18. penting banget ini masalah gaya belajar terutama yang sudah punya si kecil. KIta harus bener menerapkannya jangan sampai salah. Supaya si kecil bisa belajar optimal

    ReplyDelete
  19. Anakku visual dan kinestetik. Dia suka gambar dan atur2 ruang, juga suka banget di outdoor. Tengkyu sharing soal strateginya mbak Lendy, nati coba kuterapkan :D

    ReplyDelete
  20. Kayanya 3 cara belajar diatas ada diri saya wkwk tfs Mba, sangat mencerahkan sekali untuk mendidik anak saya nanti hihi

    ReplyDelete
  21. kalau aku dan suami sama2 visual dan kinestetik..eh :D

    ReplyDelete
  22. belajar visual bisa dibantu dengan media ya mba.. saya merasa terbantu dengan media belajar visual untuk abang kalau kakak sepertinya auditori kayaknyakarena dia selalu mengutamakan penampilan

    ReplyDelete
  23. anakku ada yang kinestetik, visual. kalau belajar dalam waktu bersamaan. susah sekali ngaturnya

    ReplyDelete
  24. Kalau saya dominasinya visual, tapi memang gak semua cir-cirnya melekat.

    ReplyDelete
  25. Sepertinya kalau anak saya tipenya audio, mudah terganggu kalau ada kributan, dan seperti ga nyimak kalau guru lagi ngomong tapi bisa ngikutin.

    ReplyDelete
  26. Anakku yang besar kinestetiknya dominan, tapi kalau yang kecil belum kelihatan tipenya seperti apa.

    ReplyDelete
  27. terimakasih ilmunya ni mbak

    ReplyDelete
  28. Anak saya masih 13 bulan, jadi belum keliatan mana cenderung ke yang mana. Semuanya dia tiru deh, apa yg diliat n apa yg dia denger dari lingkungan :D

    ReplyDelete
  29. Wah, baca ini jadi keingetan anak2. Empat anakku beda-beda. Tapi yang Unik yang nomor 2. Dia tipe kinesthetic. Belajar kudu bolak-balik ke sana ke Mari. Gak bisa diem jadinya. Dulu banyak yang heran. Apalagi orang baru. Tapi lama-lama pada ngerti

    ReplyDelete
    Replies
    1. Baru nyadar, aku ternyata belom follow blog ini. Aku follow, ya. :)

      Delete
    2. Haturuhun teteh....

      *seneng banget dikunjungi sama teh Nia.


      Suka aneh yaa...teh kalo ngliat anak-anak belajar.
      Kadang akunya yang cerewet...kok gini---kok gitu...tapi ternyata inilah tipenya.

      Semoga sayanya makin sabar dalam mendampingi anak-anak menemukan dirinya.

      Delete
  30. Taaah nu budak teu daek cicing berarti .....

    ReplyDelete
  31. Wah teteh... banyak ilmu nih.
    Berguna bgt buat aku yg blm pny anak, bisa buat nyiapin mental dan ilmu tentunya =D

    ReplyDelete
  32. Hoooo, berarti aku anaknya visual banget. Kalau anakku belum tau apa, masih bayi hehehe.... kira2 umur berapa mulai bisa dilihat ya mbak?

    ReplyDelete