feature,

Pengaruh Media Dalam Perkembangan Gender Anak

Sunday, January 21, 2018 Lendy Kurnia Reny 35 Comments

Bismillah,


Jaman sekarang, semua orang punya mata, semua mata bisa melihat dan yang mereka lihat adalah tayangan-tayangan yang belum tentu layak tonton. Bayangkan saja, iklan di televisi pun yang notabene hadir di jam tayang kartun anak-anak, mengandung konten buruk. Seperti gaya laki yang keperempuan-perempuanan, atau sebaliknya, iklan sabun mandi yang jelas memperlihatkan aurat wanita secara berlebihan, dan bahkan kartun di televisi pun sudah terkontaminasi oleh perilaku LGBT.

Saya tergabung di kelompok 3 in 1 mempersembahkan tema tentang "Pengaruh Media Dalam Perkembangan Gender Anak."


Sudah gak asing kan yaa...
Kalau anak pingin diam, tenang dan gak rewel...biasanya Ibu kasih apa?
Ya, gadget.

Dan gadget ini gak hanya handphone lhoo, Bu...
Televisi, dan benda elektronik lainnya juga disebut gadget.

Pemberian tontonan yang tersedia di gadget ini sungguh memerlukan pengawasan yang ketat dari orangtua. Kartun keluaran Disney dan tayangan-tayangan Disney channel yang sudah terang-terangan mensosialisasikan gerakan masif mengenai LGBT.

Seperti pada kartun berikut :


Kartun Doc McStuffin - salah satu kartun produksi Disney, di salah satu episodenya menampilkan sosok dua orang Ibu dalam satu rumah dan mengasuh 2 balita. Pesannya oke banget :

"Family stick together"


Karena di episode ini anak-anak dikenalkan pada cara penyelamatan saat terjadi gempa.
Tapi pahamkah anak-anak akan kejanggalan kartun tersebut?


Kesadaran identitas jenis kelamin (gender identity) adalah kesadaran anak tentang konsep peran pria dan wanita dalam kehidupan.


Perkembangan peran jenis kelamin pada anak dipengaruhi oleh sejumlah faktor, diantaranya:

1. Faktor biologis
Perbedaan anatomis dan hormon antara pria dan wanita menyebabkan perbedaan psikologis diantara mereka.

2. Faktor sosial
Anak mempelajari peran jenis kelamin melalui peniruan dan observasi terhadap perilaku orang lain.

3. Media massa
Pesan yang disampaikan oleh media massa memiliki pengaruh terhadap perkembangan peran seks.

4. Pengaruh perkembangan kognitif
Seiring dengan perkembangan kognitifnya, anak terus didorong untuk tetap konsisten berperilaku sesuai dengan peran jenis kelamin yang ada di benaknya.


Mengacu pada tema di atas, maka yang akan dibahas adalah 

1. Konten LGBT pada Film Anak
2. Hubungan Antara Tayangan Anak yang Bermuatan LGBT dengan Gender Identity
3. Pentingnya Pendidikan Fitrah Seksualitas pada Usia Dini
4. Sisi Positif dan Negatif dari Media
5. Tindakan Preventif Orangtua terhadap Pengaruh Media



Tayangan anak yang saat ini berkembang di masyarakat begitu beragam. Hingga orangtua pun harus jeli dalam memilah dan memilihnya. Kadang kita hanya nonton previewnya, kelihatannya, oke...namun begitu ditonton secara keseluruhan, ada gerakan massive yang diproduksi oleh kaum penggiat LGBT.

Contoh tontonan anak yang memuat konten LGBT

Kartun ini mungkin sangat familiar yaa...karena terkenal dan dihiasi dengan lagu-lagu
Soundtrack yang mudah diikuti anak-anak.

Just a glance, hanya muncul sepersekian detik.
Namun ada misi besar di balik kemunculannya.


Melihat gerakan mereka yang massive, maka orangtua tidak boleh berdiam diri membiarkan anak-anak kita terancam oleh dunia luar yang "sakit" ini. Dimulai dari mana?
Orangtua bisa memulainya dari pengasuhan anak yang baik dan sesuai dengan Al-Qur'an dan Al-Hadits.

Karena prilaku LGBT ini tidak sesuai dengan ajaran agama, maka di sinilah letak pentingnya pendidikan seksualitas sejak dini.

Mampir juga ke sini yaa...



Mendidik fitrah seksualitas adalah merawat, membangkitkan dan menumbuhkan fitrah sesuai dengan gendernya.
Yaitu bagaimana lelaki berpikir, bersikap, bertindak dan merasa sebagaimana lelaki. Juga berlaku bagi perempuan. Anak perempuan harus diajarkan cara berpikir, bersikap, bertindak, dan merasa sebagaimana fitrahnya, yakni perempuan.


And there is NO in BETWEEN
Perilaku LGBT ini adalah perilaku sosial yang menular. Berdasarkan penelitian, bahwa bila di suatu wilayah terdapat sepasang kaum LGBT, maka ada kemungkinan muncul beberapa pasangan lagi. Karena mereka sedikit demi sedikit menganggap hal tersebut adalah perilaku yang wajar terjadi di lingkungannya.




Video : 
LGBT Bisa Disembuhkan - Dr. dr. Fidiansjah Mursjid, Sp.KJ, MPH.



Solusinya bagaimana?
Berikut peran orangtua dalam melakukan tindakan preventif terhadap pengaruh media.

1. Mendampingi anak saat menonton.
Selain mendampingi, tentu kita juga harus mengawasi apa yang ditonton anak, meskipun tontonan itu berasal dari channel anak, Karena pengkategorisasian tontonan saat ini sudah tidak objektif lagi.

2. Memilihkan tontonan yang layak dan tidak mengandung nilai negatif.
Ini pentingnya emak-emak nonton terlebih dahulu. Agar tahu layak atau tidaknya sebuah tontonan tersebut.
Disebut layak apabila tontonan tersebut sudah sesuai dengan value keluarga masing-masing.

3. Setelah menonton, adakan diskusi kecil mengenai apa yang telah ditonton bersama tadi.
Dengan adanya diskusi, kita sebagai orangtua jadi tahu dan memahami sampai sejauh mana anak mengerti tetang apa yang dilihat dan kemudian dirasakannya. Sehingga memudahkan kita untuk memasukkan nilai-nilai positif dari sebuah tontonan dan membuang nilai negatif.



Tips mendampingi anak saat membaca :


1. Bijak dalam memberikan buku atau majalah pada anak.
Informasi yang diberikan akurat dan berimbang, sehingga tidak menimbulkan penjelasan yang membuat anak bingung memahami.

2. Mendampingi anak memahami teks bacaan.

3. Menghindarkan anak-anak dalam memberikan buku bacaan yang terdapat konten kekerasan atau pornografi.





Cara Aktifkan restricted mode untuk memfilter youtube  di mobile apps dan browser agar kontennya ramah anak :

https://attitude.web.id/2017/09/23/restricted-mode-youtube-filter-di-mobile-apps-untuk-konten-ramah-anak/

https://attitude.web.id/2017/08/07/cara-filter-konten-dewasa-youtube-di-komputerpc/


Alternatif film animasi edukasi ada di link berikut: 
https://attitude.web.id/2017/08/15/film-animasi-edukasi-anak/


Beberapa rekomendasi media untuk anak ada di link berikut:
https://www.commonsensemedia.org/





Berikut hadiah dari kelompok 3 in 1 :
e-book
(printable pintar media)


Dibuat mb Farida Ariyani sebagai solusi nyata yang ditawarkan untuk menemani aktivitas teman-teman dan keluarga.

Rangkuman dalam bentuk video :










Sekian resume dari diskusi kelompok 3 in 1 dalam kelas Bunda Sayang materi Pendidikan Seksualitas pada anak sejak dini.


Semoga bermnafaat.

Salam hangat,




You Might Also Like

35 comments:

  1. Miris banget ya, memang dimana mana gempuran isu tsb sangat kentara ya

    ReplyDelete
  2. Mba bener banget niih gadget harus diawasi, entah tipi atau hape. Dan kadang orangtua gak ngeh sama tontonan anak kalo ada muatan nilai nilai yg gak bener. Huhu. Tantangan menjadi orangtua semakin besar jaman sekarang. Berilmu dan berilmu dan kuncinya. Bersyukur sy bisa ikutan IIP :)

    ReplyDelete
  3. Bahkan selevel kartun U&I (negeri jiran punya) juga ada biasnya, itu yang si Saleh dengan tangan melambai. Padahal kartun itu satu2nya yg boleh dibuka selama 24 jam krn saya memang membatasi tontonan nya. Oya, utk tips filter tontonan di youtube makasih ya mba, kmren2 lupa terus mau nyoba

    ReplyDelete
  4. Peran orang tua banget di sini harus turut serta kadang aku miris sama orang tua yang nggak mendampingi anaknya saat main gadget.

    ReplyDelete
  5. Ini memang bikin was2 klau kita sbg ortu gak mengawasi ya,,, gadget kadang Ada positif tapi banyak negative nya klau gk hati2 noted mba,,, diingatkan

    ReplyDelete
  6. Noted. Penting banget ortu belajar hal-hal beginian. Zaman sekarang udah ngeri.

    ReplyDelete
  7. Nonton film kartun pun sekarang mesti hati2 ya. Sebagai ortu was2 juga lihat anak pegang gadget melulu, apalagi anak sudah remaja. Waktu masih anak2 bisa didampingi, kalo sudah remaja malah lebih susah.

    ReplyDelete
  8. Uhhhh peran dan pr sebagai ortu banyak. Lgbt ada dan kita yg harus melindungi anak kita

    ReplyDelete
  9. Pemakaian gawai, tontonan TV, pergaulan anak-anak, pokoknya harus selalu dalam pengawasan orangtua ya mbak

    ReplyDelete
  10. PRnya berat banget ya teh buat ortu jaman sekarang buat bener-bener ngajarin anaknya ke jalan yang lurus. Pengaruh budaya luar emang makin merajalela. Gimana jaman anakku nanti ya huhu

    ReplyDelete
  11. Tapi memang dari disney jaman dulu selalu menyisipi hal hal yang sebenarnya bukan untuk konsumsi anak anak, tapi karena anak anak belim mengerti jadi ya mereka telen aja. Aku kurang suka cerita disney, hanya mengambil soundtrack nya aja seperti winnie the pooh, selebihnya tidak ku kenal kan ke bayi ku. Pokoknya ada adegan aneh, aku hapus mba ehhehe

    ReplyDelete
  12. Ini kekhawatiran orang tua jmn sekarang ya Len. Harus benr2 smart mengasuh dan mendidik anak. Ujung2nya tetep pendidikan dini di lingkungan keluarga yang terpenting. Hiks, hannya bisa berusaha semaksimal mungkin. insyaallah semoga kita menjadi ortu yang bisa menjaga anak2ya. Amin..

    ReplyDelete
  13. Baru tau kalau frozen sma brave mengandung unsur lgbt, selama ini dua film itu aku puter ulang dan ga pernah ngeuh bagian mana ada unsur lgbt nya. Thanks teh infonya. Harus mulai selektif pilih tontonan ya

    ReplyDelete
  14. Duh iya skrng banyak tayangan animasi yang mesti diwaspadai sesuai atau gak buat anak2 :(
    BTW anak2saya juga suka nonton Doc McStuffin :D

    ReplyDelete
  15. Iya nih tontonan2 semakin mengkhawatirkan, ditambah games2 online juga ada aja yang aneh2, hiks. Lindungi anak2 agar selalu sesuai kodrat dan fitrahnya, ya Rabb.... Aamiin.

    ReplyDelete
  16. Serem ya propaganda LGBT ini udh menyentuh berbagai media. YouTube aku udh dari lamaa disetting restricted. TV jg hanya ada 1 di ruang keluarga. No TV di kamar! :)

    ReplyDelete
  17. suka serem ya Teh di jaman sekarang kayanya laki2 yang keperempuanan udah banyak banget, juga sebaliknya. Jadi bener2 harus diawasi lebih ketat lagi tiap tontonan dan bacaan anak sekarang. hmmm...

    ReplyDelete
  18. Kadang yang jadi masalah adalah, orang tua melarang/membatasi anak untuk menonton salah satu konten baik tv atau youtube, tapi tidak bisa menjawab ketika si anak bertanya "kenapa kami nggak boleh nonton ini, nonton itu?".

    ReplyDelete
  19. Lieur ya, mendingan gak punya tv. Etapi kan ada hape. Halah tantangan orgtua jaman sekarang ini ampuuunnn

    ReplyDelete
  20. Wah ngeri nya pengaruh media yang diselipi isu lgbt gitu ya mbk. Pendidikan dari orang tua sangat diperlukan. Nice info.

    ReplyDelete
  21. Memang intinya semua informasi tak hanya gadget, buku pelajaran yang dari penerbit tak bertanggung jawab pun suka buat ulah terutama isu radikal.
    Tak hanya anak-anak, sekarang pemerintah juga sudah menetapkan kelas orang tua. Untuk apa? Tak hanya anak2, tapi orang tua pun butuh pengajaran lebih lagi karena tak selamanya yang tua selalu benar

    ReplyDelete
  22. Baru tau film kartun anak Frozen dan Brave ada unsur itu, ngerijuga ya film anak sudah disisipi isu LGBT, semoga makin banyak pembuat film bermutu untuk anak2.

    ReplyDelete
  23. Pengawasan dan pendampingan memang diperlukan saat memperbolehkan anak memegang gadget. Dibandingkan melarang menonton kartun di disney channel (ataupun kartun yang memuat LGBT), aku memilih menerangkan apa-apa yang ia tonton. Karena tidak bisa dipungkiri fenomena LGBT memang ada, suatu hari nanti ia akan melihatnya di dunia nyata. Dan saat itu tiba aku ingin dia bisa dan siap mengatahui bahwa LGBT itu tidak sesuai fitrah yang Allah berikan tetapi menyikapinya dengan bijak tanpa menghakimi.

    ReplyDelete
  24. Tantangan banget ya buat ortu zaman now, pengawasan terhadap anak harus ekstra ketat. Tapi juga enggak bisa terlalu mengekang, karena anak bisa berontak.
    Makasih banget Mbak buat ilmunya :)

    ReplyDelete
  25. Masya Allah, mantap diskusinya, Mbak Len.

    Ini memang isu yang krusial sekali.

    Saya bergabung dengan komunitas Peduli Sahabat yang gencar dalam pendampingan mereka yang suka sesama jenis tapi ingin kembali straight. Peduli Sahabat punya cara-caranya dan sudah ada yang alhamdulillah membangun rumah tangga dan punya momongan. Kalo baca kisah2 mereka, duh .... kebanyakan berawal dari rumah tetapi ada juga yang karena tontonan di usia dewasa muda. Sedih, deh. Semoga kita bisa menahan bahaya masifnya ya ...

    ReplyDelete
  26. Astagrfirullahalazim, aku baru tahu kalau ada film sejenis Doc yang isinya memang terang-teranan begitu. Semoga generasi kita dijauhkan dari hal-hal semacam itu.

    ReplyDelete
  27. Zaman sekarang memang ngeri. Peran orangtua sangat dibutuhkan dalam pendampingan terhadap tontonan dan juga bacaan. Beruntung sdh ada cara untuk memfiler tontonan untuk anak di aplikasi ytube. Semoga di berbagai situs juga bisa diaplikasikan.

    ReplyDelete
  28. baru tau kalo Frozen termasuk juga mbak, duh, aku belum bisa memutuskan rantai gadget sama anakku lho mba Len, termasuk TV. harus baca dan belajar banyak lagi nih

    ReplyDelete
  29. Mendampingi saat menonton itu yang pentiiing banget aku rasain, Len. Karena ketika ada hal-hal yang 'aneh', kita langsung bisa meluruskan dan diskusi sama anak.
    Kalau pas kita lagi nggak bisa mendampingi, kasih tontonan yang kita yakin udah aman, misalnya video2 yang kita udah download-in.

    ReplyDelete
  30. Memang harus berhati-hati dan sangat pilah pilih untuk yang mau dikasih ke anak. Animasi Disney sudah lama "ketauan" banyak pesan negatif. Sekarang saya sama sekali ga mau liat kartun disney malah.

    ReplyDelete
  31. baru tahu kalau Disney ternyata banyak pesan negatifnya. thank you informasinya, mbak

    ReplyDelete
  32. Sebenernha sih tergantung org ambil sudut posisinya ceritanya darimana sih.

    Sebagai orang tua juga harus mengawasi apa yang di tonton sang anak.

    Jangan sampai lengah juga. Kadang klo melihat berita di media gitu apa ya bad news is the good news

    ReplyDelete
  33. Film animasi masih diidentikkan dengan tayangan anak anak. Padahal ngga juga, banyak animasi untuk remaja bahkan untuk dewasa.

    Orang tua mesti ngawasin banget, terutama buat anaknya yang suka nonton lewat youtube dan internet. Mesti hati hati banget dan perlu perhatian khusus.

    Orang tua perlu ngejaga ekstra sih sekarang

    ReplyDelete
  34. Anak-anak bisa nonton youtube setiap weekend aja sih,tapi tetap perlu disharing ya

    ReplyDelete