Book

[Book's Review] Mereka Bilang, Saya Monyet!

Thursday, August 25, 2016 Lendy Kurnia Reny 16 Comments




Judul Buku : Mereka Bilang, Saya Monyet!
Penulis        : Djenar Maesa Ayu
Penerbit      : PT. Gramedia Pustaka Utama
Status          : Pinjam di Badan Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Bandung
Genre          : Cerita pendek
Jumlah Halaman   : 135 halaman
ISBN           : 978-979-228-991-6

Rating         : 8/10


Rasa penasaran saya ketika bertemu buku ini tentu dari judulnya yang menggelitik. Membuka halaman demi halaman di awal buku membuat saya makin berpikir, sepertinya ini menarik. Karena setengah terburu-buru dalam memilih buku di bagian fiksi, Perpustakaan Daerah Bandung yang berada di lantai 2, sayapun lekas mengambil buku pilihan terakhir dalam list peminjaman buku saya hari itu.

Pada bab awal, kita disuguhkan dengan tulisan Djenar Maesa Ayu yang menurut saya begitu berani. Berani dalam mengungkapkan apa yang dirasa dengan gaya bahasa yang unik. Penuh diksi dan imajinatif. Selalu melibatkan perasaan dan latar kehidupan yang bebas. Khas kehidupan malam yang sebenarnya tidak saya kenal bagaimana hingar-bingarnya.

Melalui buku ini, mata saya dibuat terbelalak mengetahui fenomena demi fenomena yang terjadi di luar sana. Apa saya yang terlalu naif? Atau memang beginilah dunia dan kemanusiaannya?

Entahlah.


Bab pertama dalam buku ini tentu cerita pendek yang dijadikan judul buku Djenar. 
"Mereka bilang, saya monyet!"


"Sepanjang hidup, saya melihat manusia berkaki empat. Berekor anjing, babi, atau kerbau. Berbulu serigala, landak, atau harimau. Dan berkepala ular, banteng, atau keledai.

Mereka bukan binatang. Cara mereka menyantap hidangan di depan meja makan sangat benar. Cara mereka berbicara selalu menggunakanbahasa dan sikap yang sopan. Dan mereka membaca buku-buku bermutu. Mereka menulis catatan-catatan penting. Mereka bergaun indah dan berdasi. Bahkan konon mereka mempunyai hati."


Itu sedikit cuplikan pada halaman depan buku Djenar. Yang kemudian pada halaman demi halaman berikutnya, saya bagaikan tersihir membaca buku ini. 

Penggambaran sosok monyet adalah bahasa metafora yang ingin ditonjolkan bahwa manusia hendaklah bertindak layaknya manusia. Tidak seperti binatang, yang tidak bisa berpikir mana benar dan mana yang salah. Tidak seperti binatang, yang hanya menuruti nafsu tanpa banyak pertimbangan. Tidak seperti binatang, yang tidak akan pernah puas dengan apa yang sudah ada di hadapannya.

Atau,
si penulis ingin menunjukkan dahsyatnya tulisan yang dibuatnya dalam cerita pendek ini, sehingga membubuhkan kata "monyet" untuk memperdalam makna.
Emm, seperti apa yaa?
"Damn, she's good!"
Seperti itu kali yaa?


Dua kisah cerpen dalam buku ini bahkan diangkat dalam layar lebar yang di sutradai oleh Djenar sendiri pada tahun 2008.Woow, sudah 8 tahun yang lalu. Yang ketika itu, saya masih belum tertarik dengan kisah nyata yang mungkin saja terjadi dan ada di sekitar kita terutama yang hidup di metropolitan city, seperti Surabaya apalagi Jakarta.  

Mengangkat kisah kehidupan wanita yang seringkali menjadi bahan eksploitasi pria. Sebut saja dalam kisah yang berjudul "Lintah". Djenar menceritakan bagaimana kehidupan seorang anak perempuan yang merasa jijik dengan peliharaan ibunya, lintah. 


"Ibu saya memelihara seekor lintah. Lintah dibuatkan sebuah kandang yang mirip seperti rumah boneka berlantai dua, lengkap dengan kamar tidur, ruang makan, ruang tamu, dan kamar mandi dan ditempatkan tepat di sebelah kamar ibu."


Sudah bisa ketebak siapa itu lintah?

Ternyata saya yang naif ini masih belum bisa menebak siap itu lintah hingga Djenar menuliskan bagian, 


"Beberapa kali berhasil membelah diri tanpa sepengetahuan Ibu, lintah makin menjadi –  jadi. Ia lalu membelah dirinya menjadi tiga, empat, bahkan lima. Dan kali ini sudah tidak lagi menyelinap dalam kantung saya. Ia menyelinap ke bawah baju saya. Yang satu menyelinap ke pinggang saya. Yang satu lagi ke perut saya. Dan mereka berputar – putar sesuka hati menjelajahi tubuh saya sambil mengidapi darah saya. Saya semakin membenci lintah. Dan saya mulai membenci ibu."


Penggambaran sosok lintah ini adalah hewan yang merugikan bagi si tokoh perempuan dalam kisah ini. Awalnya ia hanya mengambil perhatian ibu, lama-kelamaan ia mengambil harta hingga harga dirinya sebagai seorang wanita.

Berraat...

Yang aneh dalam tokoh utama ini adalah serasa menjadi anak gadis yang tidak bisa menyuarakan isi hatinya. Entah karena ketidak dekatan hubungan antara anak dan ibu, atau karena agar terlihat dramatis, sehingga tokoh ini hidup bagaikan buah simalakama. Serba salah. Karena di ending ceritanya, sang ibu akhirnya hamil dan menikahi lintah.


Ironis.

Beberapa kisah yang dituliskan Djenar membuat saya berdecak kagum. Karena ironi yang indah dan dituangkan dalam bahasa yang lugas tanpa mengaburkan keadaan. Saya membaca dan saya paham. Ternyata inilah maksud si penulis.


Bagi yang sudah membaca bukunya, akan paham bagaimana Djenar menuangkan ide dan pikirannya dalam bentuk kumpulan cerita pendek. Namun bagi yang belum membaca buku Djenar dan langsung menonton film dengan judul yang sama dengan bukunya ini, mungkin akan merasa sedikit bingung dan terganggu dengan ide cerita model begini.

Bagi saya, ini adalah karya seni bagi yang mengagungkan seni dengan nilai tanpa batas. Namun bagi seseorang yang memegang norma, ini adalah bentuk pemberontakan wanita akan masa lalu yang kelam. Karena saya membaca buku ini dan semua tampak begitu nyata. Saya jadi memikirkan bagaimana seorang penulis bisa berimajinasi seluas ini.

Poster film "Mereka Bilang, Saya Monyet"

Filmnya sendiri dimainkan oleh Titi Sjuman (sekarang Titi Radjo Bintang) yang memerankan tokoh utama wanita. Djenar memilih pemain yang tepat untuk film "Mereka bilang saya, Monyet". Melihat karakter Titi yang dramatical banget, ia adalah sosok pelaku seni yang cerdas. Dibuktikan dengan banyaknya kemenangan dalam beberapa  kategori Festival Film Indonesia (2009) dan masuk menjadi nominasi di beberapa Festival film di Asia.


Melalui buku ini, saya mempelajari beberapa hal :
  • Benar adanya kalau "Don't judge a book by it's cover".
    Awalnya saya selalu melihat buku dari judul dan cover depannya. Kalau menarik apalagi cantik, bisa dipastikan isi bukunya pun begitu.

    Tapi buku Djenar ini unik.
    Dengan cover theatrical, saya sulit sekali menebak kira-kira apa yang ingin disampakan penulis pada pembaca..?
  • Pentingnya menanamkan pemahaman ilmu agama dalam sebuah keluarga. Karena sejatinya, Islam turun dengan rahmatan lil 'alamin, yang sudah mengatur segala seluk beluk kehidupan manusia. Manusia hanya tinggal mengikuti apa yang sudah digariskan.

    Maka,
    janganlah melewati garis itu dan menjadi binatang, yang tak kenal batas dan logika.
  • Ajarkan anak untuk melepaskan emosi yang dirasakan.
  • Belajar untuk memaafkan masa lalu.
    Yang ini saya tidak bisa berteori panjang, karena setiap manusia memiliki luka masing-masing. Sedalam apa luka itu...hanya orang yang bersangkutan yang mampu menyembuhkan.

    Karena sebaik-baik manusia adalah yang memaafkan kesalahan orang lain.

    **sambil diiringi lagu the Corrs "Forgiven not Forgotten"


Sekian review dari saya. Mari kita membaca dan berkenalan dengan dunia (Allah) yang luas ini.

Enjoy!







You Might Also Like

16 comments:

  1. Nice review mba, uda jadi list buat baca karyanya Djenar cuman masih blum kesampean hahaha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Butuh waktu yang tepat memang yaaa, teh Herva...
      HUuhu...temanya berraatt...

      Delete
  2. Betul, djenar senantiasa bisa menuliskan sebuah perumpamaan yang ironis tapi menyindir namun dengan gaya bahasa yang tidak menye-menye dan apa adanya. Gak bikin pembaca bosan dengan segala apa yang bercokol di kepalanya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mba Ipeh sudah (jaauuhh) lebih berpengalaman.
      jadi ga kaget lihat tulisan Djenar.

      saya awalnya kaget, tapi malah jadi penasaran.
      *haiaah...

      Delete
  3. Beberapa kali baca cerpennya Djenar di koran, seringnya ada kesan bebas yang dibalut ironi. Berani dan tajam... tapi kadang saya nggak nyambung juga karena mungkin beda 'dunia' atau 'latar belakang' ya :D
    Reviewnya keren mbak ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Beneerr bener, teh...kadang mikir keras gitu...maksudnya teh apa yaa..?
      Apa memang itu maksud penulis yaa, teh?
      membiarkan pembaca berimajinasi liar.

      Delete
  4. Saya dari dulu nggak berani baca buku beginian, karena (masih) naif seperti Teh Lendy. Setiap saya kebobolan baca buku sejenis ini, pasti susah tidur berhari-hari, sakit banget. Nembus ke ulu hati, bikin pecah otak. Bukan pada bahasa dan gaya penulisannya. Tapi, rasa sakit dan kenyataan yang ada. "Ya Allah, beginikah dunia itu."
    Setelah menikah seperti sekarang baru berani.

    ReplyDelete
    Replies
    1. "Kebobolan"...?
      Hiihii...mba Lidh masih cupu ternyata...

      *kaya saya yang uda dewasa yaa teh?

      Kayanya novel Mira. W dulu ceritanya juga ada kisah tentang rumahtangga nya kan yaa teh?

      Delete
  5. Sampai hari ini belum pernah baca buku-bukunya Djenar Maesa Ayu -_-
    Jadi gak tau bagaimana gaya penulisannya dia :l

    ReplyDelete
    Replies
    1. Keren mas Fandy.
      Bagi wanita, ini seperti bentuk ekspresi kebebasan yaa...

      Delete
  6. Baru tau klo koleksi bapusipda ada novel ini. Bisa dikira2 kalo banyak buku2 keren lainnya *berbinar.

    Mau tau syarat keanggotaan donk mba. Trus bisa pinjem brp lama? Ada denda? *galfok

    Tp reviewmu kece banget. Sampe skrg drqu bukanlah pencerita ulang yg baik,huhu. Meski ngeripyu bukan nyeritain ulang, tp ttp aja masih susah bagi seorang saya haha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Uni suka gittu deh...Huhhuu...padahal kecean Uni banget blognya.
      *numpang tenar sama Uni yaa...


      Jadi anggota di bapusipda gak bayar, Uni.
      Cukup isi form sama kasih fotocopy KTP.
      Nanti lansung di foto di sana dan voillaa...gak nyampe 5 menit, uda jadi kartunya dan bisa langsug dipake minjem.

      Delete
  7. Aku punya buku ini masih cover lama. Jujur aja pas pertama kali baca dulu harus diulangi karena Aku nggak ngerti maksudnya, tapi lama-lama aku ngerti kok teh #pembelaan hahaha

    Tapi kayaknya ini cuma gara-gara belum cukup umur aja kali ya teh buat baca cerpen dewasa gini makanya nggak ngerti #eaa #dilemparsendal 😂

    ReplyDelete
  8. Aku jadi pengen baca jugaaa :(
    Teh klo perpus itu cuma buat warga bandung? *koo nggak nyambunh nanya nya, biarin yaa :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pas ngajuin kartu anggota perpus siih...yang diminta fotocopy KTP sama foto, teh Amy.
      Mungkin bisa buat yang kabupaten Bandung yaa...?
      Tapi kan sekarang e-KTP yaa...?

      **semua boleh kali, teh...
      (jawabanku penuh ketidak pastian. Hhahha...)

      Delete
  9. yuhuu komen egeen hihi.. mba aku ga berani baca novelnya djenar. syereeem XD

    ReplyDelete