feature,

Kantong Jiwa Kosong Dan Berisi

Friday, October 13, 2017 Lendy Kurnia Reny 38 Comments

Assalamu'alaykum,



Ngomongin masalah hati atau jiwa..kita gak akan tahu niih...sedalam apa, sesakit apa dan bagaimana rupanya. Kadang ada orang yang sedih, namun wajahnya tetep menunjukkan senyum. Dan ada pula yang sedang kesal, namun tetap tersungging senyum dari wajahnya.

Bagaimana bisa?
Bagaimana mungkin?


Yaah,
inilah yang disebut dengan kantong jiwa.

Kalau dalam ilmu psikologi, kantong jiwa ini diibaratkan sebagai tas yang berisi bola-bola. Jika tas ini berat karena bola yang terisi di dalamnya penuh, maka jiwa ini sehat. Terkena hantaman permasalahan yang berat sekalipun, ia tidak mudah penyok atau kempes.

Namun jika bola-bola yang terisi di dalam tas tersebut tidak penuh, atau berongga bahkan hanya terisi sedikit, maka begitu ada benturan dari luar, maka akan mudah goncang, penyok bahkan bolanya mungkin bisa terhempas keluar tas.

Kanan - Jiwa berisi, tidak akan mudah goyah
Kiri - Jiwa kosong, akan lemas dan mudah goyah

Apakah seperti itu jiwa anak-anak kita?



Sebelum bertanya ke jiwa anak-anak, saya ingin Bunda mengecek dulu ke dalam jiwa Bunda. Apakah Bunda termasuk yang mudah penyok bila ada masalah?

Sejujurnya,
Saya tipikal yang tidak mudah penyok. Namun sejak kelahiran anak pertama, jiwa saya menjadi seakan mudah goyah dan sangat rapuh. Terlebih bila anak seumuran anak saya sudah bisa keahlian tertentu, dan anak saya belum. Langsung deeh...bapernya gak ketulungan.

Ditambah lagi support system yang gak baik.

Aah...jadi melahirkan anak-anak dengan jiwa-jiwa kosong dan labil seperti mamaknya.
Hiiks~~
Sedih yaa...


Penyebab jiwa kosong ini salah satunya adalah salahnya berkomunikasi orangtua dengan anak sejak dini. Yang biasa disebut 12 Gaya Populer oleh Ibu Elly Risman dari Yayasan Kita dan Buah Hati.

1. Memerintah

"Kak...cepet! Kalau engga, nanti sekolahnya terlambat looh."

Maksud orangtua : agar anak bergegas mengikuti apa yang dimaksud orangtua.
Kenyataannya : Anak menjadi tidak punya pilihan dalam situasi tersebut.


2. Menyalahkan

"Mama, aku tadi jatuh..."
"Iya kaan, mama bilang juga apa...engga nurut siih kalo dibilangin Mama."

Maksud orangtua : Ingin si anak menyadari kesalahannya.
Kenyataan : Anak merasa bahwa apa yang dilakukannya selalu salah.


3. Meremehkan

"Ma, ulanganku jelek..."
"Masa soal begitu mudahnya saja kamu gak bisa...?"

Maksud orangtua : Ingin memberi semangat agar besok nilainya lebih baik.
Kenyataan : Anak merasa gagal dan tidak mampu.


4. Membandingkan

"Masa kaka kalah sama adik? Sikat gigi sendiri saja gak bisa..."

Maksud orangtua : Ingin memberi motivasi dengan memberi contoh yang lebih baik.
Kenyataan : Anak akan merasa tidak dihargai usahanya dan merasa tidak disayang. Orangtuanya pilih kasih.


5. Mencap/melabel

"Iihh...kaka ceroboh deh... selalu saja ada barang yang ketinggalan."

Maksud orangtua : Memberi tahu kekurangan anak.
Kenyataan : Anak merasa...ya memang begitulah dirinya.


6. Mengancam

"Awas kalau berantem lagi sama adik, nanti gak akan mama belikan mainan baru."

Maksud orangtua : Agar masalah cepat teratasi dan anak patuh.
Kenyataan : Anak menjadi cemas dan takut.


7. Menasehati

"Makanya, kamu jadi anak itu nurut sama mama. Karena hal kecil gini kamu gak nurut, gimana nanti kalau masalahnya besar?"

Maksud orangtua : Agar anak nurut, karena orangtua merasa yang paling tahu mana yang benar dan salah.
Kenyataan : Anak kesel, benci dan gak suka sama orangtua yang bawel dan sok tahu.




8. Membohongi

"Kalau suka bohong, nanti hidungnya panjang looh..."

Maksud orangtua : Malas mencari alasan yang masuk akal dan mudah dicerna anak.
Kenyataan : Anak menjadi gak mudah percaya dengan orang dewasa.


9. Menghibur

"Ma, si Sally jahat sama aku."
"Ya, udah...gak usah deket-deket sama Sally. Ada banyak temen yang lain kan..??"

Maksud orangtua : Agar anak merasa tidak bersedih lagi.
Kenyataan : Anak akan menjadi sering lari dari masalah. Cenderung tidak mampu menyelesaikan masalahnya sendiri dengan baik.


10. Mengkritik

"Diih...ulanganmu kok nilainya jelek-jelek siih..."

Maksud orangtua : Ingin agar anak segera memperbaiki kesalahan.
Kenyataan : Anak merasa rendah diri dan selalu salah di hadapan orangtuanya.


11. Menyindir

"Ada apa niih...anak Mama mau bantuin di dapur? Mau tambahan uang saku yaa..."

Maksud orangtua : Memberi semangat atau motivasi.
Kenyataan : Anak akan merasa yang dilakukan selalu ada motif dibaliknya. Merasa tidak dipercaya dan menyakiti hati sang anak.


12. Menganalisa 

"Tau gak kenapa raportmu kemarin jelek? Ya...karena ini niih...main game melulu, sukanya begadang, gak pernah belajar."

Maksud orangtua : Agar anak menyadari kesalahan dengan cepat dan tidak mengulangi lagi.
Kenyataan : Anak merasa orangtua sok tahu dan menyebalkan.





Jadi jauh banget yaa...apa yang kita sampaikan dengan apa yang ditangkap oleh anak?
Sudah berapa banyak bola yang kita paksa keluar dari kantung jiwa anak-anak kita?

Heuu~~


Solusinya adalah 

πŸ’Œ Mulai merubah gaya komunikasi orangtua yang tergesa-gesa.
Coba : Kenali dulu lawan bicara kita.
Sadari bahwa setiap pribadi itu unik dan berbeda.

πŸ’Œ Baca bahasa tubuh, kenali gerak tubuhnya.

πŸ’Œ Membuka komunikasi dengan menjaga perasaan lawan bicara.
Menyadari bahwa anak perlu berpikir, memilih dan belajar mengambil keputusan.

πŸ’Œ Menjadi pendengar aktif.


Ingin yaa...jadi orangtua yang dipercaya anak?
Maka, jangan biarkan kita sendiri yang mengambil bola dari kantung jiwa anak-anak kita dan oranglain yang mengisinya kembali.

Semoga kantung jiwa anak-anak yang tercerabut dapat kita kembalikan dengan sebaik-baik kenangan yang mulai sekarang kita bentuk.


Bagaimana Bunda?
Punya kisah menarik seputar komunikasi dengan ananda?
Berbagi di kolom komentar yuuk...


Semoga bermanfaat.


Salam hangat,


You Might Also Like

38 comments:

  1. Mbak Lendy, ini kemana isinya? Kok sepotong? Kepencet kah?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Teteh....aku gak ngerti kenapa ilang.
      hiikks~~

      Aku tulis ulang...

      Delete
  2. Perbaiki diri demi masa depan anak. Ya gitu deh. Kita juga suka alpa.

    ReplyDelete
  3. Duh, jadi sedih.. Kadang suka khilaf kelepasan melakukan 12 gaya populer dalam komunikasi itu ke anak. Terutama kalo pas pikiran atau hati lagi penuh ama masalah. Harus belajar untuk memperbaiki gaya komunikasi nih. Makasih pengingatnya mbak

    ReplyDelete
  4. Mirip bukunya Ayah Edi ya.. .. Kalo aku kudu namatkan beberapa kali biar paham sekalin instal ulang program di otak T.T soalnya penting banget gaya komunikasi ini buat bonding ke anak saat dia remaja nanti. Mba, mungkin perlu ditambahi kalimat yang seharusnya bagaimana, perbaikan dari kalimat yang bertinta biru itu

    ReplyDelete
  5. Ada istilah kantong jiwa saya baru tahu nih.. Mksh atas sharringnya ya Mba..

    ReplyDelete
  6. Mbaa, suamiku sering banget mengkoreksi aku yang kadang mungkin maksudku nggak memerintah tapi terkesan demikian. Teryata sebagai orangtua memang kita harus banyak belajar ya untuk mendidik anak. Semoga kantong jiwa kita tak kosong ya mba :)

    ReplyDelete
  7. yang paling sering kejadian sih membohongi, barusan kemaren temen main kerumah bawa anaknya, pas mau pulang anaknya nangis karena masih betah dirumah saya. eh emaknya bilang "ayo pulang sebentar lagi ada laba-laba besar datang kesini" sejujurnya dalam hati saya kurang setuju sama sikap temen saya ini sih hehe membohongi anak buat membujuk. Tapi karena saya belum punya anak, jadi gak paham ya betapa sulitnya menenangkan anak yang lagi rewel.. mudahan nanti kalo udah jadi orangtua bisa jadi sosok yang sebaik-baiknya buat anak

    ReplyDelete
  8. Wah banyak nih ceklistku. PR banget buat memperbaiki gaya komunikasi dengan anak. tapi ya gtu kadang lelah dan senewen, ngumpet dulu kali ya pas lagi kesel haha TFS mbk Lendy

    ReplyDelete
  9. Hihi, analoginya pas, tas kantong berisi dan kosong.

    ReplyDelete
  10. Nah itu, kadang kalo anak jatuh aku suka kelepasan, bukannya buru2 megobati sakitnya malah menyalahkan anak kenapa bisa sampai jatuh.

    ReplyDelete
  11. merubah gaya komunikasi orangtua yang tergesa-gesa bener banget, anak pertama aku dulunya saklek. Kalau jalannya cepet aku minta jangan cepet2 malah kaya keong. Jadinya aku harus jelas kalau kasih info ke dia.

    ReplyDelete
  12. Pas aku masih kecil, emakku sering banget membandingkan aku dengan teman-temanku. Dan itu bikin aku jadi gimana gitu. Aku sih pengennya nggak dibandingin gitu deh. Kesel banget soalnya. Aduh, kok malah curhat.

    ReplyDelete
  13. Yaps..gaya komunikasi itu penting sekali ya..apalagi antara anak & orangtuanya..itu salah satu kunci keberhasilan mendidik anak ya..

    ReplyDelete
  14. Dan gaya ngedidik kita sedikit banyak dipengaruhi gaya mendidik ortu zaman dulu y mb
    Harus ad tekad kuat menjadi lebih baik
    Aamiin

    ReplyDelete
  15. Konsepnya mirip2 sama bukunya siapa dulu ya yg aku baca tentang bahasa cinta, salah satu babnya membahas tangki kasih. Kalau tangki kasih kosong, anak2 bs cari kasih sayang lain

    ReplyDelete
  16. Ah iya komunikasi produktif adalah kuncinya! Padahal baru kemarin dapat materi tapi udah amblas 😐 thanks for reminder Mbak

    ReplyDelete
  17. Andai bisa diulang saya ingin anak-anak saya kembali lagi jadi batita agar bisa mengikuti tips-tips di atas. Apakah saya menyesal? Sedikit. Sekarang tinggal doa yang banyak saja untuk mereka agar menjadi prbadi yang lebih baik.

    ReplyDelete
  18. huah teteh, PR aku banyak bangetsss karena semua itu tydack mudah bagiku :D huhuhu memang komunikasi yang baik sih yang harus dibenahi buatku

    ReplyDelete
  19. memang tidak gampang yaaa mba menjadi orang tua yang bain. Aku juga berharap anak-anakku memiliki jiwa yang penuh dan kuat!

    ReplyDelete
  20. Hiks..dan aku pun masih melakukan hal-hal di atas, memerintah, mengancam, hikss...banyak banget dosa sebagai orangtua, dan walaupun tahu itu salah seringkali tanpa sadar mengulangi terus, ampuni ya Rabb

    ReplyDelete
  21. Duuh ..PR saya banyak banget nih...hiks!
    Jadi orang tua memang harus terus belajar, ya, Teh.
    Teh, sebaiknya dicantumkan juga perkataan yang baiknya itu seperti apa? Jadi bisa dibuat perbandingan.

    ReplyDelete
  22. Sebagai orang tua saya belum bisa ngasih saran, tapi, sebagai anak ini memang hal yang gak boleh dilakukan karena akan menjadi sebaliknya, misal orang tua didikannya keras sebenarnya secara gak langsung orang tua mendidik anak menjadi pembohong

    ReplyDelete
  23. Ya Allah aku kangen banget denger seminar ibu Elly risman, beliau kalau jadi narasumber selalu ngena banget di hati dan dari beliau lah saya belajar mengenai ilmu parenting.

    ReplyDelete
  24. Setuju banget mbak, kadang orangtua suka merasa apa yang dilakukannya sudah benar,padahal benar menurut orangtua belum tentu bisa diterima anak.

    ReplyDelete
  25. Memang jadi PR orang tua untuk selalu mencari ilmu tentang pola asuh. Seringkali maksudnya baik, tetapi salah pelaksanaannya. Termasuk dalam hal berkomunikasi

    ReplyDelete
  26. Ternyata saya banyak salahnya jadi orang tua. Untung baca artikel ini, semoga bisa mengubah diri degh. Makasih sharingnya mbak Lendy.

    ReplyDelete
  27. Hm ...
    "Kalau suka bohong, nanti hidungnya panjang looh..."
    Mengajari anak jangan berbohong dengan berbohong ya? Ironi. Ada yang melakukannyakah?

    Kalo ini:

    "Ma, si Sally jahat sama aku."
    "Ya, udah...gak usah deket-deket sama Sally. Ada banyak temen yang lain kan..??"

    Menurut saya sih, jangan dekat2 itu termasuk solusi. Karena anak akan belajar mana yang memang wajar diajak berteman dan mana yang tidak. COntohnya putri saya, cenderung jadi bulan2an karena berteman dengan beberapa orang, saya bilangin supaya tidak terlalu dekat sama anak2 itu, berteman sewajarnya, tidak usah bicara kalau tidak perlu.

    Hasilnya, alhamdulillah dia jadi berani bersikap. Sekali waktu dia dimintai uang dan tidak mau memberikan, kata temannya, "Ih cuma seribu ini."

    Nah kenapa temannya minta uang? Ada anak2 yang minta uang buat jajan. Kalau memang butuh gpp dikasih tapi kalau buat jajan saja kan mending buat jajan sendiri :D

    Jadi, dengan tidak dekat2 ke anak tertentu anak kita belajar bersikap tegas, begitu yang saya lihat.

    Dulu dia pernah hampir dijadikan macam dayang-dayang atau orang yang disuruh2 sama seorang anak. Beberapa kali seperti itu, anak saya nurut, saya bilang jangan berteman terlalu dekat lagi. Cukup anggap dia sebagai teman biasa, bukan sahabat (padahal rumahnya dekat lho).

    Itu menjadi bahan untuk anak saya untuk bersikap.Jadi, menghindar tidak berarti lari dari masalah.
    Saya juga menanyakan ke teman yang psikolog, saya belum ceritain langkah2 saya, psikolognya ngasih saran seperti yang saya lakukan :)

    Duh maaf ya kepanjangan, Mbak Len. Sekadar sharing saja krn rupanya masuk kelas 6, konflik semakin tajam di antara anak-anak perempuan ini. Alhamdulillah, anak saya belajar bersikap. Berani mengatakan ketidaksukaannya terhadap sesuatu (tidak diam saja). Semoga selanjutnya dia bisa tetap demikian dan makin meningkat.

    ReplyDelete
  28. Huaaaa...akutu pernah yang nomor 7 dan 8 yaitu menasehati dan berbohong. Soalnya kupikir kalo gak bohong anaknya akan ngerengek terus *malu ih

    ReplyDelete
  29. Membandingkan antara anak sendiri, ataupun dengan anak lain, nggak enak banget. Dari pengalaman ku sendiri sih. Makanya begitu punya anak, aku berusaha sebisa mungkin enggak membandingkan anak-anak

    ReplyDelete
  30. aku itu paling nggak suka kalau disindir2 gitu., mbok ya ngomong ;angsung ya kan..

    ReplyDelete
  31. aku dan suami punya gaya berbeda karena kami berasal dari 2 budaya yang berbeda. aku gaya sumatraku suami dengan jawanya. jadi aku merasa bicara baik2 suami merasa nadaku tinggi. anak2 jadi senyum sendiri malahan.. hahaha

    ReplyDelete
  32. aku sama seperti dirimu, tidak mudah penyok. Lentur mungkin, jadi kalo kepentok dikit penyok sebentar tapi akan segera kembali ke posisi semula. alhamdulillah

    ReplyDelete
  33. Susah ya jadi orangtua. Harusnya ada pendidikan jadi orangtua sebelum menikah yaa...

    ReplyDelete
  34. Nomor 9 menghibur, ternyata juga kudu dipahami konteksnya ya mbak. Supaya anak gak salah paham. Maksud hati ingin membesarkan anaknya, eh malah menjerumuskan.

    ReplyDelete
  35. Hal2 ini masih sering kulakukan. Nyatanya meski baca baca ilmu parenting tapi memang butuh keteguhan untuk menerapkannya. Aku sedang menganalisa apa yang membuat ilmu parenting seakan buyar kalau menghadapimasalah dengan anak.

    ReplyDelete
  36. Aku kok langsung berasa serem ya membaca 12 hal salah tadi. Duuuhh...selama ini jadinya salah semua dong ya caraku berkomunikasi dengan anak huhuuu... Harus belajar lagi nih cara mengenali anak2ku agar kantong jiwa mereka tidak kosong.

    ReplyDelete
  37. Saya pun menikmati untuk terus berusaha jadi baik dalam mendidik anak. Nggak mudah tapi harus bisa.

    ReplyDelete