Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget Atas Posting

Resensi Mata Najwa : Lugas dan Tegas

Bismillah,


Resensi Buku Mata Najwa.
Hola sahabat lendyagasshi.


Memulai membaca buku minggu ini dengan bahagia karena bisa membaca via google play. Karena buku incaranku kali ini gak ada di Gramedia Digital, sehingga begitu ada rejeki di dompet digital, gak pakai pikir panjang, aku check out buku Mata Najwa.

Sejujurnya,
pada zamannya, aku sangat suka sekali dengan anchor Desi Anwar. Dan hingga kini beliau menelurkan beberapa karya literasi, aku masih dibuatnya kagum. Gak hanya pintar dalam bahasa lisan, tapi mampu menggerakkan hati pembaca melalui bahasa tulisan.

Generasi bangsa yang istimewa!

Kini, hadir Najwa.
Seorang putri dari Ustadz ternama, Ust. Quraish Shihab dan ibu Fatmawaty. Beliau lahir di Makassar, Sulawesi Selatan, pada 16 September 1977. Anak kedua dari lima bersaudara, kakak perempuannya bernama Najeela Shihab, sedangkan ketiga adiknya perempuan dan laki-laki bernama Nashwa Shihab, Ahmad Shihab dan yang terakhir Nahla Shihab.



 

Mata Najwa

Review dan Resensi Buku Mata Najwa


Data Buku :

Judul : Mata Najwa
Penulis : Najwa Shihab
Penyunting : Zen RS

Penerbit : Imprint, Penerbit Lentera Hati
Terbit : 2016

Tebal : 208 halaman
Kategori Buku : Non-Fiksi, Politik & Pemerintahan
Baca di Google Playbook

ISBN : 978 602 8740 58-6



Resensi Buku Mata Najwa

Sejujurnya, buku Mata Najwa ini yang membuatku penasaran adalah karena sosoknya yang begitu cerdas di televisi. Dan bagaimana ketika Najwa menyajikan dalam bentuk narasi?

Dan ternyata buku Mata Najwa memuaskan pembacanya yang cerdas karena berisikan kutipan kata-kata beliau saat berada di acara "Mata Najwa" dan saat roadshow. Bahasa dan bahasanya memang terasa berat bagiku yang senang dengan buku-buku psikologi. Tapi justru semakin tertantang membacanya.

Apalagi buku Mata Najwa ini tidak disajikan dalam tulisan penuh. Tapi tulisan dengan ukuran font yang berbeda sehingga sangat eye-catching. Menyelesaikannya sambil merenung mengenai kondisi negara ketika dipimpin oleh seorang presiden pilihan rakyat.

Salah satu kutipan dari buku Mata Najwa,


Cita-cita pendiri negeri, melihat Indonesia jadi bangsa mandiri.
Demokrasi dipilih sebagai kendaraan,
untuk menggapai mimpi-mimpi kemerdekaan.

Kita semua kini setara sebagai anak bangsa,
partisipasinya jadi prasyarat berikutnya.

Perjalanan memang akan sangat panjang,
cita-cita masih sejauh mata memandang.

Ambil inspirasi dari bervisi,
mengabdi dalam karya dengan dedikasi tinggi.

Buku Mata Najwa, hal 1: Habibie dan Suara Anak Negeri


Selain Pak Habibie, Mata Najwa juga memasukkan bab ketika Indonesia dibawah pimpinan Ibu Megawati dan wakilnya, Bapak Boediono. Di bab ini, Mata Najwa sangat menggigit dalam memberikan narasi.

Bekerja dengan tangan sendiri dan kaki sendiri,
Berkarya dengan memeras keringat sendiri.

Sebab Indonesia milik semua anak bangsa,
Tanah air bukan kapling warisan keluarga.

Buku Mata Najwa, hal 12: Di Balik Diam Boediono


Sudah merasa getaran luar biasa saat membaca buku Mata Najwa?
Jangan dilewatkan bab-bab berikutnya mengenai kondisi negara saat kepemimpinan Pak Jokowi. 

 

Di sini, Mata Najwa memberikan insight yang bagus mengenai anak-anak Bapak Jokowi yang tidak mengandalkan "jabatan" Ayahnya dan tetap dengan jalurnya masing-masing, di dunia bisnis, seperti Gibran dan Kaesang.

**buku ini diterbitkan sebelum Gibran menjadi walikota Solo. Karena pelantikan Gibran menjadi walikota Solo pada tanggal 26 Februari 2021.


Banyak orang lupa daratan,
karena kuasa memang kerap meninabobokan.

Bukan rahasia jika elit penguasa di Indonesia,
sejahterakan juga seluruh keluarga.

Jangankan presiden dan keluarganya,
keluarga bupati walikota pun lazim berfoya-foya.

Bagaimana Gibran-Kaesang merintis usaha,
apakah memanfaatkan jabatan bapaknya?

Benarkah mereka emmang berbeda?
Atau hanya soal menunggu waktu untuk tergoda?

Buku Mata Najwa, hal 15: Ceritan Anak Jokowi


Karena Indonesia bukn kerajaan,
Anak presiden bukan putri atau pangeran.

Tidak ada putra mahkota,
semua warga punya hak setara.

Keistimewaan bukan karena keturunan,
tiap orang harus bekerja untuk penghidupan.

Buku Mata Najwa, hal 19: Ceritan Anak Jokowi



Istana Punya Cerita

Di bab ini, Mata Najwa menyajikan pandangan seputar kehidupan di Istana Negara, Jalan Merdeka Utara. Ada kisah manis, sedih, sampai kisah cinta, terjalin di sini. Kisahnya yang beragam ini dikarenakan setiap presiden punya gaya yang berbeda. Ada yang kaku dan penuh tata cara, ada yang santai dan sarat canda tawa.

 

Menjadi pejabat hari ini,
mesti menyesuaikan diri dengan kondisi.

Piawai memanfaatkan sosial media,
sebagai alat aktual agar sosok dapat terus dijual.

Tapi kerja sebenar-benarnya butuh bukti,
menghasilkan karya yang memang teruji.

Jika pemimpin mau menyerap aspirasi,
tentu rakyat juga akan mengapresiasi.

Karena jadi gaul saja tak mencukupi,
kepemimpinan harus tahan banting dan presisi.

Buku Mata Najwa, hal 27: Istana Punya Cerita


Betul sekali yaa..
Pemimpin zaman sekarang ditentukan oleh pamor di sosial media. Aku jadi teringat masa-masa kampanye kedua calon presiden terpilih. Dan keduanya sungguh memilih "jalan kampanye" yang berbeda.

Saat itu, kami para blogger diminta untuk menghadiri sebuah kampanye yang berbalut seminar di sebuah gedung akademisi terkenal di salah satu kampus negeri di Bandung. Sedangkan lawannya, memilih untuk blusukan dan memberikan solusi kepada rakyat.

Dari sini, rakyat bisa menilai "target" suara para calon presiden ini siapa saja dan basis kemenangannya dimana saja.


Indonesia masih percaya demokrasi,
yang dipraktikkan dengan berbagai variasi.

Dari demokrasi terpimpin ala Sukarno,
hingga demokrasi Pancasila versi Suharto.

Rezim demi rezim silih berganti,
presiden demi presiden mengucap sumpah dan janji.

Tapi terus saja ada kisruh politik penuh kepentingan,
juga korupsi yang tak berkesudahan.

Masihkah demokrasi tetap berarti,
bagi hidup rakyat sehari-hari?

Buku Mata Najwa, hal 31: Lakon Politik Republik



Klenik Politik

Masih ada yang percaya dengan dukun?
Nyatanya, di bumi Indonesia Raya ini masih banyak pemerintah yang percaya klenik. Katakan saja seperti upacara menghentikan hujan yang dilakukan oleh Rara. Meski terlihat tidak mungkin, toh Rara akhirnya viral dengan kalimatnya yang menyatakan bahwa ia memiliki remote seperti AC yang bisa ia hidupkan dan matikan semau dia.


Keterlibatan klenik sudah jamak dalam politik.
Dari lurah hingga presiden, semua ikut tebar sesajen.
Kaum elit dan dunia santet, bergumul sebagai satu paket.
Penguasa dan paranormal, berkarib mesra dengan kental.
Urusan politik di dunia, dihubungkan dengan arwah di dunia sana.

Buku Mata Najwa, hal 53: Klenik Politik



Selain menyoroti para pemimpin negeri, Mata Najwa tak jarang juga menyoroti pemerintah daerah, otonomi daerah dan hukum yang diterapkannya. Semua saling berkaitan dan pastinya setiap pemimpin daerah pun memiliki kebijakan yang tak terelakkan.

Seperti kasus istri Bupati Kediri yang mewariskan tahtanya kepada kedua istrinya. Sehingga saat kampanye, istri tua sang Bupati melawan istri muda.


Ratusan pilkada jangan sekedar seremoni,
suksesi bukan arena negosiasi.

Kandidat mesti dipilih dengan kehati-hatian,
jangan abaikan etika dan asas kepatutan.

Pilkada memang perkara kalah menang,
tapi calon bermasalah jangan diberi peluang.

Peraturan seringkali bisa disiasati,
namun asas kepatutan dan etika jangan dikhianati.

Jika partai mengaku anti-korupsi,
mengapa calon kandidat yang terindikasi?

Menyedihkan jika tersangka menjadi kandidat,
kepemimpinan rentan menjadi khianat.

Para pemilih harus diberi kandidat bermutu,
agar pilkada tak jadi pesta sambil lalu.

Publik jangan memilih secara acak,
kandidat harus dinilai berdasarkan rekam jejak.

Sebab nasib kita bukan untuk coba-coba,
karena aset daerah bukan untuk para penjarah.

Buku Mata Najwa, hal 69: Memburu Tahta Daerah



Jokowi Atau Prabowo

Dua calon Presiden Republik Indonesia periode 2019-2024 saat itu adalah Bapak Prabowo dan Bapak Jokowi. Bagaimana keduanya saling memberi janji? Manakah yang memimpin negeri?

Cara menguji yang sedang unjuk diri,
Memilih dengan cara berjudi.

Buku Mata Najwa, hal 78: Jokowi atau Prabowo


Seringkali rakyat tak peduli siapapun yang memimpin, karena bagi mereka yang sehari-harinya saja sudah berjuang untuk bertahan hidup, maka siapapun presidennya, tidak akan terlalu menjadi masalah. Sehingga seringkali asal dalam memilih ketika pemilu. Dan ini berakibat pemimpin terpilih rakyat bisa jadi akan menentukan nasib bangsa Indenesia selama 5 tahun ke depan.


Sebab Indonesia adalah kata kerja.
Yang disempurnakan dengan berbagai upaya, oleh semua yang sudi bekerja.

Buku Mata Najwa, hal 81: Jokowi atau Prabowo


Setelah Presiden terpilih, maka Indonesia memasuki babak baru. Dan ini yang sedang kita jalani saat ini. Semoga Presiden kita mampu bekerja sesuai amanah.

Apa kabar wakil rakyat kita,
yang terpilih dengan anggaran 16 triliun uang negara.

Ada 560 anggota dewan,
berasal dari 10 partaiyang duduk di Senayan.

Sebagian muka lama, setengahnya wajah barubergaya serupa,
Sudah 5 bulan mereka bekerja,
berjanji menyelesaikan 37 RUU untuk negara.

Publik perlu menjenguk mereka,
kemajuan apa yang akan mereka cipta?

Buku Mata Najwa, hal 91: Sidang Rakyat


Dan bagaimana Mata Najwa mengkritisi satu demi satu pejabat yang keluar-masuk penjara seolah itu adalah sebuah pintu biasa tempatnya orang datang dan pergi secara bergantian. Belum lagi korupsi yang mencengkeram tubuh berbagai instansi, termasuk TNI Polri.

Karena kita tak membayar seragam mereka,
hanya untuk menegakkan hukum rimba.

Buku Mata Najwa, hal 115: Hukum Salah Alamat

 

Sakit hati rakyat ketika hukum salah alamat. Seperti kasus kakak beradik Faisal dan Budri. Mereka berdua ditahan karena dianggap mencuri kotak amal oleh polisi dan keduanya ditemukan tewas gantung diri di tahanan.

Sedangkan yang jelas-jelas membunuh pada kasus kecelakaan mobil anak pejabat, sekarang kita bisa lihat poster balihonya ada di mana-mana, mencalonkan diri menjadi wakil rakyat.

Begitu cepat pejabat melupakan, bahwa saat itu hukum tidak berlaku baginya, karena Ayahnya seorang pejabat tinggi negara. Dan dengan mudahnya, sang anak tidak mendapatkan hukuman setimpal atas perbuatannya melanggar hukum lalu lintas kala itu.

 

Rekayasa kasus dan salah tangkap,
menjelaskan penegak hukum tak bertanggungjawab.

Rakyat kecil jadi korban tak berdosa,
lantaran tak bisa bersuara dan tak punya pengacara.

Ada aparat yang dikejar target perkara,
atau karena malas memeriksa kembali fakta.

Hukum yang terbiasa menghamba penguasa,
tak sudi membela si lemah yang papa.

Bagaimana rakyat percaya hukum?
Jika orang tak bersalah disiksa menjadi terdakwa.

Aparat hukum tentu bisa alpa,
Tapi bukan merekayasa kasus dengan sengaja.

Rakyat perlu para penegak hukum yang berwibawa,
bekerja demi keadilan dengan bangga.

Karena kita tak membayar seragam mereka,
Hanya untuk menegakkan hukum rimba.

Buku Mata Najwa, hal 117: Hukum Salah Alamat

 

Dan Mata Najwa pun mengkritisi mengenai penjara istimewa, yakni penjara khusus bagi pejaba yang bermasalah di mata hukum. Setelah dilakukan investigasi, penjara tersebut memang berbeda dari penjara penjahat kelas teri. Bahkan dengan izin tertentu, pejabat yang sedang menjalani masa hukuman pun bisa jalan-jalan keluar negeri.


Yah, begitu pelik permasalah internal negara Indonesia. Dari mulai pemimpin hingga struktural berikutnya yang berada dibawahnya. Kini, harapan bangsa ini adalah pemuda Indonesia yang membawa pembaharuan. Berani berpendapat dan berani tampil beda.


Bukankah melelahkan jika selalu ikut tren,
apalagi hanya agar dianggap keren.

Buku Mata Najwa, hal 164: Berani Tampil Beda


Buku Mata Najwa ditutup dengan sebuah optimisme besar dan buah pemikiran ini yang semoga ditangkap oleh para generasi muda bangsa Indonesia saat ini dan untuk masa depan. Selalu ada harapan untuk negeri ini.

Sebab rakyat bukan bawahan,
dan negara bukan sang majikan.

Buku Mata Najwa, hal 179: Berani Tampil Beda


Mari kita bangun bangsa sesuai dengan kapasitas kita msing-masing. Jangan ragu untuk memberikan buah pikiran dan sumbangsih terbaik untuk negeri ini. Meski hanya bisa menulis, semoga tulisan yang kita sebarkan adalah tulisan kebaikan, bukan ujaran kebencian tanpa solusi.


Kesimpulan

Indonesia adalah tempat kita tinggal dan berpijak. Semoga dengan adanya pergantian pemimpin, bisa membawa kebaikan untuk negeri ini. Harapan selalu ada untuk masa depan anak cucu dan cicit kita.

Buku Mata Najwa sangat bagus untuk menajamkan kembali cara berpikir kita dan mengambil sudut pandang dari mata fakta yang ada. Jangan dianggap ini adalah sebuah kritikan tanpa makna, karena Buku Mata Najwa disusun berdasarkan talkshow yang telah dilakukan oleh narasumber terkait saat kasus tertentu sedang terjadi.

Sehingga seperti testimoni Surya Paloh terhadap buku Mata Najwa ini adalah 

Jika anda tak siap dengan fakta dan data, Najwa selalu bisa mengungkap segalanya dengan cara khas dia.

Dan sekali lagi, buku Mata Najwa asik dinikmati dalam keadaan santai dengan pikiran tenang.


Selamat Membaca dan Menikmati Perjalanan Bersama Buku Pilihanmu.


With love,



13 comments for "Resensi Mata Najwa : Lugas dan Tegas"

  1. Saya kira dulu puisi-puisinya itu buatan tim kreatifnya, tapi sepertinya karangan NS sendiri.

    ReplyDelete
  2. Isi bukunya lengkap juga. Kebayang ya, dengerin Najwa ngomong kayak yang biasa dia lakukan di video-video hanya ini disampaikan dalam bentuk buku. Aku mengidolakannya tanpa cela, apalagi abinya. Makanya heran kalau dia dibenci hanya karena... penampilan misalnya. Sayangnya aku belum baca buku ini (padahal ngakunya ngefans ya haha).

    ReplyDelete
  3. Bunda juga punya buku Catatan Najwa, ananda Lend.

    ReplyDelete
  4. Wah jadi dapat referensi baru nih buat nambah bacaan. Sayangnya ngga ada di gramdig hehehe

    ReplyDelete
  5. Najwa idolakuuuu....harus baca nih saya
    atau bahkan cari ah untuk dikoleksi, dan supaya bisa dibaca sambil tiduran hehehe
    Najwa ini jurnalis sesungguhnya
    Gak pernah terhanyut oleh narasumber, sebaliknya bisa fokus agar narsum bisa menjawab pertanyaan yang menjebak

    ReplyDelete
  6. Nana bagi saya adalah seseorang dengan 2 sisi sudut pandang dan sikap. Tergantung pada saat sebagai apa saya memandang beliau. Bisa sebagai politisi, akademisi, atau sebagai wanita biasa tanpa pengetahuan yang cukup akan area politik. Dan bakal terlalu panjang untuk dijabarkan disini (nyengir).

    Tapi terlepas dari berdiri di 2 kaki itu, saya tetap berharap akan lahir/muncul wanita-wanita Indonesia yang hebat dengan akhlak, pola berpikir dan tingkat pendidikan yang mumpuni seperti Nana. Teriring doa juga agar Nana diberikan hidayah "menyempurnakan" posisinya sebagai wanita muslimah. Aamiin YRA.

    ReplyDelete
  7. Sambil ngopi dan duduk santai pastinya enak baca buku Najwa ini. Tak diragukan lagi karya setebal 208 hlm ini pastinya daging semua isinya.

    ReplyDelete
  8. Selalu suka melihat Najwa Shihab tampil di layar kaca. Gaya bahasa dan bicaranya itu lho, keren banget. Benar2 sosok perempuan yang cerdas dan kritis. Nah, saya baru tahu nih ternyata ada buku Mata Najwa juga ya yang terinspirasi dari talkshownya. Jadi ada gambaran mengenai bukunya setelah baca ulasan ini.

    ReplyDelete
  9. Quotes nya Mbak Nana gereget selalu.
    Terasa sebagai suara hati banyak orang yang mengadu.
    Jadi ingin baca juga bukunya itu

    ReplyDelete
  10. Buku Mata Najwa belum pernah punya sepertinya bagus untuk bacaan keluarga dan perpustakaan

    ReplyDelete
  11. Jadi kepingin baca juga deh ... buku mata najwa dari reviewnya jadi bikin penasaran

    ReplyDelete
  12. Wah, saya baru ngeh kalau mata najwa ada bukunya. Pasti isinya berbobot seperti diskusi yang dibahas di tv!

    ReplyDelete
  13. sebab rakyat bukan bawahan, dan negara bukan majikan. good quote. berkebalikan kali di masa sekarang ya.

    ReplyDelete