Jaga Hutan Mangrove Raja Ampat, Jaga Pangan Lokal
Bismillahirrahmanirrahim.
Masih hangat dalam ingatanku saat perjumpaan bersama sahabat-sahabat EBS atau Eco Blogger Squad bulan Agustus lalu di Bekasi ngobrolin masalah Future Table yang berasal dari sumber pangan lokal, kini kami kembali dipertemukan dengan tema yang sangat hangat yakni mengenai hutan mangrove.
Ujian kebakaran hutan Indonesia yang sampai saat ini masih terjadi di beberapa wilayah Indonesia, turut menorehkan duka yang sangat mendalam. Bagaimana manusia dan hewan yang tinggal di dalamnya ikut merasakan panasnya api yang membara tanpa henti hingga sesak napas akibat asap.
Indonesia berduka.
Dan semoga dengan usaha yang kita lakukan bersama untuk menjaga lingkungan, bisa mengurangi sedikit beban bumi yang saat ini semakin pekat.
Melalui Online Gathering "Inspirasi Ketahanan Pangan dari Mangrove" di Raja Ampat, selain mengagumi keindahan bumi Allah yang berada di tanah ujung barat laut Pulau Papua, tepatnya di Provinsi Papua Barat Daya, Indonesia ini, kita juga mengagumi masyarakat adat yang menjaga dan sangat bergantung pada biota pantai di hutan Mangrove-nya.
Yuk, jalan-jalan ke Raja Ampat...
![]() |
| Raja Ampat, Papua Barat Daya |
Keistimewaan Raja Ampat
Buat yang belum pernah ke Raja Ampat, pasti membayangkannya hanya sepersepuluh dari keindahan asli kepulauan yang berada di ujung barat laut Pulau Papua, Provinsi Papua Barat Daya, Indonesia.
Keindahan Raja Ampat yang menjadi impian semua orang untuk menjadi salah satu destinasi wisata impian Nusantara adalah karena Raja Ampat itu bukan hanya cantik, namun merupakan laboratorium keindahan dunia dijuluki sebagai "The Last Paradise"
Memiliki 4 Pulau Besar dengan 1.500 Pulau Kecil
Waigeo, Salawati, Batanta, Misool dan di sela-selanya ada kurang lebih 1.500 pulau karst kecil yang menyebar kayak taburan. Dari atas, bentuknya seperti naga hijau di atas air biru.
Pulau Piaynemo & Wayag — Kawasan Geopark Nasional
Kalau sahabat lendyagasshi berencana menikmati puncak bukit Piaynemo atau yang biasa disebut Top View of Piaynemo, maka kudu berjuang melewati anak tangga sebanyak 320 anak tangga. Dari atas sini nanti akan tampak gugusan karst segitiga-segitiga yang fotonya ada di uang Rp 100.000 yang sering kamu gunakan untuk belanja, hehehe.. kalo gak cashless tentunyaa...
Air di kepulauan ini akan tampak gradasi 3 warna: biru tua, turkis, hijau mint.
Indah bangeettt yaah..
![]() |
| source : website https://indonesiajuara.asia/ |
Ada juga Kepulauan Wayag yakni versi liar Piaynemo, lebih jauh, puncak karst tajam-tajam kayak gigi hiu. Butuh 6 jam perjalanan dari Sorong, namun dijamin.. sahabat lendyagasshi gakkan nyesel karena pemandangannya mashaAllah.. surga!
Pemandangan Bawah Laut Terkaya di Bumi
75% spesies karang dunia ada di perairan Raja Ampat.
1.500 jenis ikan, 700 jenis moluska.
Di satu penyelaman sahabat bisa melihat manta ray 4 meter, hiu wobbegong yang cuma ada di sini. Bahkan ada ikan-ikan pigmy seahorse sekecil kuku.
Kalau sahabat lendyagasshi main ke Friwen, di sana ada spot diving Friwen Wall & Friwenbonda.
Hutan Mangrove Pristine — Termasuk Milik Friwen
1.025 hektare hutan desa Friwen itu mangrove perawan.
Jalur kajak di tengah lorong mangrove yang akarnya tinggi 3 meter, air bening, burung cekak beterbangan. Di sinilah tempat buah aibon tumbuh.
![]() |
| buah Aibon Raja Ampat |
Teluk Kabui & Batu Pensil
Teluk dengan ribuan karst jamur yang tumbuh dari air. Di tengahnya ada batu karst yang berdiri sendiri layaknya pensil raksasa.
Sore hari, pantulan matahari bikin air jadi emas.
Burung Surga Itu Bernama Cendrawasih
Di Pulau Gam (tempat kebun warga Friwen), pagi jam 5 sahabat bisa trekking untuk bertemu si burung surga yakni Cendrawasih Merah & Wilson menari. Burung ini hanya ada di Papua, dengan ekornya melengkung kayak pita.
Budaya Bahari yang Hidup
Bukan cuma alamnya, namun ketika ke Raja Ampat, sahabat lendyagasshi kudu kenalan sama mama-mama Friwen yang sedang asik menganyam noken dari pandan, buat mahkota dari daun, ritual Mansorandak (upacara adat menyambut tamu), dan kalender sasi - aturan adat yanh melarang ambil ikan/kerang selama 6 bulan agar laut pulih.
Itu konservasi asli, jauh sebelum ada istilah modern.
![]() |
| noken mama-mama friweb |
Keindahan Raja Ampat yang lengkap dari bawah laut, permukaan, sampai atas karst.
Dari alam hingga masyarakat adat penjaga pesisir pantai hutan mangrove.
Bukan hanya laki-laki yang bertugas di hutan mangrove untuk mengambil hasil hutan namun juga mama-mama Friwen yang mengolahnya hingga bisa menjadi berbagai hasil yang bisa dinikmati untuk buah tangan ketika sahabat lendyagasshi berkunjung ke Raja Ampat.
Pangan Lokal Berasal dari Olahan Mama-mama Friwen
Kalau sahabat lendyagasshi berencana ke Raja Ampat, kudu banget mampir ke Friwen. Sebuah pulau dan kampung yang terletak di Distrik Waigeo Selatan, Kabupaten Raja Ampat, Provinsi Papua Barat Daya.
Keistimewaan Friwen
• Akses: Dapat dijangkau dari Waisai (ibukota Kabupaten Raja Ampat) atau area sekitar.
• Daya Tarik Friwen:
🍃 Memiliki pantai berpasir putih yang bersih dan air laut yang sangat jernih.
🍃 Dikenal dengan spot snorkeling dan diving populer bernama Friwen Wall dengan pulau-pulau utama seperti Waigeo dan Gam, yang juga memiliki keanekaragaman terumbu karang tinggi.
![]() |
| peran mama friwen untuk merestorasi hutan mangrove Raja Ampat |
Peran dan Aktivitas Utama Mama-Mama Friwen
Mama-Mama Friwen itu sekarang bukan cuma penjaga mangrove, namun merupakan kelompok perempuan adat yang memimpin rehabilitasi hutan mangrove sekaligus menggerakkan ketahanan pangan dan ekonomi lokal secara berkelanjutan. Mama - mama Friwen sudah menjadi produsen, koki, sekaligus pengusaha yang handal untuk semakin mempromosikan Raja Ampat dimata dunia.
Di Bidang Pangan
Ada buah Aibon / Lindur (Bruguiera) yang dulu cuma jatuh lalu kemudian busuk.
Namun, di tangan mama-mama Friwen, buah Aibon kini menjadi :
Bahan baku yang bisa diolah menjadi tepung Mangrove Aibon dengan kandungan karbo tinggi, gluten-free, yang bisa disimpan 6-12 bulan. Ini yang menjadi bahan baku utama untuk makanan khas oleh-oleh dari semua produk.
Produk Olahan Kekinian (hasil pelatihan The Asia Foundation & Kawan Pesisir):
✨Mie Mangrove - best seller, kenyal, warna kecoklatan alami
✨Donat Aibon
✨Pizza Mangrove
✨Stik / Keripik Aibon - gurih, buat oleh-oleh
✨Kue Kering / Cookies Mangrove
✨Bolu & Brownies Aibon
✨Dawet & Puding Lindur
Hasil Hutan Lainnya
🍯 Madu Mangrove - dari nektar bunga mangrove, antioksidan tinggi, rasa agak asin manis khas
🍯 Sirup & Selai Pedada - dari buah mangrove Pedada yang asam segar
🥗 Minyak Kelapa Murni & VCO
🥗 Hasil kebun di Pulau Gam: talas, pisang, kelor, sayur pakis
Kerajinan dan Wisata
👜 Noken Papua - tas anyam dari serat pandan hutan
👑 Mahkota & Aksesori Daun - untuk sambut tamu
🏖️ Paket Wisata: Homestay, tur kajak lorong mangrove, tur Piaynemo, guiding snorkeling Friwen Wall
🏖️Galeri Kampung - tempat jual semua produk di dalam kampung
Dampak Besar Pengolahan Hasil Mangrove
Dari sisi ekonomi
Kalau dulu hutan mangrove hanya mengandalkan ikan dan hasil suami melaut, sekarang mama-mama Friwen punya penghasilan sendiri.Dari mengolah buah aibon, misalnya.. bisa menjadi cookies Aibon yang dihargai Rp 50-75 ribu di resort.
Dari sisi pangan
Saat ombak tinggi nelayan pun tak bisa melaut, mereka para nelayan ini menjadi rawan pangan, sehingga dengan mengolah hasil hutan mangrove, ada tepung cadangan dari hutan yang bisa diolah menjadi sumber pangan utama yakni mie.Konservasi
Karena buah aibon yang bisa dikelola menjadi tepung dan diolah menjadi bahan pangan lain, ini berarti kehidupan perekonomian masyarakat pesisir di Friwen menjadi hidup dan menghasilkan uang. Sehingga sudah seharusnya, tak hanya masyarakat adat Friwen yang menjaga hutan mangrove, namun juga kita semua yang merasakan betul kehadiran paru-paru dunia.
Hutan Mangrove Doredor Sempat Mengalami Kerusakan
Di saat mama-mama Friwen dan para masyarakat pesisir menggantungkan hidupnya dari hasil hutan Mangrove, namun kabar dukanya adalah hutan Mangrove Doredor yang berada di Friwen ini mengalami kerusakan hampir mencapai 57 % atau setara 133 ha dari total 233 ha pada tahun 2019.
Sehingga, ditempuhlah langkah nyata yang diambil masyarakat adat Friwen yakni melakukan konservasi langsung juga meminta legalitas dari pemerintah.
Hal ini dilakukan karena masyarakat adat sadar betul bahwa langkah nyata yang diambil secara mandiri saja, tidak cukup. Butuh bantuan pemerintah sebagai pemegang legalitas hukum yang sah.
> Slogan masyarakat adat Friwen saat ini: "Jaga Mangrove, Jaga Perut, Jaga Masa Depan."
![]() |
| restorasi hutan mangrove doredor, Friwen Raja Ampat |







Kalau ngomong soal pangan, kita sering fokusnya cuma ke apa yang ada di piring, padahal asal-usulnya dari mana dan ekosistem yang menopangnya juga penting. Kerusakan lingkungan akhirnya bukan cuma membuat alam kehilangan keanekaragaman, tapi bisa ikut mengganggu sumber pangan masyarakat yang hidup berdampingan dengan alam. Jadi menjaga hutan dan pesisir sebenarnya juga bagian dari menjaga makanan yang bisa kita nikmati sampai generasi berikutnya
ReplyDeleteDi Surabaya juga ada beberapa mangrove yang emang penting banget buat nahan gelombang abrasi. Yuk mulai peduli pada mangrove.
ReplyDeleteHutan mangrove sering kali dipandang sebelah mata, padahal ekosistem pesisir ini memegang peranan vital sebagai benteng pertahanan alam sekaligus lumbung pangan bagi warga setempat. Perjuangan mama-mama Friwen ini menjadi teladan nyata bagaimana kearifan tradisional mampu merawat bumi dan menjamin keberlangsungan hidup generasi mendatang. Bahkan saya baru tau lho kalau mangrove bisa dijadikan pangan lokal
ReplyDeleteNah iya. Bener banget, mbak. Seringkali orang memandang "akh cuma hutan mangrove' padahal punya fungsi ganda dan vital. Bukan hanya menjaga dari abrasi saja tetapi jadi salah satu penghasil pangan lokal yang diolah secara telaten sama Mama-mama friwen. Takjub banget aku tuh dengan upaya masyarakat lokal yang berjuang dengan aksi nyata menjaga hutan, sumber pangan, dan terus hidup berdampingan serta selaras dengan alam. Mudah-mudahan ya, alam tetap terjaga dan lestari serta pangan lokal makin dikenal.
DeleteMenarik banget nih teh Lendy ketika mangrove dibahas bukan cuma sebagai pelindung pantai, tapi juga berkaitan langsung dengan pangan dan kehidupan masyarakat lokal.
ReplyDeleteCerita Mama Friwen ini jadi pengingat kalau menjaga alam sebenarnya juga berarti menjaga sumber penghidupan.
Kadang kita yang tinggal jauh dari pesisir baru sadar betapa eratnya hubungan antara hutan, laut, dan makanan yang sampai ke meja makan.
Semoga makin banyak yang peduli dan ikut menjaga mangrove seperti ini ya teh.
besok mau ke ATM ah, mau narik uang Rp 100.000 an, penasaran pingin lihat kawasan Piaynemo/ bukit karst berbentuk segitiga , sebelum (jika Allah SWT menghendaki) bisa langsung ke sana
ReplyDeleteHehehe akhir-akhir ini emang males bawa cash, karena di Jogja sini mulai kulineran sampai belanja sayur di pasar bisa pakai QRIS
eniwei, saya setuju banget, agar bisa berkelanjutan sebaiknya warga di sekitar kawasan mangrove bisa mendapat income dari mangrove
Saya pernah nyoba sirup, dodol dan cookies mangrove, ternyata enak lho
Dari dulu, aku tahunnya mangrove ya untuk membantu menahan abrasi
ReplyDeleteEh setelah webinar, makin kagum sama mangrove. Ternyata, mangrove juga menjadi sumber pangan bagi masyarakat ya teh
Kehadiran mangrove bisa membantu lingkungan sekitatnya. Sebagai pusat kehidupan berbagai satwa. Penahan ombak/tsunami, dan penghasil oksigen serta menyerap C02. Sepenting itu per annum mangrove
ReplyDeleteRaja Ampat tuh emang masyaallah banget indahnya, ya. Kapan bisa menginjakkan kaki ke sana? Secara, tiket pesawatnya aja mahal banget. Tapi ya siapa tahu suatu hari punya kesempatan.
ReplyDeleteBtw keren banget mama-mama Friwen. Bisa memanfaatkan bunga mangrove untuk membuat tepung sebagai bahan dasar aneka makanan. Jujur sih, penasaran banget pengin nyobain.
Ngomong-ngomong namanya bunganya mirip nama lem hahahha...
Keren banget online gathering nya. Yang dibahas beneran bagus dan menambah wawasan banget. Buat ku yang belum ke Rajaampat makin kagum. Papua beneran banyak potensi alam nya, jaga hutan sama dengan jaga pangan dan segala upaya yang dilakukan mama mama friwen ini bikin kagum. Bahkan ada bahan baku yang awalnya dianggap nggak menarik, terbuang, kini jadi banyak produk dan pastinya berdampak positif buat perekonomian warlok.
ReplyDeleteMudah-mudahan kedepannya terus lestari alam raya Indonesia termasuk Papua 😇🙏 karhutla tidak terulang, aamiin.
Mangrove selain berfungsi untuk menahan abrasi, ternyata juga bisa dijadikan sumber pangan ya?. Saya kok jadi kepikiran dengan program food estate Papua yang didukung HI ya? Kenapa harus mengubah lahan Papua jadi sawah? Kenapa tidak mangrove saja yang nyata-nyata mKah melestarikan kearifan lokal di sana. Jadi sedih kalau ingat itu.
ReplyDeleteKalau baca artikel ini dan banyak informasi lainnya, jadi bisa tahu gimana indahnya Raja Ampat meski belum pernah ke sana. Namun di sisi lain, kok daku jadi takut ya, takut di sana dikeruk oleh yah tidak bertanggungjawab, kek beberapa provinsi lain yang hutan yang tergerus, huhu. Semoga tetap terus lestari, apalagi ada mama-mama Friwen yang senantiasa menjadi kunci kelestarian ini
ReplyDeleteAku baru tahu lho soal buah aibon ini. Aku pikir mangrove tuh ya cuma pepohonan aja yang akarnya menjaga daratan dari abrasi air laut.
ReplyDeleteTernyata juga menghasilkan buah yang bahkan bisa dibuat tepung untuk bahan makanan yaa.
Ya ampun hutan mangrove di Friwen bahkan udah rusak 50% lebih yaaaa. Gilak banget itu yang merusak T.T.
Untung mulai ada kesadaran untuk konservasi hutannya supaya tidak makin bertambah parah ya mbak.
Semoga nanti banyak yang bisa diselwmatkan sehingga selain melindungi daratan, hutannya juga makin menghasilkan dan berdampak pada ekonomi.
Semoga semua segera pulih. Sesedih itu lihat keadaan alam sekarang tuh ya Mba. Padahal dulu ini semua asri banget bahkan tak terjamah sama keserakahan manusia
ReplyDeleteSubhanallah indah banget ya Raja Ampat ini dan semoga aja hutan mangrove yang ada di pantainya itu bisa terus terjaga dan dilestarikan. Salut banget sama mama-mama Friwen yang bisa mengolah hasil dari mangrove menjadi produk-produk berkualitas
ReplyDeleteKeren dan apresiasi sih sama perempuan yang gak cuma bergelut di dunia masak memasak, kini perempuan memang harus ikut menjadi tonggak pelestarian lingkungan, termasuk menjaga hutan magrove dan mengambil seperlunya apa yang disediakan magrove untuk kemashalatan, tidak juga berlebih dalam mengeksploitasinya.
ReplyDeleteJangan sampeee wilayah secantik ini berganti jadi tambang ya Allaah...
ReplyDeleteKita mah liat yang cantik2 pingin dilestarikan, ngga tau orang sonoh, liat beginian gatel pingin buka usaha hikkss... gemesst!!
Luar biasa manfaat hutan mangrove ini, kerennya lahi mama-mama Friwen ini ktreatif bisa mengubah buah aibon jadi bahan baku aneka makanan, karbo tinggi, gluten free pula, aman nih untuk ambnung. Keren ya Indonesia,ga perlu import gandum lho sebetulnya dari aibon,tapioka, beras, jagung bisa jadi tepung yang nantinya diolah jadi aneka makanan,
ReplyDeleteAlam itu banyak memberikan manfaat dan sewajarnya kita juga harus menjaganya bukan
Leeeennnn, aku tuh kalau baca tulisan tentang tempat-tempat seperti Raja Ampat sering merasa kita ini cuma tahu cantiknya saja. Lautnya, pulau-pulaunya, foto-fotonya yang bikin pengen langsung beli tiket. 😄
ReplyDeleteTapi tulisan tentang Mama Friwen ini bikin aku melihat Raja Ampat dari sisi yang lain. Ada orang-orang yang diam-diam bekerja menjaga alamnya, menjaga mangrove, menjaga pangan lokal, dan sebenarnya sedang menjaga kehidupan mereka sendiri.
Aku selalu suka cerita tentang perempuan seperti Mama Friwen. Sederhana mungkin kehidupannya, tetapi ternyata punya kepedulian yang besar sekali. Kadang kita yang jauh dari sana justru perlu belajar dari orang-orang seperti beliau. Bahwa mencintai tempat tinggal bukan cuma dengan mengatakan “indah banget”, tetapi dengan ikut merawatnya.
Dan entah kenapa setelah membaca tulisan ini aku jadi mikir, jangan-jangan selama ini kita terlalu sibuk mencari tempat yang indah untuk dikunjungi, sampai lupa bahwa ada orang-orang yang setiap hari berjuang supaya tempat indah itu tetap ada.
hanupis yaaaa Len, sudah membawa cerita ini ke blog. ❤️ Rasanya seperti bukan cuma membaca perjalanan, tapi ikut berkenalan sebentar dengan Mama Friwen dan belajar sesuatu dari beliau.
Salam dari blogger yang masih senang mampir dari blog ke blog, membaca cerita orang, lalu pulang membawa pikiran baru. Hehehe
semoga semua rakyat Indonesia semakin aware dengan lingkungan aamiiin
Deleteduh, Raja Ampat. sempet gawe 3 bulan di Sorong. sayangnya gak keburu berkunjung ke Raja Ampat. tinggal deket, yaaa dibandingin dari Jawa sih.
ReplyDeleteaku pernah tahu pengolahan mangrove itu di Indramayu di Indramayu aja udah beragam hasil produknya. apalagi Papua yang varian tanamannya lebih kaya. semangat ya para mama penggiat roda ekonomi Papua.
Berharap kesadaram dengan adanya hutan mangrove ini menjadi perhatian kita bersama. Ternyata mangrove itu banyak manfaatnya ya. Aku pikir mangrove hanya seledar tanaman yg tumbuh di pantai dengan lebatnya. Bahkan hasil dr olahan mangrove bisa meningkatkan perekonomian daerah tersebut
ReplyDeleteKisah Mama Friwen di Raja Ampat ini ngebuka mata soal hubungan langsung antara kelestarian hutan mangrove sama ketersediaan pangan lokal. Jaga ekosistem pesisir ternyata dampaknya langsung ke keberlanjutan isi dapur warga setempat.
ReplyDelete