Blogger,

[Resume RB-Cikutra] Pendidikan Seksualitas Anak Sejak Dini

Thursday, September 01, 2016 Lendy Kurnia Reny 29 Comments

Acara yang diadakan rutin di Rumah Belajar - Cikutra, Bandung kali ini mengangkat tema yang saya rasa sangat urgent untuk dipelajari orang tua dan dilatihkan pada anak.

Tema apakah?


Jadi teringat dengan salah sahabat di Kumpulan Emak Blogger (KEB), Fauzia Subhan. Mama yang kece ini sangat konsen dalam mengasuh anak. Jadi keidean ingin menuliskan resume saat belajar bersama di komunitas Institut Ibu Profesional yang lalu sebagai salah satu kurikulum penting dalam mendidik anak sesuai dengan perkembangan usianya.

Link ide nulis : Tiga Fase Mendidik Anak.


Disampaikan oleh Elma Fitria.
Beliau adalah seorang Ibu dari 4 anak yang senantiasa menumbuhkan fitrah anak, menanamkan pemahaman iman anak sejak usia dini dan menerapkan strenght based family.

Link Materi Bunda Sayang #1 : Komunikasi Produktif.


Pernahkan Bunda merasa bingung menjawab pertanyaan anak mengenai seksualitas? 
Terlebih sampai deg-degan atau malah mengalihkan pertanyaan anak dengan hal lain?

"Kenapa kalau perempuan begini, Ma? Kalau laki-laki begitu?"
"Kenapa perempuan boleh tidak sholat saat menstrusi sedangkan laki-laki tidak pernah?"
"Adik bayi keluarnya dari mana?"

Dan banyak pertanyaan ajaib anak-anak usia balita yang ingin mereka ketahui jawabannya dari orang yang mereka percaya, yakni kedua orang tuanya.

Bagaimana yang terjadi bila orang tua bingung, atau menjawab dengan jawaban asal-asalan yang tidak bijak?

Anak akan mencari tau dari berbagai sumber. Karena anak-anak sekarang anak generasi X yang dihujani oleh kemudahan informasi. Dari mulai televisi, internet, bahkan dari lingkungan yang ada di sekitarnya. Maka, untuk mencegah itu semua, hendaklah membekali diri menjadi orang tua yang dekat dengan anak.

Di Amerika, 
pengenalan pendidikan seksualitas adalah bagaimana interaksi dengan lawan jenis, bagaimana seseorang aman saat melakukan hubungan seks, tidak terjadi kehamilan, mengendalikan kelahiran bahkan mengajarkan posisi saat melakukan hubungan seksual. Anak-anak bisa mendapatkan pelajaran ini dari mulai di sekolah hingga di salah satu web resmi parenting yang bisa di akses bebas oleh setiap anak.

Adakah yang salah dengan pendidikan seksualitas yang demikian?

Karena salah persepsi inilah, maka tingkat adiksi pornografi saat ini makin meningkat. Di Indonesia saja, sudah 97% anak-anak usia sekolah dasar sudah terpapar pornografi. Baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja. Baik dari media televisi atau dari media sosial lain, games misalnya.

Pendidikan seksualitas harus sesuai dengan aturan agama
(source : ppt teh Elma)

Karena sesungguhnya pendidikan seksualitas adalah bagaimana kita mengenal diri sendiri (penanaman jati diri yang kuat bahwa "Saya adalah laki-laki" atau "Saya adalah perempuan"), bagaimana seharusnya seseorang berpakaian yang sesuai dengan aturan agama, bersosialisasi dengan lingkungan (terutama lawan jenis), berkomunikasi dan berinteraksi.

Jadi, 

pendidikan seksualitas tidak sama dengan pendidikan seks.


Menurut beberapa pakar parenting mengenai pendidikan seks :

  • Ibu Lita Edia, Psi

    Pendidikan seks adalah mempelajari tentang perbedaan jenis kelamin, perbedaan peran perempuan dan laki-laki, cara merawat organ biologis, adab interaksi antara perempuan dan laki-laki, mempelajari proses reproduksi dan cara merawatnya, termasuk menpersiapkan ilmu pra-nikah dan adab berhubungan suami-istri.

    Beberapa hal ini berkaitan dengan norma yang berlaku, agama yang dianut dan sistem sosial tempat tinggal kita.
  • Bunda Elly Risman, Psi

    Pendidikan seksualitas adalah mengajarkan totalitas kepribadian seseorang, mencakup : cara berpikir, merasa, bereaksi, berbudaya dan beragama serta berinteraksi sosial dalam kapasitas kepribadiannya.
  • Ust. Harry Santosa

    Bahwa pendidikan seksualitas berarti menumbuhkan fitrah gender.
    Fitrah gender adalah cara seseorang berpikir, merasa, dan bersikap sesuai dengan fitrah sebagai perempuan atau laki-laki sejati, sehingga dapat memenuhi peran, fungsi, dan karakteristik.

    Misalnya :
    * Anak perempuan memiliki fitrah keperempuanannya, yakni sikap keibuan.
    sedangkan *anak laki-laki dengan fitrah kelaki-lakiannya, yakni sikap keayahan.
  • Bunda Septi Peni Wulandani

    Intellectual curiosity anak terhadap seksual bahkan sejak usia dini.

Sehingga pada prinsipnya orang tua memberikan pendampingan terhadap anak mengenai pendidikan seksualitas ini sejak dini dan dilakukan secara bertahap, sesuai dengan jenjang usianya. Selain itu juga harus sesuai dengan aturan agama yang baku yakni berlandaskan Al-Qur'an dan as-sunnah.

Memberikan nama yang sesuai bahasa medis atau kesehatan, misalnya menyebut nama alat kelamin (pada perempuan) bernama vagina dan alat kelamin (laki-laki) adalah penis.

Bahwa di dalam tubuh perempuan terdapat kandungan (rahim) dan payudara yang nanti akan tumbuh fisik dan fungsinya saat beranjak dewasa.

Karena orang tua adalah pendidik utama dan pertama bagi anak, maka :

  • Tanamkan nilai (value) baru menjelaskan.
    Misal : kalau habis mandi, maka saat keluar dari kamar mandi hendaknya sudah berpakaian rapi. Karena dalam Al-Qur'an sudah dijelaskan bahwa "Tutuplah auratmu dan tundukkan pandangan". Jadi anak akan tahu bahwa di lingkungan tempat ia berada tidak semua orang menutup aurat. Kalau kita sudah menutup aurat, namun di lingkungannya banyak orang yang tidak melakukan hal yang sama, maka tundukkan pandangan.
  • Penjelasan pendidikan seksualitas ini harus didampingi oleh kedua orang tua.
    Untuk anak perempuan maka yang berkewajiban menjelaskan adalah ibu. Sedangkan untuk anak laki-laki adalah ayah.
    Jadi tidak ada yang namanya urusan pendidikan hanya pada Ibu saja. Ayah dan ibu harus bekerja sama dalam hal ini untuk menguatkan karakter anak.
  • Bila memang pertanyaan anak dirasa terlalu berat untuk dijelaskan, maka orang tua tidak perlu malu untuk mengatakan bahwa "Mama belum bisa menjawab, nak". Hal ini menghindarkan dari kekurang tepatan orang tua dalam menjelaskan.
    Ada baiknya orang tua tidak panik dan mencari tahu dahulu sampai sejauh mana pengetahuan anak mengenai hal yang ditanyakan tersebut.

    Seperti dalam kisah yang sudah menjadi viral di mana-mana bahwa ada anak tiba-tiba bertanya kepada ibunya saat sang ibu sedang memasak.

    "Bu, asalku dari mana?"

    Dan tanpa pikir panjang, ibu langsung bercerita tentang pernikahan, proses kehamilan dan akhirnya lahirlah bayi dari perut ibu.

    Si anak mengerutkan dahi dan (masih) bertanya lagi,
    "Bukan bu...kemarin teman-teman aku bilang, kalau Sinta dari Jogja, Diva dari Solo dan May dari Malang. Lalu aku dari mana, Bu?"

    Heemm...geli kan membaca cerita di atas.
    Dan orang tua yang panik, bisa jadi menjawab asal sehingga malah membunuh intellectual curiosity anak.
  • Orang tua tidak tabu menopang fitrah personal anak.


source : teh Elma ppt

Berikutnya,
Teh Elma menjelaskan mengenai Urutan Pendidikan Seksualitas Sesuai Usia Anak.

  • Usia 0-5 tahun 
    Memastikan kedekatan dan kelekatan dengan anak.
    Dari mulai bayi melalui fasa menyusui (usia 0-1 tahun) adalah fasa oral. Dimana bagian dari anak yang paling peka adalah mulut.
    Lanjut ke usia 1-3 tahun adalah fase anal, dimana anus adalah bagian dari anak yang paling peka.
    Dan usia 3-5 tahun adalah fasa phallic yaitu bagian penis atau klitoris adalah bagian yang paling peka.

    Maka dari itu orang tua harus mengajari anak bahwa tubuhnya berharga.
    Caranya adalah senantiasa meminta ijin apabila ingin memegang daerah kemaluannya. Dengan menyebut nama medis bukan nama absurd.

    Misal :
    "Adik sudah selesai pipis, mama ijin membersihkan vagina (atau kalau laki-laki, penis) adik yaa..."

    Kemudian mengaitkan segala sesuatu dengan perintah Allah. Tentang adab thaharah dalam Islam.

    Bahwa umat Islam wajib sholat. Dan bagaimana bisa sholat, maka yang harus diperhatikan adalah kebersihan. Bagaimana bisa dibilang bersih? Maka latih anak (maksimal usia 3 tahun) untuk toilet training. Membiasakan anak untuk pipis dan poop di kamar mandi dan langsung dibersihkan. Tidak memakai popok lagi.


    Link Video Semai 2045 :
    Mengajarkan anak usia 0-5 tahun tentang kejahatan seksual


    Mengajarkan anak usia batita dan balita memang tidak mudah. Ada baiknya dibalut dengan sesuatu yang disukai anak. Misalnya melalui 3B (Bermain, Bernyanyi, dan Bercerita)

    Berikut link yang dapat digunakan untuk bernyanyi bersama anak. Diambil dari fp Yayasan Kita dan Buah Hati.

    Judul : Tubuhku Berharga.
    Lyric : Bunda Elly Risman
    Musik & Aransemen : Andree M. Taufan (relawan SEMAI2045)
    Vokal & Koreografi  : Indri Ayu Lestari (relawan SEMAI2045)
    Ilustrasi : Zie Lusiana (relawan SEMAI2045)

  • Usia 5-7 tahun
    Menjelaskan orang-orang yang ada di sekitar kita. Tentang mahram, keluarga, dan orang asing.
    Menjelaskan tentang aurat. Pentingnya menutup aurat dan menahan pandangan.
    Membiasakan anak untuk pisah selimut saat tidur (untuk yang sama jenis kelamin) dan pisah kamar untuk yang berbeda jenis kelamin.
    Membiasakan tertib mandi untuk menjaga aurat. Tidak boleh mandi bareng. meskipun memiliki anak yang sama jenis kelamin, apalagi bersama dengan orang tuanya.
    Mengajarkan anak untuk percaya pada perasaannya sendiri. Biasanya anak bisa mengenali mana orang dengan niat baik atau tidak baik.
    Bila dirasa orang tersebut tidak baik, maka ajarkan anak untuk berkata "Tidak".
    Dan yang terakhir adalah menjalin kedekatan dan kelekatan pada anak. Yakinkan pada anak bahwa kita (sebagai orang tua) bisa diajak berbagi rahasia.


    Menurut Ust. Harry Santosa.
    Usia 5-7 tahun, anak akan belajar mengenai kedekatan paralel.
    Ia mampu dekat dengan Ibu dan Ayah.

    Dan kedekatan ini mampu dikuatkan dengan mempertegas identitas bahwa anak tersebut perempuan atau laki-laki.

    Dan mulai tumbuh sifat egosentris atau individualisme.
    Bahwa "Aku adalah perempuan" bagi yang anak perempuan.
    Dan "Aku adalah laki-laki" bagi anak lelaki.

    Hal inilah yang disebut dengan fitrah seksualitas.

    Link Video Semai 2045 :
    Mengajarkan anak usia 5-7 tahun mengenai bahaya kejahatan seksual

  • Usia 7-10 tahun
    Sumber dari Ust. Harry Santosa, Sifat ego sentrisnya berubah menjadi sosio sentris, yakni sudah memiliki tanggung jawab moral dan syariah.

    Pada anak laki-laki diperbanyak kegiatan bersama ayah, seperti sholat berjamaah di masjid bersama ayah, melakukan aktivitas motorik bersama, dan lebih menghayati peran seorang laki-laki atau keayahan.

    Hal yang sama juga terjadi pada anak perempuan. Lebih didekatkan pada Ibu dan melakukan aktivitas keibuan, seperti merawat, dan lain sebagainya.

    Memisahkan selimut bahkan kamar tidur anak.

    Mendidik anak-anak untuk menghindari ikhtilat dan khalwat serta mempelajari kembali etika dalam berhias.

    Untuk anak usia ini, sudah mampu diajak berdiskusi. Mengenalkan alat kelamin menggunakan alat peraga yang ada di sekitar kita.
Perbedaan simulasi alat kelamin pada laki-laki dan perempuan

Penjelasan dilakukan oleh ayah atau ibu sesuai dengan jenis kelamin anak

Penjelasan terakhir untuk anak pre-aqil baligh (usia 10-12 tahun) yang disarikan dari Ust. Harry :

  • Diajarkan begaimana berinteraksi sehat dengan lawan jenis.
    Anak laki-laki didekatkan dengan Ibu sedangkan anak perempuan dengan ayah.
    Hal ini adalah contoh langsung dari kedua orang tua untuk anak bisa berinteraksi dalam masyarakat.
  • Puncak perubahan hormonal.
  • Melatih kepekaan anak dalam bergaul.
    Mulai selektif dalam memilih teman.
  • Mulai dapat memahami tentang kelainan dan adanya penyakit seksual.
  • Dijelaskan tentang pernikahan dan bahaya pacaran.
  • Perlunya adab menahan diri
  • Dan mulai memegang kesepakatan dan aturan mengenai penggunaan gadget, bijak bermain sosmed, serta adanya batasan dalam bermain game (15 jam/minggu).
  • Perlu dibahas bahaya pornografi yaitu adanya (bahaya) kerusakan otak terutama bagian PFC (pre frontal kortex, pusat otak : tempat mengatur keputusan baik dan buruk).



Kiat menghadapi pertanyaan Anak :


  • Tetap tenang, menguasai diri dan tidak panik.
    (salah satunya dengan menarik nafas panjang and take it easy)
  • Mengecek seberapa jauh pengetahuan anak mengenai hal yang ingin ia ketahui dengan bertanya "Yang kamu tahu tentang hal itu, apa nak?"
  • Mengatakan apa yang kita rasakan saat anak bertanya dan mulai memberikan jawaban pendek dan singkat (make it short and simple)
  • Selalu mengunci jawaban kita dengan norma agama.
  • Gunakan golden opportunity anak.

Dan Jawaban yang dbutuhkan anak adalah . . . 



  • Bahasa yang sesuai dengan usia dan pemahaman anak
  • Sesuaikan juga dengan tingkat kecerdasan anak
  • Bedakan karakter anak dalam menjawab pertanyaan.
    Untuk anak introvert : orang tua menyiapkan 10 pertanyaan untuk anak agar bisa digali sejauh mana pemahaman anak mengenai pertanyaan tersebut.
    Berbeda dengan anak ekstrovert : orang tua akan menyiapkan 10 jawaban dari pertanyaan anak yang ingin tahunya luas.

Sehingga pesan Bunda Elly Risman,
Setiap anak berhak memahami perkembangan dirinya secara akurat dan positif.
Dan orang tua wajib memenuhi hak anak tersebut.



Sekian resume dari saya, semoga bermanfaat.

Salam hangat,

- Tim Fasil Institut Ibu Profesional - Bandung.




























You Might Also Like

29 comments:

  1. MasyaAllah, bagus banget ulasannya. InsyaAllah berguna banget ilmunya. Kebetulan aku juga lagi belajar mengenalkan Vito demgan pendidikan seksualitas tahap awal.

    Makasih ya mba buat tulisannya. :*

    ReplyDelete
  2. Kalo bu elly biasa menggunakan kata "kemaluan" kalo ga salah ya mba?
    Sesuai dg yg ada di Al-Qur'an. *kalo ga salah xoxo..

    Etapi mamaci bgt, mau niat dateng tp lagi2 blm bs. Jd bener2 nungguin ini resume. Haha sosi.

    ReplyDelete
  3. Wah makasih Mba ilmunya. Aku jadi keidean nulis juga dari tulisan Mba :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Begitukah teh Gita...?
      Alhamdulillah.
      ^^

      Delete
  4. beneraqn nih.. anak emang diajarin jangan suka dengan pakaian terbuka misalnya rok mini..atau tank top... ini untuk mencegah pelecehan seksual juga sih..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Zaman sekarang iya teh...
      Rasanya lebih baik menjaga diri daripada sibuk menyalahkan orang lain yaa...

      Delete
  5. Huaa di Barat pendidikan seksnya kayak gitu, ya? Duh jangan sampai diajarin kayak gitu juga di sini. Pantesan kalau liat sitkom gitu, suka ada adegan anak-anak kecil nyeletuk yang ga pantes. Aku juga heran kenapa sebagian orang-orang suka kasih nama alias buat kemaluan laki-laki atau perempuan, ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. mungkin kebiasaan orang dulu lalu turun ke anaknya dan ke anaknya dan begitu seterusnya yaa teh...

      Kita di sini (alhamdulilah) masih cupu.
      Semoga bisa membimbing anak-anak ke jalan yg benar.
      Aamiin.

      Delete
  6. Masya Allah, berguna banget ini resumenya Mba Len, Jazakillah khayr. Wafa sekarang 5 tahun, udah banyak pertanyaan yang bikin emaknya mikir keras buta njawab, hihi.

    Ijin bookmark^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Senengnyaaa bisa di bookmark sama Nyak...
      *lovelove Nyaak Rotun sayaang...

      Delete
  7. halo teh.. resume costumized curriculum nya jg dong teh :), soalnya sy datang telat. hehe

    ReplyDelete
  8. Teh.. infonya bermanfaat sekali. Cara gabung di RB gimana ya?

    ReplyDelete
  9. Pendidikan seksualitas sejak dini ini kayanya masih pro dan kontra ya. Aku pribadi termasuk yang mengganggap perlu dan penting. Anak-anak sekarang semakin kritis cara berpikirnya.
    Sayangnya ga sedikit yang masih menganggap tabu mengajarkan soal ini buat anaknya. Baru beberapa hari lalu aku mencoba menanamkan soal ini ke Mbak yang kerja di rumah karena anaknya sudah mau kelas 6. Tapi ya gitu, tetep bersikeras ga boleh bahas soal ini karena menurut dia malu.
    Makasih infonya, Mbak Lendy

    ReplyDelete
  10. Kerennn banget penjelasannya... Simpan ahhh buat bekal nanti. Latihann di Ponakan duluu

    ReplyDelete
  11. Info nya bagus banget mbak.. Bener pengenalan sejak dini tentang sexualitas memang perlu. Kita sebagai orangtua juga perlu terbuka apalagi jaman sekarang. Anakku mau masuk 5th dan kalo info mvak diatas yang peka adalah penis atau klitoris. Bnr banget! Anakku laki2 kmrn dia tanya ke aku knapa penisnya "mengeras" saat ia pegang. Sempet kaget sama pertanyaan itu, tapi sbg orangtua ya saya harus menjelaskan sesuai dengan kaidahnya.. Hihihu.. Cuma kayaknya kalo neneknya masih ngerasa tabu kalo menyebutkan alat kelamin dengan bahasa yg benar bukan bahasa absurb

    ReplyDelete
  12. usul.. tulisan ini " Karena dalam Al-Qur'an sudah dijelaskan bahwa "Tutuplah auratmu dan tundukkan pandangan". itu jangan diblok gelap (cokelat) malah gak keliatan. Mending di BOLD atau Huruf Kapital semua atau underline. malah aku lewatin tadi :P padahal justru penting yak.

    ReplyDelete
  13. Waaahh, enak banget ada acara rutin dari Cikutra. Tema yang diangkat juga keren banget.
    Menurut aku, orangtua jaman dulu masih kurang melek dengan pendidikan seksualitas. Apalagi sama sebutan organ tubuh. Asal sebut yang gak enak didengar.
    Semoga orangtua jaman sekarang lebih melek tentang pendidikan ini. APalagi soal sebutan organ tubuh itu. :3

    ReplyDelete
  14. Memang sudah seharusnya, pendidikan seksualitas tuh diajarkan sedari dini. Dan para orang tua pun sebisa mungkin untuk berpikiran terbuka, dan tidak menganggap obrolan seputar seksualitas itu tabu dibicarakan dengan anak-anak.
    Tapi ya gimana lagi ya, budaya masyarakat terkadang masih belum terbuka dgn obrolan2 yg lebih bersifat pribadi, intim, dan tabu utk dibicarakan seperti seputar seks seperti ini

    ReplyDelete
  15. Pendidikan seksualitas sejak dini selalu terlupa bahkan terkadang dihindari oleh orang tua karena dianggap tabu. Tapi justru lebih bahaya kalau diketahui dari orang lain atau media yang salah ya :)

    ReplyDelete
  16. Pendidikan seksualitas sejak dini selalu terlupa bahkan terkadang dihindari oleh orang tua karena dianggap tabu. Tapi justru lebih bahaya kalau diketahui dari orang lain atau media yang salah ya :)

    ReplyDelete
  17. Huiiii selalu mampir kesini dah ntar kalo mau jadi orang tua ๐Ÿ˜

    Saya sendiri juga tidak terpikir mengenalkan alat kelamin melalui buah ๐Ÿ˜…

    ReplyDelete
  18. Terima kasih banyak Mbak Lendy atas penjelasannya. Ada banyak hal yg baru saya tahu ttg pendidikan seksualitas pada anak. Semoga kita bisa menerapkannya dan anak2 kita dapat menerima serta mengaplikasikan pendidikan seksualitas yg positif di kehidupan remajanya nanti.

    ReplyDelete
  19. Bener banget itu pendidikan seksualitas memang perlu banget untuk anak usia dini atau anak kecil dan disini lengkap banget ulasannya lumayan buat nambah ilmu nih

    ReplyDelete
  20. Lengkap banget resume tentang pendidikan seksualnya mbak. Jaman sekarang pendidikan seksual adalah hal wajib ya. Kalo dulu hal ini sangat tabu dan terlarang dibahas.

    ReplyDelete
  21. Komplit banget ulasannya. Kalo pendidikan seksualitas yg bru kuajarkan ke anakku adalah penyebutan alat kelamin, bedanya cewe dan cowo, sm kalo pakai baju harus di kamar.
    Thanks ilmunya ya mba..

    ReplyDelete
  22. mengenai pendidikan seksualitas ini masih debatable banget ya mba meski sebenarnya hampir semua orang sepakat bahwa ini perlu diberikan sejak dini. Belum ada kesepahaman bersama mengenai mana yang seharusnya sudah diajarkan dan mana yang belum.

    Dan artikel mba lendi mengupas dengan komplit, jadi ilmu banget buat saya dan bekal buat mendidik anak2. makaish ya

    ReplyDelete
  23. Pendidikan seks emang penting banget ya Mbak. Tengkyu resume materinya. Aku jg kudu baca2 nih, anakku soalnya cowok ma cewek,meski masih balita dan blm nanya2 sih, tapi bisa buat persiapan.

    ReplyDelete
  24. Makasih bgt sharingnyaaa. Blm punya anak tp aku kdg ngajarin ponakanku ttg seksualitas. Pakai bhasa anak itu kdg ribet, tp ya kudu tetep ada penjelasan

    ReplyDelete
  25. Orangtua saya dulu tdk byk mengajari seksualitas. Mgkn krn msh dianggap tabu. Tp skrg saya hrs melek agar bs berbagi ilmu seksualitas pd anak

    ReplyDelete