Book,

[Review Novel] Embun Di Atas Daun Maple

Monday, April 02, 2018 Lendy Kurnia Reny 34 Comments

Bismillah,

Pernah terbayang sekolah di luar negeri gak, sahabat lendyagasshi?
Dengan segala keterbatasan, kita dituntut untuk hidup mandiri dan penuh perhitungan. Emm, aku baru saja menamatkan novel karya Hadis Mevlana niih...



Judul : Embun Di Atas Daun Maple
Penulis : Hadis Mevlana
Penerbit : Tinta Medina
Tebal : 286 halaman
Terbit : 2014


Iman bukan sekedar pernyataan cinta sebatas lidah bersyahadat
Ia meminta hati luruh dalam taat penuh syahdu
Ia menagih kesungguhan gerak tubuh tanpa mengeluh
Ia membutuhkan ilmu sehingga tiap detik laksana pengantin yang merasakan madu


Aktivitas apa yang selama ini sudah kamu dawamkan dalam beribadah, sahabat?
Sholat tepat waktu di masjid?
Atau mengaji setiap ada waktu?

Baca juga : Membumikan Al-Qur'an Dengan Metode TES

Atau mendatangi kajian?


Tokoh utama dalam novel Embun Di Atas Daun Maple ini digambarkan adalah sosok seorang Muslim yang sholih bernama Muhammad Sofyan Al-Farisi yang akrab dipanggil Fyan. Ia adalah seorang pelajar dari Indonesia, tepatnya dari Teluk Kuantan (Riau) yang menimba ilmu di Universitas Saskatchewan, Kanada. Dengan adanya perbedaan akidah dengan kelima sahabatnya, novel ini berusaha menceritakan dengan detail setiap perbedaan yang ada tersebut.


Awalnya karena rasa maluku terhadap Kiara yang sering kulihat membawa Alkitab ketika ke kampus. Suatu hari pernah kutanyakan pada Kiara, apakah kitab suci yang sering dibawa ke kampus selalu dibacanya. Saat itu Kiara menjawab bahwa ia memang sudah terbiasa menyempatkan diri untuk membaca Alkitab setiap hari, terutama dilakukan setiap bangun tidur. Ia menyempatkan membaca setidaknya satu perikop Alkitab dan itu sudah dilakukannya sejak duduk di bangku sekolah menengah.

(Embun Di Atas Daun Maple, hal. 92)


Kiara - Sosok perempuan Rusia religius yang menganut agama Kristen Ortodoks. Ia memiliki sifat kritis dan selalu bertanya mengapa di Alkitab sungguh berbeda kisahnya dengan Al-Qur'an, padahal Alkitabnya diturunkan lebih dahulu daripada Al-Qur'an.

Diskusi-diskusi ringan hingga berat kerap dilakukan bersama Fyan, Felix, Fritz, Eva dan Olivia.


"Jika kau tadi mempertanyakan saksi mata untuk kebenaran wahyu nabi Muhammad di gua Hira, lalu bagaimana pula membuktikan bahwa yang ditemui Maria itu benar utusan Tuhan?" ucapku balik bertanya ,"Bukankah menurut catatan dalam Injil, tidak ada seorang pun saksi ketika Bunda Maria bertemu Gabriel?"

(Embun Di Atas Daun Maple, hal. 69)

Dialog di salah satu halaman ini sangat menarik ketika Kiara mempertanyakan kebenaran wahyu Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad di gua Hira. Bagaimana mungkin umat Islam begitu mengimani apa yang dikatakan Muhammad sebagai wahyu Allah melalui malaikat Jibril, padahal saat wahyu tersebut diturunkan, nabi Muhammad sedang menyendiri dan tidak ada saksi mata?

Maka saat itulah Fyan bertanya balik pada Kiara perihal wahyu yang diteriman oleh Bunda Maria. Dan saat itulah Kiara terdiam karena tidak mampu menjawab pertanyaan balik dari Fyan. Begitu pula dengan sahabatnya yang lain saat itu.


Tokoh kuat dalam novel ini memang Fyan dan Kiara. Sedangkan sahabat lainnya tidak diceritakan begitu dominan seperti dua karakter utama ini. Selain kuat dengan dialog keimanan dan keagamaan, saya kagum dengan penulis yang melakukan riset secara mendalam mengenai ayat Al-Qur'an dan Alkitab sebagai perbandingan dan jawaban atas semua diskusi.


Bagaimana penulis bisa begitu detil menceritakan hal tersebut?


Inilah keunikan dari novel Embun Di Atas Daun Maple. Tidak hanya cocok dibaca oleh seorang Muslim, namun juga ada sisi menarik yang bisa dijadikan bahan perenungan dari setiap babnya. Ada bumbu romantisme, tentunya.



Terbukti dengan diketemukan sepucuk surat beserta sekuntum mawar putih di depan kamar Fyan dan Felix. Dengan disematkan nama Fyan di amplop surat, maka Felix yakin bahwa seseorang tersebut adalah pengagum rahasia Fyan. Siapakah sosok wanita misterius tersebut?

Sejujurnya,
aku baru pertama kali membaca novel yang begitu serius membahas kejadian demi kejadian yang ada di Al-Qur'an dengan penjelasan secara ilmiah. Membacanya mengingatkanku dengan novel The Davinci Code, yang begitu serius membahas satu agama tertentu. Namun bedanya, dalam novel ini tidak terlihat perbedaan SARA yang mencolok ataupun menyudutkan agama tertentu. Justru aku mendapat insight baru mengenai pengalaman seorang mahasiswa Indonesia yang tinggal di lingkungan heterogen negara lain.

Betapa kita harus sangat bertoleransi karenanya. Dan kebaikan yang sebesar biji zahra, tentu akan menjadi pemberat di akhirat kelak.


Selain itu, pembelajaran lain yang aku dapatkan adalah mengenai kewajiban setiap Muslim untuk berdakwah. Memberi pemahaman kepada orang lain, apalagi yang sangat ingin mengetahui agama Islam, tentu tidak bisa disamakan dengan orang yang sudah Muslim dari awal.

Aku banyak belajar cara berkomunikasi dan menyampaikan pendapat dari tokoh Fyan dan Kiara ini. Mereka sangat santun dalam bertanya, bukan mempertanyakan. Dan menjawab menggunakan bahasa yang mudah dipahami, bukan menggurui apalagi memaksa untuk ikut dalam keyakinan yang dianut.

Memang perlu waktu untuk melahap kata demi kata dalam novel berjumlah 286 halaman ini. Namun begitu membacanya, kita menjadi tahu banyak hal tentang Islam. Betapa Islam menjadi mulia karena akhlaknya. Dan itulah tujuan Allah menyempurnakan agama penutup ini.


﴾ لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ ﴿٦

Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku”.
(QS. Al Kafirun : 6)



Novel ini berlanjut ke buku keduanya yang ditulis dengan judul serupa "Ketika Embun Merindukan Cahaya."

Jangan lupa untuk terus membaca reviewnya di blogku yaa...
Psst...bakalan ada giveaway nya looh... dari tanggal 1-7 April 2018.
Ikutan yuuk...

Blurb : "Aku khawatir akan diusir keluargaku, Fyan." Ucap Kiara cemas saat itu. "Entahlah... Apakah aku bisa berhadapan lagi dengan ayah dan ibuku setelah ini." . . "Tetaplah berbuat baik kepada mereka. Kau harus tetap berbakti pada mereka selama bukan untuk menyekutukan-Nya. Buktikan pada mereka bahwa berubahnya imanmu tidak mengubah sedikitpun kasih sayangmu sebagai anak kepada orangtuanya." . . Sekelumit dialog keimanan antara Kiara dengan Sofyan. Dua tokoh utama dalam novel terbaru kang @hadismevlana yang berjudul Ketika Embun Merindukan Cahaya. . . Novel menarik berlatar kehidupan mahasiswa di luar negeri dengan segala tantangannya untuk tetap bertahan pada keimanannya sebagai seorang Muslim atau malah mengikuti akidah sahabat-sahabatnya yang kebanyakan beragama non-muslim. . . Di buku kedua ini, pembaca akan disajikan konflik demi konflik yang belum sempat terselesaikan pada buku pertamanya "Embun Di Atas Daun Maple". . Menarik. Dan tentu mengajak pembaca merenung akan diskusi-diskusi ilmiah yang menjadi daya tarik novel berjumlah 304 halaman ini. . Tertarik membaca? Yuuk... Ikutan blogtournya di http://www.lendyagasshi.com . . Siapa tahu, kamu yang beruntung memenangkan sebuah novel keren ini. Cara lengkapnya ada di blog yaa.. . . Love, lendyagasshi. . . #bookwarm #booklover #bookstagram #love #romance #novel #bookish #booksleeve #giveaway #MembacaItuNikmat
A post shared by lendy_mut (@lendymut) on




Salam hangat,


You Might Also Like

34 comments:

  1. Perbedaan itu kaya pelangi ya, tetep indah asalkan kita dibekali dengan rasa toleransi.Penasaran deh samaa bukunya Leeen...
    Boleh lah tabok aku dengan buku ini, aw..aw..

    ReplyDelete
  2. "Iman bukan sekedar pernyataan cinta sebatas lidah bersyahadat
    Ia meminta hati luruh dalam taat penuh syahdu"

    kata kata ini enak banget di baca ya ampun

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya yaa, Ra...
      Kalo uda puitis teh...bisaan bikin kata-kata yang bikin kita merasaaaa...mashaAllah.

      Delete
  3. Menarik banget aku jadi penasaran membacanya. Kiara dan Fyan apa kabar di kehidupan selanjutnya setelah kuliah?

    ReplyDelete
    Replies
    1. di novel keduanya msh kuliah jg hehehe cm udah mo lulus ceritanya

      Delete
  4. Jadi inget AAC 1 deh hehe kalo pengen tau seberapa kuat iman seseorang, jangan kepengen tinggal di lingkungan yang baik dan enak enak aja ya Teh, harus mau berjuang jadi minoritas, itu baru seru✊

    ReplyDelete
  5. Buku penuh pengetahuan dan pengalaman kaya gini bikin banyak belajar arti kehidupan

    ReplyDelete
  6. Wah, aku jadi penasaran nih ceritanya. Sangat salut dg penulis yg bs mempersatukan perbedaan dalam tokoh tulisan dan dapat menyenangkan pembacanya. Aku sendiri biasanya langsung close kalau menemukan tulisan yang berbau sara tinggi. Tapi bukunya benar2 penasaran ini. Apalagi kutipan2 yg ada disini indah2. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. tema mmg SARA tp insya ALLAH dikemas dg cara yg elegan akan mudah diterima

      Delete
  7. Aku jadi introspeksi diri nih .. baca ulasan mba lendy.. tetap menyemangati dengan riviu buku2 macam ini mba. Perlu banget bagi orang banyak dosa kayak gue

    ReplyDelete
  8. Duh, kok menarik ya novel ini, jadi pengin ikut baca supaya makin open minded...

    ReplyDelete
  9. Kenapa daun maple mengingatkanku pada ahjussi goblin 😂😂

    Novel kayak gini nih yang kudu dibaca netizen biar ngerti arti toleransi. Miris jaman sekarang selalu ribut masalah agama :(

    ReplyDelete
  10. Perihal buKu embun di atas daun maple sepertinya pernah aku baca dulu di waktu kuliah, tapi sekarang sudah lupa bagaimana ceritanya, tinggal samar2 saja...

    Iya, kehidupan di kanada memang masyarakat penuh toleransi antar umat beragama yg berbeda, hal ini dikarenakan keberagaman masyarakatnya..

    Seharusnya sedikit banyak kita mesti mencontoh hal2 yang baik dari kanada, salah satunya bentuk toleransi umat beragama, tidak menghakimi tidak mencaci, dan tidak menganggap ajaran agama yg dianut itu sebagai yg terbenar...

    ReplyDelete
  11. Wah baca kutipannya pada dalem banget ya... Keren kyknya nih, jd penasaran juga :)

    ReplyDelete
  12. wahhh novel nya dalem banget, jadi penasaran pengen baca...

    ReplyDelete
  13. Pernah menjadi minoritas di negara orang, toleransinya sangat tinggi, jadi tetap merasa aman dan nyaman sebagai kaum minoritas. Kalau disini ngeriiii

    Layak dibaca ini ya mbak biar dikit2 ga mempermasalahkan tentang perbedaan ajaran agama

    ReplyDelete
  14. Hidup sama org2 dg beragam agama itu bikin kita jd byk belajar, buat toleransi jg. Kadang gemes sama org2 yg ngotot dg keyakinannya atau malah cenderung maksa. Tp dr review Mbak Lendy, tokohnya lbh banyak berdiskusi dan ngasih jawaban ilmiah. Ini lbh masuk akal dr pd ngomel tanpa solusi

    ReplyDelete
  15. Wah, ternyata ini buku ada pengantar sebelumnya ya. Masuk list buat dicari nih

    ReplyDelete
  16. Menulis novel yg ada unsur agama mmg hrs banyak riset ya. Tidak bisa sepotong potong.

    Jadi penasaran tuk bacanya.
    Cari bukunya nanti deh

    ReplyDelete
  17. Jadi pengen baca novelnya niiih, Mumpung mood bacaku lagi balik lagi

    ReplyDelete
  18. ?Novel yang menarik untuk dibacaaa yahh..
    Temannya juga baguss..

    ReplyDelete
  19. Aku malah ngga fokus kak, maafkan aku jadi teringat pancake yang disiram dengan sirup maple, pasti enak banget hehehe

    ReplyDelete
  20. Kayaknya Novel ini menarik untuk dibaca. Jadi penasaran dengan dialog antara Fian dan dan Kyara yang santun dan tidak menggurui. Sama-sama belajar ya...

    ReplyDelete
  21. Keren bisa santun dan tidak menggurui. Menarik banget ceritanya. Jadi penasaran sama isi lengkapnya. Pasti indah bisa hidup damai walau beda agama.

    ReplyDelete
  22. Setidaknya dari penggalan novel ini bsa dijadikan rujukan bagi kita yg ngakunya toleransi.
    Bukan salah kaprah memaknakan toleransi.

    ReplyDelete
  23. Sebuah novel buku yang menginspirasi bgt tentang toleransi agama ya mba? Jadi pingin beli bukunya mba

    ReplyDelete
  24. Aku pernah beli dan kayaknya belum sempat baca, duh. Tengkyu reviewnya

    ReplyDelete
  25. ceritanya keren, kayaknya makjleb banget ya. aku mau intio GA nya ah, semoga blm terlambat, ko penasaran y sama tokoh fyan dan kiara.

    ReplyDelete
  26. Seru banget nih kayanya novelnya, jadi penasaran pengen baca. Apalagi Udah lama juga ga baca novel, huhu

    ReplyDelete
  27. Suka banget dengan isi ceritanya mbak, aku pengin ikutan giveaway nya ah biar dapat buku nya :)

    ReplyDelete
  28. Terima Kasih Mba Lendy untuk reviewnya.

    ReplyDelete
  29. Aku suka banget sama novel-novel bertemakan Islam. Rasanya baca novel seperti itu jadi berasa merenung dan teringat banyak hal yang sering terlupakan sama saya sendiri. Dan aku jadi pengen baca ini mbak, beneran. hehehe. Apalagi temanya berkaitan dengan toleransi dan juga keyakinan beragama.

    ReplyDelete