Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Nonton Film Soekarno (2013)

Bismillah,

Merdeka...!
Merdeka...!

17 Agustus 1945 adalah hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Tahun ini, aku yang baru saja mengikuti serangkaian acara Tur Virtual 17-an yang diadakan oleh Komunitas ISB yang bekerjasama dengan Wisata Kreatif Jakarta dan toko buku online, Kinokuniya berkunjung ke 5 museum bersejarah yang menjadi saksi Kemerdekaan Republik Indonesia.

Setelah berkunjung ke 5 museum itu, sang tour-guide kami, kak Ira Latief sambil bercerita dan menyarankan kami untuk menonton beberapa film mengenai sejarah. Seperti film Soekarno (2013), Wage dan Pantja Sila. Aku pun akhirnya berlabuh ke Film Soekarno dahulu. Alasannya simple siih...karena ada di Netflix.

Review Film Soekarno

Judul : Soekarno - Indonesia Merdeka

Pemeran :

Ario Bayu sebagai Ir. Soekarno
Maudy Koesnaedi sebagai Inggit Garnasih
Tika Bravani sebagai Fatmawati
Lukman Sardi sebagai Bung Hatta

Sutradara : Hanung Bramantyo

Genre : Biografi, Film Perjuangan
Tayang : 13 Desember 2013
Runtime : 2 jam 17 menit

Rating : ⭐⭐⭐/5

Sejujurnya, alasan aku kenapa jarang sekali menonton film Indonesia, karena aku sudah mulai jengah sama Film Indonesia yang meninggalkan norma-norma ketimurannya. Film Indonesia kini, bumbunya pun sudah ada adegan kiss. Walau ini dimulai sejak boomingnya film "Ada Apa Dengan Cinta" yang setelahnya baik Dian Sastro maupun Nicholas Saputra sama-sama mendapat cibiran. Toh film Indonesia malah semakin berani menampilkan adegan begini dalam "bumbu" bahkan tema utama di ceritanya.

Sehingga, aku memilih untuk tidak mengikuti perkembangan perfilman Indonesia, kecuali menonton yang populer-populer saja, seperti Dilan. Hehhee~

Dan karena ini adalah film biografi, tentu bayanganku, bakalan menampilkan semangat juang dari sang tokoh Bapak Proklamator Republik Indonesia yang terkenal gagah, kharismatik dan jago pidato.

Namun, sayangnya...
Ada beberapa scene atau bahkan inti dari cerita Soekarno ini agak menggiring penonton untuk berpikir bahwa sosok Soekarno "tidak sehebat" itu. Walau sudah diperankan dengan apik oleh Ario Bayu.

Jangan tanyakan mengapa, karena kalau menilik dari sutradara dan tim produksi, sahabat lendyagasshi sudah tau yaa... Lagi-lagi ini masalah profit siih... Tapi kaan, ini film gitu... Sebuah karya yang akan dinikmati hingga berpuluh-puluh tahun ke depan. Kok?!?!

Okelah yaa...
Aku rasa, aku gak berhak buat protes sama perfilman Indonesia. Karena lagi-lagi, aku gak punya kapasitas ke sana saking minimnya aku nonton hasil karya anak bangsa. Tapi yang pasti, menonton Film Soekarno selama 2 jam lebih 17 menit meninggalkan kesan bahwa aku gak bisa hanya menikmati tontonan tanpa membaca.

Sesungguhnya waktu yang aku butuhkan menonton Film Soekarno ini adalah sehari semalam. Betapa tidak? Asal ada fakta baru, aku langsung googling dan bahkan aku meminjam beberapa literatur terkait Ir. Soekarno di Gramedia Digital, sebagai bahan referensi. Bagaimanapun, sejarah tentu memiliki sudut pandang penulis dan penggubah karyanya.


Masa Kecil Soekarno

Cerita dibuka dengan penangkapan Ir. Soekarno dirumah Dr. Soejoedi, Ketua PNI cabang Jawa Tengah pada tahun 1929. Ada apa?

Ternyata...
Flashback sepuluh tahun ke belakang. Ir. Soekarno lahir dari keluarga priyayi Jawa. Bapaknya bernama Raden Soekemi Sosrodihardjo sedangkan sang Ibu bernama Ida Ayu Nyoman Rai. Lahir dengan kondisi fisik yang terus sakit-sakitan, demam tinggi selama berbulan-bulan, membuat sang Ayah melakukan ritual khas Jawa apa saja agar Soekarno kecil sehat kembali. Termasuk mengganti nama Kusno menjadi Karna. Berasal dari tokoh pewayangan, Adipati Karna.

Karena sang Ibu, memiliki doa dan pngharapan yang besar maka nama Karna diberi awalan "Soe" (dibaca "Su") yang artinya yang terbaik. Sehingga makna Sukarno adalah Pahlawan yang terbaik.

Doa yang besar ini membuat Soekarno sungguh menjadi orang hebat, kelak.


Soekarno Remaja

Review Film Soekarno
Melompat ke usia Soekarno saat remaja yang dikisahkan bersekolah di Europeesche Lagere School (ELS) di Blitar lalu Soekarno diterima di Hogere Burger School (HBS) di Surabaya dan ngekost di  rumah petinggi Sarekat Islam, organisasi pertama di Indonesia, Raden Haji Oemar Said Tjokroaminoto (atau yang lebih dikenal dengan H. O. S Tjokroaminoto). Di sini, Soekarno muda sudah mengenal cinta. Ia jatuh cinta dengan gadis Belanda yang bernama Mien Hessels.

Kisah cintanya tentu tak berjalan mulus, sehingga gagal meminang gadis Belanda, membuat semangat Soekarno terbakar. Ia sering mengikuti Bapak indekosnya saat sedang berorasi memberi pidato semangat perjuangan untuk para pekerja dan petani di Surabaya, saat itu.

Di kamar indekostnya, Soekarno meneriakkan kata-kata perjuangan.

Kita adalah tuan.
Tuan untuk tanah kita sendiri. 
Mereka, para Belanda itu..cuma numpang.
Mereka takut pada kita.

Untuk apa kita menunduk.. Bersujud... Merangkak...
Membudak kepada orang asing.

Buat apa?

Kita harus tegak.
Tegak berdiri melawan mereka.
Melawan para Belanda itu.

Lalu Soekarno mendapat wejangan dari Bapak indekosnya, H. O. S Tjokroaminoto (yang seharusnya diceritakan dalam sejarah adalah merupakan bapak mertuanya, karena Soekarno menikah dengan Oetari selama 3 tahun lalu bercerai karena saat itu Oetari masih terlalu belia).

Seorang pemimpin itu, harus bisa menggenggam hati rakyat.


Soekarno Dewasa

Review Film Soekarno

Saat Soekarno dewasa dan sedang bersekolah di Technische Hoogeschool te Bandoeng (ITB) Bandung, beliau masuk Jurusan Arsitek dan mengambil jurusan Teknik Sipil, sehingga lulus sebagai sarjana Teknik Sipil.

Di masa-masa ini, Soekarno sudah semakin sering berdiskusi dan melakukan pidato terbuka di hadapan rakyat. Salah satu pidato yang membuatnya dijebloskan ke penjara dan diasingkan oleh Belanda ke Ende, Flores adalah Pidato Indonesia Menggugat.

Setelah Soekarno menjadi tahanan di Ende dan alasan kondisi kesehatan, maka Soekarno dipindahkan ke Bengkulu. Bersama istri keduanya, Inggit Garnasih dan anak angkatnya.
**Inggit ini dinikahi Soekarno di Bandung saat beliau usia 20 tahun dan Inggit seorang janda berusia 33 tahun dan sudah memiliki anak

Inggit Ganarsih - diperankan oleh Maudi Koesnaedi

Kehidupan di Bengkulu digambarkan tidak seperti di pengasingan oleh Hanung. Lebih humanis dan seolah hanya menjadi syarat bahwa Soekarno tidak boleh berpolitik. Tapi nyatanya, di film ini Soekarno tetap bisa menumpahkan segala ambisinya dalam menyalurkan nasionalismenya melalui kelas tempat ia mengajar. 

Ya,
Soekarno menjadi guru di Bengkulu dan di sinilah ia bertemu dengan Fatmawati, istri ketiga Soekarno kelak. Fatmawati di sini digambarkan seorang siswa yang kritis dan selalu ingin tahu mengenai kehidupan politik dan negara, sehingga membuat Soekarno jatuh cinta.

Fakta uniknya, Fatmawati ini sepantaran dengan anak angkat Soekarno, Omi.

Dan mengetahui sang Ayah mulai ada hati dengan temannya, tentu sang anak menjadi tidak suka bahkan digambarkan pergolakan rumah tangga antara Soekarno dan Inggit terasa sangat memanas. Lebih panas ketimbang suasana politik yang harusnya pada masa ini, Belanda kalah dari perang dunia dan Jepang mulai masuk ke Indonesia.

Belum lagi, di film ini, Hanung menyuguhkan adegan yang menurutku, membuat penonton berpikir bahwa taktik politik Soekarno adalah mengalah dan memilih bekerjasama dengan Jepang. Soekarno diceritakan menyediakan beras untuk kebutuhan tentara Jepang dan mirisnya lagi, Soekarno sendiri yang menyediakan perempuan PSK untuk para tentara Jepang pada saat itu.

Karena politik kerjasamanya inilah yang membuat Soekarno kembali ke Jakarta. Jepang berkata bahwa Soekarno di pengasingan karena dibuang Belanda, namun Jepang, akan mengembalikan Soekarno ke Jakarta.

Review Film Soekarno
Sjahrir - Soekarno - Hatta
(source : smart_ebook Rengasdengklok)

Sesampainya di Jakarta kembali bersama anak dan istrinya, Inggit, Soekarno disambut oleh sahabat politiknya, Bung Hatta dan Sjahrir. Meski sering berseberangan pendapat, tapi kepentingan mereka sama, yakni Indonesia Merdeka.

Dari sini, Soekarno kembali berpolitik dan sibuk menyusun taktik. Hanya saja, lagi-lagi Hanung menggambarkan seolah-olah Soekarno masih galau karena meninggalkan Fatmawati di Bengkulu saat sedang cinta-cintanya. Gak bisa menyalahkan juga, karena Fatmawati di sini digambarkan sudah dilamar laki-laki lain dan curhatnya sama Soekarno. Sehingga Soekarno pun galau.
**kok ada Soekarno galau??

Terasa kurang pas saja adegan ini, tapi aku menikmati emosi yang digambarkan. Bagaimana Maudy sangat terpukul dan galaunya bertambah parah ketika Ibu Mertuanya menuntut seorang anak kepada Soekarno.

Akhirnya walau berat, Inggit melepaskan Soekarno. Beliau lebih memilih untuk bercerai daripada di madu. Betapa sakit dan pilunya adegan Maudy mengemas kopernya dan anaknya. Dan untuk terakhir kalinya, memakaikan kopiah ke Soekarno.


Soekarno dan Kemerdekaan

Review Film Soekarno
Anak-anak Soekarno dan Fatmawati :
Guntur Soekarnoputra, Rachmawati Soekarnoputri, Sukmawati Soekarnoputri, Megawati Soekarnoputri dan Guruh Soekarnoputra.

Di masa penjajahan Jepang, Soekarno bersama Bung Hatta dan Sjahrir menentukan arah politik bangsa. Namun sayangnya, karena durasi mungkin...adegan Sumpah Pemuda tidak ditampilkan, sehingga ada kesan bahwa yang bergerak hanya Soekarno, Hatta dan Sjahrir. Padahal di sini, tentu ada para pemuda seperti Ki Hajar Dewantara, K.H. Mas Mansyur, Sutan Syahrir, dan Amir Sjarifuddin. Ada pula pimpinan PETA, Supriyadi yang digambarkan oleh Hanung sebagai tentara yang tidak tegas dan komikal.

Muncul pergulatan pendapat dan adegan berikutnya menggunakan setting Gedung Pancasila yang masih diduduki Jepang juga betapa baiknya Jepang memberi kesempatan untuk Soekarno dan Hatta memproklamirkan kemerdekaan.

Ending Film ini adalah saat pembacaan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia di Jalan Pegangsaan . Suasanya yang digambarkan begitu jauh dari kata syahdu. Kecewa karena di tutup dengan B aja. Harapanku, Hanung menggambarkan suasana penuh haru dan pergolakan di mana Indonesia benar-benar harus fight - berjuang mempertaruhkan hidup dan mati, bahkan saat Proklamasi Kemerdekaan Indonesia ini dibacakan, di beberapa daerah di Jawa masih diduduki Belanda dan sekutunya.

Seperti di Surabaya yang terjadi perobekan bendera merah-putih-biru di Hotel Yamato dan bagaimana tentara PETA harus berjuang melawan penjajah di Blitar dan Yogyakarta.

Suasana pengibaran Bendera Pusaka Merah-Putih saat Proklamasi di Jalan Pegangsaan Timur no. 56
Jakarta Pusat


Narasi penutup Film Soekarno - Indonesia Merdeka :

Aku, belajar banyak dari apa yang terjadi.
Berusaha meraih kemenangan sendiri adalah kekalahan sejati.
Kemerdekaan tidak akan pernah diraih dengan cara seperti itu.


Merdeka

만세❗

Dirgahayu Republik Indonesia ke 75 tahun


With love,

48 comments for "Nonton Film Soekarno (2013)"

  1. Whoaa,, Bung Karno idola jutaan umat manusia!
    Memang bikin film biopic itu engga mudah, ya.
    Aku inget waktu itu keluarag Soekarno ada yg ngga setuju kalo tokoh beliau diperankan Ario Bayu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ternyata...Rachamati ingin Anjasmara yang memerankan.
      karena secara garis keturunan Anjasmara ini anak tiri dari Rachmawati loo..
      Dan memang sudah sering memerankan tokoh Soekarno di layar kaca.

      Delete
  2. Aku nonton Film Soekarno tapi gak penuh. Tapi ingat juga sih waktu Soekarno suka Fatmawati dan itu diketahui istrinya. Kalau zaman sekarang, mesti dilabrak dan viral

    ReplyDelete
  3. Ih baru banget nih td ada tv. Hihi. Sempet nonton sekilas sekilas, emang agak lucu ya saat pak karnonya galau.. hihi. Nanti mau ngulang nontonnya di netflix deh. Makasi infonya maaaak

    ReplyDelete
  4. Waaah, barusaaan banget aku nonton film Soekarno :) Ga full sih karena sambil masak wkwkwkw. Cocok deh ya Aryo Bayu jadi tokoh Soekarno. Ganteng dan gagah perkasa. Mau nonton lagi dari awal ah pas ga ada gangguan hahaha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aryo Bayu ini emang cocok ya memerankan tokoh kharismatik. Pas film Sultan Agung juga dia jadi pemeran utama sebagai sang sultan. Keren emang perawakannya cocok memainkan jadi orang yang gagah gitu.

      Delete
  5. Kayaknya kalau niatnya membuat film perjuangan segala macam kisah cinta itu mending dihilangkan aja kali yah, supaya gak rancu nontonnya. Soalnya nonton drama rumah tangga gitu kalo sebagai ibu-ibu suka jadi males duluan sih hahahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wkwkwk ... saya sependapat dengan Erry. Kisah cinta Soekarno buat saya suka bikin gregetan. :D

      Delete
  6. Kalau saya sih, gapapa galau, justru menunjukkan sisi humanis seorang Soekarno. Manusiawi.

    Kerennya setiap nemu fakta baru, Mbak Lendy langsung googling bahkan meminjam literatur terkait Ir. Soekarno di Gramedia Digital.Tulisannya jadinya berisi ... mantap.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ending filmnya di peristiwa Proklamasi ya. Mungkin bisa saja kelak ada sekuel film yang menggambarkan Soekarno di kehidupan sebelum meninggalnya ya.

      Delete
  7. Saya fokus ke ibu Inggit yg memilih berpisah daripada dimadu. Soalnya saya udah baca kisah ibu Inggit secara terpisah. Banyak yg tidak mengenal ibu Inggit Garnasih. Tahunya ya Fatmawati saja...

    ReplyDelete
  8. aku belum nonton, tapi aku emang seneng juga sih film sejarah2 tokoh model begini, yg aku baru tonton tuh pak habibie yg kesatu sama yg kedua, yg ketiganya jg blm, wkwkwk susah beud curi waktu buat nonton

    ReplyDelete
  9. saya belum pernah nonton film Soekarno teh, tapi pernah baca otobiografinya :) saya kagum dengan beliau kecuali bagian istrinya banyak hahahaa

    ReplyDelete
  10. Aku selalu menganggap bahwa tokoh manapun, even Indonesia;s foundng father (kecuali Nabi Muhammad), is not a perfect human being.
    Tapi aku jadi penasaran buat nonton film ini, tidak sehebat itu maksudnya kayak gimana. karena kalau emang realnya kayak gitu, kenapa tidak? :D

    ReplyDelete
  11. Saya blm nonton film ini..tapi kisah cinta Soekarno agak membuat saya kurang suka. Hehe..

    ReplyDelete
  12. Karena Soekarno juga manusia. Jadi bisa galau hihihi. Maudy wajahnya memang Indonesia banget, ya. Saya suka lihatnya :)

    ReplyDelete
  13. Soekarno muda mirip banget dengan Mas Guruh muda ya Mbak...Saya belum nonton film ini namun sudah banyak membaca tentang Soekarno, terutama tentang wanita-wanita di dekatnya :)

    ReplyDelete
  14. aku termasuk yg suka baca atau nonton biografi, dokumenter, dsb. tapi utk yg Indonesia, mungkin karena dekat, agak gmn gitu. ada versi yg beda dikit, aku langsung kepikiran. jd lebih suka diskip aja. tambah baca ulasan ini, makin males deh! wkwk

    ReplyDelete
  15. Pernah nonton ini tapi ga sampe selesai karena gatau kenapa tiba2 ga sreg aja ngeliat alur ceritanya. Ternyata ada Pak Karno galau ya. Weleh weleh.:)))

    ReplyDelete
  16. Film Soekarno ada di Netflik? Nonton, ah!
    Sebenarnya saya suka nonton film Indonesia, cuma menurut saya audionya terlampau kecil. Kualitas Oke, Suara Oke, tapi kalau gak pake headset ada beberapa obrolan yang miss. Untuk cerita oke-lah walaupun ada yang maksa, hihi

    ReplyDelete
  17. Gimana ya? Ya sih kalau pengen mengangkat kisah perjuangan Soekarno, seharusnya cinta-cintaannya dihilangkan aja. Tapiii balik lagi ke penonton, biasanya yang kurang ada dramanya nggak mendatangkan profit.

    Lagi-lagi ya

    Film dan sinetron Indonesia masih dikuasai para pengusaha yang lebih mementingkan cuan daripada kualitas itu sendiri.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe iya mbak, biasanya kalau penonton suka yang ada bumbu romancenya gtu sih ya, makanya akhirnya nurutin permintaan pasar keknya :D

      Delete
  18. Kemarin pas nyalain TV langsung lihat film Soekarno, tapi karena telat nontonnya akhirnya jadi gak faham apa tema dari film yang saya tonton sebenarnya. Memang benar mbak untuk menonton film sejarah apalagi menarik benang merah dari isi keseluruhan filmnya harus membaca dulu literasi yang berhubungan dengan film tersebut. Tapi memang Soekarno ini tokoh idola. Saya asli Blitar, kalau ingin melihat koleksi bu Karno tinggal ke museumnya di Sentul dekat makamnya, atau langsung ke kediaman bung Karno yang isinya barang peninggalan beliau...jadi kesannya lebih dalam. Semoga semakin seringnya diputar film2 sejarah Indonesia akan menambah rasa kecintaan generasi muda pada pahlawannya dan sejarah perjuangannya.

    ReplyDelete
  19. Kalau nonton filmnya saya takut kecewa juga sih sebenarnya.tapi mudah2an generasi muda yang menonton film ini jadi tergerak untuk mencari tahu tentang tokoh2 di balik sejarah perjuangan kemerdekaan.

    ReplyDelete
  20. kalo gak salah aku pernah nonton tapi gak sampai selesai, suka sekali sama aktor yang memerankan soekarno muda

    ReplyDelete
  21. Sungguh aku merasakan kekecewaan yang mendalam dari yang nulis review ini. :)
    Emang kalau film berdasarkan kisah sejarah perjuangan, bakalan beda dengan aslinya. Tergantung selera sutradaranya juga mau dibuat seperti apa agar tontonable. Udah biasa sih gitu.

    ReplyDelete
  22. Dulu kau nonton film ini pas pemutaran perdana. Menurutku film-nya lumayan pemainnya juga oke banget. Ya berkesan pokoknya. Sekarang aku malah penasaran sama kisah hidup Bung Hatta. Udah tamat autobiografinya sih, ajdi penasaran banget. Beliau tuh sebenarnya benar2 berkebalikan dengan Soekarno. Tapi dulu kok ya bisa kompak gitu.

    ReplyDelete
  23. Bulan Agustus emang paling asyik buat nonton film yang ceritanya tentang kemerdekaan yaa kak, akupun kemarin nonton merah putih lagi hehehe masih ada DVD nya, seru!

    ReplyDelete
  24. Wah, saya belum pernah nih nonton film Soekarno, ternyata cukup mengecewakan ya, huhu...

    ReplyDelete
  25. Barusan nonton di salah satu TV nasional kemarin sih. Walaupun mungkin tidak seutuhnya menggambarkan bagaimana perjuangan bangsa kala itu namun saat suara proklamasi berkumandang dan terdengar lagu Indonesia raya, tetap saja merinding ya

    ReplyDelete
  26. Replies
    1. Penasaran sekali sama film ini, lumayan juga kyknya ya buat belajar sejarah lagi, apalagi ini ceritanya ttg bapak proklamator kita :D

      Delete
  27. Sama sih, aku malah tidak mengikuti perfilman indonesia loh, cuma tahu Dilan doang dan itu pun juga gak nonton *ups*

    ReplyDelete
  28. dari reviewnya saja film Soekarno ini sangat keren banget dan juga pemerannya Maudy Koesnaedi dan gak diragukan lagi tentunya aktingnya pasti bagus banget

    ReplyDelete
  29. Tadinya mau bilang, "Oh, awalnya karena cinta ditolak oleh anak bule," tapi pasti nanti dikeroyok massal. Hihihi.
    Hanung kalau membuat film cukup teliti tapi memang tak bisa memuaskan semua pihak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe bener yang namanya film kan apalagi jam tayangnya sebentar pasti susah memuaskan banyak pihak. Tapi dengan adanya film kyk gini anak2 muda bahkan kita jd belajar soal sejarah :D

      Delete
  30. Aku langsung ingat lagu Melati Suci karena Soekarno punya istri yang handal
    Dan bapak Proklamator kita ini punta banyak jasa

    ReplyDelete
  31. Memang sih kalo berharap bakal menonton karya seorang Hanung dengan kisah sang Proklamator, pasti kecewa. Aku juga nonton film ini udah lama, dan hasilnya bikin kecewa. Kurang greget menurutku, atau sengaja untuk menarik minat penonton milenial ya

    ReplyDelete
  32. Aku belum pernah nonton film ini. Btw bu fatmawati mirip banget sama anaknya ya.jadi pengen nonton pengen tau perjuangan soekarno dulu

    ReplyDelete
  33. Iya rada jarang nonton film Indonesia, kmrn film sukarno ini nonton dipsawat, sdh lama sblm covid.

    ReplyDelete
  34. if you want to see and know more about Soekarno, come to Bengkulu, please. I a sad too watching this film, not scene take in Bengkulu, hiiiks

    ReplyDelete
  35. Wahhh saya belum nonton film Soekarno ini. Jadi mau nonton juga di Netflix nanti malam. Saya kepo juga sama aktingnya maudy koesnaedi hehe

    ReplyDelete
  36. Kalau film Soekarno ini aku blm sempat menonton, sepertinya memang perlu dibarengi literasi ya krn memang dr film suka ada adaptasi atau tambahan. Kl sy nonton yg sejarah br yg jenderal soedirman itu

    ReplyDelete
  37. Aku belum nonton film ini tapi aku sangat kagum sama pak Soekarno Mba, lohat review ini jadi pingin nonton juga

    ReplyDelete
  38. Gak hanya nonton, tapi juga sekalian belajar sejarah yaa mbak. Saya belum nonton nih film Soekarno. Baca sekilas gini aja udah kebayang bagusnya.

    ReplyDelete
  39. Jadi malu nih, saya belum nonton filmnya. Ulasan ini bikin saya penasaran dan nyari link filmnya. Sekalian buat belajar sejarah dan menceritakan pada anak-anak dampingan belajar

    ReplyDelete
  40. Soekarno memang pribadi yang unik. Ya cerdas tapi memang manusiawi lelaki yang cinta wanita. Menurutku justru Hanung berhasil menerjemahkan emosi itu buat penonton, bahwa Soekarno orang biasa tanpa melupakan jasanya sebagai proklamator dan tokoh besar Indonesia. Jadi inget nih belum beres baca buku trilogi tentang Hatta yang sangat bagus. Buku otobiografi yang nanti menyinggung Soekarno juga. Semoga makin banyak film bagus tentang perjuangan Indonesia.

    ReplyDelete
  41. aku nonton film ini bukan untuk menikmati ceritanya tapi lebih kelihat Babang Ario Bayu. Aku mah gitu, suka suka saja yang mana, ehe

    ReplyDelete

Berlangganan via Email