Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget Atas Posting

[Blogtour & Giveaway] Buku Pulih

Bismillah,

[Blogtour & Giveaway] Buku Pulih.


Blogtour & Giveaway Buku Pulih Ibu-Ibu Doyan Nulis


Hola sahabat lendyagasshi.
Dalam hidup ini, tentu wajar sekali bila merasakan yang namanya berbagai jenis emosi, seperti gembira, sedih, marah, kesal, dan lain-lain. Yang tidak wajar adalah ketika emosi ini bersifat destruktif (merusak), baik ke diri sendiri atau ke orang lain.

Dan sebagai manusia biasa, tentu merasakan emosi seperti kecewa, pernah aku rasakan. Seperti satu hal yang masih aku ingat sampai sekarang adalah perasaan kecewa ketika melahirkan anak dengan jarak dekat dan keduanya berjenis kelamin sama, perempuan.

Terbersit perasaan kecewa bahkan sampai ke level "menyalahkan" takdir. Sampai di sini saja? Tentu tidak. Efek tidak terima dengan takdir ini membuat emosiku tidak stabil. Aku jadi tidak bisa melihat hal-hal baik yang ada di sekitarku. Seperti mengenalkan kakak dengan anggota keluarga baru, yang tentu ini membuatnya kaget setengah mati. Karena biasanya semua perhatian tertuju padanya, lalu di satu waktu berikutnya, ada makhluk yang lebih kecil dan mungil menggemaskan yang mengalihkan kasih sayang orang-orang di sekitarnya. 

Aku saat itu masih terlalu sibuk dengan menyalahkan takdir, sehingga tidak ada hal baik yang bisa aku ajarkan kepada anak-anak. Aku bergerak seperti robot yang menjalankan tugas sebagai Ibu. Saat support system baik, maka emosiku masih terbilang stabil. Namun begitu aku harus balik ke kenyataan, tinggal jauh dari orangtua di Bandung, emosiku mulai tak terbendung lagi. Di saat aku hanya bertiga dengan anak-anakku, jantungku berdegup sangat kencang. Aku insecure. 

Dan karena minimnya pengetahuanku mengenai mental illness ini, aku kerap melampiaskan kemarahanku kepada anak. Sampai kini, ketika banyak proses kehidupan yang telah aku lewati untuk keluar dari "kesakitan"ku, aku masih saja kerap menangis bila mengingat masa-masa itu. Doaku hanya satu, "Semoga Allah menghapus luka pengasuhanku terhadap anak-anak dalam benak mereka, sehingga luka ini tidak diteruskan ke anak-anak mereka, kelak."




Review dan ulasan Buku Pulih Ibu Ibu Doyan Nulis


Data Buku Pulih IIDN :

Judul : Pulih
Tebal : 306 halaman
Ukuran : 14 x 20 cm
Terbit Cetakan Kedua : November, 2020

ISBN : 978-623-7841-76-0

Harga normal : Rp 100.000,-


Review Buku Pulih

Melalui buku Pulih, aku jadi yakin sekali bahwa setiap masalah, pasti ada jalan keluarnya, meski itu berat untuk dilalui. Dan dengan membaca buku Pulih, betapa bersyukurnya menjadi aku yang sekarang. Saat ini. Aku memang bukanlah manusia yang sempurna, tapi aku berusaha menjadi lebih baik lagi untuk kesehatan dan kebahagiaan diriku sendiri. Agar keluargaku dan orang-orang di sekitarku juga merasakan bahagia.

Membaca bulu Pulih yang penuh dengan kisah 25 Ibu sebagai kontributor yang telah terpilih dan bersedia kisahnya ditulis dan dibagikan kepada para pembaca, ini sangat berharga sekali. Menurutku, Buku Pulih wajib dibaca bagi seluruh Ibu dan wanita yang ingin memiliki sebuah perjalanan untuk menjadi pribadi yang lebih baik.


Insecure

Kisah ini ditulis oleh seorang Ibu bernama Rhein. Dan aku tersedu saat membacanya. Entah bagaimana, kisah beliau sangat membuatku bersyukur bahwa beliau kini sudah menemukan jalan bahagianya. Begini kisahnya..

❝Aku tidak percaya kalau di dunia ini ada yang namanya laki-laki baik.❞

(Buku Pulih, Rhein, hal. 281)


Ririn, adalah seorang gadis yang cerdas dan cantik. Prestasinya di sekolah selalu menjadi kebanggaan. Di rumah, Ririn adalah anak bungsu. Namun, apakah hal tersebut membuat hidup Ririn penuh dengan gelimang kasih sayang?

Ternyata, di rumah, Ririn kerap mendengarkan kedua orangtuanya bertengkar. Hingga tak jarang, bunyi barang berdentingan dan pecah. Hal tersebut sudah bukan pemandangan asing baginya karena sejak Ririn kecil, memang begitulah sikap Ayahnya. Cinta?

❝Mengapa wanita rela disakiti jiwa raga hanya karena demi cinta?
Cinta yang bagaimana yang menyakiti?❞

(Buku Pulih, Rhein, hal. 283)


Hingga pada satu waktu, kebisingan yang terjadi sudah tak tertahankan lagi sehingga saat Ririn terkurung di sebuah kamar dan menemukan silet, ia tanpa ragu menggoreskan silet tersebut hingga melukai pahanya. Semburat darah segar berwarna merah menghiasi kamarnya, namun ada satu hal yang membuatnya bahagia, ia kini tak mendengar suara lemparan barang-barang, cacian dan bentakan lagi. Ia merasa tenang.

Hingga keesokan harinya, ia terbangun di tempat tidurnya dan Ibunya hanya berkata "Bersihkan darah mensmu. Lalu masukkan ke mesin cuci yaa..."



Buku Pulih Ibu Ibu Doyan Nulis IIDN : Kisah Rhein


Kejadian ini terus berulang bahkan hingga Ririn kuliah dan sedikit mulai bisa membuka diri. Ririn dewasa mulai mengikuti kegiatan paduan suara dan semakin banyak lagi kaum Adam yang terpikat. Namun, cinta yang bagaimana yang mereka tawarkan?

Tak satupun cinta bisa mengobati luka Ririn hingga pada suatu hari, sang Ibu meninggal dunia. Ini membuat Ririn merasa sedih sekigus lega. Karena Ririn yakin bahwa Ibunya telah terbebas dari segala kesakitan baik fisik maupun psikis.

Kehidupan Ririn terus berlanjut hingga ia harus membuka lembaran baru karena berpisah pulau dan meniti karir sebagai wanita muda yang sangat cemerlang. Ia memiliki rumah pribadi, kendaraan pribadi, namun satu hal yang tetap membuat Ririn merasa hampa. Ia belum menemukan cinta yang tepat.

Allah Maha Kuasa, hingga pada suatu waktu, Ririn dipertemukan dengan seorang pria yang sebenarnya adalah pihak lawan dari tender proyek besar yang sedang diperjuangkan Ririn bersama timnya. Namun, kekalahan tendernya kali ini, tidak membuatnya kecewa atau marah. Justru presentasinya tampak memukau hingga Ririn merasa dunia berhenti untuk sesaat.


Kini, telah 10 tahun usia pernikahan Ririn dengan suaminya. Seorang lelaki yang mampu memikat tidak menggunakan kata-kata, namun menggunakan sifat lembut. Bersama lelaki ini, Ririn merawat ketiga buah hatinya dengan bahagia. Tidak ada lagi silet kecil yang membuatnya ingin meredam kebisingan dunia.



Kelebihan Buku Pulih

Pertama kali memegang Buku Pulih, aku suka banget. Buku Pulih yang sudah terbit hingga cetakan kedua pada bulan November 2020 sukses membuatku berlama-lama membaca kisah demi kisah yang dituliskan oleh sahabat sesama Ibu di luar sana yang mungkin tidak aku kenal secara fisik dan personal, tapi aku bisa mendapatkan pelajaran yang berharga dari yang mereka alami berikut cara healing dari trauma.

Aku jadi semakin yakin bahwa manusia ini hanya makhluk yang lemah. Yang membuat kuat hanyalah ridlo dan kasih sayang Allah semata. 


Selain itu, saat membaca Buku Pulih, akupun mendapat insight yang berbeda dari sisi psikolog (Intan Maria Halim, S. Psi, CH.) dan Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa (dr. Maria Rini Indriati, Sp.KJ, M.Kes).

Kelebihan Buku Pulih IIDN

Memegang Buku Pulih, layaknya membaca buku diary. Cover bukunya berbahan soft cover art carton dengan kertas laminasi doft yang dominan berwarna putih bersih dan dihiasi oleh gambar bunga matahari berwarna orens cerah, sangat memikat hati.

Kertas dan besaran fontnya juga sangat memanjakan mata pembaca. Pas, tidak terlalu kecil ataupun terlalu besar. Juga untuk catatan Pulih yang ditulis oleh Ibu Intan Maria Halim sebagai psikolog yang mendampingi para kontributor saat menuliskan naskah Pulih juga diberi hiasan, sehingga pembaca memahami pesan tersebunyi yang disiratkan dan bisa diambil hikmah oleh pembaca.

Quote Bagi Kesehatan Mental : Review Buku Pulih IIDN

Sahabat lendyagasshi harus punya Buku Pulih ini. Karena selain bentuk dukungan kepada sesama perempuan, juga apresiasi besar bagi yang berani menghancurkan tembok penghalang untuk kembali sehat dan mengijinkan diri bahagia.



Blogtour & Giveaway Buku Pulih

Blogtour & Giveaway Buku Pulih IIDN

Bagi yang menginginkan Buku Pulih ini secara gratis, bisa ikutan Blogtour & Giveaway Buku Pulih di blog ini. Dengan mengikuti syarat dan ketentuan berikut :


Syarat dan Ketentuan Blogtour & Giveaway Buku Pulih :


(1) Follow IG @lendymut dan @ibuibudoyannulis.


(2) Jawab pertanyaan berikut, sertakan nama dan tulis done bila sudah follow IG penyelenggara giveaway ini di kolom komentar.


Pernahkah sahabat lendyagasshi merasa depresi?
Dan bagaimana solusi untuk keluar dari masalah tersebut?


(3) Share link postingan Giveaway ini di Facebook atau Twitter (pilih salah satu) dan jangan lupa mention akun @lendymut.



Sahabat lendyagasshi jangan lupa ikutan giveaway Buku Pulih yaa....
Dua orang pemenang berhak mendapatkan hadiah masing-masing 1 buah buku Pulih dan saldo OVO sebesar Rp 50.000. Hadiah akan dikirimkan ke alamat pengiriman seluruh Indonesia.


Blogtour & Giveaway Buku Pulih ini berlangsung selama 2 minggu. Sejak blogpost ini tayang hingga 1 Juni 2021 - 14 Juni 2021 jam 24.00 WIB. Pengumuman pemenang akan diumumkan di IG resmi @lendymut dan @ibuibudoyannulis.


Yuk, ikutan.

Jangan sampai ketinggalan dan boleh ikut dengan akun berbeda selama beberapa kali. Semoga beruntung yaa, sahabat lendyagasshi.


ํ™”์ดํŒ…
Hwaiting!


With love,



96 comments for "[Blogtour & Giveaway] Buku Pulih"

  1. Semoga banyak yg berpartisipasi di blog tour ini ya Mbak Lendy

    ReplyDelete
  2. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  3. Devi Nalita done, aku tidak tau ini bisa disebut depresi atau tidak. Yang jelas aku pernah berkeinginan untuk bunuh diri karena tidak kuat dengan tekanan batin yang selalu aku alami. Namun seorang ustadz pernah berkata "seseorang yang bunuh diri tidak akan pernah bisa masuk surga". Ah, di dunia saja aku sdh menderita, masak di akhirat juga menderita? Kalimat itu berhasil mengurungkan niat bunuh diriku
    Aku mulai mencari kesenanganku sendiri seperti membaca, menulis, menggambar, kemudian mendengarkan lagu sambil menari di kamar. Hingga aku menjadi pribadi yang tertutup.
    Hingga tiba masa aku memasuki dunia perkuliahan. Aku menemukan teman2 yang sangat menyenangkan. Bersama mereka aku merasa berarti, dihargai dan dibutuhkan. Mereka ada support system'ku. Aku sangat menikmati saat2 bersama mereka. Jalan2, Travelling, skincare.an bareng, main k Waterboom dll. Aku mulai melupakan hal2 pahit dalam hidupku.
    Disamping itu aku selalu melakukan self talk agar lebih ikhlas dengan apa yang telah terjadi. Berusaha berdamai dengan masa laluku. Yaah walaupun ada saja trigger yang menyeretku kembali pada masa2 itu, namun aku tidak akan berhenti untuk menyembuhkan inner child yang ada dalam diriku. Aku akan terus merangkulnya hingga ia sembuh dengan sendirinya ๐Ÿค—

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah sekarang sudah lebih baik ya Mbak...
      Salut saya dengan sikap dan akhirnya bisa punya hal yang bisa mencerahkan saya

      Delete
  4. Penasaran banget mau baca seluruh isi bukunya karena baca reviewnya aja bgus sperti mengupas hal lain yang terjadi dalam hidup aku sndiri pernah mengalaminya entah rasa kecwa sedih dll pokoknya sangat menarik udah gitu ada GA nya juga cuzzlah kpngin ikutan

    ReplyDelete
  5. Waaw ini buku bikin baper ya Mak selain banyak memberikan motivasi untuk kemabli bangkit "pulih"dan tetap semangat krn masih banyak cobaan yg blm dicobain hehe

    ReplyDelete
  6. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  7. Firsty Ukhti Molyndi done Kalo bicara soal depresi, molly gak ngerti. soalnya penanganan depresi butuh diagnosa psikiater kan ya? nggak bisa sembarangan orang menetapkan dirinya depresi by diagnosis sendiri. tapi kalo stress, molly mah sering tiap hari malah. Solusinya sih ya me time. Entah itu baca buku atau baca ebook atau nonton drakor atau nonton youtube. Artinya otak udah capek banget buat konten. Saatnya beristirahat.

    ReplyDelete
  8. Done follow ya mbak (akun Instagram : @windie_astuti)


    Auto flashback dua tahun lalu, Hamil pertama mudah nangis saat LDM sama suami. Sekitar UK 6bulanan sering merasakan khawatir, menangis nggak jelas walau sebenarnya ada satu hal yang saya inginkan namun nggak keturutan. Sering beradu pendapat dengan suami, hingga akhirnya kami ngobrol bertiga dengan perantara kakak ipar yang bekerja di bidang kesehatan. Mengatakan bahwa saya depresi, sering menangis tanpa sebab. Bahkan tangisan semakin menjadi saat didepan suami. Astagfirullah, jika teringat masa itu rasanya malu pada diri sendiri.

    Mencurahkan segala rasa pada orang terdekat, mendekari sang Khaliq dengan berdoa adalah caraku meredam emosi yang tak terbendung. Ketika julukan depresi keluar dari mulut kakak ipar, hati ini sontak ingin berbenah demi janin.

    Belajar semeleh perlahan demi perlahan, hingga akhirnya bisa menerima keadaan dan legowo untuk semuanya. Sungguh, proses yang tidak mudah untuk melaluinya. Meskipun begitu, tetap berterimakasih untuk masa lalu itu, pelajaran berharga dalam hidup yang tak boleh terulang lagi.

    ReplyDelete
  9. Aku beberapa kali baca review buku ini, dan sepertinya memang bagus yaaa. Semacam buku motivator yg wajib dibaca saat kita sdg ngalamin hal2 yg ga enak.

    Sama kayak mba molzania, aku sendiri ga tahu apa yg aku rasain itu depresi ayo hanya sebatas rasa egoisme. Aku sempet ga mau punya anak dulu. Makanya pas hamil, jujur marah, apalagi hamil kedua yg mana suami udh janji hanya bakal punya 1. Saking marahnya sempet berfikir seandainya anak itu gugur. Pas lahirpun, aku ga mau nyentuh dan nyusuin. Itu dipegang Ama babysitter anak2 semuanya.

    Aku memang ga bisa menyukai anak2, bahkan sampe skr. Tp anakku yg kedua, yg tadinya aku ga kepengin dia ada, justru JD anak yg paling Deket Ama aku :). Tapi cuma Ama anak sendiri yaa.. sama anak org lain, nth kenapa sikapku msh dingin ATO biasa aja. Mengunjungi temen yg baru lahiran, aku ga bakal mau mendekat ATO gendong anaknya. Ketemu ibunya, kasih kado, done .. segitunya memang...

    ReplyDelete
  10. Eva Destrianti (done)
    Merasa depresi tentu pernah, saat harapan dan impian tak sejalan dengan kenyataan serta tak ada dukungan dari orang-orang terdekat, itu rasanya bagai terbang tinggi lalu dihempas ke bumi, jatuh dan hancur berkeping-keping. Menyakitkan sekali dan kerap jadi alasan tidur tak pernah lelap. Sebagai perempuan, anak pertama, memikul tanggung jawab dan beban yang cukup berat. Dilema antara ingin mengejar impian dan keluarga yang tak mengizinkan pergi jauh sangat menyulitkan. Apalagi awal-awal tamat kuliah, stress benar-benar bersarang di kepala. Empat tahun setelah tamat kuliah, teman-teman sudah meraih mimpinya sementara saya masih terkungkung dengan sayap yang patah dan tak bisa pergi ke mana-mana. Sebagai penyelesaian dan berdamai dengan diri sendiri, saya pun memilih patuh pada permintaan keluarga untuk tak pergi jauh-jauh (sebatas dalam provinsi saja). Saya melepas mimpi mengejar beasiswa S2 di luar negeri sekaligus menjadi travel blogger. Ekonomi keluarga memang tidak mendukung untuk pergi ke mana-mana seperti beli tiket, kursus, dll, sementara adik saya juga butuh biaya untuk kuliah, akhirnya saya memilih bekerja dan membantu paling tidak biaya kos dan belanja adik saya. Meski di beberapa waktu masih sering menangis, namun saya ikhlas. Saya yakin jika sesuatu ditakdirkan untuk saya, maka bagaimanapun jalannya akan Allah berikan. Dan saya paham bahwa rencana-Nya jauh lebih baik dari rencana saya. Berdamai dengan diri sendiri, pelan-pelan ikhlas, dan mencari peluang lain. InsyaAllah yang jauh lebih baik akan datang. Saat ini masih bekerja sebagai freelancer dan blogger. Harapan saat ini semoga bisa membuat ayah, ibu, & adik bahagia, dan semoga saja bisa memperbaiki kondisi ekonomi keluarga. Aamiin.

    ReplyDelete
  11. Alhamdulillah ndak sampai depresi, jauh jauh lah dari itu. Kalau sempet baper iya, dan memulihkannya dengan banyak mengingatNYA biar lebih tenang

    ReplyDelete
  12. DUh pingin baca buku pulih, waktu itu cuma ikutan eventnya aja jadi tertarik. Nanti aku ikutan deh giveawaynya siapa tau bisa menang

    ReplyDelete
    Replies
    1. Banyak cara untuk pulih, cuma orang itu sendiri yang bisa menentukan untukmemilih pulih atau tidak

      Delete
  13. Baca review ini, jadi menampar diriku sendiri karena aku baru baca 1/3 dari buku ini ๐Ÿ™ˆ

    Kalau baca buku bagus gini tuh masalahnya aku nggak bisa sekali duduk. Perlu perenungan lamaaa sekali

    ReplyDelete
  14. wah, buku yg padat banget ini isinya.
    bisa sharing titik terendah, sekaligus berkontemplasi/ mengambil hikmah/ pelajaran dari hal2 yg didapat di masa lampau.

    pastinya ini engga mudah ya

    ReplyDelete
  15. aku punya pengalaman hampir sama dengan Kak Lendy, hamil anak ke tiga disaat anak pertama usianya 2 tahun 3 bulan dan anak kedua usianya 4 bulan. Merasa sedih banget kasihan sama kedua kakaknya yang masih sangat kecil kecil, untunglah suami selalu membesarkan hati dan selalu bilang inilah jalan kehidupan yang harus kami jalani, pasti juga diberi kesanggupan. Setelah melewati keruwetan dengan tiga balita, Alhamdulillah sekarang yang paling kecil udah kelas 4 SD, udah agak longgar...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dan ternyata aku tak sendiri mengalami ini, di luaran masih banyak perempuan yang mengalami hal yang jauh lebih rumit dan melelahkan. Aku selalu ngingetin diriku unutuk jangan lupa bersyukur....

      Delete
  16. Done follow @innuel dan Share at twitter @inuels

    Pelajaran dari kisah kak Ririn, saya harus belajar lagi tentang menjadi orang tua yang benar-benar baik.

    ***
    Secara langsung, saya merasa tidak pernah mengalami depresi karena sesuatu, mungkin kalau kesal dan masih terbayang masa lalu masih sangat sering. Biasanya, saya bawa untuk menulis di blog. Itu udah bikin perasaan lega di kasus-kasus tertentu. Slain menulis, biasanya saya masih memilih untuk lari ke Al-Qur'an, Alhamdulillah.. kalo udah ngaji, perasaan, beban berat berasa berkurang dan hati lebih hepi :). Semoga depresi ini nggak mau mampir ke saya mbak haha.. Harus lebih berhati-hati dengan perasaan orang lain, karena kita gak tau, hal sepele untuk kita, bisa jadi itu hal serius untuk orang lain. ^^

    ReplyDelete
  17. Done follow @ibuibudoyannulis dan teh @lendymut

    Jujur sih aku belum pernah baca buku Pulih ini tapi sudah baca review beberapa teman-teman blogger juga. Alhamdulillah sampai hari ini belum merasakan depresi teh Len. Tapi aku berusaha banget untuk tidak selalu memikirkan hal-hal atau tanggapan orang yang gak penting. Lebih ke menghepaskan saja dan lebih memaafkan.

    Karena kita tidak akan bisa meminta orang untuk tidak berkomentar atau meminta orang itu berbuat lebih baik. Setiap orang memiliki ego masing-masing, jadi aku lebih mengalah. Karena mengalah bukan berarti kalah, untuk melawan orang yang sedang berapi-api tidak perlu dilawan dengan ego.

    ReplyDelete
  18. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  19. Done! (IG : iinfauziah569 / FB : Iin Fauziah)

    Membaca kisah mbak Lendi di paragraf kedua blogpost ini seolah membaca kisah saya dua tahun lalu. Ya, menjalani kehamilan anak kedua dg jarak usia yg berdekatan dg anak pertama dan berada nun jauh di tanah rantau Sumatera, hanya bertemankan suami dan batita berusia 16 bulan kala itu. Kebetulan juga anak kedua saya berjenis kelamin perempuan, sama seperti anak pertama.

    Dengan segala drama hiperemesis parah dalam kehamilan saya pada saat itu, ditambah sepaket tanggung jawab sebagai seorang istri sekaligus ibu yg acapkali membuat diri dilanda mood swing dan lelah bertubi-tubi. Fyi, saya mengalami hiperemesis hingga trimester akhir kehamilan. Namun saya bersyukur karena pada persalinan kedua itu, Allah mudahkan saya utk melaluinya. Walaupun rentetan peristiwa mengiringi setelahnya. Bayang-bayang baby blues, post partum disorder (PPD) dan justifikasi image sebagai seorang ibu yg gagal adalah tiga di antara sekian frasa dlm perjalanan hidup saya kala itu.

    Walaupun saat ini saya beserta keluarga kecil sudah kembali ke tanah jawa, namun drama ujian hidup tak pernah berhenti memainkan perannya. Dan bila ditanya apakah solusi untuk bisa keluar dari masalah tersebut, maka izinkan saya berbagi. Pandanglah segalanya dari sudut pandang kacamata iman. Tanpa bermaksud menggurui, karena bahkan hingga detik ini pun saya masih tertatih dalam menjemput hidayahNya.

    Segala yg terhampar di muka bumi ini tak ada yg terjadi secara kebetulan. Bahkan sehelai daun yg jatuh pun telah tertulis titahnya di Lauhul Mahfudz. Apalagi sesuatu hal besar yg menyangkut tentang penciptaan manusia beserta segala rasa yg ada dalam dirinya. Karena selalu ada hikmah di dalamnya, pun selalu ada muara pada akhirnya. Bila segalanya berasal dari Sang Maha Pemberi, maka bila kita tak mampu, kembalikanlah itu semua kepada Sang Pemilik, yakni Allah.

    Perbanyak rasa syukur, berdamai dengan masa lalu, belajar memaafkan diri sendiri, termasuk di dalamnya belajar mengapresiasi diri adalah hal sederhana yg bila dipraktekkan insyaa Allah hasilnya akan bernilai besar. Tak ada diri yg sempurna, begitupun dengan diri kita. Belajar memaafkan diri sendiri dan berazzam untuk tidak mengulang kesalahan yg sama seperti di masa lalu. Selebihnya, pasrahkan semuanya kepada Allah dan langitkan doa... semoga Allah sembuhkan segala luka trauma, depresi dan segala bentuk rasa sakit fisik juga psikis yg pernah kita alami untuk kemudian menggantinya dg semangat dan harapan yg baru untuk diri kita. Thank for sharing mbak Lendy :)

    ReplyDelete
  20. Depresi? pernah banget. Apalagi dulu aku korban perundungan waktu di sekolah menengah atas. Tiap hari rasanya depresi ga abis-abis. Depresi ini ngaruh banget ke psikis dan mental. Aku jadi orang yg tertutup banget, jadi malas belajar, nggak ada semangat hidup, juga sering sakit-sakitan.

    Tapi semenjak kuliah perlahan belajar buat mengatasinya. Alhamdulillah sekarang jarang atau bahkan belum pernah ngerasain depresi lagi.

    ReplyDelete
  21. Sedih dan depresi? sering sekali kualami. Banyak keadaan yang tidak sesuai harapan. Banyk hal yang menekan mental dengan keras. Apalagi pada saat berjuang. Seiring waktu saya mulai bisa sabar dan menerima kenyataan.Semoga bukunya bisa memberikan inspirasi dan menguatkan tekad ya.

    ReplyDelete
  22. Eryvia Maronie @e_maronie DONE

    Menurut saya tau tingkat stres hingga taraf depresi itu harus didiagnosa oleh psikiater, yang tentu lebih tau secara ilmiah.

    Makanya saya gak pernah tau apakah stress saya sudah sampai ke depresi atau tidak.
    Apalagi karena saya memang tidak terlalu dalam mikirin segala hal, terutama kalo lagi ada masalah.

    Kalo dulu pelampiasan saya dengan cara bergaul dengan teman2, dengar musik, jalan2 dan semacamnya.
    Kalo sekarang, menulis jadi self healing saya.

    Yang penting stres atau depresi dialihkan ke hal yang positif, Insya Allah tidak akan sampai merusak mental.

    ReplyDelete
  23. Duh nyesek bacanya ya apalagi kisah Ririn huhu salut deh butuh keberanian besar bagi para penulis menuliskan kisah hidupnya dan aku bersyukur mereka sudah berhasil melewati saat terburuk dan pulih..

    ReplyDelete
  24. Peluk mbak Lendy. Aku yang baru ngelahirin juga lumayan kewalahan sih. Akumulasi capek dan kurang tidur memang paling joss bikin bad mood. Tapi alhamdulillah support system ngertiin sih aku yang moody ini huhuhu.

    ReplyDelete
  25. buku penting nih buat dimiliki saat ini. karena banyak orang yang ngga sadar kalau ada yang salah dengan jiwa nya. penyakit jiwa ngga cuman gila (schizo) masih banyak yang lain, kalau bisa memulihkan diri sendiri pasti bagus banget

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya bener penyakit jiwa ini kerap diabaikan krn emang gak kelihatan lukanya ya mas? Masyarakat juga banyak yang ngejudge gtu.
      Btw di dalam buku Pulih itu ada yang cerita ttg mengidap schizofrenia.

      Delete
  26. Uni aku ikuyan ya, lagi ngincer buku ini soalnya banyak bilang bagus dan penuh motivasi

    ReplyDelete
  27. mau ikutan ah giveawaynya pengen dapat bukunya penasaran sama isinya, bahas tentang mental illness gitu menarik untuk dibaca, apalagi ada bahas insecurenya ya, pengen banget punya bukunya. dari judulnya aja udah menarik pulih, menggambarkan banyak hal dari kesakitan atau trauma

    ReplyDelete
  28. Isinya banyak pelajaran berharga untuk para ibu baru agar bisa menjadi pribadi lebih baik, dan membentuk karakter anak di situasi yg baik

    ReplyDelete
  29. Bener banget ya Teh Lendy ketika ada luka pengasuhan di masa lalu kadang terbawa hingga dewasa. Inner child yang terluka perlu disembuhkan. Buku pulih ini bagus banget, rekomended pastinya buat dibaca. Wah ada GAnya juga. Boleh juga nih ikutan.

    ReplyDelete
  30. Aku suka kalimat mbak L "emosi tidak stabil membuat kita tidak bisa melihat hal-hal baik di sekitar kita." Memiliki kesadaran akan hal ini, membawa kita pada cara bijaksana dalam melihat, efeknya memberi kesembuhan pada emosi itu sendiri.

    Pengantar yang penuh makna untuk terus membaca review Pulih.

    Semoga sukses event GA nya ya mbak L. Selamat merayakan usia 11 tahun buat IIDN.

    ReplyDelete
  31. Bismillah, done follow. Alhamdulillah kadang merasa sedih ga sampai depresi semoga tidak. Cara mengatasinya berdoa san membaca tulisan yang memotivasi. Ataรน menuntut ilmu tentang bersyukur, ikhlas. Supaya hati jadi lebih tenang. Melakukan hal-hal yang menyenangkan. Menulis, traveling dan lainnya. Bergabung dengan komunitas yang positif sesuai hobi salah satunya ibu-ibu doyan nulis. Semoga sukses GAnya juga buat IIDN dan mba Lendy

    ReplyDelete
  32. DONE follow keduanya. Ikut GA-nya yaa ...

    Ya, saya pernah merasa depresi pada keadaan yang ... ah saya tak bisa cerita. Pokoknya jatuh ke titik nadir.;

    Apa yang saya lakukan? Saya sadar bahwa saya membutuhkan bantuan dari seseorang dan seorang yang tepat itu membantu saya keluar dari "mode depresi".

    Jadi, yang pertama kali harus disadari ketika tahu memasuki tahap depresi adalah, segera mencari bantuan karena akan sulit sekali melaluinya seorang diri.

    ReplyDelete
    Replies
    1. DONE IG @mugniar, Twitter: @Mugniar, FB: Mugniar Bundanya Fiqthiya

      Delete
  33. Kereenn banget ini buku antologinya.
    bisa jadi sumber inspirasi utk kita semua ya
    Bertahanlah, gaes!

    ReplyDelete
  34. Waktu kecil pernah kabur dari rumah akutu .wahahaha. tapi kerena masih kecil kaburnya ga jauh n kerumah temen ortu. Amatir banget

    ReplyDelete
  35. buku ini bantu untuk seseorang pulih dari apa yang dialaminya, entah luka di masa lalu, luka batin, trauma dan masih banyak lagi

    ReplyDelete
  36. Bukunya bagus yaaa.. mauu teh
    Done follow..(@uciggg)
    Aku pernah merasa depresi mungkin nggak sehebat depresi orang lain sih teh. Cuma ngerasa kayaknya kok beda ya setelah resign dan di rumah aja ngurus anak, biasanya ngantor. Butuh waktu beberapa saat buat enjoy di rumah, selalu cerita ke suami dan cari kesibukan hobi yang positif, alhamdulillah nggak sampai lama downnya. Sekarang udah mau 9 tahun di rumah, ya Allah bahagia banget udah melewati masa-masa itu^^

    ReplyDelete
  37. Buku ini kayaknya cocok buatku. Sepertinya ada kisah sayang mirip dengan masa laluku. Tentang penderitaan yang tiada henti. Broken home dan lain sebagainya. Hingga pada akhirnya pelan-pelan menemukan jalan keluarnya.

    Buku Pulih ini pasti bisa menginspirasi kita juga. Agar bisa move on dari permasalahan pelik yang sedang dihadapi.

    ReplyDelete
  38. Dengan menulis bisa membantu mengobati trauma yg dialami dalam kehidupan baik fisik maupun psikis.

    Menarik isi buku Pulih ini. Kita bisa membaca pengalaman² dari para penulisnya. Good lah.

    ReplyDelete
  39. jadi penasaran pengin baca bukunya
    pasti banyak kisah2 yang bisa membuat kita tersadar, termotivasi dan peduli dengan sesama wanita

    ReplyDelete
  40. Salut sama buku ini jadi wadah konseling melalui tulisan bagi orang2 yg pernah depresi ya ka

    ReplyDelete
  41. Miris hidup Ririn, sekaligus salut perjuangannya untuk memulihkan diri dari masa kecil yang traumatis. Buku Pulih sangat bagus buat mendorong pembaca menemukan diri kembali, apalagi dilengkapi pendapat ahli seperti psikolog. Mencerahkan dan menginspirasi. Ada giveaway juga, semoga bisa ikut.

    ReplyDelete
  42. Bahasan di dalam buku ini bagus yah, dikemas kayak model buku chicken soup jadi kita tuh gak berasa udah baca berapa halaman gitu, bahkan bisa seolah kita nih yang sedang bercerita

    ReplyDelete
  43. Buku ini mengajarkan dan menceritakan tentang rasa
    Seperti banyaaak perempuan lain di dunia, aku juga pernah punya masa lalu yang tidak akan pernah sanggup kuceritakan kepada siapa pun :(

    Dan berdamai dengan diri sendiri ini,
    sering kulakukan dengan berlari ke musik dan gambar tentu saja - karena saat itu bukan muslim, dan aku juga bukan orang yang suka ke gereja, aku lebih banyak jalan jalan mendaki gunung sama teman-temanku.

    Ah, ternyata masih banyaaaak orang di luar yang nasibnya tidak seberuntung diriku :(
    Thanks Lendy sudah berbagi

    ReplyDelete
  44. Kayaknya depresi jadi nama tengah saya deh Mbak. Makanya butuh buku pulih nih, tuk mensyukuri apa yang ada melalui cerita-cerita yang ada. Sampai tanggal 14 ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lho Mbak Susi belum punya buku ini? Buruan ikutan Mbak GAnya. Bagus lho ini bukunya.

      Delete
  45. buku Pulih ini memang recommend ya teh
    bercerita tentang bagaimana perempuan bangkit dari masalah kesehatan mental

    ReplyDelete
  46. Menarik sekali ini bukunya teh, selalu ada cara untuk pulih ya. Sedih banget baca cerita Ririn. Penasaran banget sama bukunya teh..

    ReplyDelete
  47. Wah gak nyangka Lendy pernah juga galau, semoga sekarang udah nggak ngalamin lagi ya.

    Aku ngeri baca kisah Ririn, tapi bersyukur juga happy ending kehidupannya. Pasti ada banyak usaha sehingga bisa meraih kesuksesan dan kebahagiaan nya sekarang

    ReplyDelete
  48. Jadi penasaran sama buku Pulih ini. Salut buat wanita-wanita yang menuliskan kisah masa lalu pengasuhannya di sana..Kisah-kisah yang pasti sangat inspiratif sekaligus berurai air mata buat yang membacanya.

    Sukses ya mbak give awaynya

    ReplyDelete
  49. Seneng bacanya, Ririn happy Ending. Seneng juga baca reviewnya, rapiih aneeed, Maamaakk. ��

    ReplyDelete
  50. Manggut2 sambil sesek terus senyum baca kisah ririn. Mmg hal pertama yg perlu diperbaiki untuk pulih itu adalah pengasuhan ya mba. Gak jarang banyak yg gak sadar kalo dirinya itu sdg gak baik2 aja. Menolak emosi yg demikian. Dan circlenya jg gak paham.

    ReplyDelete
  51. Done follow2

    Jawaban: Depresi banget kyknya gak mbak, soalnya selalu percaya seperti yang dikatakan dalam Al Quran, setelah kesulitan ada kemudahan. Kalau lagi sedih atau apa yawda biasanya doa aja, ceritanya ma Tuhan, bukan sama manusia, abis itu biasanya lbh legaan.

    ReplyDelete
  52. Depresi itu di atas stress nggak sih Uni?
    Aku kalau stress sering, kalau depresi itu pas di puncak gitu ya?

    Kalo aku depresi ya biasanya mengadu sama Allah, ngadu sama ibuk minta dikuatkan untuk bisa melalui cobaan ini. Mengajak hati dan pikiran terus positif dan strong menghadapi.

    Nyi Penengah Dewanti
    Done

    ReplyDelete
  53. Buku ini bagus banget, seolah menambah panjang deretan wanita yg mengalami sakit dalam mentalnya dan bagaimana akhirnya bisa berdamai dengan semua itu. Menginspirasi dan membawa jalan positif

    ReplyDelete
  54. Pernahkah aku depresi? Entahlah. Cuma aku sering merasa insecure gitu sama orang-orang di sekelilingku. Hingga sekarang. Kadang seperti menyalahkan masa lalu, tapi kadang ya sudah memaklumkan saja.

    Sepertinya buku Pulih ini bagus ya isinya. Sukses buat GA-nya, Kak Lendy :)

    ReplyDelete
  55. berdamai dgn diri sendiri itu pentiiing banget ya
    buku yg inspiring dan enlightening banget!

    ReplyDelete
  56. Setiap kesempatan memiliki makna yang berbeda, dan kesempatan yang akan datang semoga bisa lebih baik.Buku pulih, seperti judulnya Buku yang sarat dengan Sajian tulisan tentang tema healing yang membumi, mengetuk hati

    ReplyDelete
  57. Marfa Umi
    Sudah follow (akun @marfaumi), share post GA via Twitter

    Hi Teh Lendy, aku ikutan yaa :D udah cukup lama penasaran sejak buku Pulih ini terbit dan ingin membaca cerita-cerita di dalamnya. Karena membaca buku seperti ini tuh, ikut healing hehe.

    Merasa depresi, aku justru akrab dengan perasaan ini sejak remaja sampai-sampai pernah berada di titik "kayaknya aku tumbuh dengan banyak luka, deh" hahaha. Hal itu membuatku tumbuh dengan cukup sulit, efeknya jadi merasa inferior, terlalu sering berpikir dengan negativity bias, dan juga mental block. PRnya banyak banget buat healing satu per satu, apalagi setelah menyadari bahwa untuk hidup yang dibutuhkan adalah diri yang kuat dan memiliki regulasi emosi yang baik.

    Aku dulu sempat kebingungan dan diliputi rasa marah, dan rasanya enggan untuk bangkit bukan karena malas tapi "lho, ini bukan salahku yang bikin aku kayagini kok aku yang harus healing". Bagiku dulu konsep berdamai, memaafkan orang lain, mencintai diri sendiri itu susah sekali. Penyebabnya ini memang beberapa pengalaman hidup yang menyakitkan dan buruk, seperti pola asuh orang tua dan dibully saat TK (semuda itu udah dibully, karena anak baru wakakak)

    Tapi, setelah merasa "bosan" dan di tubuh nggak mengenakkan sekali (efek kesehatan mental yang buruk memang bukan hanya berimbas ke fisik, namun pengaruh ke cara pikir dan cara pandang) akhirnya aku konsultasi ke psikiater biar lebih jelas dan tepat penanganan. Apakah semulus itu? Well, enggak juga. Tahun pertama tetep denial parah kalau aku baik-baik saja dan bisa melakukan semuanya dari diri sendiri, maksudnya nutup telinga termasuk saran-saran yang baik, jiakh.

    Kemudian setelah beberapa bulan absen, aku dateng lagi dan juga memberanikan diri ke psikolog agar lebih lengkap aja sih, karena pendekatan penyembuhan kedua tenaga profesional ini beda. Perjalanan yang panjang untuk bisa kembali menyayangi diri sendiri, pun ternyata konsultasi itu tetap diri sendiri yang diandalkan--tentu saja kedua tenaga profesional ini sangat membantu. Karena untuk healing itu sangat nggak papa dengan mencari pertolongan dari orang lain.

    Dari sana, aku jadi belajar bagaimana melatih respon, bagaimana melatih apa yang bisa dikendalikan, melatih melepaskan dan memaafkan (hey ternyata beban berkurang jauh lebih banyak ketika memaafkan, karena yang utama adalah untuk ketenangan diri sendiri, perihal orang lain yang menyakiti itu urusan Tuhan hehe), dan belajar menghargai diri sendiri dengan self-compassion. Hal ini membantu ketika perasaan depresi mulai datang lagi, jadi tahu kapan saatnya untuk mengambil jeda untuk ngobrol dengan orang lain yang dipercaya atau psikolog, menikmati hal-hal kecil di sekitarnya dengan mindful. Dan juga rutin menonton cerita atau film yang menginspirasi gitu namun bukan toxic positivity, mungkin karena cara belajarku versi audio jadi suka masih teringat yang bagus-bagus untuk jadi pengingat. Misalnya kaya di film To the Bone, ada quotes yang menginspirasi namun sekaligus membukakan mata lebar-lebar, yaitu "stop waiting for life to be easy stop hoping for somebody to save you face some hard facts and you could have an incredible life."

    Ahaha maaf kalau kepanjangan, have a nice day Teh Lendy!

    ReplyDelete
  58. Salut pada para penulis dalam buku ini. Tentunya tak mudah mengorek ingatan pada kejadian buruk di masa lalu, lalu menuliskannya

    ReplyDelete
  59. Bukunya menarik nih buat yang baru atau pengen nikah hehe

    ReplyDelete
  60. Aku sudah punya buku Pulih dan isinya inspiring banget sih. Berbeda dengan antologi kisah inspiratif lainnya yang kadang muatan negatifnya masih terasa. Pulih bener2 membantu para pembacanya juga ikutan Pulih.

    ReplyDelete
  61. Ulasannya keren banget mba Lend. Memang, butuh waktu untuk menyelesaikan apa yang sudah pernah kita alami dan yang membuat trauma. Tapi, kalau kita berusaha dan mau memahami semoga semua luka bisa segera dipulihkan oleh Tuhan.

    ReplyDelete
  62. Uni aku udah ikutan giveawaynya ya, semoga beruntung
    buku pulih banyak mengajarkan kehidupan ya, pengen punya juga.

    ReplyDelete
  63. aku ikutan ya teh
    bukunya bagus dan recomended
    banyak yg kasih rekomendasi buat buku ini
    ayuk ayuk yang lain juga ikutan giveaway

    ReplyDelete
  64. Buku ini rekomended banget ya mbak untuk kaum depresi. Tapi kadang orang yg depresi gak merasa gitu. Jd ada baiknya kalau orang ngasih buku ini ke mereka sebagai upaya membantu agar pulih

    ReplyDelete
  65. Laily Fitriani (done) follow IG @lendymut dan @Ibuibudoyannulis. Jujur pernah depresi beberapa kali Mbak. Saat itu saya terus merubah mindset saya, bahwa ini adalah skenario Allah. Bahwa kenapa saya yang berusaha mati-matian gagal dan teman saya yang santai malah lolos. Saya cukup lama mengelola emosi dan menstabilkan diri bahwa ini memang jalan saya dengan melihat keadaan teman yang mendapat berita bahagia tadi. Jadi, biasanya saya berusaha menggali hikmah dan percaya bahwa ada hikmah jika saya gagal. Dan Masya Allah, beberapa tahun kemudian saya benar-benar merasakan hikmah itu hingga kini. Maha benar Allah Mbak. Kini, saya berusaha positif pada diri dan segala sesuatu yang terjadi dalam hidup saya, karena semua akan ada hikmahnya.

    ReplyDelete
  66. Tidak mudah untuk keluar dari dunia yang menekan seperti yang dialami para nara sumber dalam buku Pulih. Salut untuk mereka yang befani speak up. Buku ini juga sangat rekomendasi ya untuk kita miliki

    ReplyDelete
  67. Sri Rahayu
    Done follow IG @lyndymut dan @Ibuibudoyannulis

    Ahay......depresi, sebuah kata yang cukup membuatku takut. Why.....??? , karena aku pernah merasakannya. Suatu waktu, aku merasakan kesedihan yang luar biasa, cemas dan khawatir yang berlebihan, merasa gagal dalam memikul tanggung jawab dan kondisi terburuknya "merasa tidak berharga" bagi siapapun dalam kehidupan ini. Pada titik nadirku itu aku ingin segera kembali ke pangkuan Sang Penguasa Hidupku, karena merasa sudah tak kuasa meneruskan hidup ini. Segala pikiran buruk muncul dan menghancurkan kejernihan nuraniku, memadamkan pelita dalam hatiku, menguras emosi dan mengombang ambingkan pikiranku dalam kegelisahan, akhirnya terpuruk
    dengan penuh luka batin yang parah. Tuhan sungguh mengasihiku dan menginginkan diriku tetap berada di bumi ini untuk menyelesaikan segala tugas yang diamanatkan padaku. Pelan tapi pasti kesadaranku muncul, pelita nuraniku mulai menyala dan hasrat hidupku kembali. Terbersit dalam pikiranku saat itu, bahwa masalah tak akan selesai begitu saja, bahkan akan semakin rumit jika aku meninggalkannya begitu saja. Semua akan lebih menderita, keluarga dan orang-orang yang terikat dengan kehidupanku. Akhirnya kuputuskan untuk berserah diri pada Sang Khalik, pasti ada tujuan tertentu dan baik adanya Tuhan memberikan ujian yang begitu berat untukku. Kukendorkan syaraf emosiku yang meregang dan terasa hampir putus, kupaksa otakku untuk berfikir dan mencari jalan keluar atas permasalahan yang kuihadapi, kugerakkan ragaku yang sudah lunglai untuk bangkit berdiri dan kembali melangkah menuju pos-pos tertentu. Satu tekad yang kuat bahwa aku tidak boleh kalah, aku harus menang dan aku harus berhasil melawan diriku sendiri yang tak berdaya, melawan keadaan yang membuatku tertekan. Kupasrahkan segalanya pada kehendakNya, dan aku berusaha keras dalam jalur keutamaan, melawan keadaan untuk menciptakan kemenangan dan sesuatu yang baru demi kebahagiaanku, keluargaku dan orang-orang yang tulus mengasihiku. Kesimpulannya, aku mengatasi depresi dengan menyadarkan diri bahwa segala yang terjadi sudah dirancang Tuhan positip thinking saja, berikhtiar dengan baik, legawa, semelehkan pikiran, penuh syukur dan selalu mendekatkan diri pada Tuhan. Kalo dalam bahasa saya " diunggah diudhunke ati lan rasane", atau mampu mempertimbangkan segala sesuatunya dengan baik, secara detail untung dan ruginya kita harus tahu. Aku memilih untuk selalu bangkit dan berdiri melanjutkan langkah mewujudkan mimpi daripada berhenti dan meratapi setiap kegagalan dalam hidup ini. Tuhan hanya mengujiku bukan menghukumku. Always keep fight.

    ReplyDelete
  68. Berusaha untuk tetap berpikir postif jika sudah menghadapi berbagai kesulitan dan perlu banget kita menyalurkan apa yang ada dipikiran dengan berbagai cara misal menulis, menggambar, berkebun agar bisa healing

    ReplyDelete
  69. Perempuan dan segala permasalahan dalam hidupnya menang rentan mengalami stress bahkan bisa jadi depresi. Banyak hal yang bisa dilakukan untuk support mereka dan engga menjudge begitu aja. Perempuan berhak bahagia karena mereka itu istimewa

    ReplyDelete
  70. Ayo semangat ikutan GA buku Pulih! Bukunya sebagus itu loohh. Hehe. Banyak yang membaca dan akhirnya merasa nggak sendirian, terbantu karena yakin bisa jadi lebih baik sebab contoh nyata yang bisa pulih secara mental banyaakk..

    ReplyDelete
  71. Wiwin | pratiwanggini.net6/11/2021 12:15:00 PM

    Kisah di balik pembuatan buku Pulih ini cukup menguras emosi dan air mata. Selamat membaca buat teman-teman yang sudah memiliki bikunya. Semoga mendapatkan banyak inspirasi dari buku tersebut.

    ReplyDelete
  72. Ikutan GA ya...

    Done Follow IG @lendymut dan @ibuibudoyannulis.
    Kalau bicara depresi, justru saya alami ketika usia masih belasan sekitar SMP dan SMA, karena saya termasuk introvert yang ngak suka keramaian dan merasa ngak nyaman berada dilingkungan baru. Tapi namanya orangtua masa itu tidak memiliki akses ilmu tentang parenting terutama mengenali karakter anaknya sehingga menganggap ketidakinginan berkumpul dan bertemu banyak orang itu suatu kekurangan yang harus diatasi tanpa tahu bagaimana membantu anaknya untuk mengatasi hal itu. Usia belasan tentu tidak tahu bagaimana harus mengenyahkan ketidaknyaman ini hingga akhirnya merasa depresi dan rendah diri, karena terkadang ada saja yang membanding-bandingkan. Bisa keluar dari usia belasan, usia remaja yang harusnya cerah ceria justru saya habiskan dengan menutup dan menyesali diri kenapa tidak seperti adik saya yang supel dan ceria, yang jadi magnet keluarga.
    Solusinya, hanya masalah waktu karena semakin bertambah usia, saya makin matang dan bisa melihat masalah dari sudut yang berbeda serta memahami...oh ortu saya dulu tidak memiliki akses untuk tahu ilmu parenting apalagi memahami karakter psikologis anaknya. Selain itu saat mulai kuliah, saya suka membaca buku psikologi kebetulan saya kuliah di jurusan Sosiologi yang salah satu mata kuliahnya membahas psikologi...hahaha ini alasan yang bikin nilai mata kuliah saya dulu selalu A soalnya cocok dengan karakter saya. Bahkan saya menganggap masa paling menyenangkan adalah masa kuliah dimana saya sudah setahap demi setahap jadi pribadi yang berbeda. Hingga akhirnya bertemu suami yang karakter, sifat, dan hobinya 360 derajat berbeda dari saya, but it"s oke bahkan membuat hari-hari saya jadi berwarna hingga melahirkan 3 anak dengan 3 karakter yang berbeda juga. Semoga menginspirasi!

    ReplyDelete
  73. cakeep nih kisahnya Ririn
    Beruntung dia bertemu dengan pria baik sehingga kisah berakhir happy ending
    Gimana jika pria yang mencintainya kebetulan obsesif dan gemar melakukan kekerasan seksual?
    Perlu waktu lebih lama untuk pulih ya?

    ReplyDelete
  74. Selalu suka sama buku bertema psikologi seperti buku Pulih ini. Rasanya gak hanya membaca tapi juga jadi healing tersendiri dengan memahami cerita dari isi bukunya.

    ReplyDelete
  75. Hal-hal yang membuat trauma pada fisik & psikis tentu harus ada langkah recovery healing. Menulis adalah salah satu cara supaya uneg-uneg bisa tercurahkan. Buku Pulih adalah bukti nih sebenarnya, bagi yang membaca pun bisa mendapatkan pengetahuan tentang pengalaman hidup.

    ReplyDelete
  76. Perlu menggunpulkan energi yang tidak sedikit ketika para penulis mau berbagi menuliskan kisah pulihnya dalam lembaran buku ini ya Mbak Lendy, sungguh buku yang luar biasa .

    ReplyDelete
  77. Aku pernah merasa sangat kehilangan saat keguguran di usia pernikahan 5 tahun. Setelah menanti lama kehamilan dan harus diambil lagi, rasanya aku tidak bisa menerima. Aku terperangkap dalam fase itu berlarut-larut. Bagaimana cara aku keluar dari sana, itu berkat support system dari orang2 terdekat terutama suami. Setelah sadar, aku jadi merasa sangat bersalah. Karena sebenarnya bukan hanya aku yg begitu terpukul, suami juga merasakan hal yang sama. Sangat tidak dewasa ketika aku meratapinya sendirian, padahal seharusnya kami berdua saling menguatkan.

    Rindang Yuliani - Done

    ReplyDelete
  78. Nah trauma fisik dan psikis ini biasanya lebih banyak menimpa kaum perempuan ya mbak..semoga dengan adanya healing dari buku ini bisa menyembuhkan semua luka yang pernah dialami

    ReplyDelete
  79. @aprilsafa done

    Wallahu'alam, apa yang aku rasakan saat itu sampai tahap depresi? Post partum depression? Karena mencoba bertahan pada keadaan. Pasca persalinan, ternyata ada perjalanan panjang yang harus dilalui dengan tangisan. Perjalanan menyusui yang sempat membuatku memilih untuk menjauhi orang lain.

    Aku insecure jika ada orang yang bertanya perihal tersebut. Upaya konsultasi dan obat untuk melancarkan menyusui sudah dicoba. Tapi hasilnya masih kurang maksimal. Di satu bulan pertama, saat anak menangis, tak sanggup untuk tak menangis juga. Khawatir dengan proses menyusui. Ada perasaan cemas, tak ingin ditinggal suami kerja. Padahal di rumah mertua akan selalu ada yang menemani.

    Dari waktu ke waktu, perasaan menyesal karena menyusui tak maksimal masih terus ada. Hingga perlahan, Allah pertemukan jalan melalui menulis. Menulis yang mempertemukan dengan seorang teman berprofesi psikolog. Dari menulis aku belajar menuangkan perasaan. Dari menulis aku belajar mengobati rasa bersalah saat proses menyusui itu. Dari menulis aku belajar banyak membaca. Dari menulis, aku menemukan berbagai komunitas yang membuatku berupaya bangkit untuk membuka luka,membersihkan dan mengobati.

    Semoga Allah mengampuni segala kekuranganku saat memenuhi perintah-Nya dalam hal menyusui

    ReplyDelete
  80. done
    buku ini benar-benar bikin penasaran deh soalnya reviewnya bagus-bagus semua.
    kalau soal depresi, aku nggak tahu pernah mengalami atau nggak. cuma memang pernah ada masa di mana aku merasa terpuruk yakni saat putus cinta beberapa tahun lalu. asli deh kerjaan nangis melulu dan menyesali yang terjadi. bahkan mungkin putus cinta beberapa tahun lalu itu lumayan meninggalkan trauma di aku untuk mencintai orang lain

    ReplyDelete
  81. Antung apriana - done
    Buku ini benar-benar bikin aku penasaran deh soalnya reviewnya bagus-bagus semua. Kalau soal depresi, aku nggak tahu pernah mengalami atau nggak. Cuma memang pernah ada masa di mana aku merasa terpuruk yakni saat putus cinta beberapa tahun lalu. Asli deh kerjaan nangis melulu dan menyesali yang terjadi. Bahkan mungkin putus cinta beberapa tahun lalu itu lumayan meninggalkan trauma di aku untuk mencintai orang lain

    ReplyDelete
  82. Cakeppp banget iniiii. Uuuutayaaaang Buku siapa sihhhh? Haha. Makasi Kak Lendy sudah meng-host event ini dengan sangat cakeupppp. Semoga siapapun yang menang, hadiah bukunya bisa bermanfaat

    ReplyDelete
  83. Tatiek Purwanti Done follow dan share di Twitter @TatiekPurwanti

    Ulasan yang menarik, Teh. Tema bukunya pas banget dengan yang sedang menarik minat saya.

    Nah, kalau depresi sih saya belum pernah mengalami, ya. Tepatnya, tentu saja saya menghadapi beragam masalah yang saya anggap berat tapi belum sampai konsultasi ke psikolog, gitu.

    Kan ga boleh self-diagnose, yak.

    Nah, salah satu masalah yang cukup mengganggu di akhir tahun lalu adalah tentang spam score yang dialami blog saya. Ih, beneran bikin bete. Ibaratnya saya punya penyakit kronis yang harus segera ditangani. Kalau tidak, bakalan menular. Insecure banget pokoknya. Bagi orang lain mungkin aneh tapi bagi saya itu problem berat, sih.

    Saat itu, saya berniat memperbanyak tulisan eh... jadi terhambat. Mau lari kencang tapi terpaksa harus jalan pelan-pelan.

    Walaupun sedih tetap harus bertindak, nih. Finally, coba utak-atik dan cari kesalahannya dimana dengan dibantu suami. Cukup memakan waktu. Ternyata ada problem saat saya memindahkan konten dari blog lama ke yang TLD.

    Segera deh saya ajuin disavow dan memutuskan pindah platform ke wordpress. Harus benahin satu-satu tulisan lama (sampai sekarang belum beres, hehe) dan harus belajar lagi tentang dunia wordpress, deh.

    Alhamdulillah, persoalan spam score teratasi. Udah curhat juga di blog tentang ini dan bikin lega. Ya, kalau sedang ada beban pikiran, pasti salah satu cara jitu saya adalah menulis.

    Selain itu? Pastinya mengadu sama Allah dan curhat sama suami. Kadang kalau perlu banget ya curhat ke sahabat terpercaya. Saya lumayan bisa menahan diri untuk tidak curhat di medsos karena merasa malah jadi "kacau" dan tidak bisa fokus.

    Jurus lain? Tidur! Hehe. Pas bangun, udah lebih segar lagi deh pikirannya. Pastinya, si kecil harus dititipkan sejenak ke misua atau eyangnya dulu.

    Sekian ;)

    ReplyDelete
  84. Keyakinan yang menguatkan saya menjalani manis asam asin pahit kehidupan adalah pertolongan Allah selalu dekat. Artinya setiap masalah pasti ada jalan keluar. Memang perlu menenangkan diri dulu supaya bisa jernih memahami masalah. Percayalah, bersama kesulitan ada kemudahan. Wallahu alam .

    ReplyDelete
  85. Memang mengerikan ya dampak broken home, anak merasa terasingkan dalam keluarganya sendiri, di rumah sendiri malah tersakiti dan bahkan ingin mengakhiri hidupnya. Untunglah Ririn menemukan pasangan yang tepat dan mampu membesarkan hatinya, beserta ketiga anaknya. Semoga buku Pulih bisa menginspirasi banyak orang untuk pulih dari luka masa silam. Ditambah pendapat ahli, buku ini bakal menjadi pelengkap dan secercah harapan untuk bangkit dari keterpurukan.

    ReplyDelete

  86. Done follow @ibuibudoyannulis dan @lendymut

    Nama akun twitter untuk share postingan @srialhidayati

    Mengatasi depresi adalah hal yang menyulitkan dan harus disembuhkan agar tak membuat depresi semakin parah. Pernah mengalami hal ini dan gak kerasa dipendam sendiri malah membuat sakit secara fisik. Sehingga sekarang lebih mempercayai diri sendiri bahwa tak ada masalah yang lebih besar karena Allah memberikan cobaan sesuai kesanggupan hamba-Nya. Selain itu agar tak depresi berusaha berfikir positif dan membuat bahagia versi diri sendiri agar kita bisa hidup nyaman dan layak. Merasa yakin pda Allah yang tidak akan pernah mengecewakan hamba-Nya.

    Biasanya circle terdekat juga berpengaruh agar kita tidak depresi, misalnya suami yang terus support dan keluarga baik Ayah, ibu, adik adik yang selalu memberi saran saran agar kita bisa terus survive.

    Dan yang terbaru bagi saya pribadi adalah amal kebaikan sendiri yang dapat membuat kita bertahan. Terkadang dengan kita banyak tilawah, kita banyak puasa sunnah itu menguatkan.

    Serta menjalani hal yang bisa dilakukan saat ini dengan penuh rasa syukur dan bahagia. #SebelasTahunIIDN #GiveawayBuku

    ReplyDelete

  87. Done follow @ibuibudoyannulis dan @lendymut

    Nama akun twitter untuk share postingan @srialhidayati

    Mengatasi depresi adalah hal yang menyulitkan dan harus disembuhkan agar tak membuat depresi semakin parah. Pernah mengalami hal ini dan gak kerasa dipendam sendiri malah membuat sakit secara fisik. Sehingga sekarang lebih mempercayai diri sendiri bahwa tak ada masalah yang lebih besar karena Allah memberikan cobaan sesuai kesanggupan hamba-Nya. Selain itu agar tak depresi berusaha berfikir positif dan membuat bahagia versi diri sendiri agar kita bisa hidup nyaman dan layak. Merasa yakin pda Allah yang tidak akan pernah mengecewakan hamba-Nya.

    Biasanya circle terdekat juga berpengaruh agar kita tidak depresi, misalnya suami yang terus support dan keluarga baik Ayah, ibu, adik adik yang selalu memberi saran saran agar kita bisa terus survive.

    Dan yang terbaru bagi saya pribadi adalah amal kebaikan sendiri yang dapat membuat kita bertahan. Terkadang dengan kita banyak tilawah, kita banyak puasa sunnah itu menguatkan.

    Serta menjalani hal yang bisa dilakukan saat ini dengan penuh rasa syukur dan bahagia. #SebelasTahunIIDN #GiveawayBuku

    ReplyDelete
  88. Buku PULIH ini menginspirasi banget, baru baca satu kisah aja udah mendapatkan kisah yang menyentuh belum lagi pelajaran hidup. Apalagi kalau baca semua kisahnya. Sukses buat giveaway-nya ya Mbak.

    ReplyDelete
  89. Mbaak, aku ga ingin ikut GA nya deh, tapi aku ingin beli bukunya kalau bisa. Ya Allah buku ini menurutku sangat bagus dibaca di saat kita sedang berada di titik terbawah dalam hidup. Lihat dari pembukanya saja sudah seneng aku mbak

    ReplyDelete
  90. Salut buat para ibu dan IIDN.. masih produktif sampai sekarang--meskipun situasi perbukuan sudah berbeda saat pandemi datang.

    ReplyDelete

Berlangganan via Email