Tips Menghilangkan Kebiasaan Ghibah
Bismillaah,
Tertarik banget sama kehidupan orang lain?
Oh tentu sajaa.. Apalagi kehidupan orang yang terpampang nyata di sosmed.
Ketika mereka hanya menampilkan sisi "bahagia"-nya aja.. pasti kadang di hati terbersit "Hidup orang kok sempurna amat yaah.. uang banyak, anak lucu, suami/ istri rupawan, rumah mewah, pekerjaan mapan.."
MashaAllaah~
Lalu ujung-ujungnya ngebandingin ama diri sendiri deeh..
"Kok aku cuma gini-gini ajaa? Gak kemana-mana.. jalanin hidup juga gak punya impian."
Rasanya kek garink banget.
Makanya aku juga termasuk yang jarang banget bikin status.
Kek buat apa juga yaakk??
kehidupan aku mah... gini gini aja kok!
Laluuu..
Pada suatu hari, kek akutu dikasih jalan sama Allah buat kumpul sama keluarga shalih lainnya. Dari mulai kakak yang dulu masuk SD Islam Sunnah di Bandung, lalu SMP-nya juga alhamdulillah.. pesantren sunnah di Cibubur, lalu adeknya tinggal follow the path..
Trus yang tadinya di rumah aja gak ngapa-ngapain.. mainnya sama ummahat shalihaa — yang kerjaannya ngurusin kajian. Mulai membangun kalcer muslimah — yang Ummunya kudu belajar dulu agar bisa mengajarkan anak-anak tauhid yang lurus dan benar di rumah.
Dan kinii.. kalau diamati, memang sedang bertumbuh sekali sekolah sunnah yang bisa menjadi pilihan untuk ladang bisnis. Biasanya, sekolah-sekolah ini memberikan program yang bagus juga untuk anak didik dengan memberikan ide bisnis bagi anak pesantren.
Untuk lebih lengkapnyaa.. sahabat lendyagasshi bisa berkunjung ke Blog Bisnis-nya ka Hani yaa..
Sejujurnya yaah..
Ini pendapatku pribadi yaa..
Semoga kalau ada yang mau berdiskusi, silakan tinggalkan komen di kolom komentar.
Dari mulai bab kajian memberi pilihan.
Kalau di parenting Sunnah, anak tidak boleh memilih!
Agak berat yaah....
Ini bukan tanpa alasan looh.. tapi alasannya karena anak-anak cenderung memilih apa yang bayangkan. Padahal belum tentu orangtua bisa memberikan apa yang mereka bayangkan tersebut.
Misal :
Hari ini mau pakai baju apa?
Merah atau kuning?
Nah, kalau parenting Barat pasti cenderung menyerahkan pilihan pada anak. Sedangkan parenting Sunnah, orangtua harus memilihkan baju yang syari dan menutup aurat sejak dini. Gak ada alasan apapun. Apalagi kalau anak perempuan.
Memberi pilihan ini bagi parenting Sunnah membuat anak-anak merasa "Down" ketika apa yang ia pilih tidak ada atau ternyata tidak sesuai keinginan.
Dan memilihkan juga merupakan sebuah ajaran kepatuhan anak terhadap orangtua — yang kini rasanya mulai asing yaa..
Oke, apapun pilihannya.. aku lagi curhat pan, ceritanya..
Hehehhe... jadi boleh boleh aja kalau semisal kita berseberangan yaa...
Teruuss..
Kalau uda terlanjur dan kini anak-anak uda besar, gimana?
In syaa Allah gak ada yang namanya terlambat yaa.. karena ilmu baru kita peroleh dan itu pasti atas ijin Allah juga, sehingga yang perlu kita lakukan perbaiki yang sekiranya salah, karena tidak sesuai dengan syariat dan terus mencari ilmu dengan semakin giat datang ke kajian.
Kalau pun gak bisa menghampiri ilmu karena mungkin ada udzur syar'i ini dan itu, bisa juga dengan mendengarkan kajian di channel-channel sunnah seperti channel Ustadz Khalid Basalamah, Ustadz Syafiq Riza Basalamah, Tarbiyah Sunnah Channel, Ustadz Nuzul Dzikri, Yuvid TV, dan masih banyak lagiii...
Belum istiqomah?
Sedang futur?
Allaahu 'ala musta'an.
"Hanya Allah tempat meminta pertolongan."
Tapi yaa.. suka ada aja godaannya kalo ketemu sahabat atau temen kajian kan yaa.. yakni kebiasaan ghibah. Pada tau doonk.. ghibah itu apa..??
Hu uum.. definisi ghibah adalah membicarakan seseorang di belakang dan kalau mereka tau apa yang kita bicarakan, ia menjadi tidak suka atau tidak ridlo.
Ya.. istilahnyaa.. kita nih lagi ngomongin aib loo.. Meski dengan dalih "Kita ambil baiknya dan buang buruknya".
Huhuhu.. ini suliiitt sekaliih, pemirsaah..
Jadiii.. Aku dapet tips tentang meminimalisir ghibah niih.. semoga bisa rutin kita amalkan yaa..
Gini tipsnya niih..
Keluar Rumah Jika ada Kepentingan Aja
Selebihnya, aku beneran di rumah aja.
Dan beberapa kali, yang paling terasa ketika gairah mengahi sedang baik ((atas ijin Allah)) — lalu Allah uji juga dengan bertemu kawan lama. Dan akhirnya, dari yang saling menanyakan kabar, lalu berlanjut ke cerita yang lebih HOT yakni ghibah kawan kita lainnya.
Ini kadang aku juga baruuu sadarnya kalo uda sampai rumah dan muhasabah ((mengingat-ingat kejadian apa hari ini yang uda aku lalui)) dan tersadar bahwa terselip banyak ghibah ketika bertemu dengan sahabat.
Memang ghibah ini salah satu dosa yang melalaikan, terasa ringan karena ada di lisan.
المُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُوْنَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
"Seorang muslim sejati adalah bila kaum muslimin merasa selamat dari gangguan lisan dan tangannya."
(HR. Muslim)
مَنْ رَدَّ عِرْضَ أَخِيْهِ رَدَّ اللهُ عَنْ وَجْهِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
"Barang siapa yang mencegah terbukanya aib saudaranya niscaya Allah akan mencegah wajahnya dari api neraka pada hari kiamat nanti."
(HR. At Tirmidzi No. 1931)
Jadii.. untuk mengurangi dosa ghibah, kalau aku pribadi, sebisa mungkin gak keluar rumah, kalau gak dalam rangka menuntut ilmu syar'i, bepergian bersama mahram atau untuk keperluan anak-anak.
Lagian yaa.. perempuan itu sumber fitnah loo..
يٰۤـاَيُّهَا النَّبِىُّ اتَّقِ اللّٰهَ وَلَا تُطِعِ الۡكٰفِرِيۡنَ وَالۡمُنٰفِقِيۡنَ ؕ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلِيۡمًا حَكِيۡمًا
“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu.”
(QS Al Ahzab: 33)
Ketemu Temen, Ngobrol tentang Diri Sendiri Aja
Aga sulit mungkin ya.. kalau ngomong tentang diri sendiri teruus.. entar lama-lamaaa dikira NPD doonk..
No.. noo..
Abis ituu lanjuutt ke curcol.
Bahaya banget!
Lakukan Latihan Bersama Sahabat Seperjuangan
Memang gak mudah yaa.. bertemu dengan sahabat yang yakin banget amanah, gakkan ngomongin kita di belakang atau sahabat yang "berani" menegur kita di saat kita sedang khilaf dengan cara terbaik.
Selain itu, ambil sahabat yang "iman"nya lebih tinggi dari kita.
"Seseorang akan mengikuti agama sahabatnya, maka hendaklah setiap dari kalian memperhatikan siapa yang menjadi sahabatnya."
Kan bahaya bangeett kaan...??
Paiitt pasti siiih...
Tapii demi kebaikan diri sendiri juga, cyiin...
Alihkan ke Pembicaraan atau Topik Lain
Kadang yaah...
Rasanya gak dosa yaa.. kita ghibahin orang yang gak kita kenal.
Huhuhu.. jijik kaan??
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka, karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang. Jangan pula menggunjing satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.”
(QS. Al Hujurat: 12)
Kalau Uda Terlanjur, Gimana Doonk??
Kalau uda terlanjur keceplosan atau mungkin terasanya saat uda beberapa lama setelahnyaa.. langsung istighfar — Astaghfirullahaladzim alladzi laa ilaha illa huwal hayyul qayyum wa atubu ilaih.
"Aku memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung, yang tiada Tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup lagi Maha Berdiri Sendiri, dan aku bertaubat kepada-Nya."
Dan perbanyak berdzikir.
وَاللَّهِ إِنِّى لأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِى الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً
“Demi Allah. Sungguh aku selalu beristighfar dan bertaubat kepada Allah dalam sehari lebih dari 70 kali.”
(HR. Bukhari)
Gak sulit kok istighfar sekali duduk 70 kali kalau kita melakukannya dengan mindful.
Masih belum bisa menghindari ghibah?
Yakin, ini proses yang gak mudah.
Selalu minta pertolongan Allah, cari teman shalih/ shaliha yang selalu mengajak kepada kebaikan dan sibukkan diri dengan ibadah.
Kalau sibuk, biasanya jadi lupa tuuh sama urusan orang lain gak ada kaitannya sama kita.
Sebenernya, kita punya kontrol penuh atas diri kita yaa..
Dan ketika di hari akhir, maka pahala kita akan diberikan kepada orang yang kita ghibahi.
Kalau pahala kita sampai minus niih.. maka dosa orang yang kita ghibahin malah jatuh ke diri kita.
Mari hentikan kebiasaan membicarakan orang, dan mulai memperbaiki diri. Karena, Allah ﷻ tidak akan memperbaiki umat yang saling menjatuhkan. Jaga lisan, jaga hati, jaga ukhuwah.
Allāhu Ta‘ālā a‘lam bishawāb.
Salam hangat,



ReplyDeleteNow not one thing I’d typically learn, but I favored your emotions none the less.
ReplyDeleteThank you for making something worth reading.
ReplyDeleteI ponder why the other specialists of this sector don’t notice this. thank you!
ReplyDeleteThis website was… how do you say it? Relevant!!
Tapi teh lendy ghibah skrg gak harus bertemu lgsg looo lewat chat juga bisa hihihihi....
ReplyDeleteTapi benr juga sie dengan lbh banyak dirumah paling tidak kita meminimalisir berinteraksi dan juga kepo dgn urusan org lain..aku sendiri juga sedang belajar buat menghindari ghibah ini..kalo mo cerita ato ngobrol tentang diri sendiri aja dan cara upgrade diri yakk
Wah ini relate banget 😆. Suka sama cara Mbak Lendy bahasnya ringan tapi sampai ke hati, jadi termotivasi buat lebih jaga lisan
ReplyDeleteGhibah iki adududududu, ojok sampek onok anggapan :ibuk-ibuk ndek omah nggosip tok karo tonggone, memang lambene ghibah terus. Medeni, akeh dusone.
ReplyDeleteBener kata mbak Eryka, saiki isok ghibah online, wis ngomongno sing apik-apik wae misale resep masakan, ojok ngerasani tonggone utowo wong liyo.
Gibah online ini juga bahaya banget ya bahkan bisa jadi sumber pembullyan gitu karena diomongin banyak orang bahkan yang nggak dikenal
DeleteIni satu hal yang kadang para wanita kurang suka sama aku, karena tidak suka "Kepo". Buatku, memikirkan bagaimana lebih banyak membuat orang lain tersenyum dan kuat saja udah menguras energi. Sampai sering dibilang aku orangnya terlalu kaku, ga asyik he he he.
ReplyDeleteAku termasuk aliran percaya bahwa setiap tindakan, keputusan, prilaku memiliki alasan kuat.
Entah orang itu sengaja ataupun tidak. Apalagi soal bagaimana terlihat di Sosmed. Mungkin terbiasa melihat cerminan atau kedalaman prilaku orang jadi mengerti segala sesuatu ada penyeimbangnya.
Ah baru tahu soal parenting Sunnah. Jadi lebih mengerti. Terima kasih ya Lendy.
Kadang susah untuk tidak ghibah. Apalagi gibahin orang lain. Terutama para tetangga yang doyan bngt ngegibah...
ReplyDeleteBenar banget kebiasaan yang dianggap biasa padahal dampak nya luar biasa. Apalagi sejak zaman digital
ReplyDeleteTanah ghibah makin meluas
Masyaallah, Kak, ini pengingat yang bagus banget buat aku. Aku juga sudah mulai mengurangi keluar rumah dan kumpul-kumpul kalau memang kurang penting. Takut keceplosan ghibah. Semoga Allah selalu menjaga kita sebaik-baiknya dari hal buruk, termasuk ghibah ini ya, Kak...aamiin
ReplyDeleteIyaya adakalanya rencana yang tadinya silaturahmi eh malah merembet ke ghibah ya. Ini jadinya balik ke diri kita perlu jaga diri biar gak kepeleset ke arah itu
Deletejujur memang susah banget menghindari ghibah ini apalagi kalau sudah ketemu sama teman atau lingkaran kita. kadang ada aja yang keceplosan gitu. paling aman memang jangan sering ke luar rumah sih hehe
ReplyDeleteKalo urusan ghibah, aku big no. Memang pasti menghindar kalo ada yg ajakin begini. Males kepancing. Aku bakal arahin ke topik lain, ataaaaaau tinggalin.
ReplyDeleteMakanya aku lebih suka ketemu dengan teman2 yg 1 passion mba.bloggers atau travelers.
Sebab dengan yg begini kita bisa ngobrol, yg sesuai minat. Tanpa harus buka aib orang. Kayak kemarin ketemu dengan teman2 bloggers di Malaysia yg juga hobi traveling, kami ngobrol, gimanaaaa nih caranya cari tiket murah, kok bisa sih cuti ga abis2, tips ke Negara ini gimana yaaa dll.
Kalo ketemunya dengan orang yg ga suka ngeblog, dan ga suka traveling, akunya juga jadi diem, Krn ngerasa ga nyambung. Apalagi yg hobi gosip. Dah laah bhaay aja, ga akan ada pertemuan kedua 🤣
Nah iya, aku setuju sama mba Fann. Sekarang kalau mau ketemuan dan ngobrol lama better sama yang satu minat saja. Biar ngobrolnya nyambung dan nggak ada ghibah.
DeleteKayak sama blogger, content creator, bahasannya jelas. Tentang karya, masa depan dan rencana travelling. Kalaupun terpaksa ketemu orang yang biasa gosipan, aku nggak akan berbaur alias diem ajalah lelah wkwkwk.
Masha Allah sebuah pengingat yang sangat bermakna dan baik banget. Bener memang ya, jadi ortu tidak mudah. Perjalanan belajar seumur hidup dan berusaha menjadi yang terbaik untuk anak terutama dari sisi agama dan menerapkan adab sejak dini agar anak memiliki rasa hormat dan tau batasan.
ReplyDeleteNah, itu tuh ghibah. Meski awalnya tidak berniat, ada saja rekan yang memancing. Makanya aku jarang ngobrolin orang. Biasanya aku akan bertanya ke teman yang ditemuin seputaran kepenulisan, kadang minta di cek juga tulisan ku gimana jadi nambah ilmu hehe. Emang kudu bisa-bisanya kita mengalihkan ya. Jangan sampe mulutmu harimaumu. Apalagi dosa juga aduh, ngeri deh ya. Lebih baik diem karena di beberapa sikon diem itu emas.
Kalau aku dari dulu berprinsip daripada ngumpul-ngumpul mending di rumah aja. Eh, Qodratullah ditakdirkan Allah jadi IRT yang hidup nomaden. Jadi gak punya banyak teman dan jarang keluar rumah. Kalaupun keluar ya tujuannya untuk menambah ilmu. Begitupun dengan teman online, aku gak terlalu suka ngobrol basa-basi yang panjang karena ujungnya nanti jadi celah buat ngengibah.
ReplyDeleteSulit tapi bukan berarti gak bisa ya
ReplyDeleteMembayangkan gubah itu sama dengan makan daging saudaranya sendiri aja udah merinding kan...
Jadi kita paksakan aja. Hehehe
selain keluar rumah sepentingnya aja, chatting atau telpon pun sepertinya sama dalam upaya menghindari dosa ini ya mbak, ini pengingat banget sih, selain berusaha gak gibah, kita juga terlatih buat gak oversharing yaa
ReplyDeleteSekarang memang ghibah ngga cuma dalam bentuk obrolan langsung tapi juga bisa lewat media online yaa. Semoga tulisan ini bisa selalu menjadi pengingat kita untuk lebih menjaga kata-kata
DeleteTerima kasih remindernya, Teh.. Memang suliiit dihindari, tapi bukan berarti tak mungkin. Bismillah..mo praktekin tips2 nya ah..
ReplyDeleteUrusan per-ghibahan memang gak mudah buat gak kepingin ghibah, umumnya ada aja godaannya.
ReplyDeleteApalagi cewek yang kerap kali dianggap gampang ber ghibah.
Jadinya balik ke diri juga sih, gimana menghindatinya, secara kuat dan membulatkan tekad, hehe
Hatur nuhun remindernya. Harus sering diingatkan nih aku. Ghibah itu mudah banget dilakukan tapi hukumnya mengerikan
ReplyDeleteMasyaallah. Terima kasih pengingatnya ya. Kadang emang kita nggak sadar kalau sudah melakukan gibah, apalagi soal lelahnya mengurus anak-anak. Ya, akhir-akhir ini diriku nghak sadar sering menggibahkan anak. Astagfirullah...
ReplyDeleteSemoga Allah runtum hati kita semua agar lebih bisa menjaga hati dan lingkungan kita dari keinginan untuk begibah.
Saya kena ini hahaha. Saya dulu suka Lihat orang lain suka tampan rupawan, mapan, punya istri cantik menawan, anak lucu menggemaskan. Sedangkan saya gini-gini aja hahaha. Akhirnya merasa kok Allah ini tidak adil ya. Tapi itu dulu saat saya masih muda belia. Sekarang sih sudah tua dan sudah lebih bijak hahaha. Bawa hidup ini tidak seperti apa yang kita lihat. Setiap orang pasti punya masalah masing-masing. Dan saya setuju tuh dengan tips di atas menghindari ghibah. Termasuk nggak usah keluar rumah, bila nggak perlu. Tapi godaan memang berat. Biasa ibu-ibu cuma nyapu saja di teras rumah, eh tapi ada tetangga yang lewat, sudah deh langsung bergosip. Jadi intinya memang harus menahan diri untuk tidak berghibah.
ReplyDeleteNah kalau zaman sekarang tu beda tantangannya mbak, kadang ghibah nggak pakai tatap muka, melainkan online haha :p
ReplyDeleteMakanya keknya perlu menghindari grup2 wa yang membernya dikit nih, mending kalau ngobrol di grup besar2 yang membernya banyak jadi ada sungkannya, wuurng ghibah haha :P
Amit2 kalau pahala kita sampai berkurang banyak. Itulah sebabnya yaa, Rasulullah ngajarin kita supaya senantiasa sibuk dan produktif supaya tak ada waktu ngomongin orang.
Eh btw kalau ngobrolin pejabat korup termasuk gak yaa wkwk
Kalo di kampung, apalagi pas hajatan, bakalan susah tuh kalo ga ada ghibah di tengah pertemuan. Haha. Mereka bakal cerita apa aja, termasuk urusan ranjang keluarga org lain. Haha.
ReplyDeleteIni sering kejadian sih kalo aku disuruh rewang (bantu2 di hajatan org). Sbg anak multitasking, aku biasa ditempatin apa aja. Mulai dari yg kotor2 ampe yg bersih2 dekat pengantin. Wkwk.
Kalo pas di dapur, tentu bakal ketemu emak2 yg doyan ghooossibbb (bacanya pake qolqolah biar afdhool). Soalnya emak2 kalo udh ghibah tuh emg ga bs direm. Ya udh aku cmn bs dengerin sambil sesekali nanya2. Akhirnya gosip satu RT pun aku tahu meski aku hanya bs diem aja.
Bener kata teh Lendy, pokoknya hrs istighfar aja dlm hati kalo di kondisi kyk gitu. Tentu biar kita bs diterima org lain tanpa hrs menyakiti mereka. Dan kalo bs, kita sambil nyeletuk utk menyudahi ghibah yang ga ada faedahnya.
Ah iya, PR banget ini. Kadang klo ngumpul sama temen, langsung deh otomatis ghibah gitu. Emang harus dilatih ya teh. Biar g keseringan makann bangkai saudara sendiri, ya
ReplyDeleteBaru ngeh ada istilah parenting sunnah Mba, tapi bener juga sih ya, kalau kelas berat itu terlalu memasrahkan pada anak, sementara versi sunnah kita masih bisa membantu menyaringnya. Ini soal Ghibah relate banget kemana-mana Mba, nggak mungkin kumpul sama perempuan-perempuan itu nggak nggibah, itu yang kurasakan beberapa tahun belakangan. Karena tak ada kegiatan akhirnya kumpul sama ibu-ibu dekat rumah, ya itu ujung-ujungnya ngomongin si A, si B. Nah, beberapa tahun ini akhirnya aku mulai beraktivitas ke luar sama blogger-blogger, jadi berkurang ghibah di lingkungannya. memang sih kebiasaan baru perlu diterapkan, aku pun mulai menahan diri nggak keluar kalau nggak penting-penting amat. Itu pun masih saja ada yang selalu ngalihin topik buat nggibahin orang, biasanya temen yang lain langsung mengalihkan topik gitu.
ReplyDeleteAstaghfirullah jadi tertohok, terima kasih pengingatnya ya Lendy, aku kalau ketemu besties kebanyakan sih curcol huhu membicarakan apa yang terjadi pada kami berdua jadi memang harus dilatih ya biar nggak gatal ngomongin orang.. bismillah..
ReplyDeleteTentang ngasih anak pilihan, aku gak berseberangan, tapi ingin melengkapi saja. Karena memberi pilihan itu pun ada caranya. Bukan kita memberi pilihan terbuka ke anak "pakai baju apa?", tapi kita sudah memilihkan 2 atau 3 yang terbaik menurut kita, barulah memberi pilihan itu ke anak.
ReplyDeleteKalau anak gak memilih di antara pilihan yang kita kasih? Baru kita bilang kalau kita yang memilihkan. Misal, kita sudah memberi dia baju syar'i. Lalu memberi kesempatan anak memilih itu sekedar memilih warnanya saja "pilih warna cokelat atau hitam?", tapi kalau ternyata anaknya mau warna pink, yaa kan gak ada di dalam pilihan, jadi orangtua yang memilihkan. Oke, karena gak ada warna pink, jadi kamu pakai cokelat aja ya. Gitu ka Len.
Jadi, menurut aku parenting Barat itu gak sepenuhnya berseberangan, hanya saja banyak banget hal-hal yang harus disesuaikan lagi. Soalnya memberi anak pilihan ini akan melatih banyak hal pada anak, termasuk untuk memilih jalan hidupnya nanti (tentu kita sudah membatasi jalan hidup yang baik dan bisa memberi manfaat).
Memberi pilihan itu juga mengajarkan anak untuk lebih percaya diri dan belajar tanggung jawab (karena bertanggung jawab dengan pilihannya tersebut). Gitu gitu lah yaa, hehe.
Kayak memilih sekolah, tentu lah anak kecil belum bisa memilih sekolah yang sesuai dengan harapan orangtua. Jadi kalau dalam hal memilih sekolah, yak aku setuju dengan orangtua yang pilih, begitu SMA atau kuliah, baru keputusannya bisa dipertimbangkan (tetap dengan pilihan tertutup kayak tadi. Kita dulu yang memilihkan 2 sekolah terbaik, baru ajak anak memilih mana yang dia inginkan).
Walah kok jadi panjang ya. Gitu lah kira-kira, ahaha. Ini malah gak ngomongin ghibahnya dah, maafkaann..
Masya Allah, semoga dengan reminder ini daku bisa istiqomah menahan ghibah baik langsung atau dari daring.. kadang karena banyak yang suka curhat ke aku, orang orang juga kepo hidup orang yang curhat itu dan malah nanya ke aku si objek curhat >.<
ReplyDeleteAstagfirullah semoga Allah jaga lisan dan ketikanku
Naah, ini nih artikel penuh manfaat. Serasa memberi nasihat kepada diri sendiri banget. Terkadang kita berada di situasi yang aduuuh susah untuk menghindarinya. Mau mebelokkan obrolan gak bisa, tapi kalau ikut serta jadinya yaaa khawatir jadi ikutan dosa. kalau sudah begini yaaa pergi saja pamiiit,,,kalau ngobrolnya berdua yaa dibelokkan saja topik pembicaraannya dengan tema obrolan lainnya.
ReplyDeleteTeman dan personil di WAG itu salah satu cara hindari Ghibah
ReplyDeleteKalau tahu temannya suka ngomongin orang, menjauh
Makanya makin ke sini teman saya makin sedikit
Sekalipun di grup Wali Murid
Saya muncul ketika ada urgent banget
Selalu mengupayakan ga ghibah dan orang sekitar lama-lama paham.
ReplyDeleteTapi ternyata ada side efeknya juga. Keluarga kami selalu paling terlambat tahu informasi (yg tidak resmi alias tak dimuat dalam grup WA RT atau kumpulan lain). Jadi sering ada dalam situasi yg cukup akward saat ada acara berkumpul semua orang dianggap sudah tahu padahal ya kami ga tahu topik (misal keadaan terakhir sesorang) tersebut.
Ghibah ini emg kebiasaan kecil tapi sulit utk dihilangkan. Mgkn kyk obrolan biasa. Tapi yang diobrolin tuh ngomongin org lain. Dan itu dosa ya kak.
ReplyDeleteMknya aku kalo di kampung tuh suka pilih2 teman biar ga diajak ghibah. Tapi kalo udh diajak emak2 ngumpul, suka ikutan gibah jg tuh. Haha. Tapi cmn dengerin aja sih. Abis itu lgsg istighfaaarrr.
Aku seringnya di rumah aja. Jadi enggak terlalu tahu dunia pergosipan Tetangga. Tapi, ada nih tetangga yang emang suka banget nyeritain apa yang dia dengar. Walaupun itu fakta, ya karena udah terlanjur jadinya didengar aja, cukup tahu, dan berhenti di aku
ReplyDeleteEmang kalau nggak direm, ghibah itu kayak narkoboy yang bikin kecanduan. Tapi ya itu, dosanya lumayan juga, belum lagi kalau berujung fitnah.
ReplyDeleteAku kalau ada yang ghibah aku diemin gak aku tanggapin. Ditanggapin seperti memberi bensin. Takut juga kalau di belakangku dia juga ngomong yang enggak-enggak. Di agamaku juga diingatkan untuk orang tipe seperti ini, agar tidak mengeluarkan perkataan yang sia-sia. Dan kalau tidak mau diperlakukan seperti itu, jangan bersikap demikian ke orang. Semoga kita terhindarndari orang sirik dan tukang ghibah 🙂
ReplyDeleteLooking forward on your work and I think that you're always doing an excellent job!!
ReplyDeleteAmazing post written. It shows your effort and dedication. Thanks for sharing such a nice post
ReplyDeleteYou've got really shared a informative and interesting blog post with people
ReplyDeleteNice post! This is a Very nice blog that I will definitively come back. Thanks
ReplyDeletePunya teman itu ibarat dua mata pisau memang, ia bisa menjadi jalan surga kita atau pun sebaliknya, contohnya dalam hal ghibah, bisa saja teman itu menjadi pengingat kita untuk tidak berghibah atau sebaliknya, dia yang ngomporin untuk berghibah ria, ya.
ReplyDeleteMudah-mudahan kita semua dan teman se-circle kita adalah orang-orang yang bisa menahan bibir ini untuk tidak melakukan dosa ghibah. Aamiin
aku kalau ada yng mau ghibah selalu mencoba fokus dallam pikiran agar terlindung dari energi negative itu . Jujur cape ih dengernya dan energi kita teh jadi melemah kalau gak ffokus ujung2 nya kepo astagfirullah
ReplyDeleteTerima kasih pengingatnya teh, duuh jadi malu karena kadang masih khilaf....menahan diri dan kontrol diri mungkin itu kuncinya ya teh, soalnya kalau saya harus menarik diri susah juga. Pilih pilih obrolan, dan kalau lawan biara mengghibah yaa kita pergi aja kali ya teh, gak usah gabung lagi.
ReplyDeletehehehe ghibah selalu ada dimana-mana
ReplyDeleteapalagi kalau deket rumah, di tempat jualan sayur-sayur atau warung, ibu-ibu betah banget lama-lama disana pokoknya
memang bener juga sih, kalau pas kita nongkrong sama temen misalnya,kalau ngomongin diri sendiri terus-terusan, dikiranya kita sombyong gitu, kan ga enak juga
aku sendiri coba ngomongin hal-hal umum kalau udah nongkrong
Alhamdulillah kalau sibuk mengurus jualan yang setiap hari harus restock itu gak bakal ada waktu ngerumpi
ReplyDeletePaling curhat sama suami kalau seharian lelah mencetak puding sesuai pesanan tetapi ada rasa bahagia di hati karena pesanan sesuai harapan semua
Kalau curhat sama teman blogger paling urusan ngopi di mana atau gimana bangkitkan semangat nulis
Kalo perkara ngasih pilihan ke anak, aku biasanya fleksibel aja mbak. Dariku pasti ngasih pilihan dulu buat anak.. Misalnya "Hari ini kamu pake baju Bing ya". Nah, ternyata kalau anaknya nggak mau, baru aku tanya, "Emang maunya apa?". Biar kita sbg orang tua tuh gak berasa diktator, tapi juga gak plin plan.
ReplyDeleteNah perkara gibah.. emang syulittt wkwkwk. Kadang kita mau ngehindar, eh tapi besoknya kita malah jadi pelakunya. Begitulah mbak manusia, pasti ada aja kelakuannya. Padahal di hadist kalo gasalah udah dibilang ya. Ghibah itu sama kayak makan bangkai sodara sendiri.
Aku pribadi sebenarnya nggak masalah membiarkan anak untuk memilih sendiri. Dengan catatan, kita juga memberikan penjelasan untuk setiap pilihan yang ada. Semisal, ternyata anak memilih sesuatu yang di luar kemampuan kita sebagai orang tua, maka ada pilihan untuk meminta anak menunggu sampai orang tua bisa memberikan pilihan tersebut. Atau opsi lainnya yang masuk akal gitulah. Hehehe
ReplyDeleteMy mom is a counselor but she didn't want me to choose any kind of dress (when I was a little kid) especially when its size was too tiny or short. Now I understand why she did that. Parenting islami bukan western.
ReplyDeleteMengenai ghibah ini yaa. Bahkan ngobrol via wa juga bisa ghibah. Astaghfirullah. Kudu hati-hati. Aku juga milih belanja di warung B aja soalnya di warung A suka diajak ghibah oleh owner-nya.....
Masalah memberi pilihan, aku ngasih pilihan yang sudah sesuai koridor. Misal masalah pakaian, dari beli sudah kita pilihkan yang menutup aurat. Nanti perkara di rumah dia mau pilih warna bebas aja. Nah kalau mereka minta beli yang melanggar aturan, baru kita nasehati dan kasih beberapa pilihan lain yang sesuai syariat. Jadi anak boleh milih, tapi nggak boleh melanggar aturan. Aku sih selama ini gitu.
ReplyDeleteMisal kasarannya minta makan babi, ya jelas nggak aku kasih, tapi aku kasih pilihan mau ayam atau sapi. Tetap boleh memilih tapi dalam koridor.
Soal gibah, malah gibah paling susah dihindari bareng pasangan hahahaha... Semoga hati dan lisan kita semakin terbuka untuk tidak bermudah-mudah bergibah ya.
Saya lebih sring mbak kasih pilihan ke anak dan ngasih kebebasan. Cuma ya pilihannya selalu dari orang tua. Kayak misal mau pakai baju tidur apa pakai kaos, jadi nggak benar² murni dari anak. Misal kalau anak mau pakai di luar pilihan saya pertimbangkan.
ReplyDeleteSebenarnya, pendidikan barat sebagian memang kurang cocok dan sebagian lagi masih bisa disesuaikan. Tinggal milih jalurnya aja. 😁
Kalau ghibah, skg malah terang²an lho di Medsos. Makanya saya sampai puasa cukup lama dari medsos. 😅
Banyak orang memang suka ghibah dan itu harus dihindari karena tidak baik sebenarnya daripada berghibah kita bisa berbicara soal banyak hal lainnya yang menarik seperti contohnya drama Korea, olahraga dan hal lain yang bisa dibahas untuk kebaikan bukan untuk membicarakan kejelekan orang kecuali tokoh dalam drama Korea ya
ReplyDelete