Sekolah Seniman Pangan Bekasi, Wisata Edukasi Pangan Lokal
Bismillah,
Ke Cafe Bukan Hanya Untuk Nongkrong, Tetapi Sekaligus Edukasi Pangan Berkelanjutan.
Hola sahabat lendyagasshi.
Rasanya berkunjung ke cafe saat ini uda jadi sebuah lifestyle yaah..
Gak hanya para pekerja yang memanfaatkan cafe sebagai titik temu, tetapi juga anak sekolah sampai kuliahan, familiar dengan cafe sebagai tempat ngobrol seru, mengerjakan tugas hingga bekerja.
Gak sedikit juga yang memanfaatkan cafe sebagai kantor yang membuat suasana bekerja bisa lebih powerful karena ditemani suasana yang berbeda setiap harinya.
Tapii...
Sahabat lendyagasshi pernah ketemu sama cafe sekaligus tempat edukasi "Our Future Table", gak?
Sahabat lendyagasshi pernah ketemu sama cafe sekaligus tempat edukasi "Our Future Table", gak?
![]() |
| source : photo by Ipeh, EBS blogger Bekasi |
Makna Future Table
Future Table bermakna "Meja Masa Depan" ini memiliki arti yang sangat luas dan bisa jadi penyelamat manusia karena memahami dan menerapkan konsep tersebut di era yang serba instan dan serba pangan konsumtif.
Istilah ini sering dipakai di dunia pangan, keberlanjutan, dan pendidikan seperti di Sekolah Seniman Pangan yang berlokasi di Bekasi.
Makna "Future Table" secara harfiah adalah meja tempat kita makan di masa depan.
Yang kita perlu pahami apa isinya? Siapa yang masak? Dan juga berasal dari mana bahan-bahannya?
Yang kita perlu pahami apa isinya? Siapa yang masak? Dan juga berasal dari mana bahan-bahannya?
Secara Konsep "Future Table" berarti cara kita membayangkan & merancang sistem pangan 10-20 tahun ke depan. Ini pasti menarik karena inipun yang bisa menjadi gambaran bagaimana kesehatan kita saat konsumsi makanan saat ini.
3 Pertanyaan Besar yang Perlu Diperhatikan Ketika Berbincang Mengenai Future Table Adalah
1. Apa yang kita makan?
→ Apakah masih beras, atau udah ada sorgum, singkong, sagu, serangga, lab-grown meat?
→ Apakah masih beras, atau udah ada sorgum, singkong, sagu, serangga, lab-grown meat?
2. Dari mana asalnya?
→ Apakah dari petani lokal, urban farming, atau impor? Apakah ramah lingkungan?
→ Apakah dari petani lokal, urban farming, atau impor? Apakah ramah lingkungan?
3. Siapa yang terlibat?
→ Apakah petani muda, perempuan, komunitas adat masih jadi bagian dari rantainya?
→ Apakah petani muda, perempuan, komunitas adat masih jadi bagian dari rantainya?
Kenapa Penting Memikirkan Future Table?
Karena saat ini kira-kira kita akan mengalami 3 krisis yang bakal dialami, seperti:
1. Iklim: Tanah, air, cuaca berubah → tanaman tertentu bisa gagal panen
2. Populasi: Tahun 2050 penduduk dunia 10 miliar. Pangan harus 2x lipat
3. Budaya: Anak muda makin lupa pangan lokal, maunya mie instan dan fast food
Jadi, Future Table akan mengajak kita berpikir apa isi piring kita di masa sekarang agar di masa depan bahan pangan kita tidak kosong, dan isinya tetap sehat dan lestari.
Hubungannya dengan Sekolah Seniman Pangan
Di Sekolah Seniman Pangan (SSP), "Future Table" diartikan sebagai meja yang isinya pangan lokal Nusantara, diolah kreatif oleh anak muda desa, perempuan atau masyarakat adat, kemudian dijual dengan nilai serta eksplorasi rasa yang kaya.
Contohnya: Bunga telang dari kebun → jadi teh → dikemas cantik → dijual online.
Atau daun kemangi → jadi sirup yang menyegarkan
Itu "Future Table" versi mereka.
Semua bahan tidak ada yang impor, tanpa penambahan bahan kimia, namun tetap memiliki nilai ekonomi dan budaya.
Semua yang di obrolin tentang Future Table ini tersedia di Sekolah Seniman Pangan Bekasi.
Alamat Sekolah Seniman Pangan (SSP) :
Jalan Alun Alun Bussiness Park No. 4 – 5
Vida Kelurahan Padurenan Kecamatan Mustika Jaya Kota Bekasi, Jawa Barat
Berkunjung ke Sekolah Seniman Pangan Bekasi
Tahukah sahabat lendyagasshi bahwa tidak selalu garam berasal air laut yang dikeringkan melalui proses penguapan oleh sinar matahari di tambak?
Garam juga bisa berasal dari hutan Indonesia.
Garam tersebut bernama Garam Nipah – yang terbuat dari pelepah atau batang tanaman nipah (Nypa fruticans) yang menyerap air payau, lalu dibakar menjadi abu asin oleh masyarakat di Papua.
Selain itu, bunga rosella yang kita kenal biasanya hanya dimanfaatkan sebagai minuman, namun di Seniman Pangan, ternyata bisa dijadikan selai yang nikmat.
![]() |
| penjelasan Ibu Johanna Hehakaja |
Gongnya adalah saat membuat kemangi menjadi sirup yang rasanya gak pernah aku rasain sebelumnya ((saking nikmatnyaa~)).
Ini aku lampirkan resepnya yaa.. siapa tau kita bisa praktek sama-sama niih..
Resep Membuat Sirup Kemangi dari Seniman Pangan Bekasi
Bahan :
Satu ikat daun kemangi segar yang disiangi
500 ml air
250–500 gram gula pasir
Perasan air jeruk nipis atau lemon secukupnya untuk rasa segar
Satu ikat daun kemangi segar yang disiangi
500 ml air
250–500 gram gula pasir
Perasan air jeruk nipis atau lemon secukupnya untuk rasa segar
1. Cuci bersih daun kemangi dengan air mengalir untuk membuang kotoran.
2. Rebus air dan daun kemangi selama kurang lebih 10 menit sampai aromanya keluar dan warna air berubah. Segera setelah diangkat dari rebusan air, aliri dengan air dingin agar tidak layu.
3. Saring air rebusan daun kemangi menggunakan saringan halus ke dalam panci bersih.
4. Masukkan gula pasir ke dalam air rebusan kemangi lalu masak dengan api kecil.
5. Aduk terus perlahan sampai gula larut sempurna dan cairan mengental menjadi sirup.
6. Tambahkan air perasan jeruk nipis atau lemon di akhir, aduk rata, lalu angkat dan dinginkan.
7. Simpan dalam botol kaca bersih yang kedap udara
![]() |
| Praktek Membuat Sirup Kemangi tanpa Bahan Pengawet |
Wajib banget sahabat lendyagasshi cobain bikin sendiri di rumah.
Tapi kalau mager, bisa banget pesen online melalui e-commerce Shopee, Tokopedia, atau whatsApp @senimanpangan.
Konsep Cafe Seniman Pangan
Konsep Seniman Pangan Bekasi ini sebenarnya adalah cafe yang bisa sekaligus belajar mengenai future table, seperti yang aku jelaskan di atas.
Sebelum kita menikmati hidangan menu yang disediakan di cafe Seniman Pangan, kita akan dipersilahkan jalan-jalan mengelilingi kebun Produksi dan Kebun Nutrisi.
Sekolah Pangan di Bekasi merujuk pada wisata edukasi sekaligus kewirausahaan berbasis pangan lokal yang dipelopori oleh Sekolah Seniman Pangan (SSP) di kawasan VIDA Bekasi, Mustika Jaya.
Berkolaborasi dengan Javara Indonesia, lembaga ini mengusung misi besar untuk mengubah petani tradisional menjadi pengusaha pangan premium melalui pendekatan creative farm-preneurship dan food-preneurship.
![]() |
| kopi tumbuh di kebun produksi Seniman Pangan Bekasi |
Pilar utama konsep Sekolah Pangan di Bekasi:
1. Transformasi Lahan Marginal (Urban Farming)
Dari Pembuangan Menjadi Kebun Nutrisi: SSP memanfaatkan lahan kritis di sekitar kawasan Bantar Gebang yang dulunya penuh ilalang dan puing bangunan, lalu menyulapnya menjadi kebun produksi seluas tiga hektare.
Hutan Kota Berkelanjutan: Mengembangkan ekosistem kebun nutrisi berbasis kearifan lokal yang berfungsi sebagai laboratorium hidup untuk mempelajari rantai pasok pangan asli Indonesia.
2. Pendidikan Food-Preneurship (Kewirausahaan Pangan)
Nilai Tambah Produk Lokal: Pengunjung tidak hanya diajarkan cara bercocok tanam, melainkan cara mengolah hasil panen mentah menjadi produk pangan olahan premium bernilai jual tinggi.
Kedaulatan Pangan: Melatih generasi muda dan komunitas adat agar mandiri secara ekonomi dengan mengelola hak paten, pengemasan, hingga pemasaran produk lokal ke pasar modern atau ekspor.
3. Edukasi Berbasis Pengalaman Langsung (Experiential Learning)
Ekowisata & Field Trip: Menjadi pusat studi bagi anak sekolah, komunitas, dan masyarakat umum untuk menyentuh, mencicipi, dan mendengar langsung kisah di balik setiap tanaman obat serta pangan lokal.
Dari Hutan ke Meja Makan: Mengajarkan filosofi bahwa makanan sehat harus dipahami prosesnya sejak dari tanah hingga siap disajikan (from farm to table).
Mempertahankan Pangan Lokal Nusantara
Dengan memahami Future Table, kita akan memahami sekaligus praktik langsung mengenai Pangan Lokal Nusantara yang sudah seharusnya dijaga oleh kita semua. Bukan hanya masyarakat adat dan perempuan yang menjaga hutan, namun ini adalah kewajiban kita semua yang sangat membutuhkan sumber pangan alami dari hutan, kebun, laut dan alam.
Semua jenis bahan pangan, dan cara mengolahnya yang berasal dari daerah tertentu di Indonesia dan sudah dikonsumsi turun-temurun oleh masyarakat setempat.
Makanan khas daerah ini diolah secara alami dan tidak instan dari bahan baku yang ada di sekitar kita dengan kearifan lokal.
Ciri-ciri Pangan Lokal Nusantara
1. Bahan baku lokal: Singkong, sagu, jagung, ubi, pisang, sorgum, talas. Bukan gandum impor
2. Disesuaikan iklim dan tanah: Tiap daerah punya yang paling cocok tumbuh di situ. Misal: sagu di Papua/Maluku, jagung di NTT, singkong di Jawa
3. Diwariskan: Resepnya turun dari nenek moyang. Ada ritual, cerita, dan nilai budayanya
4. Musiman dan berkelanjutan: Tidak memaksa tanam terus, namun mengikuti musim
Contoh Pangan Lokal Nusantara
Jawa : Padi, Singkong, Jagung → Nasi, Tiwul, Gatot, Gemblong
Sumatra : Ubi, Pisang, Sagu → Lemang, Bagea, Keripik Singkong
Kalimantan : Sagu, Ubi, Jagung → Bubur Pedas, Amplang Sagu
Sulawesi : Jagung, Singkong, Pisang → Barongko, Jagung Bose, Kapurung
NTT/NTB : Jagung, Sorgum, Ubi → Se’i, Jagung Titi, Uta Dawa
Papua/Maluku : Sagu, Keladi, Pisang → Papeda, Sagu Lempeng
![]() |
| Pangan Lokal yang dijaga oleh masyarakat adat dan perempuan penjaga hutan |
Mari Kita Bersama Jaga Hutan Melalui Pelestarian Pangan Lokal
Memanfaatkan pangan lokal berarti turut berkontribusi menjaga dan melestarikan pengetahuan tradisional serta warisan budaya IPLC (Indigenous Peoples and Local Communities / Masyarakat Adat dan Komunitas Lokal) dalam menjaga hutan dan sumber pangan kita.
Karena di hutan ada ketahanan pangan yang kita butuhkan dan merupakan sumber kesehatan dengan beragam gizi. Seperti karbohidrat kompleks, serat tinggi, yang ada pada bahan pangan sorgum dan talas.
Selain itu, pangan lokal juga memperkuat ekonomi petani.
Karena, petani tidak harus ikut harga beras. Ada banyak substitusi pangan, yaitu penggunaan bahan makanan alternatif untuk menggantikan bahan utama dengan fungsi atau nilai gizi yang mirip. Seperti para petani ubi, sorgum, dan sagu olahan.
![]() |
| menjaga pangan lokal melalui mengolah bahan subtitusi yang tersedia di hutan |
Menjaga budaya dengan identitas pangan lokal yang ramah lingkungan karena tanaman yang ditanam sudah cocok sama tanah di hutan atau kebun tanpa penambahan pupuk/pestisida sebanyak tanaman impor.
Namun tantangannya adalah masyarakat saat ini yang kehidupannya serba instan akan cenderung memilih nasi, mie, roti. Pangan lokal dianggap "makanan orang susah" atau ribet mengolahnya.
Dari masalah sebesar itu, Sekolah Seniman Pangan hadir di tengah-tengah kita untuk mengubah mindset mengenai pangan lokal jadi produk kekinian agar menyentuh kehidupan anak muda yang cinta akan lingkungan dimana ia tinggal.
Pada akhirnya, kita semua harus bergerak bersama mempertahankan Pangan Lokal Nusantara yang merupakan kekayaan hayati Indonesia. Dengan mengelola secara tepat, perekonomian Indonesia seharusnya bisa jauh lebih baik dan masa depan anak-anak Indonesia yang menghargai budaya bangsanya melalui pelestarian pangan lokal.
Sahabat lendyagasshi penasaran pangan lokal dari daerah mana?
Atau mau ide olahan pangan lokal yang bisa jadi usaha?
Atau mau ide olahan pangan lokal yang bisa jadi usaha?
Bisa niich... main ke Sekolah Seniman Pangan Bekasi.
Kuuyy!
Kuuyy!
Selamat Hari Internasional Masyarakat Adat Sedunia
9 Agustus 2026
Salam hangat,







Mbak progamnya bagus banget. Semoga segera ada di semua kota, dan.pesertamnya anak muda mudi zaman now, sehingga mereka paham nantinya cara menjaga pangan lokal di negeri ini. BTW, aaya galfok ama point 2 bikin sirup kemangi dwh Mbak. Itu setelah dialirin air biar gak.layu diapain daunnya? Perasaan kok gak dimasukkan lagi. 😁
ReplyDeleteWah, baca ulasan Lendy tentang Sekolah Seniman Pangan Bekasi ini beneran bikin hangat hati sekaligus ngebuka mata! Keren banget gimana program ini nggak cuma ngajarin olah pangan lokal yang berkesinambungan, tapi juga ngerawat "jiwa" para seniman pangan lokal kita lewat cerita yang disajikan dengan sangat personal.
ReplyDeleteFoto-foto dan gaya nulis Lendy selalu sukses bikin pembaca ngerasa kayak diajak jalan-jalan dan ngobrol langsung di lokasi. Pengalaman yang inspiratif banget, Kak.. makasih ya udah selalu berbagi cerita yang penuh nutrisi dan makna kayak gini!
Tulisan ini awalnya kelihatan seperti cerita jalan-jalan ke sebuah tempat makan, tapi ternyata kita diajak mikir jauh lebih dalam tentang apa yang ada di meja makan kita dan dari mana semuanya berasal.
DeleteBagian tentang pangan lokal yang diolah jadi sesuatu yang kekinian juga bikin aku merasa, “nah, ini nih cara yang asyik buat bikin generasi muda kembali kenal kekayaan pangan kita.” Apalagi ada cerita sirup kemangi segala, jadi pengin ikut nyobain langsung ke Sekolah Seniman Pangan.
Ah keren, ini acara bareng Eco Blogger Squad ya teh. Asik banget acaranya
ReplyDeleteJadi tahu tentang konsep future table
Memang sekarang, kalau mau makan, bukan mikirin soal perut saja ya
Tapi bagaimana juga pengaruhnya dengan iklim
Kegiatan positif seperti ini penting banget untuk terus disuarakan. Jadi semakin banyak orang yang paham cara mengelola dan memperrahankan pangan di negeri ini
ReplyDeleteHai mak Lendy :) Wah, aku baru tahu ada Sekolah Seniman Pangan di Bekasi, unik banget konsepnya! 😍 Acara sekolahnya ternyata seru karena anak-anak diajak mengenal pangan dengan cara yang kreatif dan menyenangkan. Jadi bukan cuma belajar, tapi juga bisa eksplor dan bermain sambil mengenal dunia pangan. Aku suka banget ide yang menggabungkan edukasi, kreativitas, dan kepedulian terhadap pangan lokal. Makasih sharing-nya, ya :)
ReplyDeleteInisiatif yang luar biasa dari Sekolah Seniman Pangan di Bekasi ini ya, Edukasi dan inovasi seputar keanekaragaman pangan lokal memang perlu terus diangkat. Ulasannya sangat menginspirasi dan membuka wawasan baru!
ReplyDeleteNyesek, pangan lokal yang mulai dianggap kalah menarik dibanding mie, roti, atau makanan instan juga terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Padahal Indonesia punya kekayaan pangan yang luar biasa dari berbagai daerah. Menurut saya, pendekatan seperti Sekolah Seniman Pangan ini justru penting supaya generasi muda tidak hanya mengenal pangan lokal sebagai sesuatu yang “tradisional”, tetapi juga melihatnya sebagai bagian dari gaya hidup, kreativitas, bahkan peluang usaha. Apalagi konsepnya menggabungkan edukasi, lingkungan, kewirausahaan, dan pengalaman langsung dari kebun sampai ke meja makan. Jadi bukan sekadar datang, makan, lalu pulang, tetapi ada pengetahuan baru yang dibawa pulang. Setelah membaca tulisan ini, jadi kepikiran juga ingin berkunjung ke sana kalau ada kesempatan
ReplyDeleteKehadiran Sekolah Seniman Pangan di Bekasi ini keren banget ya, nggak cuma soal mengolah makanan tapi juga bentuk apresiasi pada bahan pangan lokal dan pemberdayaan masyarakat. Gerakan Sekolah Seniman Pangan di Bekasi ini inspiratif banget buat mendukung kemandirian dan potensi lokal.
ReplyDeleteMantap nih pangan sekarang ada sekolah buat senimannya. Anakku yang TK cita2nya jadi koki. Mungkin dia nanti akan tertarik untuk sekolah di sini
ReplyDeleteAkhir-akhir ini sulit loh cari menu yang betul-betul khas Indonesia, dari bahan dasar maupun resepnya. Sekarang banyak banget menu baru yang mengandung tepung terigu. Padahal gandum engga tumbuh di Indonesia, jadi tepung terigu tsb harus impor. Keren Seniman Pangan Bekasi ini. Iyaya...jadinya kayak seniman, karena berkreasi dengan bahan pangan khas Indonesia.
ReplyDeleteSemoga makin luas kiprahnya..
Moga-moga ada rejeki dan waktu sehingga bisa mampir dan berguru ke para seniman pangan, mempelajari aneka pangan lokal dan budidayanya. Salut!
ReplyDeleteIri banget deh sama teman-teman yang punya kesempatan datang di event ini. Betapa banyak ilmu tentang lingkungan yang didapatkan. Bisa juga belajar banyak tentang bagaimana proses alami mengolah sumber daya alam menjadi sesuatu yang memberikan manfaat bagi kehidupan. Sekolah Seniman Pangan seharusnya lebih tersosialisasi ke publik dengan cakupan yang lebih luas. Supaya semakin banyak orang yang aware akan lingkungan dan pangan.
ReplyDeleteAndai semua pengetahuan ini masuk matpel anak-anak sekolah, pasti kita gak usah takut akan masalah ketahanan pangan nasional
ReplyDeleteLha umbi ganyong, tanaman hias yang banyak kita temui. sebetulnya bisa kita olah jadi panganan
sementara selama ini kita hanya mengenal tepung terigu yang merupakan pangan impor
Saya penasaran dengan sirup kemangi, sepertinya tak sesulit itu dibuat ya Teh.
ReplyDeleteKeren ya seniman pangan mengedukasi banyak kalangan tentang future table, justru dengan menganalisa sejak sumber dan cara bahan pangan tersebut diperoleh.
Menarik banget ada tempat edukasi pangan lokal seperti Sekolah Seniman Pangan di Bekasi. Anak-anak bisa belajar mengenal makanan dan bahan pangan bukan cuma dari buku, tapi langsung melalui pengalaman. Tempat seperti ini menurutku bagus banget untuk mengenalkan kembali pangan lokal sekaligus membuat kegiatan belajar terasa lebih menyenangkan
ReplyDeleteDuh penasaran banget aku dengan Sekolah Seniman Pangan ini. Berharap suatu waktu bisa berkunjung langsung ke sana. TRIms sharingnya ya Teh..ada resepnya juga..mo nyobain..
ReplyDeleteSekolah seniman pangan ini menarik sekali, semoga makin banyak ada yang menduplikasi ide ini dengan kerativitas yang makin menarik dan beda ya karena sangat bagus sekali untuk di apresiasi program-programnya.
ReplyDeleteBaru tahu di Bekasi ada beginian, jadi penasaran langsung melihatnya. Apalagi ya program sekolah seniman pangan ini cocok banget buat suamiku yang kerja di Deptan, asli pengen ke sini
ReplyDeleteSaya terkadang suka merasa kulinber Indonesia jangan sampai kehilangan identitas. Makanya memang sudah saatnya kita lebih mengapresiasi keanekaragaman pangan lokal dan mendukung kemandirian pangan dari hal-hal sekitar. Senang banget tahu ada inisiatif sekeren Sekolah Seniman Pangan di Bekasi ini.
ReplyDeleteentah kenapa baca ini aku malah ingat sama ibu konten kreator kimpul yang lagi viral itu. Hehe. berarti ini cafenya juga menyediakan menu olahan dari bahan-bahan yang disebutkan di atas ya, mbak? Seru sih ya pastinya kalau berkunjung ke sekolah seniman pangan ini kita jadi mengenal berbagai sumber pangan indonesia dan bagaimana pengolahannya
ReplyDeleteSeru banget kegiatan di Seniman Pangan Bekasi. Memang kita harus melestarikan pangan asli negara kita sendiri. Setelah dewasa saya baru tau kalau roti itu terbuat dari gandum, yang mana gandum itu impor. Tapi kok bisa roti gandum itu lebih mendominasi dari pada kue talam, klepon dan kue tradisional lainnya yang terbuat dari tepung khas Indonesia. Apalagi sekarang yang tren itu seperti Matcha ube dan Dubai chewy cookies, yang lagi-lagi bahan makanan dari luar.
ReplyDeleteMenarik konsep Future Table ini, tidak hanya menyediakan makan untuk saat ini tapi bagaimana isi piring kita saat ini agar tetap terjaga hingga di kemudian hari serta memastikan isi piring kita tetap sehat.
ReplyDeleteDiversifikasi pangan dari berbagai kekayaan pangan lokal di Indonesia. Saya pengen banget nyobain resep sirup kemangi...gak kebayang kemangi dibikin sirup. Terus bunga rosella dibuat selai...kreatif sekali yaa.
Halo Mba Lendy! Baca ulasan tentang Sekolah Seniman Pangan di Bekasi ini jujur bikin lidah dan jiwa kebangsaan saya langsung tergerak buat sungkem sama kekayaan bahan pangan lokal! 🙂
ReplyDeleteGokil banget ini! Mba Lendy sukses mengemas liputan tentang inovasi pangan lokal dan keberlanjutan ini dengan gaya penceritaan yang super hangat, renyah, dan mengalir berbobot dari awal sampai akhir. Penjelasannya gamblang, memanjakan mata, dan sukses menyadarkan betapa kerennya potensi bahan pangan nusantara kalau dikelola di tangan para seniman kreatif. Beneran ulasan berkelas yang bikin kita makin bangga sama kekayaan kuliner negeri sendiri. Top markotop tulisannya! 👍
penasaran juga nih daku sama rasa sirup kemangi soalnya selama ini kemangi kan dimakan buat lalapan ya. trus garam nipah juga unik banget ternyata tak harus selalu dari air laut buat mendapatkan rasa asin.
ReplyDeleteThe content is really well organized.
ReplyDelete
ReplyDeleteI like that the explanation is kind.
I enjoyed reading this informative post.
ReplyDelete
ReplyDeleteThank you for sharing this useful information easily.
ReplyDeleteIt captures the key points well.
It is a good read.
ReplyDeletemy agreement. Do you know any solutions to help prevent content from being