[Bunda Cekatan] Belajar Bagaimana Caranya Belajar

Tuesday, June 21, 2016 Lendy Kurnia Reny 6 Comments

                                           


BELAJAR BAGAIMANA CARANYA BELAJAR 
(Learn How to Learn)


Bunda,
sebagaimana yang sudah kita pelajari sebelumnya, bahwa fitrah yang dimiliki anak sejak lahir adalah fitrah belajar. Tetapi mengapa sekarang ada  anak yg senang belajar dan ada yang tidak suka.

Suatu pekerjaan yang berat jika dilakukan dengan senang hati maka pekerjaan yang berat itu akan terasa ringan, dan sebaliknya pekerjaan yang ringan atau mudah jika dilakukan dengan terpaksa maka akan terasa berat atau sulit.

Jadi suka atau tidaknya pada suatu pekerjaan itu bukan bergantung pada berat atau ringannya suatu pekerjaan. Lebih kepada rasa. Maka membuat kita bisa terhadap sesuatu itu mudah, menjadikannya suka itu baru tantangan.

Bagaimana halnya dengan belajar ?
berat atau ringan ?

Bisa berat bisa juga ringan bergantung bagaimana kita bisa mengemasnya dengan cara yang sangat menyenangkan atau tidak.

Bored. Source : Pinterest.


Melihat perkembangan dunia yang semakin canggih dapat kita rasakan bahwa dunia sudah berubah dan dunia masih terus berubah.

Perubahan ini semakin hari semakin cepat sekali.
Maka anak kita sudah tentu akan hidup di jaman yang berbeda dengan jaman kita.

Apa yang perlu kita persiapkan untuk anak kita ?

Anak kita perlu belajar akan tiga hal:
1. Belajar hal berbeda          
2. Cara belajar yang berbeda
3. Semangat Belajar yang berbeda


1. Belajar Hal Berbeda

Apa saja yang perlu di pelajari ?
yaitu dengan belajar apa saja yang bisa:
a.Menguatkan Imannya, ini adalah dasar yang amat penting bagi anak-anak kita untuk meraih masa depannya
b.Menumbuhkan karakter yang baik, seperti, kejujuran
c.Menemukan passionnya (panggilan hatinya)


2. Cara Belajar Berbeda
Jika dulu  kita dilatih untuk terampil menjawab, maka latihlah anak kita untuk terampil bertanya Keterampilan bertanya ini akan dapat membangun kreatifitas anak dan pemahaman terhadap diri dan dunianya.

Kita dapat menggunakan jari tangan kita sebagai salah satu cara untuk melatih keterampilan anak2 kita untuk bertanya.

Misalnya :
Ibu jari : How
Jari telunjuk : Where
Jari tengah : What
Jari manis : When
Jari kelingking : Who
Kedua telapak tangan di buka : Why
Tangan kanan kemudian diikuti tangan kiri di buka : Which one.

Jika dulu kita hanya menghafal materi, maka sekarang ajak anak kita untuk mengembangkan struktur berfikir. Anak tidak hanya sekedar menghafal akan tetapi perlu juga dilatih untuk mengembangkan struktur berfikirnya

Jika dulu kita hanya pasif mendengarkan, maka latih anak kita dg aktif mencari. Untuk mendapatkan informasi tidak sulit hanya butuh kemauan saja.

Jika dulu kita hanya menelan informasi dr guru bulat-bulat, maka ajarkan anak untuk berpikir skeptik

Apa itu berpikir skeptik ?

Berpikir skeptik yaitu tidak sekedar menelan informasi yang didapat bulat-bulat. Akan tetapi senantiasa mengkroscek kembali kebenarannya dengan melihat sumber-sumber yang lebih valid.


3. Semangat Belajar Yang berbeda.
Semangat belajar  yang perlu ditumbuhkan pada anak kita adalah :

a.Tidak hanya sekedar mengejar nilai rapor akan tetapi memahami subjek atau topik belajarnya.
b.Tidak sekedar meraih ijazah/gelar tapi kita ingin meraih sebuah tujuan atau cita-cita.

Ketika kita mempunyai sebuah tujuan yang jelas maka pada saat berada ditempat pendidikan kita sudah siap dengan sejumlah pertanyaan-pertanyaan. Maka pada akhirnya kita tidak sekedar sekolah tapi kita berangkat untuk belajar (menuntut ilmu).

Yang harus dipahami,

Menuntut Ilmu bukan hanya saat sekolah, tetapi dapat dilakukan sepanjang hayat kita.


Bagaimanakah dengan Strategi Belajarnya?

• Strategi belajar nya adalah dengan menggunakan Strategi Meninggikan Gunung bukan meratakan lembah.

Maksudnya adalah dengan menggali kesukaan, hobby, passion, kelebihan, dan kecintaan anak-anak kita terhadap hal2 yg mereka minati dan kita sebagai orangtuanya mensupportnya semaksimal mungkin.

Misalnya jika anak suka bola maka mendorongnya dengan memasukkannya pada club bola, maka dengan sendirinya anak akan melakukan proses belajar dengan gembira.


Sebaliknya jangan meratakan lembah.
yaitu dengan menutupi kekurangannya,

Misalnya apabila anak kita tidak pandai matematika justru kita berusaha menjadikannya untuk menjadi pandai matematika dengan menambah porsi belajar matematikanya lebih sering (memberi les misalnya).

Ini akan menjadikan anak menjadi semakin stress.

Jadi ketika yang kita dorong pada anak-anak kita adalah keunggulan / kelebihannya maka anak-anak kita akan melakukan proses belajar dengan gembira.

Orang tua tidak perlu lagi mengajar atau menyuruh-nyuruh anak untuk belajar akan tetapi anak akan belajar dan mengejar sendiri terhadap informasi yang ingin dia ketahui dan dapatkan. Inilah yang membuat anak belajar atas kemauan sendiri, hingga ia melakukannya dengan senang hati.

Happy. Source : pinterest


Bagaimanakah membuat anak menjadi anak yang suka belajar ?

Caranya adalah :
a. Mengetahui apa yang anak-anak mau / minati
b. Mengetahui tujuannya, cita-citanya
c. Mengetahui passionnya

Jika sudah mengerjakan itu semua maka anak kita akan meninggikan gunungnya dan akan melakukannya dengan senang hati.

 Good is not enough anymore we have to be different,  


Baik itu tidak cukup (karena orang baik itu banyak) tetapi kita juga harus punya nilai lebih (yang membedakan kita dengan orang lain).

Peran kita sebagai orang tua :
• Sebagai pemandu : usia 0-8 tahun.
• Sebagai teman bermain anak-anak kita : usia 9-16 tahun.
kalau tidak maka anak-anak akan menjauhi kita dan anak akan lebih dekat/percaya dengan temannya
• sebagai sahabat yang siap mendengarkan anak-anak kita : usia 17 tahun keatas.


Cara mengetahui passion anak adalah :
observasi ( pengamatan)
engage (terlibat)
watch and listen ( lihat dan dengarkan suara anak)

source : Pinterest


a. Perbanyak ragam kegiatan anak, olah raga, seni dan lain-lain.
b. Belajar untuk telaten mengamati, dengan melihat dan mencermati terhadap hal-hal yang disukai anak kita dan apakah konsisten dari waktu ke waktu.

Diajak diskusi tentang kesenangan anak, kalau memang suka maka kita dorong.


Cara mengolah kemampuan berfikir Anak dengan :


  • Melatih anak untuk belajar bertanya,
    Caranya: dengan menyusun pertanyaan sebanyak-banyaknya mengenai suatu obyek.
  • Belajar menuliskan hasil pengamatannya
  • Belajar untuk mencari alternatif solusi atas masalahnya
  • Presentasi yaitu mengungkapkan akan apa yang telah didapatkan/dipelajari
  • Sedangkan kemampuan berfikir pada balita bisa ditumbuhkan dengan aktif bertanya pada si anak.


Selamat praktek,
Salam Ibu Profesional,

/Septi Peni/





Sesi tanya jawab dengan para Ibu-Ibu pembelajar dala grup Matrikulasi.


1. Jadi lebih mengupas diri dan melatih masing masing anak ya..dan tidak bisa dengan waktu sebentar tapi bisa sepanjang masa..

Jawab :

Betul mbak Ina, karena anak-anak dan kita itu sebenarnya pembelajar sepanjang hayat, kalau ternyata tidak, berarti ada yang salah di prosesnya.


2. Ina-Balikpapan.
Bu Septi saat melepas ananda berjuang di negeri orang apa ada hal yang dikhawatirkan dan bagaimana mengatasi hal tersebut?

Jawab :

Ini proses belajar mbak. 
Ketika anak-anak saat memilih untuk kuliah di LN maka kami memperkuat materi pokok sebelumnya tentang iman, akhlak, adab dan bicara. 
Kemudian melatih kemandirian, melatih kuota gagal anak-anak, menstimulus kecerdasan finansial.


Hal ini yang kami utamakan. Jadi intinya adalah memperkuat "ketrampilan hidup" anak-anak. Setelah itu tinggal nguatin doa.



3.  Uput- Bandung.
Bu Septi, kalo menghadapi anak yang diesel gimana ya?
panasnya luamaaaaaa.....

Jawab :

Mulailah observasi, apa yang paling membuat dia bersemangat, kemudian libatkan diri kita dalam proses belajar bersama mereka,  jangan hanya menyuruh, tetapi memulai sebagai teman bermain. Selanjutnya, dengarkan suara anak, jangan terlalu banyak kasih perintah.


4. Dewi May- Bandung.
Bunda Septi....menstimulus kecerdasan finansial anak sejak usia berapa tahun?
Atau menjelang berangkat ke LN?

Jawab :

Ada tahapannya teh, sejak anak-anak sudah mengenal angka (sekitar usia 7-9 tahun) maka dikenalkan pada nilai mata uang.


Kemudian sekitar usia 9-12 tahun, dilatih dengan mengelola uang saku secara produktif, anak-anak sudah mengajukan mini budget.



Usia 12 tahun ke atas, mereka belajar mengelola uang secara produktif, uang saku sudah menjadi modal usaha anak-anak. Sampai akhirnya mereka siap mengelola uang dari hasil jerih payahnya sendiri di usia 14 tahun.




4. Laila Muhamad dib - Aceh

Bagaimana cara kita mengetahui passion si anak, jika sudah menelusuri dengan pengamatan, terlibat dan seterusnya? Kita selaku ortu merasa telah  menemukan yang "anakku banget", tapi masih ragu-ragu. Ini dibiarkan mengalir dulu atau langsung diarahkan....?
Takutnya ini hanya kesimpulan sementara.
Mengingat usia anak 6.6 tahun. Masih berubah-ubah kan ya kesenangannya?

Jawab :

Mbak laila, 
anak usia 2-7 tahun normalnya adalah selalu berubah-ubah keinginannya. 


Maka tugas kita adalah menemani perubahan itu dan bersungguh-sungguh menanggapinya, jangan disepelekan meski itu keinginan anak-anak yang kadang (masih dianggap kecil) sehingga tidak diperhatikan. 



FOKUS pada PROSES bukan pada hasil. 



Ketika kita menemani dengan sungguh sebuah proses menemukan passion, maka anak-anak akan paham, bagaimana cara merealisasikan sebuah keinginan menjadi realitas. Bidangnya boleh berganti-ganti. Nanti amati, apakah anak-anak konsisten dengan peran hidupnya atau bidang yang ditekuninya. Kedua hal ini akan berbeda perlakuan.



5. Evi Lampung.
Seperti saat ini, anak saya ( 4,5 tahun) bergairah sekali ketika bertanya dan bercerita tentang tata surya. Bagaimana ya bu tips nya, ketika kita ingin memperkenalkan yang lain sedangkan dia masih antusias dengan tema yang ini ?

Jawab :

Mbak Evi, 
kurikulum personal itu mengikuti anak, bukan anak yang diminta mengikuti kurikulum. 
Jadi ijinkanlah anak-anak mempelajari satu hal dengan mendalam, jangan khawatir ketinggalan materi yang lain, toh kita sudah tidak akan membandingkan pencapaian anak kita dengan anak orang lain kan?
Yakinlah bahwa sejatinya anak akan hidup dengan satu keahlian yang dikuasai secara mendalam.


6. Diah Soehadi - IIP Depok
Anak umur 9 tahun, dari kecil suka hal-hal logic math, saat ini suka bikin program komputer khususnya game, waktu luangnya habis untuk maen yoyo dan bikin game.
Apakah masih harus ditambah wawasan atau sudah mulai bisa masuk ke gagasan?

Jawab :

Mulailah masuk gagasan mbak, dengan memandu anak-anak membuat papan mimpinya (vision board). Setelah itu buatlah kegiatan brainstorming bersama anak. Dengan panduan pertanyaan :
a. Mengapa
b. Bagaimana Jika
c. Mengapa tidak


Nanti akan muncul berbagai gagasan anak-anak bisa dari yoyo nya atau dari gamenya. Kita harus pintar-pintar memaknai dimana waktu yang paling banyak dihabiskan oleh anak-anak sebagai waktu yang paling dinamis dan produktif belajar.


7. Diah -Depok.
Lanjut nanya ya bu.
Pernah saya tanyakan , mimpi-mimpinya apa aja?

Jawabannya, sekarang aku pengen bikin game yang ada trik yoyo nya, tapi kalo besar aku mau jadi walikota.

Jawab :

Tanggapi serius, mulai dengan "game yang ada trik yoyonya", jangan pernah tanyakan apapun, yang ada di depan kita saat ini, hadapi, toh kita juga tidak bisa memastikan kelak dia jadi gamers atau walikota kan? Maka perkuat prosesnya. 
Dulu ketika Ara usia 9 tahun bilang ingin jadi peternak, saya tanggapi dengan serius sampai muncul Moo's Project. tapi apakah hari ini dia jadi peternak, ternyata tidak, Peternakan itu ternyata hanya lantaran Ara memperkuat peran hidupnya sebagai integrator. Saat ini di usianya yang ke 18 tahun, Ara sangat mahir sebagai integrator, dalam berbagai bidang.


8. Noni - Tangerang.
Bu Septi... untuk mendidik anak kita menjadi generasi khalifatul fil ardh yang berkualitas.
Berarti kan anak harus  mendapatkan guru pendidik utama yang berkualitas pula. Yang artinya orangtuanyalah yang haruslah lebih dahulu berkualitas.

Apa katagorinya bahwa orangtua cukup berkualitas ilmunya dalam mendidik anak-anaknya...
dan seandainya orangtua belum berkualitas maka prosesnya "learning by doing" dalam proses learning by doing ini mana dulu yang harus diutamakan... mohon masukannya bu Septi.

Jawab :

Mbak Noni, 
anak-anak mungkin bisa salah memahami perkataan kita, tetapi mereka tidak pernah salah mengcopy. maka  berperilaku baik terlebih dahulu untuk bisa dicontoh anak-anak, itu modal awal kita menjadi orangtua yang berkualitas. 


Kemudian mau menemani anak berproses mencari ilmu, tidak harus serba bisa, tetapi selalu punya kemauan kuat untuk menemani, selayaknya petani menemani tumbuhnya tanaman dengan cara alami tidak digegas. 



Ingat dalam mendidik anak kita tidak mengajar melainkan 'tumbuh bersama'. 



Sehingga indikator orangtua berkualitas adalah diantara keduanya, anak dan ortu, bersemangat belajar bersama-sama. Pengalaman saya mendampingi anak-anak secara optimal itu ternyata hanya di 12 tahun pertamanya saja. 

Setelah itu anak-anak akan menemukan orangtua "ideologis" nya yang akan menjadi mentor mereka. Yang paling sedih adalah kalau kita hanya berfungsi menjadi orangtua 'biologis' saja, tidak sekaligus menjadi orangtua "ideologis"nya disaat mereka masih dibawah 12 tahun. Anak-anak akan berbeda value hidup dengan kita, sehingga proses berikutnya mereka akan mencari orangtua "ideologis" yang sevalue dengan dirinya, yang belum tentu sevalue dengan kita. Ini menyedihkan.



9.Evi -Lampung.
Jadi kurikulum personal itu dibuat berdasarkan keinginan anak. Cara nya bagaimana bu?
Apa kita tidak boleh ada target untuk iman, adab dan lain-lainnya?

Jawab :

Selama ini anak-anak dipaksa mengikuti kurikulum yang sudah baku, padahal kurikulum itu harusnya mengikuti karakter unik anak kita. 


Apa tidak boleh bikin target? Boleh. 

Target itu sesuaikan dengan value keluarga dan diskusikan dengan anak. Kalau saya dulu memberikan keleluasaan anak-anak untuk menentukan targetnya sendiri. Dan kita apresiasi ketika target tersebut tercapai, dengan family forum yang bernama mastermind. Kalau tidak tercapai, maka sebulan sekali kami buat family forum yang bernama "False Celebration", sehingga anak-anak akan belajar dari kesalahan mereka.




10. Ai IIP Bandung.
Usia 0-7 tahun, tugas kita sebagai pemandu, untuk pemandu kemandirian, OK.
Tapi saat bermain, kami (saya dan suami) lebih sering jadi teman bermain.
Bagaimana, apakah sudah tepat bu?

Jawab :


Teh Ai, pemandu itu bahasa kerennya adalah fasilitator, maka apa tugas fasilitator adalah menemani proses tumbuh kembang anak, tanpa menjudge apapun, kemudian memberikan makna dalam proses tersebut. Maka baik dalam proses memfasilitasi kemandirian maupun memfasilitasi bermain, semua dalam posisi "menemani" tidak ada yang "menggurui".





11. Fahrina - Singapore.
Bu Septi.. Apa yang sebaiknya dilakukan bila anak sdh 15 tahun dan belum yakin passionnya apa. Bagaimana caranya agar cepat tau passionnya.

Jawab :

Beragamkan aktivitasnya mbak, jangan seragam. Maksud saya seragam, anak-anak hanya berada di lingkungan yang sama terus menerus dengan aktivitas yang sejenis. 
Misal pagi-sore mereka sudah sekolah full day, kemudian hari libur masih diminta memperkuat bidang pelajarannya. hal ini membuat anak-anak kehilangan waktunya untuk mengeksplore dirinya. Sehingga proses menemukan dirinya akan jadi lambat. anak-anak akan jadi orang yang ikut mimpi orang lain, atau ikut arus saja, tanpa tahu potensi kekuatan dirinya.


                                             



NICE HOMEWORK #5
MATRIKULASI INSTITUT IBU PROFESIONAL  BATCH #1
BELAJAR BAGAIMANA CARANYA BELAJAR (Learn How to Learn)


Setelah kemarin kita mempelajari  tentang “Learn How to Learn”  maka kali ini kita akan mempraktekkan bagaimana diri kita sebagai Ibu pembelajar sejati, memahami tentang karakteristik belajar kita, sehingga kelak anda bisa memiliki panduan untuk melihat bagaimana anak anda belajar.

Beberapa hal yang perlu kita ketahui dalam proses belajar adalah
a. Diri Sendiri
b. Kemampuan dan gaya belajar anda
c. Proses yang berhasil anda gunakan dan dibutuhkan
d. Minat dan pengetahuan atas mata pelajaran yang diinginkan


PANDUAN BELAJAR UNTUK BELAJAR
Silakan amati proses belajar bunda saat ini ketika menjadi ibu, baik dalam mengikuti forum belajar di grup Ibu Profesional maupun di forum-forum belajar yang lain. Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini sebagai panduan:

TAHAP 1

Mulai dengan masa lalu.
Apakah pengalaman anda tentang cara belajar? Apakah anda . . .
🔹Senang membaca? memecahkan masalah? menghafalkan? bercerita? menterjemah? berpidato?
🔹Mengetahui cara meringkas?
🔹Tanya diri kita sendiri tentang apa yang kita pelajari?
🔹Apakah punya akses ke informasi dari banyak sumber?
🔹Menyukai ketenangan atau kelompok belajar?
🔹Memerlukan beberapa waktu belajar singkat atau satu yang panjang?
🔹Apa kebiasaan belajar anda? Bagaimana tersusunnya? Yang mana terbaik? terburuk?
🔹Bagaimana saya berkomunikasi untuk mendapatkan feedback system terhadap apa yang saya pelajari? Melalui ujian tertulis, naskah, atau wawancara?


TAHAP 2

Teruskan ke masa sekarang, ambil mata pelajaran dalam universitas kehidupan ini.
🔹Berminatkah anda?
🔹Berapa banyak waktu saya ingin gunakan untuk belajar?
🔹Apa yang bersaing dengan perhatian saya?
🔹Apakah keadaannya benar untuk meraih sukses?
🔹Apa yang bisa saya kontrol, dan apa yang di luar kontrol saya?
🔹Bisakah saya merubah kondisi ini menjadi sukses?
🔹Apa yang mempengaruhi minat anda terhadap pelajaran ini?
🔹Apakah saya punya rencana?
🔹Apakah rencana itu mempertimbangkan pengalaman dan gaya belajar anda?


TAHAP 3

Pertimbangkan Proses :
🔹Apa judulnya?
🔹Apa kunci kata yang menyolok?
🔹Apakah saya mengerti?
🔹Apakah yang telah saya ketahui?
🔹Apakah saya mengetahui pelajaran sejenis lainnya?
🔹Sumber-sumber dan informasi yang mana bisa membantu saya?
🔹Apakah saya mengandalkan satu sumber saja (contoh, buku)?
🔹Apakah saya perlu mencari sumber-sumber yang lain?
🔹Sewaktu saya belajar, apakah saya tanya diri sendiri jika saya mengerti?
🔹Sebaiknya saya mempercepat atau memperlambat?
🔹Jika saya tidak mengerti, apakah saya tanya kenapa?
🔹Apakah saya berhenti dan meringkas?
🔹Apakah saya berhenti dan bertanya jika ini logis?
🔹Apakah saya berhenti dan mengevaluasi (setuju/tidak setuju)?
🔹Apakah saya membutuhkan waktu untuk berpikir dan kembali lagi?
🔹Apakah saya perlu mendiskusi dengan "para pembelajar" lain untuk proses informasi lebih lanjut?
🔹Apakah saya perlu mencari "para ahli", guru atau pustakawan?



TAHAP 4

BUAT REVIEW
🔹Apakah kerjaan saya benar?
🔹Apakah bisa saya kerjakan lebih baik?
🔹Apakah rencana saya serupa dengan "diri sendiri"?
🔹Apakah saya memilih kondisi yang benar?
🔹Apakah saya meneruskannya; apakah saya disiplin pada diri sendiri?
🔹Apakah saya merasa sukses?
🔹Apakah saya merayakan kesuksesan ini?

Selamat memahami diri dalam proses belajar.

Salam Ibu Profesional.





Dimulai dari masa lalu yang saya rasakan ketika anak-anak adalah kegemaran saya menulis. Saya gemar membaca dan menulis ulang apa yang sudah saya baca. Hingga kala itu, saya merasa ingin menjadi penulis cerpen yang namanya kerap muncul di majalah langganan saya, Bobo.

Alhamdulillah,
minat membaca ini memang tidak serta merta tumbuh. Namun senantiasa dicontohkan oleh kedua orangtua dan kakak-kakak saya. Bapak yang tiap pagi membaca koran sebagai sarapan sehat untuk otak, hingga saat ini pun, yang menurut saya koran sudah bisa diakses online dengan piranti canggih dalam genggaman, Bapak tetap berlangganan koran kesayangan yang selalu diantar jam 6 pagi tepat. Bagaimana dengan Ibu?
Walaupun ibu saya ini tipikal Ibu rumah tangga sejati dengan segudang bakat keibuannya, yakni memasak, baking a cake, menjahit, menyulam, dan tak ketinggalan aktivitas spiritual yang rutin dilakukan bersama Ibu-Ibu pengajian di kompleks perumahan, Ibu pun gemar melahap majalah Kartini dan beberapa tabloid yang ada di rumah kala waktu senggang.
Memang tidak seperti Bapak yang mengkhususkan waktu untuk membaca, namun Ibu juga tak ingin ketinggalan dengan berita hariannya.

Berangkat dari situlah, saya gemar juga membaca apa yang Bapak atau Ibu baca. Karena tampak menarik. Namun karena kadang bahasanya terlalu berat (apalagi kalau bahasannya politik, banyak kosa kata yang saya tidak paham), akhirnya saya menyerah. Saya kembali lagi dengan bacaan yang sudah disediakan kedua orangtua dan buku cerita lungsuran kakak.

Kedua orangtua saya tidak pernah menolak apapun yang saya beli ketika kami berbelanja ke toko buku. Saya dibebaskan memilih. Saya penggemar jenis buku komik, namun saya merasa mubadzir mengoleksinya, jadi saya akali dengan tetap membaca komik namun dengan menyewa di tempat persewaan buku dekat rumah. Dan buku-buku yang saya koleksi adalah jenis novel.


source : pixabay


Cara belajar yang saya sukai adalah dengan menulis.
Namun sayang, dari dulu hingga kini kebiasaan saya tidak berubah. Saya suka sekali belajar dengan deadline. Istilah kerennya, SKS (Sistem Kebut Semalam).
Rasanya semua ide bisa tercurah dengan cepat ketika saya tahu bahwa ini ada batas waktunya.

Hasilnya bagaimana ketika saya bekerja dengan deadline?
Kadang saya merasa puas, namun seringkali pula saya merasa ada kekurangan di sana-sini. Atau malah tidak tuntas dalam pengerjaannya. Bisa jadi ada beberapa point yang tertinggal.

Karena jaman sekarang semua serba online, jadi kebiasaan menulis saya, saya pindahkan dengan menulis di Blog. Ternyata sangat mengasyikkan. Karena menulis ini membutuhkan konsentrasi yang tinggi untuk mendapatkan bahasa yang berasal dari kalbu, saya suka menulis saat anak-anak dan suami sudah lelap.
Dalam waktu malam yang syahdu.

Karena kekayaan kosa kata ketika menulis adalah dengan membaca, saya juga tak lupa banyak membaca buku yang sekiranya mendukung untuk tulisan saya. Atau memang sengaja mengambil buku yang sedang dibutuhkan jiwa.

Misal,
ketika saya sedang belajar dengan Ibu-Ibu IIP, baik di kelas Matrikulasi atau di kelas offline (Rumah Belajar), saya akan membaca buku yang berkaitan dengan tema yang akan dibahas. Ceritanya siih...biar gak kudet (kurang apdet) gituu...heehhe....



Dari dulu sampai sekarang, saya menyukai belajar kelompok. Keuntungan yang saya rasakan adalah ketika saya tidak paham, saya bisa langsung bisa penjelasan dari teman-teman yang ada. Ketika pulang ke rumah, saya hanya tinggal me-review apa sudah dipelajari tadi.

Sama seperti saat ini.
Ketika saya belajar di Universitas kehidupan bersama komunitas Institut Ibu Profesional, saya usahakan mengikuti kegiatan Rumah Belajar yang sekiranya sesuai dengan passion saya. Mengikutinya dengan rutin adalah cara saya mengumpulkan puzzle-puzzle materi dari Bunda Sayang.

Untuk jam belajar, saya selalu meluangkan waktu di malam hari untuk mengkaji dan memahami apa saja yang sudah saya baca di grup, terutama grup Matrikulasi.
Tak jarang, karena cara belajar saya adalah dengan menulis ulang, maka ilmu yang saya dapatkan tersebut, saya copy-paste khusus di word, kemudian saya atur kembali tata letak tulisannya hingga rapih dan enak untuk dinikmati.

Untuk menjadi sukses dalam pengaplikasian ilmu yang sudah dipelajari, tentu membutuhkan waktu. Sedikit demi sedikit seiring dengan berjalannya waktu, saya yakin - saya dapat sukses menjadi Ibu Profesional seperti dambaan keluarga.


Tahap akhir dari tugas kulwap NHW #5 ini adalah mempertimbangkan proses yang tengah saya jalani dengan memahami cara belajar saya yang "agak" lambat menurut orang lain, karena menggunakan cara menulis kembali. Bahkan saat ini, saat membaca sebuah buku pun, saya tulis ulang. Selain belajar membuat mindmapping, saya juga belajar untuk tidak menyia-nyiakan ilmu yang sudah saya baca.

Cara belajar jenis lain yang saya suka adalah auditori. Yaitu mendengarkan oranglain yang memberi materi, dan saya hanya tinggal mencatat point-point penting yang disampaikan. Kemudian saya tulis kembali di blog. Tak lain tujuannya adalah agar ilmu tersebut dapat saya baca (lagi) sewaktu-waktu.

Untuk memahami apa yang saya pelajari, saya gemar bertanya dengan ahlinya. Baik dari lingkungan saya terdekat (yang saya anggap ilmunya lebih umpuni) atau membuka diskusi dengan sesama teman. Menurut saya itu sangat efektif, karena melalui bertemu dan sharing dengan teman adalah salah satu cara saya mengevaluasi diri. Apa yang selama ini saya lakukan sudah benar atau masih harus diluruskan kembali.


Sekian cara belajar saya yang saya pahami hingga saat ini.

Terimakasih.


- tim fasilitator IIP - Bandung.

⁠⁠[18:55, 6/19/2016] IIP - Chika

You Might Also Like

6 comments:

  1. Halo mba lendy..
    Iiih rumah barunya baguuus banget.
    Aku baru buka via hp tapi bagus tampilannya..pinky2 so sweet :)

    Artikelnya as always lengkaaap :)
    Pr bgt yaa masalah belajar ini.
    Semoga anak2 kita jadi anak yg suka belajar & kita sebagai ortu bisa mengoptimalkan bakat & kesukaan si anak. Aamiin :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. DC,
      Haturnuhun uda bertamu.

      Template nya ada masukan ga, de..?


      Kaya ada yanv gimanaaa gt yaa...?

      Delete
  2. Ahaaa..ada pinky2 di sini..
    soft banget..

    postingannya puanjaang bgt, lengkap..
    Ya makasih sharingnya Mak, semoga anak2 makin semangat belajar juga!
    Mudah2an sebaga ortu juga bisa mengarahkan bakat anak :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebenernya ini materi di grup WA, teh Nchie.
      Karena menyalin sambil belajar lagi...jadilah beginii..

      Kalau memang materinya panjang, lebih baik dipisah gitukah teh...?

      Delete
  3. Komplit banget ulasannya teh.. Inspiring.. 😁👍 webnya seger teeh.. 😀🌸

    ReplyDelete