Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Kosongkan Gelas, Kenali (Lagi) Anak-Anakmu

Bismillah,

Hola sahabat lendyagasshi.
Memasuki era New Normal di masa pandemi begini, banyak hikmah yang bisa diambil. Salah satunya, bertebaran seminar parenting gratis.

Kok gratis?
Iya, di antara banyaknya seminar parenting, ada yang berbayar dan banyak pula yang memberikan secara gratis. Jadi tinggal kita pintar-pintar memilih mana ilmu yang benar-benar kita butuhkan untuk jiwa dan keluarga, mana yang tidak.

Related Post :

Kalau pun memang berbayar, pastikan lagi kalau ilmu tersebut aplikatif dan tidak sia-sia begitu saja.

Memangnya ada ilmu yang sia-sia?
Ada.
Ilmu yang gak kita baca atau bahkan gak kita amalkan, akan menjadi sia-sia, tentunya. Jadi, bagi yang belajarnya lebih senang mendengar dan hadir di dalam sebuah majelis ilmu, pastikan lagi, ilmu tersebut benar bermanfaat yaa..

Dan selalu ingat bahwa kita sedang mencari ilmu, jadi bawalah selalu gelas kosong alias pikiran yang jernih, tidak terdistrak teori parenting manapun dahulu. Sekiranya mau bertanya, adabnya adalah bertanya akan hal-hal yang benar kita tidak tahu, bukan hal yang sudah kita tau dan hanya untuk menguji jawaban dari sang guru (dalam hal ini pemateri).

Bahasa Kasih

Seminar parenting kali ini dibawakan oleh seorang psikolog dr. Aisah Dahlan, CHt.
Ketua Assosiasi Rehabilitasi Sosial Narkoba Indonesia
Pembina Unit Narkoba RS. Bhayangkara Sespimma Polri, Jakarta
Ketua Yayasan Penanggulangan Narkoba, SAHABAT REKAN SEBAYA, Jakarta

Judul : Mengenal Lebih Dalam Anak-Anakku


Apa yang kita sering lakukan kepada anak-anak saat mereka kerap tidak menurut?
Disuruh ngerjain PR, gak mau.
Disuruh belajar, susah.
Diminta beresin mainan, nanti dulu.


Kayanya, apa yang kita inginkan selalu bertolak belakang dengan apa yang dilakukan anak-anak. Kalau sudah begitu, biasanya orangtua mengeluarkan 12 gaya populer : memerintah, menyalahkan, meremehkan, membandingkan, melabeli, mengancam, menasehati, membohongi. menghibur, mengkritik, menyindir, dan menganalisa.

Bahasa Kasih

Apa Penyebab Anak Berlaku Tidak Semestinya?

Di dalam otak manusia terdapat otak reptil (batang otak) dan otak mamalia (system limbik) yang bertugas melindungi seluruh tubuh dari ancaman yang datang dari luar. Sehingga jika ada ancaman dari luar, otak secara otomatis akan merespon agar tubuh dapat bereaksi seketika.

Otak reptil dan system limbik ini akan bereaksi positif jika lingkungan di luar dirinya memberi respon positif. Jika ia merasa aman berada di lingkungan tersebut maka tidak hanya tubuhnya yang mau dan senang berada disitu tetapi dirinya pun siap dan senang untuk menerima saran serta nasehat dan bahkan menjalankannya dengan mudah.


Bagaimana Membuat Otak Reptil dan Sistem Limbik Bereaksi Positif?

Dengan menerapkan bahasa cinta/ bahasa kasih yang tepat kepada setiap anak. Hal ini akan membawa dampak kepada sang anak untuk percaya kepada orangtuanya dan lingkungannya. Ia akan merasa aman, nyaman dan dilindungi, karena otak reptil dan sistem limbik di otak anak merespon
dengan positif, kemudian sang anak akan mudah menerima masukan dan nasehat.


Apa itu Bahasa Cinta/ Bahasa Kasih?

Adalah bahasa yang digunakan seseorang untuk mengungkapkan rasa cinta dan kasih di dalam dirinya. Bahasa ini digunakan untuk mengkomunikasikan kebutuhan psikologis dalam diri seseorang.

Bentuk bahasa cinta :
💜Kata-kata pendukung (pujian)
💛Saat-saat mengesankan (waktu)
💙Sentuhan fisik
💗Pelayanan
💝Menerima hadiah


Dan uniknya, setiap anak tidak sama bahasa cinta yang dibutuhkan. Untuk memahami bahasa cinta masing-masing anak, selain mendampingi kesehariannya, bisa juga kita ajak bermain permainan yang sederhana sebagai berikut :

Bayangkan kita ada di sebuah panggung yang terdiri dari artis, sutradara, penulis skenario dan penonton. Kira-kira, sang anak jika disuruh memilih keempat profesi tersebut, profesi apakah yang akan ia ambil?

Bahasa Kasih
Source : ppt Ibu dr. Aisah Dahlan, CHt

Setelah anak memilih, pahami bahwa mereka memilih pilihan yang sesuai dengan kepribadiannya. Jika memilih profesi artis, maka sang anak memiliki kepribadian sanguinis dimana ia selalu merasa gembira. Bila memilih profesi sutradara, ia seorang koleris yang suka mengatur segalanya sesuai dengan hasratnya. Bila sang anak memilih penulis skenario, berarti ia seorang pemikir, yang mana tidak membutuhkan perhatian banyak orang untuk merasa dirinya diakui, namun ia berhasrat untuk membuat segala sesuatunya sempurna. Ketidak sempurnaan baginya adalah sebuah tekanan yang luar biasa. Sedangkan memilih menjadi penonton adalah seorang anak yang damai, tidak suka berkonflik, merupakan ciri anak dengan kepribadian plegmatis.

Dari masing-masing kepribadian ini, dapat disimpulkan bahwa pemenuhan kebutuhan bahasa kasih sayangnya pun berbeda-beda. 

Bahasa Kasih
Source ppt Ibu dr. Aisah Dahlan, CHt

Anak-anak tipe sanguin membutuhkan kata-kata yang mendukung, sedangkan koleris membutuhkan pelayanan dari orangtua dan lingkungannya. Sedangkan yang anaknya tipe melankolis, ia akan sangat bahagia sekali bila mendapatkan waktu untuk membersamainya dan hadiah bila apa yang dilakukan berhasil dengan baik. Untuk anak plegmatis yang cenderung damai, paling suka bila dipeluk dan diusap kepala atau diberikan sentuhan fisik semacam itu dari orangtuanya.


Contoh Bahasa Kasih :

Kata-kata yang Mendukung 

 Kata-kata yang mendukung, bisa berupa :
🎕Pujian
🎕Dukungan
🎕Keberpihakan

Anak-anak dengan kebutuhan kasih sayang kata-kata yang mendukung, biasanya senang memuji, merayu orang tua, dan mengapresiasi (mengucapkan terima kasih, mengucapkan rasa senang).
Bisa melalui bahasa lisan maupun bahasa tubuh.

Bila orang tua melihat hal ini ada pada anak, maka lakukanlah bahasa cinta yang, yaitu dengan memberi bahasa kasih/bahasa cinta seperti :
Ibu setuju dengan ucapanmu.
Nak, kamu cantik deh.
Kamu gagah ya nak.
Alhamdulillah, kamu rajin sekali, kamu shalat segera setelah adzan ya.
Bunda baru tahu, bacaan Qur’anmu bagus sekali.
Wah.. Ayah suka sekali dengan karyamu.


Orang tua harus jeli terhadap anak-anak anak yang mengungkapkan bahasa cintanya dengan cara yang berbeda bahkan terbalik. Seperti contohnya :
Suka mengejek dan menjelekan orang lain

Hal itu disebabkan karena kebiasaan buruk orang tua yang sering melakukan jalan pintas, yaitu memarahi anak. Sehingga anak pun meniru dengan suka mengejek dan menjelekkan. Yang ini mereka pahami bahwa dengan mengejek, maka ia ingin akan mendapat pujian dan dukungan.

Sehingga orangtua disini perlu memberitahukan bahwa mengejek dan menjelekkan orang lain itu tidak baik. Namun, yang perlu diperhatikan adalah saat kita menyampaikan nasehat tersebut, harus dengan terlebih dahulu memberikan kata-kata mendukung seperti, “Fulan, Ayah sayang sama kamu, kamu anak laki-laki yang baik. Ayah senang kalau kamu menyayangi adek, ayah sedih kalau kamu mengejek adekmu ya..

Bahasa Kasih


Sentuhan Fisik

Yang dimaksud dengan sentuhan fisik adalah anak senang :
🎕 Dipeluk
🎕 Dicium
🎕 Dirangkul
🎕 Diusap rambutnya
🎕 Dicolek pipinya

Dan apapun yang menunjukkan rasa kasihnya dengan sentuhan. Biasanya anak-anak dengan kebutuhan seperti ini menunjukannya dengan sering memeluk, mencium, mencolek orang tua, kakak, atau adiknya atau keluarga lainnya. 

Untuk itu orangtua harus jeli memperhatikannya. Dan orang tua pun juga harus memberikan bahasa kasih yang serupa.

Anak – anak yang mengungkapkan bahasa cinta sentuhan fisik dengan cara terbalik :
Suka mencubit
Mengigit
Memukul

Jika orang tua mengambil jalan pintas dengan cara memarahi atau membalas memukul, maka hal ini akan berlanjut hingga dewasa dan mereka bisa melakukan kekerasan dalam rumah tangga. Karena
itulah cara yang ia anggap untuk menunjukkan kasih sayang yang sebenarnya. Jika anak suka memukul adik atau temannya, katakanlah bahwa kita tidak suka jika ia memukul temannya atau adiknya. Katakan hal tersebut sambil merangkul atau mengusap – usap kepalanya. Ini akan membuat kebutuhan psikologisnya terpenuhi.

Bahasa Kasih

Sentuhan fisik “khusus” bisa juga dilakukan bagi para orangtua untuk anak-anaknya. misalnya :
💌 Pelukan dengan menggelitik
💌 Ciuman yang berbunyi suara kucing / kuda / bebek
💌 Belain yang berdesis.

Sentuhan khusus ini memiliki ciri khas dan hanya orang tua dan anak yang mengetahuinya.



Waktu yang berkualitas

Anak-anak dengan kecenderungan bahasa kasih waktu yang berkualitas, menunjukan dengan cara :
💟Suka mendampingi orang tuanya dalam melakukan sesuatu.
misalnya ketika menonton tv, merapikan barang barang atau membaca koran. Sang anak akan duduk di sebelah orang tua dan hanya duduk dan terkadang sesekali bertanya.

Kebutuhan anak-anak seperti ini akan terpenuhi jika :
🪐Orang tua mengajak dia pergi
🪐 Melakukan sesuatu bersama yang lucu dan menarik

Sehingga, waktu akan menjadi sangat terkesan dan tak terlupakan.

Beberapa anak yang menunjukan dengan cara yang berbeda yaitu :
💔Senang menyendiri
Untuk itu, beri waktu bersama anak dengan melakukan kegiatan bersama-sama apa yang dia sukai.

Related Post :


Hadiah

Anak-anak dengan kecenderungan bahasa kasih seperti ini akan menunjukan dengan cara :
🧧 Suka memberi sesuatu
🧧 Suka mengumpulkan sesuatu

Kebutuhan psikologisnya adalah hadiah. Namun, ada juga anak yang menunjukan cara berbeda atau terbalik :
💢Pelit
💢Tidak mau berbagi

Orang tua perlu memberi nasehat pada anak tersebut sambil memberikan hadiah, misalnya :
Ibu sayang sama kamu, ini hadiah untuk kamu.
Kamu lihat kan... setiap orang yang suka berbagi, akan banyak teman. Mulai besok, coba bermain bersama teman-temanmu yaa...

Bahasa Kasih

Pelayanan

Anak tipe pelayanan ini senang sekali :
🙋Membantu teman, adik, kakak, dan orang tuanya
🙋Dia sigap sekali
🙋Dan senang bila orang tua melayani dan membantunya tanpa dia minta


Namun ada beberapa anak yang melakukannya dengan cara berbeda yaitu :
💢Meminta dilayani secara kasar
💢Menjadi bossy
💢Sering melakukan bullying kepada adik maupun temannya

Tentunya orang tua perlu memberikan Bahasa kasih pelayanan ini pada anak tersebut. Tanpa diduga dan tanpa diminta kita melayani dia, dengan mengatakan :
Bunda senang membantu kamu. Kamu senang kan... Bunda bantu?
Nah, setiap orang harus saling bantu tetapi tidak boleh dengan cara memaksa.
Kita memintanya dengan baik. Jika dia tidak mau maka kita tidak boleh memaksanya ya sayang.

Bahasa Kasih

Tema 2 ODOP ISB :
Mengapa penting mengosongkan gelas pada saat belajar sesuatu pada oranglain


With love,

64 comments for "Kosongkan Gelas, Kenali (Lagi) Anak-Anakmu"

  1. Topik seminar yang sangat menarik dan bermanfaat ini, terimakasih sudah membagikan disini, jadi saya juga bisa belajar lagi.

    Saya kadang masih mengancam anak-anak kalau nggak mau ngikuti kemauan saya. Baca tulisan ini berulangkali saya menghela nafas, istighfar ingat perlakuan saya sama anak-anak

    ReplyDelete
  2. Ah iya, setiap anak punya bahasa kasihnya masing masing ya teh

    ReplyDelete
  3. Dr Aisah Dahlan favorit akuu! Makasi yaaaa udah meringkas isi webinar bareng beliau. SUPER DUPER PENTING untuk ortu jaman now, supaya makin cihuy mendidik anak!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah bener iniii..
      Cuzz makin cihuuuy mendidik anak kitaah.

      Delete
  4. Ilmu parenting tuh emang selalu harus di update ya teh, akupun masih suka nyari kelas parenting tentang pengasuhan anak paling penting deh. Banyak juga pola asuh yang aku adaptasi dari ngikutin acara parenting.

    ReplyDelete
  5. Benar juga ya, kita manusia membawa otak reptil dari sananya. Untungnya kita juga memiliki otak yang merespon bahasa jadi lah kita homo sapiens seperti sekarang. Yang kalau mau hidup rukun dan damai serta bahagia, harus mengedepankan bahasa cinta

    ReplyDelete
  6. aku bookmark mbak..aku mau baca ulang. secara msh sering menerapkan 12 gaya populer itu hahaha. tengkiu mak lendy

    ReplyDelete
  7. Belakangan aku ngerasa harus kenalan lagi juga sama anak...Kayaknya gemes banget sama kelakuannya belakangan...makasih ya mba jadi update gimana sifat anak sekarang

    ReplyDelete
  8. Otak reptil ya, noted. Jadi kalau kita refleks melindungi diri itu berkat instruksi si otak reptil, Masyaallah daging pisan ini ilmunya Teh, tfs ya ikutan dpt insight deh jadinya

    ReplyDelete
  9. bahasa tubuh dan bahasa fisik ortu harus yang baik dan lembut ke anak ya terutama saat bicara

    ReplyDelete
  10. Ahhh, aku bahas bahasa kasih juga dari sisi aku, ntar kalo dah pas tak publish.
    Btw , bener banget len, selalu mengosongkan gelas disetiap kita mengikuti seminar/workshop apapun, biar keserep ilmunyaa.
    Suka banget bahasa tubuh, kalo anakku tipe sentuhan, ahh makin seru pokonya kalo mempraktekan ilmu parenting ini, selalu belajar terus menjadi orang tua.

    ReplyDelete
  11. anakku tipe yang senang sekali bersentuhan teh, suka dipeluk dan memeluk, suka mencium dan di cium :) makanya skrg sudah SD saya mulai ajarkan ga boleh peluk dan cium sembarangan lagi hehee biasanya dia suka gitu sama temen2 dan guru2nya

    ReplyDelete
  12. Bener kalau ikut webinar atau apapun bentuk majelis ilmu itu kita mesti kosongkan gelas. Lalu praktikkan ilmu yang kita dapatkan di kehidupan.
    Dan tentang kenali anak-anak ini memang ya harus terus kita lakukan. Jangan sampai karakter anak sendiri ga kita kenali. Dan masing-masing anak beda karakternya. Kayak anakku dua, beda banget..sehingga berbeda juga cara pendekatannya. nice sharing, Kak Lendy!

    ReplyDelete
  13. Pembagian tipe bahasa kasihnya saya ndak tepat dengan yang di atas. Untuk bahasa kasih, saya lebih ke motivasi ... saya gak nyaman dengan sentuhan tapi untuk karakter saya plegmatis-melankolis.

    ReplyDelete
  14. Huwooo makasi sharing-nya ya Kak.
    Mantab nian nih. Beneran bisa jd ilmu parenting penuh gizi buat kita semua

    ReplyDelete
  15. Wah, lendy gak cuma jago bikin postingan tentang Drakor nih tapi juga mengenai GELAS KOSONG, hehe...memang seharusnya begitu so ilmu yang diserap jadi full. Zaman bunda muda, wkwk...dan seusia lendy mana ada seminar/webinar parenting-parentingan -- apapun, plek ketiplek dari ide sendiri. Keren euy pengetahuan Lendy, gelasnya penuh trus dituangkeun di sini. Manfaat buat yang baca. Yahud.

    ReplyDelete
  16. Menjadi orang tua memang harus siap belajar seumur hidup. Bahkan ketika anak sudah menikah pun, orang tua mungkin akan terus belajar. Jadi memang harus selalu kosongkan gelas untuk menerima berbagai ilmu parenting

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setiap fase juga akan ada momen-momen yang bikin narik napas panjang. Makanya harus siap belajar terus

      Delete
  17. Aku belajar bgt ini mbak mengenai penanganan kita terhadap anak-anak. Karena anak-anak memiliki mesin kecerdasan yang berbeda. Penanganannya juga gak sama, Anak kedua lebih cenderung menggunakan cerita, lebih mengena dibandingkan dengan ajakan dan suruhan karena karakter dia feeling ekstrovert, sedangkan anak pertama thinking introvert jadi harus didorong dan diberikan motivasi serta reward.

    ReplyDelete
  18. Saya nggak banyak ikut webinar atau kulwapp mnak karena sebelumnya sudah ikut 2 kelas tema parenting. Intinya si jadi ortu itu never stop learning ya

    ReplyDelete
  19. Waktunya mengosongkan gelas dan instropeksi diri. Kayaknya anakku ini model model artis gitu hahaha.. jadi pengen pelukin anakku meski udah sering dilakukan, merasa bersalah karena kebanyakan marah karena sikapnya yang artis, lompat sana sini hikz...

    ReplyDelete
  20. bagus banget teh tulisannya, izin save ya teh, dan akupun beneran lagi butuh banget belajar lagi buat membimbing anak2ku yang karakternya sungguh beda2

    ReplyDelete
  21. Terima kasih, Teh..bergizi sekali sharing kali ini. Meski tak lagi ada anak2 di rumah, tapi ini jadi pengetahuan penting juga bagi kami..

    ReplyDelete
  22. Sebagai orang tua rasanya yg paling tahu akan kondisi anak sendiri. Tapi ternyata banyak hal yg justru belum saya lakukan nih... Terimakasih banyak ya ilmunya...

    ReplyDelete
  23. rasanya sekarang memang penting untuk upgrade ilmu parenting, jadi bagaimana mempunyai cinta untuk anak jg bukan hanya pada sikap namun bagaimana mengkomunikasikannya agar anak nggak merasa hanya punya tuntutan saja :3

    ReplyDelete
  24. Webinar yang sungguh bergizi ini. Kalau bukan kita orangtua, siapa lagi yang akan mengerti anak-anaknya ya. Makasih sudah meringkaskannya mba Lendy, semoga banyak orangtua yg membaca tulisan ini.

    ReplyDelete
  25. Bahasa Kasih anak pertamaku tipe sentuhan fisik Mom sejak kecil emang suka dibelai, dipeluk, dicium gitu. Kalaupun mau marahin atau negor nggak bisa dikasarin. Harus diajak duduk, dikasih tau dan dijelasin. Nah yang kedua lebih ke waktu-waktu yang berkesan. Dia seneng banget diajak jalan-jalan, nonton film bareng, main gim bareng gitu. hehe.. emang beda anak beda karakter ya. Harus pinter-pinter kitanya memperlakukan

    ReplyDelete
  26. Belajar tentang parenting memang kudu mengosongkan gelas di kepala ya biar semua ilmu bisa terserap dengan baik.

    ReplyDelete
  27. Topiknya menarik, makasih sudah sharing, Mbak. Dr. Aisah Dahlan ini salah satu pemateri favorit aku, apalagi kalau sudah ngomongin tentang neuro parenting. Meski kesannya susah karena tentang otak tapi gampang dipahami dan aplikatif.

    ReplyDelete
  28. Membangun kominakasi sama anak kalau sudah terjalin sejak dini akan lebih mudah ya teh... Lbih bnyak mendengar.. kalau ilmu parenting itu selalu saja nambah setiap hatinya

    ReplyDelete
  29. Bahasa kasih tiap anak memang beda-beda ya meskipun dalam satu keluarga, gak bisa disamakan. Orang tua memang harus terus belajar, cara pendampingan anak saat masih kecil sudah berbeda dengan saat anak sudah remaja.

    ReplyDelete
  30. Menarik ini mba Lendy.Aku share yaa

    ReplyDelete
  31. subhanallah, artikelnya bermanfaat banget, Lendy, aku masih sumbu pendek nih, apalagi dengan PJJ saat ini, bikin darting padahal memang sebagai ortu kurang memahami anak ya

    ReplyDelete
  32. Lengkap sekali, Lend.. aku suka aku suka dapat ilmu baru bagaimana mengasihi anak2 berdasar 4 karaktee anak. Aku bintang dulu, dibaca2 ulang nanti.

    ReplyDelete
  33. Wuih, bergizi banget ini tulisannya. Banyak jleb-jlwb deh. Aku jadi mikir yang aku lakukan ke anak-anakku. Kalo dilihat, 4 anakku tipe anak yang beda-beda. Dan iya, perlakuan ke mereka jadinya berbeda-beda juga. Izin save ya. Aku kepengen baca pelan-pelan. Semoga bisa menerapkannya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Izin save gambarnya juga. Aku kepengen simulasi peran itu ke semua anak-anakku. Kepengen tahu, seperti apa sih karakter anak-anakku. Aku sendiri, kalo dulu kayaknya lebih suka jadi sutradara. Tapi sekarang, lebih suka jadi penonton. Bisa ya ternyata kepribadian begini berubah.

      Delete
  34. Baru sekali aku datang ke kajian aisah dahlan, bahasan tentang komunikasi dalam rumah tangga

    ReplyDelete
  35. Jadi belajar lagi nih dari tulisan Teh Lendy, sungguh aku jadi malu dengan ilmu parentingku saat ini, masih banyak PR untuk mendidik anak-anak

    ReplyDelete
  36. indeed we need to keep learning and have new moves for children, my three children have different styles and methods so the mother has to be smart and have lots of tactics

    ReplyDelete
  37. Ayooo aemangat selalu ya .. mwmang di masa new normal ini banyak penyesuaian

    ReplyDelete
  38. Anak aku tipe sanguinis melankolis deh.. Bahasa kasihnya itu lebih berasa kalau dg semangat dukungan n diberi hadiah. Tp balik lagi ke emaknya. Kalau kebahagiaan emaknya lg krisis kadang bahasa kasihnya pun jd abstrak. Hihi

    ReplyDelete
  39. Makasih sharingnya Kak. Aku selalu memarahi anakku yang sulung, ketika dia menggigit, memukul. Soalnya diingetin kadang bijin senewen.

    ReplyDelete
  40. Kata-kata pujian, menyemangati dan membrikan motivasi memang sangat positif saat diterapkan pada percakapan sehari-hari. Anak kita jadi terdorong bersikap baik, bijak dan empati.

    ReplyDelete
  41. Mba Lendyyy terima kasih banget... Jadi belajar banyak hal. Apallagi Trio Biza karakter masingn-masing anak beda-beda. Dalam satu waktu jadi belajar untuk mencoba memahami mereka lebih dalam. Yup benar, harus berani mengosongkan gelas biar bisa mendampingi tumbuh kembang anak-anak dengan baik ya...

    ReplyDelete
  42. Bagi saya ilmu parenting itu penting sekali, bekal untuk pengasuhan anak-anak. Meskipun anak saya udah besar, tapi tetap butuh ilmu pengasuhan

    ReplyDelete
  43. Wah banyak banget ilmu parenting yang ditulis dalam artikel ini. Perlu dibaca lagi deh besok-besok. Biar aku bisa memahami anak-anak dan mendidik mereka dengan benar :)

    ReplyDelete
  44. Dengan menerapkan bahasa cinta/ bahasa kasih yang tepat, kita bisa menjalin komunikasi yang baik dengan anak - anak ya mbaaa

    ReplyDelete
  45. Berarti saya melankolis ini karena Pemikir banget dan bahasa kasihnya selalu ngasih kado
    Hmm, kalau anak saya sepertinya jauh dari Melankolis

    ReplyDelete
  46. Setuju Teh long life education, jadi belajar terus dengan belajar terus jadi tahu kalau masih banyak yg belum kita tahu..

    ReplyDelete
  47. mbaaak Len makasih banyak. Ini lengkap banget summary-nya. Udah ku catat ini. hoho
    banyak contoh kalimat positif juga nih yang bisa diterapkan ke anak.

    ReplyDelete
  48. Hihihi bener banget, sentuhan khusus itu biasanya bersifat khas dan hanya ortu dan anak yang tau.bbahkan aku dan suami aja punya khas sentuhan berbeda ke anak

    ReplyDelete
  49. Gak ada bosannya recharge ilmu ya supaya bisa selalu di jalur yang benar apalagi ini untuk perkembangan anak-anak juga. Aku maulah dikasih hadiah :-D

    ReplyDelete
  50. Suka baca tulisan ini jadi nambah insight karena ternyata banyak yang tidak diketahui.. Thanks ya say

    ReplyDelete
  51. Thank you mbak. Belakangan aku ngrasa anak2 yang bertambah besar udh memiliki ide dan pendapatnya sendiri sehingga kdng susah mengkomunikasikan apa yang kita harapkan ke anak2 hahaha. Kudu ada pendekatan2 khusus yaaa.
    Emang yaa namanya jd ortu itu sekolahnya seumur hidup :D
    TFS

    ReplyDelete
  52. Setelah belajar tentang menarik tapi tidak tertarik, saya jadi selektif dalam menjemput ilmu Mbak. Berat saat mengamalkannya kalau asal masuk kelas saja. Akhirnya saya belajar menentukan prioritas.
    Tapi memang, yang ini kok belum jadi prioritas padahal akan dimintai pertanggungjawaban...
    Makasih diingatkan,Mbak

    ReplyDelete
  53. Seru banget ikut webinar yang temanya sedang kita butuhkan ya Mbak. Dan Mbak bagus sekali menulisnya kembali sebagai catatan blog sehingga orang lain yang tidak mengikuti acaranya dapat mendapatkan ilmunya. Asupan parentingnya bagus, saya menghighlight bagian saat anak suka menyendiri karena ini problem anak remaja banget

    ReplyDelete
  54. semakin tumbuh dan berkembang maka anak akan memiliki perkembangan psikologis yang semakin matang dan berkembang. Orang tua perlu banget untuk ikutan memahaminya

    ReplyDelete
  55. Ngadepin anak emang mesti punya stok sabar berlimpah ya, apalagi anak senengnya membantah

    ReplyDelete
  56. Wah iya aku sering juga tuh pake jurus 12 M hiks jadi merasa beraalah sama anak sendiri kan

    ReplyDelete
  57. Makasih sharingnya yaa mbak Lendy. Saya jadi belajar banyak gimana cara menghadapi anak-anak dari postingan ini. Apalagi dua putri kecil saya di rumah emang lagi butuhbutuhnya dikasih perhatian :)

    ReplyDelete
  58. Keliatannya anak pertamaku suka bgt dimintain tolong. Dia jg rajin menyapu, clean up mainannya, nyuapin adiknya dll. Baru ngeh stlh baca postingan tth ini. Nuhun ya teh

    ReplyDelete
  59. Aku suka caramu mendidik anak-anak Eoni, salah satu idolaku dalam mendidik. Membebaskan mereka berekspresi tapi tetap mendampingi untuk mengenali apa yang mereka mau

    ReplyDelete
  60. Eoni bantu aku nentuin aku masuk watak yang mana caranya gimana?
    pengen tahu dan lebih mengenali diriku eheheh

    ReplyDelete
  61. Penting banget untuk belajar upgrade cara mendidik anak, thanks banget mbak atas ilmunya, berguna banget terutama untuk kami yang baru punya 1 anak dan terkadang bingung mau bersikap seperti apa untuk mendidik anak.

    ReplyDelete

Berlangganan via Email