Stress Management in New Normal

Bismillah,

Kehidupan New Normal akhir-akhir sering digaungkan yaa...
Dan sungguh, banyak sekali kesalahpahaman makna dari New Normal ini. Ada yang menyambutnya dengan jalan-jalan keluar rumah tanpa protokol kesehatan yang sudah diberikan (masker), ada yang sudah nongkrong di cafe-cafe, ada yang mendatangi tempat-tempat ramai untuk berkumpul (pasar kaget, pasar belanja, mall), dan ada banyak macam lain perilaku orang saat menyambut kehidupan yang disebut dengan New Normal oleh Pemerintah ini.

Stress Management in New Normal


Jadi, apakah New Normal itu?

New Normal adalah perubahan sikap atau perilaku dalam menjalani kehidupan sehari-hari namun masih dengan menerapkan protokol kesehatan yang sudah diatur agar mencegah tertularnya virus Covid-19.

Artikel serupa :

Meski sekarang Pemerintah daerah sudah sebagian besar membuka PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) untuk masing-masing daerahnya, tapi karena di Bandung sendiri, khususnya, masih diperpanjang, jadi semua orang harus tetap waspada. Dan kecemasan saat keluar rumah?

Nah ini yang perlu diwaspai.

Cemas adalah hal yang wajar, namun bila berlebihan, maka akan berbahaya. Sama seperti jenis emosi yang lain seperti marah, sedih, kecewa, takut dan hal-hal lain yang bisa membuat kita tidak produktif karenanya.

Stres :

Adalah sebuah keadaan di mana badan meresponnya dengan tegang dan ini secara tidak sadar memengaruhi proses berpikir, keadaan emosi, dan kondisi seseorang.

Penyebab stres disebut stressor.
Mengenali hal-hal yang bisa menyebabkan stres ini penting banget loo... Karena kalau kita tahu dimana salahnya, maka memberi treatmentnya pun menjadi lebih mudah.

Misalnya
Aku suka marah.

Kenapa?
Karena anak-anak belajarnya harus disuruh-suruh dulu...baru mau.

Nah ini bukan jalan keluar, karena normally, anak-anak memang membutuhkan dorongan. Cari penyebab lain yang ada dalam diri kita sendiri. Misal, aku akan mudah marah bila tidak cukup waktu untuk beristirahat.

Badan yang lelah dan lingkungan yang tidak sesuai dengan harapan, ini bisa menjadi stressor atau pemicu stres.


Dan tubuh manusia ini sudah dibuat sedemikian canggihnya oleh Allah, sehingga bila merasakan ada hal yang membuat tidak nyaman, tubuh pun meninggalkan sinyal tertentu.

Seperti ciri-ciri berikut ini :

Sinyal sederhana seperti :
Psikologis : Cemas, khawatir, mudah marah, selera makan meningkat atau menurut.
Fisiologis : Pegal-pegal (otot tegang), susah tidur (insomnia), sakit kepala


Jangan diabaikan yaa...
Dan setelah mendapat bimbingan dari coach Fauziah Zulfitri atau lebih akrab disapa dengan coach Ochi dari Insight Group Indonesia, maka kami diberi bimbingan bagaimana cara mengenali stres, stressor hingga mendapatkan jawaban untuk menghadapi stres bila hal ini melanda.







"Pakai dulu masker oksigen Anda, baru menolong orang lain" adalah pesan keselamatan standar yang selalu disampaikan pramugari kepada penumpang pesawat. Jaga dulu emosi dan wellbeing Anda, baru kemudian Anda dapat menolong orang lain. Salah satu faktor untuk memperoleh keseimbangan wellbeing, adalah dengan mengelola stress. Dan menjadi semakin penting terutama di masa ini, ketika perubahan terjadi dengan sangat cepat. Di sesi Group Coaching INSIGHT Indonesia - Stress Management for Your Wellbeing, Anda akan difasilitasi untuk membangun self awareness dan menemukan cara untuk mengelola stress untuk mencapai keseimbangan emosi dan wellbeing Anda. Dengan fasilitator Ibu Fauziah Zulfitri, beserta para professional Coach yang juga adalah Associate Coach INSIGHT Indonesia : Yenny Ramli, Fransiska Amir, dan Jihan Afandi. Catat tanggalnya : Jumat, 12 Juni 2020 Pukul 09.30 s.d. 11.30 WITA Segera registrasikan diri Anda dengan cara Scan QR Code atau klik https://s.id/IOSgc1 #terusbergerak #growwithinsight #insightonlinesolutions #insightgroupid #trainingonline #coaching #coachindonesia #groupcoaching #stress #stressmanagement
A post shared by Insight Indonesia (@insightgroupid) on

Ada beberapa level stres seperti yang digambarkan dalam grafik berikut :

Gak selamanya stres itu buruk. Ketika kita mendapatkan pelampiasan yang sesuai (bahasa psikolognya adalah coping stres), maka bisa jadi pelampiasan yang baik dan membuat kita makin produktif.

Lhoo kok bisa?

Iya, bisa loo...
Ketika stres sedang melanda, kita bisa alihkan dengan hal-hal yang kita senangi. Misalnya : membersihkan kamar mandi, merapihkan rumah atau sekedar berolahraga dan berjalan-jalan. Coping stres yang mengarah ke sesuatu yang baik ini disebut coping stres adaptif.

Sedangkan lawannya, coping stres maladaptif, biasanya dilampiaskan dengan makan, marah, atau malah yang merugikan orang lain, seperti menyakiti orang yang ada di sekitar kita.
**naudzubillahi min dzalik yaa...

Ide sederhana coping stres, bisa dicari di pinterest yaa...
Tapi aku yakin, setiap diri kita sudah paham betul apa yang diinginkan dan disukai, sehingga coping stres yang dilakukan pun menjadi adaptif.

Cara kita menghadapi stres ini didukung oleh 3 faktor, yaitu :

Disposisional
Berdasarkan karakter, kecerdasan emosional, coping stres.

Situasional
Tuntutan dan dukungan dari lingkungan dan hubungannya dengan orang lain.

Sosial
Kondisi dan budaya masyarakat, kondisi makro.


Dengan adanya ketiga faktor ini, kemungkinan, ketegangan akan semakin berkurang dan stres segera teratasi.

Setelah mendapat materi mengenai stress management, kami masuk dalam kelompok-kelompok kecil untuk saling berdiskusi dan curhat tipis-tipis, hehehe...

Kelompok Breaktrough Room Bimbingan kak Chika Fransiska Amir :

Kak Dawiah (Makassar)
Kak Fillyawi (Makassar)
Kak Khaerunnisa (Makassar)
Kak Firly Wahyuningtyas (Jakarta)
lendyagasshi (Bandung)



Di kelompok ini, kami disajikan beberapa pertanyaan dan diberikan waktu untuk sesi curhat. Ternyata dengan menceritakan apa yang kita rasakan, itu juga bisa menjadi ajang stress release yang melegakan loo..

Pertanyaan yang diberikan sederhana, yaitu :

1. Hal apa yang menyebabkan diri kita stres?
2. Hal apa yang bisa membuat kita release dari stres?
3. Ceritakan, apa yang dipelajari ketika menghadapi stres?
4. Komitmen apa yang dilakukan untuk menghadapi stres?


Kesimpulan dari diskusi kami :

Coping stres yang terbaik adalah mengembalikan kembali kepada Allah serta mencari hikmah dari kejadian yang terjadi dan kita hadapi saat itu.


Kita semua mengalami hal yang sama di masa-masa pandemi begini.
Ada rasa stres, jenuh, bosan dan emosi negatif selama dirumahaja. Tapi kembali lagi, keluarga kita, ya hanya kitalah yang menjaga. Jadi selalu ingat dengan protokol kebersihan yang sudah ditetapkan Pemerintah selama ini.


Senantiasa bersyukur atas apa yang terjadi.
Semoga dengan rasa syukur, kebahagiaan akan kita rasakan.


Tetap sabar dan tawakkal.
Jangan lupa untuk menyerahkan seluruh masalah yang kita hadapi kepada Allah.


Jangan abaikan sinyal yang hadir di dalam diri.
Walau yang dirasa adalah sebuah emosi negatif. Tetap akui bahwa tubuh sedang membutuhkan perhatian, mental sedang dalam kondisi tidak baik dan mengalami stres, fokus pada jalan keluar karena hanya diri kita yang bisa mengobati diri sendiri.


Alihkan stres ke hal-hal positif.
Karena energi dari emosi negatif ini besar dan bisa dimanfaatkan untuk semakin produktif.


Jangan curhat di medsos.
Punya masalah lalu cuthat di medsos? Sepertinya ini fenomena yang banyak terjadi, tidak hanya di kalangan perempuan, bahkan lakipun ada yang curhat di media sosial mengenai masalahnya.
Yang didapat apa?
80% orang tidak peduli dan 20% nya lagi akan menjadi boomerang bagi dirinya sendiri.



View this post on Instagram

A post shared by Insight Indonesia (@insightgroupid) on

Seru yah...belajar bersama Insight Indonesia dibimbing oleh coach yang sudah berpengalaman sekaligus curhat dan berdiskusi bersama sesama sahabat blogger. Tertarik untuk mengikuti coching yang sama, bisa banget, dengan menghubungi :

📞 082260070003
🌐 insightgroup.co.id

IG :
@insightgroupid


Jadi,
Siapkah kita mengahdapi New Normal di masa pandemi yang belum berakhir ini?
Kekhawatiran terbesar apa yang sahabat lendyagasshi alami?



With love,






Foot note :
Sumber dan Referensi Survey: CHDC PPM Management, 2020

53 comments

  1. walaupun sudah ada pembebasan aku tetap cemas juga nih. Setelah 3 bulan di rumah kemarin akhirnya ke rumah ortu bismillah., tapi ke tempat lainnya masih aku tunda dulu sementara ini masih takut soalnya

    ReplyDelete
  2. Kalau baca status-status lama di fb saya, jadi heran sendiri. Kok bisa ya dulu curhat di medsos? Haha..

    Sekarang udah ga lagi. Makin tua harus makin berhati-hati.

    ReplyDelete
  3. Saat marah atau stress, kadang aku berpikir ingin mengeluarkan hal yang membuat aku marah.
    Misal yg buat aku marah adalah si A, si A itu harus paham bahwa dia buat aku marah, agar dia gak ngulangin hal itu lagi.

    ReplyDelete
  4. Gak mau bohong bahwa aku juga mengalami stres di masa kaya gini dan jadi gampang marah. Tapi sebisa mungkin mengaturnya agar terkontrol. Soal new normal, di sekitarku juga gitu. Jadi aku sendiri deh yang berusaha buat perlindungan

    ReplyDelete
  5. Nonton drakor juga adalah salah satu cara ampuh untuk melepaskan stress ya teh :)

    ReplyDelete
  6. street itu emang harus banget dikendalikan yaaa, masa masa kaya gini pasti banyak banget yang stress jugaa, kalo aku nonton drakor cukup mengobati rasa stress hehehe

    ReplyDelete
  7. Terima kasih sudah merangkum hasil diskusinya, sehingga kami bisa ikut belajar juga hehe.. Sayangnya infografis ya tidak tampil utuh ya..hehe..

    ReplyDelete
  8. Wah, thanks for share ya mba. Jd ada insight baru. Aku udh ga stress ttg new normal untuk apa yg biasa aku lakuin.

    Nah yg mungkin aja bs bkn stress lg kalau perjalanan jauh naik transportasi umum. Uhhh ga kebayang gmn rempongnya ya wkwkkwkw.

    ReplyDelete
  9. La Tahzan, innallahama'ana..saya yakin banget dengan itu. Kalaupun ngalami stress, itu manusiawi, saya kira. Yang penting tetep stress yang wajar, bukan distress.

    Sebenernya yang bikin ribet di era Covid 19 ini adalah protokol sehabis bepergian. Sampai rumah harus semprot-semprot semua barang yang dipakai, termasuk dompet dan uang. musti langsung ganti baju, dsb. Kecuali cuci tangan dan kaki karena itu sudah biasa dilakukan sebelum Covid menyerang.

    Asli, protokol itu yang bikin males ke mana - mana. Saya jadi mager di rumah karena kalo mau keluar harus ribet pake masker, pake jaket khusus keluar rumah. Sampe rumah, harus bongkar2 yang dibawa, semprot2, dll. Bahkan meski dari warung sayur deket rumah. Betapa merepotkan si covid ini. Duh, ini sepertinya ekspresi stress ya,Mbak? hahaha..

    ReplyDelete
  10. Seru banget materinya dan langsung praktek juga ya cara mengelola stres, sebenarnya stres seperti ini tidak hanya di masa pandemi tapi mungkin di masa pandemi akan meningkat ya, saya pun masih sulit mengatur emosi karena tekanan-tekanan lingkungan yang bikin stres, kadsng tekanan dari ortu, eh pas anak bertingkah, jadi meledaknya ke anak, ya Allah, kurang eling nih banyak lost-nya, makasih ya Lendi sharingnya, moga saya bisa ikut jejak Lendi bisa mengelola stres dengan lebih baik

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saat pandemi kayak gini emang rentan stress ya, kondisi ekonomi juga sedang lesu, mudah-mudahan kita semua bisa menghadapi dan melewati masa sulit ini dengan baik

      Delete
  11. Alhamdulillah saya jarang banget stress sebetulnya bagi orang yang beriman mah ga perlu setress asal berusaha dekat kepada Sang Maha Pencipta ya teh... insya Allah tenang selalu kan janji Allah SWT ingatlah padaKu niscaya hatimu tenang...hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga kita semua bisa terhindar dari stress ini ya Teh karena kalau sdh stress semua di sekitar kita akan kena imbasnya terlebih bagi kita para emaks nih hehe....

      Delete
  12. seru banget deh diskusinya, sayang waktunya mepet ya mba jadi ngga sempet sharing banyak hal, tapi ilmunya bermanfaat banget. minimal bisa mengatasi stress untuk diri sendiri.

    ReplyDelete
  13. Stress itu ada banyak level dan tingkatan juga ternyata ya. Salah satu yg bisa melonggarkan rasa penat dan beban dalam diri saya juga salah satunya dengan edisi curhat hehehe. Dengan bercerita, rasa plong itu nyata. Meski belum tentu bisa menyelesaikan masalah yg sebenarnya sih ya...

    ReplyDelete
  14. Keren postingannya! sangat mudah dicerna dan dipahami..

    ReplyDelete
  15. Banyak-banyak muhasabah diri ya Mbak jadinya.. mencari sebab di diri dan mengembalikan semuanya pada Allah.. masya Allah..
    Semoga kita menjadi bagian dari orang-orang yang pandai bersyukur, berbahagia, dan enggak stress..

    ReplyDelete
  16. Manajemen stress perlu banget untuk di saat seperti ini. Supaya bisa tetap hidup seimbang dan sehat. Perlu juga lebih aware soal sinyal.

    ReplyDelete
  17. memang masa pandemi ini banyak masalah yang kita hadapi yaaa...dan stress management memang perlu bangeet

    ReplyDelete
    Replies
    1. I think the important thing is we need to gather ourselves and keep the positivity. Everyone is struggling although it might be different from one another. And have some help from others is also good

      Delete
  18. Pengin bisa dapet dampak positif dari stres, misal nih misaaalll... jadi ga doyan makan gitu. Kan lumayan ya mengurangi asupan kalori dalam keseharian :)

    ReplyDelete
  19. Huhuhu sayangnya aku ga ikutin
    Padahal lagi butuh banget buat kontrol stress di era pandemi ini
    Ada ada aja persoalan

    ReplyDelete
  20. Stuju banget Mbak, jika sedang gak mood atau stres, hindari buka sosmed agar tidak tergoda untuk curhat. Curhat di medsos, tidak akan mendapat solusi yang dibutuhkan, malah bisa menimbulkan banyak bias

    ReplyDelete
  21. Udh setahun ini aku sempet stress Ama kerjaan kantor mba. Masalah prinsip yg udh ga sesuai Ama hati, trus management atas mulai bikin target yg jauh beda Ama skill. Awalnya aku coba utk adaptasi, belajar hal baru lah.. tp setahun, dicoba kok ya ngerasa ini ga berhasil. Aku makin stress, dan performance malah kacau. Dan setelah aku identify apa penyebabnya bisa begini, ya udh solusi yg aku ambil, quit dari kantor. Toh kalo dipaksa malah ga bagus utk akunya, juga kasian perusahaan kalo ttp menggaji karyawan yg kerjanya udh ga pake hati :p.

    Memang hrs bisa sih ngenalin dulu apa penyebab stress kita, baru cari solusinya.

    ReplyDelete
  22. iya aku streesss dirumah trus jadi gemuk hahaha

    ReplyDelete
  23. Stres bikin ibuku sakit karena byk pikiran, ya corona, ya usaha yg terhenti, dan boring di rumah. Meski ikhlas, tetap aja ya mungkin beban jg

    ReplyDelete
  24. Sebenarnya yang bikin stress itu karena kebijakan yang berubah-ubah. Baru kebijakan ini mau dijalankan tertib, udah ganti kebijakan baru dimana itu bertolak belakang dengan kebijakan yang awal.
    Namun apa pun itu semoga semuanya kembali seperti sedia kala, biar aman selalu

    ReplyDelete
  25. Jangan mengabaikan sinyal! Betuuul. Aku sejak di rumah aja malah jadi makin aware ke kesehatan mental, Alhamdulillah malah jadi ada waktu untuk memetakan perasaan2 atau emosi, termasuk salah satunya stres management juga. Misal stres krn badan capek, dulu biasanya aku nguat2in skrg ganti istirahat malah jadi senang :D

    ReplyDelete
  26. Kekhawatiran terbesar saya untuk pandemi ini mungkin adalah tidak bisa bayar uang sekolah anak. Mudah-mudahan pandemi segera berlalu dan nafkah keluarga kami menjadi lebih lancar.

    ReplyDelete
  27. Iya mak wajar kalau merasa cemas tapi jangan berlebihan ya dan tetap di rumah saja, pandemi masih menggila..lebih baik santuy di rumah dulu..peluuuk..

    ReplyDelete
  28. Nice post! Sangat salut dengan apa yang telah dilakukan.. Tetap Semangat..

    ReplyDelete
  29. Allhamdulillah keren banget ini kelas stress managementnya mba Lend
    aku mau ikutan tapi pas sinyalku buruk jadi ggagal Alhamdulillah di share olehmu bagaiamana menghadapi keadaan stress. Semangat kita.

    ReplyDelete
  30. Memasuki new normal ini saya malah jadi stress. Padahal 3 bulan PSBB rasanya lumayan tenang. Ya mungkin karena melihat banyak masyarakat yang justru kayak euforia dan tanpa protokol kesehatan

    ReplyDelete
  31. masyaallah! mantap artikelnya mbak, faedah banget!

    ReplyDelete
  32. Aku masih blum berani ke mana-mana, Mba
    Udaaahhh pokoke cukup ke Indomaret aja, beli sembako.
    Trus cuss pulang :D

    ReplyDelete
  33. aku kmrn seminggu stres berat teh karena disuruh perusahaan rapid test :( padahal aku phobia jarum dan darah huhuhuu alhasil sering marah2 dan ga bisa tidur

    ReplyDelete
  34. Memang kebanyakan kata "stress" selalu mengarah ke hal negatif, ternyata gak semuanya negatif ya.. Semuanya, kembalikan kepada Allah.. Suka banget. Oh ya.. curhat di Medsos emang bukan solusi wkwkkw.. pelarian aja, kadang saya juga kepengen gitu nuis di medsos, tapi solusinya adalah saya privat, kan sama aja curhat di medsos, bedanya, nggak ada yang baca kecuali diri sendiri. cukup puas sih. :D

    ReplyDelete
  35. Aku sih siap siap aja..
    Karena sudah paham untuk tetap jaga protokol kesehatan, tapi aku kuatir anak anak yg blm bisa siap menghadapi new normal ini

    ReplyDelete
  36. Senang sekali bisa ikutan coaching ini. Jadi tau cara mengelola stress sec bijak

    ReplyDelete
  37. Stress itu pasti ya. Selama di rumah saja aktifitasny itu-itu mulu. Orang yang ditemui dia lagi dia lagi. Kalau saya berusaha tidak berpikiran sempit dan meluaskan hati. Tiap ada yang menjengkelkan biarin aja, tapi bukan berarti gak peduli ya. Kebanyakan peduli memicu bibir jadi cerewet hehe

    ReplyDelete
  38. kalo aku teh, kalo lagi stress maunya ngomong. jadi biasanya, aku bilang ke suami, aku mau ngomong, mau marah, dengerin aja. abis itu plong, dan suami juga cuma dengerin doang, udah paham banget kalo istrinya lagi buang sampah hehehe

    ReplyDelete
  39. Wah ini related bgt mba, bahkan gak pandemi pun kita bisa kok ngalamin stress, plus emotional management penting juga tuh. Mau dong mba info kalo ada kaya gini lagi sesinya.

    ReplyDelete
  40. Benar bu, gak selamanya stress itu buruk, sesuatu yang negatif juga dapat membawa kebaikan jika kita kita menyadarinya dan berupaya memgalihkannya ke arah yang lebih positif. Alhamdulillah kelas-kelas seperti ini sangat membantu dalam mengenali gejala stress hingga menghadapinya.

    ReplyDelete
  41. Aku juga gampang stress orange, jadi gak ngaruh dengan afanya pandmei saat ini, karena mang kurang pandai menej pikiran, masih terus diusahakan.

    ReplyDelete
  42. Rasa cemas yang menumpuk bisa bikin stress ya, aku amati kadang aku marah sama anak itu alasan awalnya karena cemas, cemas menumpuk jadinya malah marah, khwatir jadi stress juga

    ReplyDelete
  43. Masya Allah, ini kelasnya bagus banget sampai ada diskusi kelompok juga ya jadi pembahasan lebih mendalam
    kalau aku stress biasanya lari ke makan enak tapi di saat pandemi gini kudu irit juga.

    ReplyDelete
  44. Seru banget kelasnya ya, dapet banyak insight baru.Selama ini kata stress kan memang identik dgn negatif ya mbak, ternyata ada istilah yg positif juga. Suka kesimpulannya, semuanya hrs dikembalikan pada Allah SWT

    ReplyDelete
  45. Aku baru sadar mbak kalau stress itu bisa kita balikkan sehingga dilawan atau dibuat menyenangkan seperti membersihkan rumah dan sebagainya. Pantas kalau stress aku banyak makan mbak, sama enggak ya maksudnya hehe.

    ReplyDelete
  46. Alhamdulillah kalau saya tidak stress menjalani masa pandemi ini, eh ada deh stress pas mengajarkan anak hehehe tapi insyaAllah masih terus bersyukur dan sabar

    ReplyDelete
  47. Aku setuju banget bagian "apa yang bisa kita kontrol" dan "apa yang tidak" karena itu berpengaruh pada perilaku kita berikutnya. daripada stres pusing untuk hal-hal di luar kendali (spt org2 yang ga patuh protokol kesehatan) lebih baik kita fokus hidup bersih dan sehat (di rumah, cuci tangan, pakai masker, dll) itu lebih bisa ngontrol sih buatku

    ReplyDelete
  48. stress management jadi pekerjaan rumah pisan
    Para istri yang mengalami stress umumnya karena ngga dipahami keluarganya
    Dianggap baik baik aja ngurusin rumah tangga sendirian
    Padahal sebagai mahluk social dia juga perlu ketemu teman temannya, kerabatnya

    ReplyDelete
  49. jika sudah mau muncul strees aku coba mundur dari posisiku sambil melihat diriku, lalu bersyukur karena masih di beri sehat. Btw aku pernah loh stress dan bersihin kamar mandi sampe mengkilat hehe. Emang kalo stress perlu dibawa ke hal + aja ya teh :))

    ReplyDelete
  50. Wah bener banget kak. Aku kalau stres juga bawaannya makan banyak & gelisah. Sekarang emang kudu pinter kelola stress ya biar badan lebih sehat & bahagia setiap saat.

    ReplyDelete