Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget Atas Posting

Dealing With Bargaining Child

Bismillah,

Hola sahabat lendyagasshi.
Kembali lagi di blog lendyagasshi yang kali ini, aku mau bahas mengenai pengasuhan untuk anak-anak usia sekolah, dimana mereka sudah mulai memiliki sifat bargaining atau tawar-menawar.

Tawar-menawar ini adalah salah satu cara anak-anak untuk mempertahankan apa yang mereka yakini dan bagi orangtua adalah sebuah penolakan. Karena seringkali, komunikasi orangtua yang terburu-buru (tipikal orangtua generasi millenials) dan santainya anak-anak zaman sekarang saat menghadapi masalah.


Sejujurnya,

Aku sedang mengalami hal ini. Anak keduaku, Hana, seringkali bargain ketika diminta melakukan sesuatu, meskipun itu adalah untuk kebaikannya sendiri. Misalnya, waktunya mandi. Si anak bargain tidak akan mudah mengatakan "Iya". Mereka akan selalu memberikan penawaran seperti "Mah...satu film lagi yaa..." atau "Mah, 25 menit lagi yaa...".

Anak-anak yang gemar bargain seperti ini tentu memiliki treatment khusus untuk mengkomunikasikan apa yang kita inginkan dan apa yang mereka inginkan. Dan jangan lupa bahwa anak bargain tidak bisa dipaksa. Mereka akan cenderung malah mogok sama sekali kalau dipaksa melakukan hal yang tidak mereka inginkan.

Jadi,
Bagaimana menghadapi si anak bargaining ini, parents?


morinaga-chil-go-untuk-si-bargaining-child

Strategi Untuk Menghadapi Bargaining Kids

Bangun Bonding

Sebagai orangtua, tentu membangun bonding ini harus terus dilakukan, Tidak hanya ketika anak balita, tapi juga ketika mereka tumbuh memasuki tahapan-tahapan dalam kehidupan mereka. Ciri anak bargain ini sudah tampak ketika masih kecil. Belum tentu mudah menangis kalau tidak dituruti, tapi tipikal anak bargain akan berkemauan keras untuk barang atau sesuatu yang diinginkan.

Tips : Dengan bernegosiasi atau membuat kesepakatan, memiliki anak bargain ini menyenangkan sekali. Mereka akan dengan mudah menuruti apa yang orangtua inginkan. Misalnya ketika mereka menginginkan sebuah mainan. Si anak bargaining akan menawar dengan "Kalau aku dibelikan mainan itu, aku akan rajin sholat."

Pegang janji mereka dan si anak bargain akan menurut. Kuncinya satu, bargaining child akan selalu membutuhkan dialog yang panjang untuk sebuah kesepakatan, sehingga bonding bersama orangtua harus selalu dijaga.

How To Dealing With Bargaining Child

Berikan Pilihan

Anak-anak bargaining ini senang sekali bila diberi pilihan, bukan diperintah untuk melakukan sesuatu apalagi harus sekarang juga. Kalau bahasa Jawanya, sak det sak nyet. Pilihannya pun harus logis. Misalnya, "Adek, mandi 5 menit lagi atau sehabis nonton video pendek ini yaa.."

Tips : Karena anak-anak bargain selalu bisa menimbang untung-rugi untuk dirinya, sehingga bila pilihannya dirasa tidak menguntungkannya, maka negosiasi akan gagal.


Memulai Hari Lebih Awal

Pentingnya rutinitas bangun pagi bagi anak adalah membangun pola kebiasaan (habit) juga mempersiapkan mood sang anak. Karena mereka tidak bisa diburu-buru dan harus menggunakan komunikasi aktif, maka harus selalu memulai sebuah hal dengan spare waktu yang cukup. Apabila tergesa-gesa, maka komunikasi orangtua akan menjaditidak efektif dan bisa jadi yang keluar adalah kata-kata ancaman.

Tips : Awali hari dengan senyuman dan menyapa anak untuk bangun pagi. Ajari selalu anak melakukan rutinitas ibadah, sarapan pagi lalu berolahraga. Karena dengan berolahraga ini membuat anak sehat dan mudah fokus di aktivitas berikutnya.


Hindari Stres

Ketika tawar-menawar dengan sang anak tentu kadang ada masa-masa alot, dimana kita belum bisa menemukan titik temu yang pas. Ketika hal ini terjadi, baik orangtua maupun anak hindari stres. Mungkin memang membutuhkan waktu sejenak. Kalau pun harus segera diputuskan, hargai pendapat sang anak.

Morinaga Chil Go Membantu Anak Berpikir dan Memutuskan Sesuatu

Tips : Menghadapi bargaining child ini bukan masalah menang atau kalah, tapi yang diutamakan adalah tercapainya tujuan akhir yang diinginkan. Jangan sampai ketika tawar-menawar dengan sang anak dan berakhir pada kalimat "Terserah kamu deh...". Dengan mengeluarkan kalimat ini, tandanya kita sebagai orangtua telah melakukan yang namanya Lazy Parenting atau pengasuhan yang malas.

Alih-alih membiarkan anak melakukan sesuatu yang mereka inginkan, kita sebagai orangtua bisa kok mengarahkan mereka mencapai apa yang kita inginkan dan apa yang anak-anak inginkan. Namun syaratnya, orangtua tidak boleh tersulut emosi. Harus tetap kontrol. Kalau tidak bisa, coba sejenak ambil napas dan bersikap tenang, atau lakukan hal lain dahulu.


Beri Kejutan Spesial

Ingat yaa...orang dewasa saja senang sekali jika diberi kejutan atau reward, apalagi anak kecil. Isi tangki cinta mereka sesuai dengan bahasa cinta yang dibutuhkan sang anak. Tak selalu harus berupa barang yang mahal, tapi bisa juga dengan kata-kata pujian, pelukan atau usapan di kepala.

Untuk mendukung tumbuh kembang sang anak dalam masa pertumbuhan, perlu sekali memberikan asupan nutrisi yang seimbang. Setelah memasakkan menu sehat saat bulan Ramadan seperti ini, perlu juga niih...mengembalikan energi anak setelah seharian berpuasa dengan konsumsi Morinaga Chil Go di saat sahur dan berbuka. 

Morinaga Chil Go Susu Pertumbuhan Untuk Anak 6-12 tahun

Tips : Bedakan antara kejutan dan reward. Reward adalah penhargaan yang kita berikan ketika anak berhasil melakukan sesuatu. Itu berarti ada kesepakatan di awal. Ketika mereka bisa melakukan hal ini, maka akan mendapatkan hadiah. Nmaun kejutan adalah sesuatu yang spontan kita berikan saat anak melakukan kebaikan. Ini bisa dilakukan ketika orangtua terbiasa menggunakan positif parenting kepada anak.


Gunakan Apa yang Menjadi Kesenangan Mereka

Ini seperti saat mengisi tangki cinta sang anak. Anak-anak yang terisi penuh tangki cintanya, maka akan dengan mudah memberikan jawaban atas tawaran yang kita berikan. Berikut tangki cinta masing-masing anak berdasarkan karakter mereka.

Tangki Cinta Anak : Morinaga Chil Go

Tips : Mengisi tangki cinta initidak hanya berlaku kepada anak, tapi juga pasangan. Ketika dirasakan kurangnya komunikasi, maka itu berarti waktunya mengisi tangki-tangki cinta yang kosong dengan bahasa yang sesuai.


Orangtua Harus Kompak dan Konsisten

Terakhir, pengasuhan kepada anak-anak bargaining child ini dibutuhkan kekompakan kedua orangtua dan konsisten. Konsisten menerapkan sebuah peraturan di rumah. Yang sulit adalah ketika di rumah tidak hanya bersama kedua orangtua (keluarga inti), namun juga ada kakek dan nenek. Ini membutuhkan komunikasi dan negosiasi yang berbeda lagi.

Tips : Ingat, bahwa anak-anak usia 6-12 tahun adalah masa pertumbuhan otak lobus parietal dan temporal yang artinya mereka mulai bisa berpikir logis dan sudah mampu bertanggung jawab atas apa yang mereka lakukan dan putuskan. Masa-masa ini mereka akan tumbuh dengan kemampuan berbahasa yang baik. Yang perlu dilakukan adalah selalu menghargai keputusan sang anak dan tidak judgement. Validasi apa yang mereka rasakan untuk mengetahui lagi emosi apa yang sedang mereka rasakan ketika terjadi hal seperti ini atau itu.

Morinaga Chil Go Bantu anak berkembang dengan baik


Tidak ada yang namanya anak nakal. Yang ada adalah kita belum bertemu pola komunikasi yang tepat untuk memenuhi hasrat mereka. Anak-anak adalah pribadi yang ingin diakui dan dihargai, maka sebagai orangtua, kita tidak boleh merusaknya dengan pengasuhan yang salah.

Semoga kita semua bisa menjadi orangtua yang baik dan mengantarkan anak-anak siap menghadapi zamannya. Ayo, bantu tumbuh kembang mereka dengan memenuhi nutrisi menggunakan produk terbaik dari Morinaga. 


Semangat, Moms and Dads.


With love,



33 comments for "Dealing With Bargaining Child"

  1. Daku seriingg bgt lazy parenting sist😰😰😰
    Semoga daku bs tobat dan menerapkan kiat d artikel ini. Makasiii yak

    ReplyDelete
  2. Aku suka nih sama kalimat, tidak ada anak nakal, yang ada adalah kita belum bertemu pola komunikasi yang baik dengan anak-anak.

    Si bargain ini, aku juga punya 1 di rumah, wkwkk.

    Ya gitu deh, kudu sabar juga, soalnya semua ditawar ama dia.

    ReplyDelete
  3. Maasyaaallah, aku masih sangat belajar menjadi orangtua yang baik menurut anakku. Kami berdua sama-sama belajar

    ReplyDelete
  4. Artikel ini bernas dan nampooll banget
    Terwajib dibaca oleh para ortu jaman now
    makasi sharing-nya ya

    ReplyDelete
  5. reminder bener postingan ini, bargaining child makin menjadi saat anak makin bertambah usia, mesti ekstra sabar dan bijak menghadapinya. Setuju jika tidak ada anak nakal yang ada belum deal komunikasi yang memenuhi hasrat anak dan orangtua

    ReplyDelete
  6. Iya nih aku sempat menyesaaaalllll sampe ke ubun ubun,
    dulu waktu anak anak kecil aku kok parenting nya parah banget.. hiks hiks

    Rasanya ingin deh mengulang masa emas anak anak ini *berbeling beling matanya

    ReplyDelete
  7. Harus ada kekompakan antara suami dan istri juga ya dalam parenting.
    Duluuu aku kompak waktu anak masih kecil dan sekolah SD, udah gede jadi ga kompak dah hahhaaa.
    Suka banget sama istilah anak bargaining ini, jadi punya pilihan dengan konsekwen yang dia tawarkan sendiri.

    ReplyDelete
  8. Anak2 bargaining ini menuntut orangtuanya agar lebih kreatif dan cerdas dalam mendidik mereka ya. Keaktifan mereka membutuhkan lebih dari sekadar kesabaran untuk membersamainya.

    ReplyDelete
  9. Parenthood adalah pembelajaran sepanjang masa ya, aku pun masih terus belajar seiring tumbuh kembang Anak-anakku. Makasih maak sharingnya jlebb banget, semoga aku dapat menjadi Orangtua terbaik versi Anakku. Amiiin

    ReplyDelete
  10. waduh makjleb teh pas part saat lakukan bargaining jangan sampe bilang terserah huuhuu karena ini masuk lazy parenting :(

    ReplyDelete
  11. Kereeen teh lendy..
    anakku dua-duanya tipe bargaining deh.
    dan tips di tulisan ini sangat faedaaaah :)
    Thank you so much

    ReplyDelete
  12. anak-anakku kayaknya type bargaining kids semua deh, tp memang mungkin efek cara komunikasi kami juga sih. mostly banyak hal dibicarakan untuk diambil kesepakatan bersama dan enggak satu arah, makanya jd ada proses bargaining juga. satu sisi menurutku bagus2 aja walopun suka kesel ih nawar mulu! iyain aja kek apa kata ibuknya heheh

    ReplyDelete
  13. Kalau saya menghadapi anak tipe bargaining tak balikin misal mereka minta jajan saya bilang aja nanti ya pas lebaran..terus kan mereka protes ya saya balikin habis kamu kalau disuruh suka nawar juga hehehe..akhirnya mereka ga pernah nawar lagi kalau disuruh

    ReplyDelete
  14. Ana-anak saya juga begini. Malah terkadang sampai sekarang. Ya memang untuk beberapa hal, orang tua gak bisa saklek. Harus selalu diturutin. Terkadang ada bagusnya juga tawar-menawar begini

    ReplyDelete
  15. Anakku tipe yang kayak gini nih. Dari mulai 4 tahun udah ngajak nego mulu dia. Mulai dari urusan pilih baju, pilih makan, atur jadwal harus kompromi dulu biar win-win solution. Hahaha. Kadang alot sih nego nya tapi sekarang udah makin kebiasa kita.

    ReplyDelete
  16. Ya ampunn anak2 mengarah ke sini. Sepertinya ak harus konsisten nih semangat parenting lagi. Baca artikel ini kayak diingetin untuk belajar jadi orangtua yang sigap ya.

    ReplyDelete
  17. ohh aku baru tahu istilah bergaining kids ini teh
    dan sepertinya dua anakku juga begini, kudu pintar pintar cari cara ya teh
    makasih sudah menulis tips ini

    ReplyDelete
  18. Anak keduaku juga jago bargaining, selalu punya teknik yang bikin ortunya klepek2, wkwk. Emak bapaknya kudu nebelin pertahanan biar nggak tergoda dengan rayuannya :D :D

    Ngomongin Morinaga, anak temenku setelah ngrasain produknya Morinaga, dibeliin merk lain nggak mau dong, hehe.

    ReplyDelete
  19. Rasanya setiap anak akan mengalami masa bergaining ini. Bisa jadi positif jika ortu bisa menstimulus dengan baik.
    beberapa anak ada yang sangat bergaining dan tips ini perlu dibaca ulang agar tahu cara hadapi, stimulasi dan jadikan bekal masa depan

    ReplyDelete
  20. Membacaartikel ini serasa diri ini penuh dosa-dosa dalam mendidik anak. Beruntung, keduanya tumbuh menjadi anak-anak baik (versi emaknya). Mandiri, dan tidak pernah merepotkan orang tua. Selamat siang, ananda Lend.

    ReplyDelete
  21. Kalo lagi sadar aku biasanya stay cool kalo bocah udah mulai ngeles2 (2.5 tahun udah bisa ngeles2 yaa TT). Kalo lagi sumbu pendek kadang pen banget mengeluarkan kalimat, "Terseraaah eluuuu deeehhh.." untungnya biasanya milih diem dulu sih. Baru tau itu namanya lazy parenting 😌

    ReplyDelete
  22. Sepakat banget Mbak. Anak aku kadang juga melakukan bargaining ini. Oh ya, ortu nggak boleh stress mengelola emosi dan harus ada komunikasi yang baik antara ayah dan ibu dalam urusan parenting ini ya Mbak?

    ReplyDelete
  23. Saya rasa bargaining child termasuk jenis anak yang cerdas ya. Mereka punya prinsip, kalau tidak sesuai standar mereka, setidaknya harus ada tawaran substitusi yang relevan menurut mereka (dan kita).
    Saya lagi nginget2 apa dulu saya juga anak yang bargaining? πŸ€” kok kayaknya iya

    ReplyDelete
  24. Hihi... ini anak-anakku banget. Tapi kalau aku melihat ini sebagai fase sih. Mungkin karena mereka sudah mulai mau mempertahankan keinginan diri. Gpp... sejauh terkontrol. Kalau saya selain kasih pilihan juga saya kasih gambaran konsekuensinya. Tujuan biar dia bertanggung jawab aja sama keputusan yang sdh diambil.

    ReplyDelete
  25. Wiwin | pratiwanggini.net4/30/2021 04:16:00 AM

    Anak saya masih umur 3.5 tahun aja udah bisa menawar :D . So far sudah nemu sih solusinya, jadi enggak sampai bikin emaknya ini kalang kabut. Thanks for sharing, mom Lendy :)

    ReplyDelete
  26. anak bungsuku, Aluna juga gini teh
    sukanya nawar
    makanya kudu cari cara menghadapinya
    makasih sudah berbagi tips ini ya teh

    ReplyDelete
  27. Kalau anak bargaiing dikasih pilihan dia akan belajar berpikir & bertanggung jawab juga ya. Lucu juga sih ya kalau anak kecil suka nawar hihihi tapi justru orangtua bisa belajar ya

    ReplyDelete
  28. Anakku banget ini mam. Tapi aku seneng sih kalau pas tawar menawar. Karena memang saat kita dewasa pun kita juga kerap harus menimbang untung rugi. Mengambil keputusan berat antara yg ngga enak dan ngga enak banget, hehehe

    ReplyDelete
  29. Sepertinya anakku begini nih, karakternya, terkadang bunda yang gak sabaran ikutan debat karena anaknya banyak alesan. Hihihi... memang karakter beginipun melankolis ketika apa yang dia tawarkan kepada kita tapi ditolak. Hahaha haduuuhhh, sabaarrr alhamdulillah karakter begini bisa diajak diskusi duduk bareng.

    ReplyDelete
  30. MasyaAllah.. Bagus tulisannya.
    Memang tidak ada sekolah yang pas bagi ortu untuk mendidik anak karena karakter mereka berbeda2. Sebagai ortu harua terus belajar

    ReplyDelete
  31. Karena keseringan baca review drama Korea di blognya Teh Lendy..pas baca judulnya ini pun saya pikir adalah salah satu judul drama Korea. Hhaahhaha

    ReplyDelete
  32. wah ini aku banget waktu kecil kayaknya

    kalo disuruh apa apa sama orang tua jawabnya selalu "Seeek" dalam bahasa jawa yang artinya "Sebentar yaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa. 5 menit lagi eh keterusan sampe sejam" hwahahha

    semoga nanti aku bisa menghadapi anakku (yang semoga saja ga gini)

    ilmunya manfaat banget ini wajib aku bookmark buat bahan bacaan parentingkuu

    ReplyDelete
  33. Iya, ya. Bener juga ... "Terserah kamu, deh." Ini kalimat pamungkas yang sering aku pikirkan. Kalau ujung ujungnya terserah, kenapa dari awal musti berdebat. Seperti tidak memberi jalan keluar ������

    ReplyDelete

Berlangganan via Email