Ekonomi Sirkular Indonesia dengan Memanfaatkan Sampah
Bismillah,
Ekonomi Sirkular Indonesia dengan Memanfaatkan Sampah.
Hola sahabat lendyagasshi.
![]() |
| Bank Sampah Induk Bersinar |
Sahabat lendyagasshi sudah memanfaatkan sampah dengan prinsip utama (5R), yakni Refuse (menolak barang tak perlu), Reduce (mengurangi sampah), Reuse (memakai ulang barang), Recycle (mendaur ulang sampah), dan Rot (membusukkan sampah organik menjadi kompos), belum?
Hal kecil yang konsisten kita lakukan di rumah ini bisa berdampak besar kalau dilakukan di setiap rumah terhadap sampah rumah tangganya masing-masing, baik sampah organik maupun sampah anorganik.
Yang lagi nge-tren saat ini adalah mengubah sampah organik menjadi pupuk kompos atau pakan maggot. Sampah Organik ini berasal dari makhluk hidup dan bisa hancur atau membusuk sendiri secara alami. Seperti, sisa makanan, sayur busuk, kulit buah, dan daun kering.
Tapi kalau belum, coba pisahkan dulu dan perlahan bisa dikuburkan dalam tanah.
Permasalahannya kan, perumahan jaman sekarang jarang tanah.. solusinya gimana donk?
Solusinya bisa dibuat menjadi eco-enzyme (fermentasi sisa kulit buah atau sayur, air, dan gula merah selama 3 bulan menjadi cairan pembersih serbaguna), komposter rumah tangga (mengurai sampah dapur dan daun kering dalam tong atau ember bertumpuk secara aerop selama 1 bulan), vermikomposting (memanfaatkan cacing tanah jenis african night crawler atau lumbricus untuk memakan sampah organik dan menghasilkan pupuk kasgot yang sangat subur).
Mengenal Ekonomi Sirkular
Ekonomi sirkular adalah model ekonomi alternatif yang berfokus pada meminimalkan limbah dan memaksimalkan nilai sumber daya yang ada. Perbedaan dengan model ekonomi linier (buat-pakai-buang), ekonomi sirkular merancang produk agar materialnya dapat terus dimanfaatkan berulang kali.
![]() |
| ekonomi sirkular |
Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat
Setelah memahami bahwa sampah ini ternyata bisa bernilai dan setiap rumah pasti menghasilkan sampah, maka hal ini diharapkan kerjasama pemberdayaan masyarakat agar pergerakannya lebih masif. Karena masyarakat akan meningkatkan proses kapasitas, kesadaran, dan kemandirian warga sehingga menciptakan lingkungan yang terbebas dari problematika sampah.
Di lingkungan kami, daerah Arcamanik selain bergerak secara mandiri, juga ada pengelolaan lahan kosong menjadi kebun yang bisa meningkatkan fungsi tanah.
Kalau sahabat lendyagasshi pingin tau kisah inspiratif Vania Febriyantie, penerima ASTRA Satu Indonesia Award 2021, bisa klik artikel yang aku sematkan yaa..
Dan melalui kegiatan sederhana ini, ada satu hal yang sedikit demi sedikit mengubah persepsi kami terhadap sampah yakni bukan sekadar "kotoran/masalah", namun jika dimanfaatkan secara bijak, maka bisa menjadi "sumber daya yang bernilai ekonomi".
Memanfaatkan Minyak Jelantah
Dampak Membuang Minyak Jelantah ke Lingkungan
Menyumbat Saluran Air.
Sebab minyak bekas pakai ini lebih mudah mengental karena proses kimia seperti oksidasi akibat pemanasan berulang yang telah dilakukan.
Kandungan asam lemak jenuh yang tinggi yang membeku pada suhu dingin, atau penguapan komponen cair dan penumpukan sisa kotoran. Ketika minnyak dibuang ke wastafel atau selokan yang kemudian mendingin, mengeras, lalu menempel di pipa, hal ini akan memicu banjir.
Mencemari Air.
Minyak membentuk lapisan di permukaan air sungai atau laut akan menghalangi masuknya oksigen bagi hewan dan tumbuhan air. Sehingga hewan dan tumbuhan air bisa kekurangan sumber energi mereka dari alam dan lama-kelamaan akan mati dan punah.
Merusak Tanah.
Pori-pori tanah akan tertutup oleh minyak sehingga tanah menjadi keras dan kehilangan kesuburannya.
Apa yang Harus Dilakukan dengan Minyak Jelantah?
Sahabat bisa menabungnya di Bank Sampah terdekat atau memanfaatkannya kembali.
Pemanfaatan kembali ini pastinya butuh sedikit effort yaa...
Bisa jadi apa siih?
Ide Memanfaatkan Minyak Jelantah
Membuat Sabun Cuci Batangan
Minyak jelantah yang telah jernih bisa diolah menjadi sabun padat yang sangat ampuh membersihkan kain pel, lap kotor, atau noda gosong pada pantat wajan. Catatan: Sabun ini hanya untuk mencuci barang/pakaian, bukan untuk tubuh atau wajah.
Membuat Lilin Aromaterapi
Lilin ini sangat berguna untuk hiasan rumah, mengusir bau ruangan, atau menjadi bahan bakar lampu darurat saat mati listrik.
![]() |
| dok. pri |
Ini yang kami lakukan untuk mengolah minyak bekas di rumah kami. Karena beberapa hari yang lalu sempat ada pemadaman listrik bergilir, lilin-lilin cantik yang terbuat dari minyak jelantah ini bisa menemani.
Hanya bermodalkan beli sumbu di e-commerce... and VOILAA~~
Menukarkan Jelantah Menjadi Uang (Ekonomi Sirkular)
Jika sahabat gak punya cukup waktu untuk mengolah minyak jelantah ini sendiri di rumah, jangan dibuang.
1. Kumpulkan minyak jelantah ke dalam botol plastik bekas.
2. Carilah komunitas, instansi swasta, atau Bank Sampah lokal yang bersedia membeli minyak jelantah sahabat dan akan ditukarkan secara tunai berupa tabugan pundi rupiah atau ditukar dengan sembako.
Minyak yang terkumpul secara kolektif ini nantinya akan disalurkan ke pabrik pengolahan untuk disulap menjadi komoditas energi modern seperti biodiesel (biosolar) atau Green Avtur (bahan bakar pesawat terbang).
Keren kaan...
Kenalan dengan Bank Sampah Bersinar
Sampah yang kita hasilkan, bukan tanggungjawab lingkungan, namun harus tetap menjadi tanggungjawab pribadi masing-masing. Bersama Bank Sampah Bersinar sebagai Pusat Edukasi dan Pengelolaan Sampah Terpadu, tujuannya mendorong masyarakat mengelola sampah secara bertanggung jawab dan berkelanjutan.
Yayasan Solusi Bersinar Indonesia (YSBI) bersama Bank Sampah Induk Bersinar merupakan organisasi sosial yang didirikan oleh Ibu Fifie Rahardja sedang menargetkan pembentukan 1.000 Bank Sampah Unit (BSU) sebagai bagian dari penguatan gerakan ekonomi sirkular berbasis masyarakat.
Program ini menjadi fondasi pembangunan Living Laboratory Ekonomi Sirkular Indonesia yang akan dikembangkan di kawasan Oxbow, Kabupaten Bandung.
Melalui ekosistem yang mengintegrasikan Bank Sampah Induk Bersinar, Local Education, dan Lumbung Mandiri, YSBI ingin menghadirkan model pemberdayaan masyarakat yang menghubungkan pengelolaan sampah, pendidikan lingkungan, ketahanan pangan, hingga pengembangan ekonomi lokal dalam satu kawasan terpadu.
Ketua Yayasan Solusi Bersinar Indonesia, Indari Mastuti, menegaskan bahwa Bank Sampah Induk Bersinar kini tidak lagi diposisikan hanya sebagai tempat menabung sampah.
"Kami ingin Bank Sampah Induk Bersinar menjadi pusat perubahan. Sampah bukan lagi dipandang sebagai masalah, melainkan sebagai sumber daya yang mampu menggerakkan ekonomi, pendidikan, ketahanan pangan, dan pemberdayaan masyarakat," ujar Indari.
Didirikan pada tahun 2014, Bank Sampah Induk Bersinar telah berkembang menjadi salah satu jaringan pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang aktif melakukan edukasi, pendampingan, dan pemberdayaan warga. Hingga pertengahan tahun 2026, sebanyak 547 Bank Sampah Unit (BSU) telah bergabung dalam jaringan Bank Sampah Induk Bersinar dan menjadi mitra penggerak perubahan di berbagai wilayah Kabupaten dan Kota Bandung.
Ke depan, YSBI menargetkan jumlah tersebut meningkat menjadi 1.000 BSU aktif sebagai jaringan kolaboratif yang mampu memperkuat budaya memilah sampah sejak dari sumbernya sekaligus meningkatkan nilai ekonomi dari sampah yang dikelola masyarakat.
| source : https://markplusinstitute.com/ |
Tiga poin yang direncanakan dalam master plan pembangunan kawasan Oxbow, yaitu:
Bank Sampah Induk Bersinar
Digunakan sebagai pusat pemilahan dan pengelolaan sampah.
Local Education
Lumbung Mandiri
Mengenal Pentahelix Indonesia Bersinar: Kolaborasi Menuju Ekonomi Sirkular Indonesia
Seperti yang diajarkan di Bank Sampah Induk Bersinar dan gerakan Indonesia Bersinar, yakni mengelola sampah popok menjadi bermanfaat, diantaranya menjadi
1. Memanfaatkan serat popok untuk membuat papan semen sebagai dekorasi rumah. Bank Sampah Bersinar bekerja sama dengan industri pembuatan papan semen.
2. Plastik popok bisa dipakai diolah menjadi refuse plastic fuel atau bahan bakar pengganti batu bara. Dalam hal ini, Bank Sampah Bersinar juga bekerja sama dengan pihak industri.
3 Sedangkan gel atau SAP baik untuk menyuburkan tanaman. Gel pernah diberikan untuk menyuburkan tanah di oxbow Bojongsoang yang dikelola Satgas Citarum Harum Sektor 6.
Dari 5 ton sampah popok yang diterima, setelah dikelola menghasilkan 400 kilogram serat dan 1 ton plastik.
![]() |
| sampah popok menjadi bermanfaat |
Program-program berbasis masyarakat yang dijalankan ini menunjukkan satu hal: perubahan ke arah yang lebih baik sejatinya dimulai dari lingkup kecil terlebih dahulu, sebelum akhirnya berkembang menjadi gerakan yang lebih luas.
Nah, kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, organisasi masyarakat, akademisi, dan komunitas menjadi faktor penting untuk mempercepat transformasi tersebut. Untuk itulah, Yayasan Solusi Bersinar Indonesia juga merencanakan gerakan kolaboratif Pentahelix Indonesia Bersinar karena kita tidak mungkin berjalan sendiri tanpa bantuan dari pihak lain yang memiliki persamaan visi.
Bila sahabat lendyagasshi yang ada di Bandung dan berniat bergabung di bisa ke
Alamat Bank Sampah Bersinar berlokasi di
Jl. Terusan Bojongsoang No.174A, Baleendah, Kec. Baleendah, Kabupaten Bandung, Jawa Barat 40375.
Jam Operasional :
Senin – Jumat: 08.00 – 15.00 WIB
Sabtu: 08.00 – 13.00 WIB
Minggu / Hari Libur Nasional: Tutup
Kontak & Informasi Telepon: (022) 5946942
WhatsApp CS: 0851-8686-1856
Instagram: @banksampahbersinar.id
Selamat mengelola dan menabung sampah, sahabat lendyagasshi.
Yakin, dengan kesungguhan, sampah-sampah yang kita hasilkan bisa memberi manfaat lebih untuk kehidupan bumi yang lebih baik.
Salam hangat,





Tertarik dengan pemanfaatan jelantah. Jadi pengen belajar nih secara di kampung belum banyak yang memiliki keahlian keterampilan mengolah jelantah jadi lilin aromaterapi atau sabun ini
ReplyDeleteSama, Teh. Jelantah bisa dijadikan sabun dan lilin aromaterapi. Bisa dijual lagi 'kan. Nambah cuan.
DeleteUrusan jelantah 'kan limbah rumah tangga banget. Langsung dibuat ke tanah juga merusak kesuburan tanah. Sayang banget
Nah kan, ternyata memang banyak yg belum tahu kalau jelantah bisa didaur ulang jadi hal lain yg lebih bermanfaat ya
DeleteHarus search ilmunya nih
Semoga bisa praktek
Aku suka konsep ketika sampah nggak langsung dianggap sebagai sesuatu yang selesai begitu dibuang. Kalau dipilah dengan benar, plastik, kertas, logam, sampai sampah organik ternyata masih bisa masuk ke proses yang berbeda dan punya manfaat baru. Yang paling menarik justru kalau kebiasaan itu dimulai dari rumah, karena kita jadi belajar bahwa mengurangi sampah bukan cuma urusan petugas kebersihan atau pemerintah
ReplyDeleteYang jadi PR memang mengubah kebiasaan kita dari sekadar buang sampah menjadi mau memilah sejak dari rumah. Kelihatannya sederhana, tapi kalau dilakukan banyak orang dampaknya pasti besar. Menarik melihat sampah ternyata bisa punya perjalanan yang jauh lebih panjang.
ReplyDeletePengelolaan sampah seperti ini memang harus ada ya, Len, supaya sampah nggak berhenti sebagai buangan saja, tapi masih bisa punya manfaat lanjutan.
ReplyDeleteDi lingkungan tempat tinggalku, tiap bulan juga rutin ada pengumpulan jelantah. Dikoordinir oleh ibu-ibu pengurus PKK RW, lalu disalurkan ke pengelola untuk diolah kembali. Di sekolah anakku juga begitu. Tiap bulan ada program bawa sampah ke sekolah, jenisnya sudah ditentukan dan dipilah sesuai kategorinya, termasuk jelantah. Anak-anak malah dapat uang jajan dari sampah yang mereka bawa. 😁
Makanya saya setuju dengan tujuan adanya Bank Sampah Induk Bersinar yang Len ceritakan. Bukan cuma mengurangi sampah, tapi juga membuat sesuatu yang tadinya dianggap nggak berguna ternyata masih punya nilai kalau dikelola dengan baik. Apalagi kalau kebiasaan memilah sampah sudah dikenalkan dari rumah dan sekolah. Jadi ekonomi sirkularnya nggak cuma jadi konsep, tapi sudah dipraktikkan dalam keseharian.
Menurut aku ya dengan nerapin ekonomi sirkular ini tuh, langkah penting dan manfaatnya pun juga banyak, yakni bisa di daur ulang kembali agar lebih berguna
ReplyDeleteTulisan Lendy kali ini bener-bener membuka mata dan krusial banget! Konsep ekonomi sirkular ini memang harus terus digaungkan ya, Len.
ReplyDeleteSering kali kita cuma paham cara "membuang" sampah, tapi lupa kalau sampah sebenarnya punya potensi besar kalau dikelola dengan prinsip reduce, reuse, recycle secara tepat. Suka banget cara Lendy mengemas isu lingkungan yang terkesan berat ini jadi bacaan yang renyah, mengalir, dan mudah dipahami.
As always Lendy sudah konsisten membagikan tulisan yang nggak cuma informatif, tapi juga penuh dampak positif buat kita semua.
Sepakat dengan Ci Tanti. Bicara tentang ekonomi sirkular memang selalu menarik! Salut deh dengan YSBI, begitu konsisten menjalankan program ini, dan merangkul semakin banyak anggota masyarakat untuk mengelola sampah menjadi 'sesuatu' yang berdaya guna, bahkan hasilkan pundi2 rupiah!
DeleteBtw, itu pengolahan lilin2 cantiknya dari minyak jelantah, menarik banget yaaa!
Setuju banget, ekonomi sirkular itu bisa dimulai dari langkah kecil di rumah sendiri, seperti memilah sampah dan mengolah minyak jelantah. Ide bikin lilin aromaterapi dari minyak jelantah itu kreatif banget dan kepake banget pas pemadaman listrik.
ReplyDeleteIya, bener banget mbak Myra. Mulai dari rumah, dari kegiatan memilah sampah secara konsisten. Kemudian melakukan daur ulang dan bisa juga bikin lilin aromaterapi dari jelantah. Kalau di tempatku, jelantah di kumpulkan ke koordinator warga, nanti akan mereka olah. Bisa jadi sabun juga selain lilin aromaterapi setauku. Ada banyak kelas-kelas yang ngajarin memproses jelantah dan bisa jadi cuan.
DeleteBersyukur banget sih kalau di lingkungan sekitar kita ada bank sampah, soalnya belum semua daerah ada sumber dayanya yang bisa melakukan kan ya. Mau inisiatif juga kayaknya masih cukup berat. Tapi sementara ini kami cukup terbantu sih dengan pengumpulan minyak jelantah di sekolah anak setiap semester. Sampah yang lain belum konsisten banget dipilah dan dikirimkan ke pengolahan yang spesifik, tapi sedikit-sedikit mulai juga. Soalnya dari yang sedikit ini siapa tahu bisa besar juga dampaknya kalau konsisten.
ReplyDeletebener banget, mbak. Aku juga berharap nih keberadaan bank sampah ini bisa semakin banyak di berbagai daerah termasuk juga kota kecil. Jadinya kan masyarakat bisa tahu kalau sampah yang mereka hasilkan itu bisa juga menghasilkan jika dikelola dengan baik
DeleteSaya juga pernah praktik bikin lilin aroma terapi dari minyak jelantah ini. Bener-bener dari sampah jadi berkah ini judulnya, karena sangat membantu, terutama di saat sekarang yang sering mengalami pemadaman listrik bergilir, jadinya ga terlalu worry, ya.
ReplyDeleteAdanya lembaga seperti bank sampah ini sangat membantu, biar warga dapat tersosialisasikan dan paham akan bahaya sampah jika dibuang sembarangan, tetapi dengan menggunakan prindip 5R sampah bisa jadi bermanfaat kembali bahkan menghasilkan cuan juga bisa.
'
Semoga semakin banyak seperti gerakan seperti Bank Sampah Bersinar di banyak kota di Indonesia dan mudah-mudahan semakin banyak masyarakat yang memahami cara memanfaatkan sampah agar tak dibuang percuma bagitu saja
Seru banget baca tips memanfaatkan sampahnya. Apalagi bagian mengolah minyak jelantah jadi lilin atau sabun, itu kreatif banget! Ternyata sampah kalau dikelola dengan prinsip ekonomi sirkular justru bisa jadi barang bernilai ya.
ReplyDeleteSekarang memang sedang digiakkan banget mengenai ekonomi sirkular ini yaa paling tidak masyarakat diajak untuk lebih aware lagi dalam proses pemilahan sampah...
ReplyDeleteAku sendiri juga berusaha banget untuk bisa memisahkan sampah2 ini agar lebih mudah dalam pemanfaatan selanjutnya...
Btw klo uh lubang biopori ini perlu ditambahkan zat2 lainnga gak ya??ato tinggal buang saja sampah organiknya dan nanti akan membusuk denngan sendirinya?
Mba mengolah minyak jelantah sendiri? Tertarik banget mengolah minyak jelantah ini biar bisa jadi lilin aromaterapi. Kalo dilihat dari penjelasannya ekonomi sirkular ini beberapa sudah dilakukan di rumah dan lingkingan RT. Semoga bisa terus berlanjut kegiatan ini
ReplyDeleteInformasi informasi berguna seperti ini nih seharusnya sampai kepada masyarakat, agar masyarakat bisa membangun kesadaran dalam menjaga lingkungan.
ReplyDeleteCaranya sudah ada, melalui kegiatan kegiatan seperti diatas, tantanonya sekarang bagaimana atau sejauh mana masyarakat memahami dan mau melaksanakan kegiatan kegiatan tersebut, karena menamkan mindest yang baik ke masyarakat itu syulit banget, maunya instan, yang penting sampah udah keluar dsri rumah, minim empati terhadap lingkungan sekitarnya
Karena menjaga lingkungan itu manfaatnya akan kembali ke kita semua, maka penting dibiasakan memilah sampah mulai dari rumah sendiri. Aku juga senang karena di Sekolah anakku sudah memberlakukan buang sampah ke tempat-tempat yang sudah disiapkan dengan berbagai kategori sampah. Bersama-sama menjaga alam, sehingga alam pun akan senantiasa menjaga kita ya.
ReplyDeleteBetul sekali nih Mbak. Kalau kita bisa menjaga lingkungan maka hidup kita akan lebih nyaman. Semua hal baik kembali pada kita juga.
DeleteAlhamdulillah ya sekolah anak mba sudah memfasilitasi dan membiasakan anak-anak peduli sama lingkungan.
Baca artikel mbak Lendy aku jadi makin semangat buat melakukan pilah sampah, mengompos dan belajar mengolah minyak jelantah jadi lilin aromaterapi.
setuju banget
ReplyDeleteDalam satu seminar, ada satu narasumber yang perkataannya masih "nancep' sampai sekarang
yaitu, sebagai pembeli kita adalah raja, jadi jangan beli barang yang kemasannya gak bisa didaur ulang karena bakal ngerusak bumi
You knooow Leeeennnn
ReplyDeleteaku langsung buka YouTube buat cari cara bikin lilin aromaterapi ama sabun batangan dari minyak jelantah!
Menarik banget pembahasan sampah karena sampah sering kali kita lihat hanya sebagai sesuatu yang harus dibuang, padahal kalau dikelola dengan konsep ekonomi sirkular, ternyata bisa punya nilai dan manfaat baru.
Keren banget kalo juga bisa menjadi peluang ekonomi sekaligus membuka lapangan pekerjaan. Tinggal bagaimana kita mengubah kebiasaan dari “pakai lalu buang” menjadi lebih bijak dalam menggunakan kembali apa yang masih bernilai. Tulisan yang bikin mikir en senyum senyum Len!
Saat ini saya sudah memiliah sampah, punya komposter dan bikin lubang biopori di rumah...Memang ya selama ini sampah sering kali hanya dipandang sebagai sesuatu yang harus dibuang, padahal ternyata bisa diolah kembali bahkan menjadi sesuatu yang punya nilai ekonomi. Jadi teringat, perubahan besar memang bisa dimulai dari kebiasaan sederhana: memilah, mengurangi, menggunakan kembali, dan tidak buru-buru menganggap sesuatu sebagai sampah. Kalau konsep ekonomi sirkular bisa semakin diterapkan, bukan hanya lingkungan yang terbantu, tetapi juga bisa membuka peluang ekonomi baru.
ReplyDeleteSetuju mbak Dian, kalau udah melihat sesuatu yang ga bisa digunakan lagi langsung kepikiran, "ah sampahnih" padahal bisa sebenarnya untuk diolah kembali menjadi sesuatu yang ekonomis, di sini ini perlu konsisten menerapkan pilah sampah
DeleteAku salut banget dengan mereka/siapapun yang menciptakan EKONOMI SIRKULAR ini. Gak cuma bicara soal efisiensi tapi juga sebagai salah satu wujud kecintaan dan tindakan nyata akan kepedulian kita atas lingkungan. Bisa juga jadi opsi penghasilan tambahan jika memang tekun dikerjakan.
ReplyDeleteSemoga ya edukasi tentang ekonomi sirkular ini semakin menyebar dan tersosialisasi dengan baik. Barangkali dengan semakin banyak publik yang tahu, pergerakan ekonomi khusus ini bisa membantu bergeraknya perekonomian rakyat.
Alhamdulillah, hatur nuhun mbak Lendy atas artikelnya yang super informatif ini. Seneng bacanya, nambah wawasan. Aku kebetulan di rumah, udah biasa memilah sampah, dan mengompos. Untuk jelantah, biasanya di lingkungan rumah suka ada yang ngumpulin, per berapa bulan baru dibayar.
ReplyDeleteAlhamdulillah ya, ekonomi sirkular ini beneran bagus buat lingkungan dan bisa tambah cuan. Semoga semakin banyak orang teredukasi buat Milah sampah, melakukan 5R, Adan mengompos.
Emang fakta kok say, sampah masih punya "kehidupan kedua" kalau kita kelola dengan benar. Ekonomi sirkular ini dari dulu bahasan menarik karena kita melihat sampah bukan lagi sesuatu yg harus dibuang, tapi bisa masuk lagi ke dalam siklus ekonomi yang bernilai tinggi. Thx u ilmunya.
ReplyDeleteMengubah cara pandang terhadap sampah dari 'masalah' menjadi 'sumber daya bernilai ekonomi' itu kunci utamanya. Edukasi soal bahaya membuang jelantah ke wastafel ini penting banget disebarluaskan biar makin banyak yang sadar dan mau beralih ke bank sampah atau mengolahnya sendiri.
ReplyDeletesetuju, mbak. saat ini edukasi soal pemilahan sampah dan bagaimana membuang sampah yang benar itu harus semakin ditingkatkan agar permasalahan sampah di negara ini setidaknya bisa dikurangi
Deletekalau aku saat ini masih memilah sampah botol, bikin ecoenzyme sama kompos, mbak. Harapannya semoga dengan langkah kecil begini bisa mengurangi sampah kita ya. dan sekarang memang kita tak bisa lagi hanya berpatokan pada 3R melainkan 5R agar permasalahan sampah bisa teratasi
ReplyDeleteSelama ini edukasi yang banyak diberikan kan tentang membuang sampah pada tempatnya. Padahal upaya untuk mengurangi sampah yang dihasilkan, serta belajar memilah sampah dengan benar pun penting ya mbak. Semoga masyarakat Indonesia bisa kompak memahami dan menerapkan itu semua, bukan tidak mungkin harapan Indonesia bebas sampah bisa terwujud.
ReplyDeletebanyak orang yang masih belum memahami dengan benar bahwa sampah rumah tangga tuh tanggung jawab pribadi. Harusnya memang dikelola secara pribadi.
ReplyDeleteKalaupun memang nggak punya waktu untuk mengolah kembali, minimal ya memilah dari rumah.
Terus yang menarik mengolah jelantah ke sabun atau lilin aromaterapi. Produknya bisa dipakai sendiri atau bernilai jual.
Beneran bisa jadi ekonomi sirkular. Kalau nggak sempat mengolah tinggal jual ke komunitas yang menerima.
Konsep ekonomi sirkular emang jawaban pas buat nanganin masalah sampah di Indonesia. Selama ini kita terlalu terbiasa sama pola 'pakai lalu buang', padahal kalau dipilah dengan benar, sampah anorganik kaya botol plastik bisa punya nilai ekonomi lagi lewat bank sampah atau daur ulang.
ReplyDeleteKalau makin banyak orang yang mau mulai memilah dari rumah dan mendukung fasilitas TPS-3R, beban TPA pasti bakal berkurang drastis.
Semoga makin banyak masyarakat yang sadar dan tergerak buat nerapin gaya hidup ramah lingkungan ini demi bumi yang lebih sehat
Seru banget dengan adanya bank sampah ini kita jadi paham kalau sampah yang biasa tidak kita perdulikan dan berakhir di TPA sekarang bisa bernilai ya kak
ReplyDeleteEkonomi sirkular ini kalau diterapkan dengan benar dan konsisten banyak juga manfaatnya, khususnya buat mayarakatnya juga ya Teh.
ReplyDeleteOleh karenanya, bisa bareng-bareng nih untuk mengelola sampah secara tepat, karena dari situ bisa tahu mana saja sampah yang masih bisa diolah dan bernilai
Bank Sampah Bersinar bagus jadi percontohan nih untuk mengolah sampah popok sekali pakai supaya lebih bermanfaat lagi.
ReplyDeleteKudu belajar langsung ya bagaimana step by step nya. Nanti kalau sudah lihai, bisa bekerja sama dengan pihak industri juga
Dari 5 ton sampah popok, menghasilkan satu ton plastik dan 400kg serat
Buat berkebun seluas apa itu lumayan banget ya...
Dulu tuh mikir gini pas masih kecil kalau sampah selesai urusannya, begitu sudah dibuang dari rumah. Padahal ya nggak semudah itu. Aku jadi kepikiran bahwa banyak sampah sebenarnya masih punya nilai kalau dikelola dengan cara yang tepat. Aku kenal bank sampah ini pas masih SMA Teh. Dulu pas alm. bapak pensiun, keluargaku jadi pemasok barang-barang bekas yang masih ada nilainya. Kami kerja sama dengan bank sampah untuk mengambil plastik-plastik bekas sampai kertas buat dikirim ke pabrik pengolahan gitu.
ReplyDeleteMakanya pas ada konsep bank sampah gini, aku tertarik dan ikutan join. Cuma masalahnya nggak semua kota dan daerah punya bank sampah. :(
Duuuuh pengen di lingkungan rumahku ada juga bank sampah begini 😔. Waktu itu kan JKT udh diwajibkan yaa hrs pilah sampahnya. Per Agustus kalau ga salah. Tp kayaknya omdo aja. Faktanya aku udh pilah sampah yg organik dan non organik, ttp aja dicampur Ama tukangnya.
ReplyDeleteDan seharusnya dh lingkungan RT disediakan tempat utk mengolah sampah sisa makanan, kayak bbrp tempat lain. Tp ga adaaa. Aku sendiri Krn rumah memang ga ada halaman, udh niat mau beli mesin composter yg pakai listrik mba. Tp hrg memang 10 jutaan. Nabung bntr deh. Biar sampah makanan bisa LGS diolah , ga perlu kecium busuk
Btw aku baca yg sampah popok, uwaaah amazed. 😍😍😍. Ternyata sampah popok bisa diolah JD pupuk begitu yaaa. Bagus juga, Krn banyaaak memang sampah popok begini kan. Cuma kalau sampah pembalut blm bisa kayaknya yaa. Itupun aku mikirin, kayak mana hrs mengolah sampah pembalut
ReplyDeleteSoal sampah dari bekas pospak/ diaper emang udah beberapa tahun belakangan ngetrend yaa. Tapi ini khususnya yg bekas sorry pipis atau bekas pup juga bisa mbak Lendy? *aku kepoh haha.
ReplyDeleteLuar biasa sebanyak itu limbah popoknya huhu.
Ternyata sudah ada sejak 2014 ya bank sampahnya. Berarti udah lebih dari setahun mengelola sampah di lingkungan sekitar sana?
Lalu, minyak jelantah juga belakangan mulai banyak pengepul yang mau menerima ya. Di sini kalau di tempatku Pak RT-nya bisa, mayan dapat cuan walau nggak banyak juga sih haha :D
Keren juga yaa, jadi nggak cuma jadi bank sampah tapi juga membuat perputara ekonomi sirkular.
Namun yang lebih penting adalah membuat masyarakat menyadari pentingnya mengelola sampah, khususnya sampah rumah tangga dan lingkungan masing2, gimana caranya supaya sampah berkuranhg, menghasilkan sesuatu, bahkan kalau bisa zero waste makin oke yaaa.
Keren bgt nih program Bank Sampah Bersinar. Ga cmn melibatkan warga tapi sampah sekitar rumah bs bersih setiap hari. Kalo ada banyak desa dan setiap warga mereplikasi program ini, ga ada lagi kerusakan lingkungan deh.
ReplyDeleteJujur, bnyk bgt nih bekas jelantah rumahan yg akhirnya berakhir di selokan. Akhirnya ya ngotorin air sungai dan limbahnya balik lagi ke air minum yang kita minum deh.
Aku mau cari tahu lbh nih program ini biar bs di duplikasi di tempatku. Bnyk limbah minyak jelantah tuh. Mayan kalo bs dibuat sabun batangan. Ga perlu repot lagi beli sabun. Hehe.
Aku baca ini sehabis baca berita TPA Ilegal di Jakarta Utara, jadi berasa kesel sendiri yaaa. heuheu
ReplyDeleteSebenarnya, peluang Indonesia untuk punya lingkungan yang lebih bersih, rindang dan asri itu terbuka sangaaaat lebar. Toh, kesadaran itu sudah mulai tumbuh dalam kehidupan kita sehari-hari.
Gak cuma buang sampah pada tempatnya, juga mulai piawai dalam mengelola dan memilah sampah, supaya nilai ekonomisnya gak menguap gitu aja. Ternyata bisa juga kan yaaa diolah jadi berbagai kerajinan, lilin aromaterapi, atau bahkan eco enzyme.
Nah, segelintir orang yang tamak ini nih, kudunya ditentang jauh2 dari Indonesia. Biar kita beneran bisa bersinar di masa mendatang,
Ya betul sekali. Setiap rumah tangga menghasilkan sampah. Dan pada kenyataannya, rumah tangga adalah penyumbang sampah terbesar dan terbanyak. Jadi memang wajib peran serta setiap rumah tangga, bagaimana memilih dan memilah sampah sebelum masuk ke Tempat pembuangan akhir. Karena banyak sekali yang masih bisa dimanfaatkan dan bernilai ekonomis. Saya pernah ikut workshop pembuatan lilin dari minyak jelantah
ReplyDeleteSejak denger kabar letusan d TPA akibat gas dari sampah organik, skrg sy manfaatin sampah organik jadi pupuk.
ReplyDeletePingin nyoba yg minyak jelantah dan lilin juga, tapi blm tahu ilmunya hehe
Produksi sampah rumah tangga di Indonesia tinggi sekali buktinya TPA penub dimana mana. Apalgi di kota² besar produksi sampah lebih banyak lagi. Kehadiran Bank Sampah Bersinar sangat menjawab permasalahan sampah ini. Tidak hanya mengurangi tapi juga mengedukasi masyarakat. Mengolah dan mendaur ulang sampah baik sampah organik dan anorganik. Kereen Bank Sampah Bersinar..
ReplyDeleteMasya Allah, ini keren banget. Minyak jelantah bisa diubah menjadi lilin aromaterapi dan sabun cuci tangan. Jadi lingkungan bersih, tapi limbah bisa memiliki nilai jual alias tidak mubazir terbuang. Kalau di sini baru sebatas pemilihan sampah organik dan anorganik belum sampai tahap pengolahan, karena endingnya tetap diangkut tim kebersihan ke TPA, belum ada progam ubah sampah menjadi produk yang memiliki nilai jual. Di Kecamatan sebelah ada tapi milik internal perusahaan itu pun masih sebatas botol dan sampah plastik .
ReplyDeletePengin banget bikin biopori di taman depan tapi belum kesampaian. Lumayan buat mengubur sisa makanan matang karena sisa makanan matang nggak disarankan masuk komposter.
ReplyDeleteBtw Bank Sampah Bersinar ini dekat rumahku. Sudah beberapa kali setor sampah ke sana, tapi yang pick up ke rumah. Lumayan tuh hasil jual bisa buat jajan. Apalagi yang dari minyak jelanta.
Keren banget edukasi mengenai ekonomi sirkularnya! Inisiatif Bank Sampah Induk Bersinar yang menargetkan 1.000 BSU ini patut diapresiasi tinggi. Memang langkah kecil memilah sampah dari rumah kalau dilakukan bersama-sama dampaknya luar biasa untuk lingkungan. Semoga gerakan seperti ini makin meluas ke daerah-daerah lain ya, Len...berharap besar banget.
ReplyDeleteSaya baru paham ekonomi sirkular ini, ternyata saat ini sudah mulai banyak digiatkan oleh beberapa komunitas
ReplyDeleteGerakan yang bagus sekali untuk mendukung pelestarian lingkungan,
Edukasi dari Bank Sampah Bersinar ini keren lho, semoga semakin banyak dan semakin luas dampaknya, tidak hanya di beberapa daerah saja tapi kalau bisa menyebar seIndonesia.
Perlu waktu sih tapi mungkin terwujud dengan kerjasama banyak pihak
Jujur, setelah mulai memilah sampah dari rumah dan mengelola sampah organik pake komposter, saya jadi suka lebih cerewet soal buang sampah hehe. Kadang saya suka kepikiran ini sampah akan berakhir dimana dan jadi apa ya..
ReplyDeleteSetelah tahu ada organisasi sosial seperti Bank Sampah Bersinar, saya sangat senang dan jadi jauh lebih tenang, soalnya BSB punya banyak program keren yg visioner dalam mengelola sampah, terutama kayak sampah popok yang tadinya bingung banget mau diapain dan diolah jadi apa ya.
Semoga BSB terus berkembang dan tneutnya menjadi bagian dari gerakan ekonomi sirkular Indonesia.
Wah keren, saya baru tahu kalau minyak jelantak dapat didaur ulang menjadi produk yang lebih bermanfaat
ReplyDeleteTPA di negara kita tuh, sampah selalu menggunung, tapi banyak yang belum sadar kalau sampah bukan sekedar hasil buangan saja, tapi punya nilai ekonomis tinggi. Moga aja via edukasi ekonomi sirkular, BSB, makin banyak masyarakat Indonesia sadar, dan mulai memilah sampah rumah tangga sendiri.
ReplyDeleteaku udah bertekad kalau nanti punya rumah sendiri akan mengelola sampah dengan benar. Seperti punya lubang bipori di halaman belakang, mengumpulkan minyak bekas untuk dijual lagi dan kegiatan memilah sampah lainnya. Btw, emang aku belum kepikiran tentang popok bekas, ya ampun, itu kan ibu2 suka lgsg buang begitu saja ke tong sampah. Padahal itu sampah plastik yang di dalamnya terdapat kotoran bayi, Keren banget Bank Sampah Induk Bersinar, berusaha mengolah sampah popok tersebut.
ReplyDeleteSuka.sekali dg kegiatan lingkungan seperti ini untuk.bumi.yg lebih baik.. Alhamdulillah di dekat tempat tinggal saya jg baru berdiri bank sampah
ReplyDeleteMinyak jelantah jadi salah satu limbah rumah tangga yg cukup berpengaruh terhadao lingkungan. Dengan menerapkan ekonomi sirkular berarti telah mendukung hidup lebih berkelanjutan, hemat, dan peduli lingkungan. Tanpa disadari tiap langkah kecil, punya potensi besar untuk membawa perubahan
ReplyDeleteBaru sadar kalau ternyata sekarang bukan cuma 3R lagi, teh, tapi udah 5R. Refuse (menolak barang yang tidak perlu dari awal) dan Rot (mengolah sampah organik menjadi kompos).
ReplyDeleteRot sudah lazim saya lakukan tapi konsep refuse ini menarik karena artinya pencegahan dari hulu, sebelum sampah itu sempat tercipta, bukan cuma soal mengolah yang sudah ada. Menambah makna dalam hidup sesuai kebutuhan.
Di rumah saya banyak menghasilkan sampah yang sebenarnya bisa didaur ulang. Seperti botol plastik, ban bekas motor, kertas yang gak bisa dipakai lagi dan masih banyak lainnya. Tapi saya langsung buang di tempat sampah. Setelah baca artikel ini, hati saya kembali terketuk untuk bisa memanfaatkan sampah yang masih bisa kita pakai dalam kegiatan sehari-hari.
ReplyDeleteYa ampun related banget sama yang minyak jelantah. huehehe.. Awal-awal tuh aku bingung dong mau buang minyak jelantah dimana sampai ada case, selokan tersumbat gara-gara tetangga buang minyak di sana. Akhirnya aku search dan nemu kalau ada pengepul minyak jelantah buat disalurkan ke pengolah limbah minyak jelantah. Minyak itu ternyata dipakai di industri-industri tertentu Mbak.. Hasil jual limbah ini pun ternyata lumayan buat jajan cilok sebulan.. :D
ReplyDeleteDaannn ... Menurutku konsep ekonomi sirkular jadi terasa lebih mudah dipahami kalau contohnya dekat dengan keseharian seperti ini. Jadi bukan sekadar teori besar, tetapi kebiasaan kecil dari rumah yang kalau dilakukan bersama-sama bisa memberi dampak nyata untuk lingkungan dan masyarakat sekitar kita semua juga.
Selain soal cuan, sampah ini memang harus diberdayakan agar tidak menjadi limbah 100%, sebab Jakarta pun sudah darurat sampah. Bumi juga jadi terbantukan agar tetap terjaga dari limbah manusia
ReplyDeleteEkonomi sirkular memang jawaban jangka panjang untuk masalah sampah di Indonesia. Tantangan terbesarnya menurut saya ada di mindset masyarakat yaitubagaimana mengubah kebiasaan pilah sampah dari rumah tangga. Ya semoga aja semakin banyak yang sadar akan hal ini
ReplyDeleteKonsep ekonomi sirkular ini sebenarnya dekat banget ya sama keseharian kita. Kadang masih suka mikir kalau barang sudah nggak terpakai berarti langsung jadi sampah, padahal ternyata masih bisa punya nilai kalau dikelola dan dimanfaatkan dengan benar. Jadi pengingat juga buatku supaya lebih bijak sebelum membuang sesuatu dan mulai melihat “sampah” dari sudut pandang yang berbeda
ReplyDeleteEkonomi sirkular semakin sering di gaungkan dan ini menjadi suatu langkah yg akan berdampak pada lingkungan sebab konsepnya memperpanjang masa pakai sumber daya bertujuan menekan limbah ke TPA. Bisa dengan perbaikan produk yang rusak, pemeliharaan produk secara berkala hingga pengelolaan sampah berbasis masyarakat
ReplyDeletePoin tentang pengolahan minyak jelantah jadi lilin aromaterapi dan daur ulang sampah popok jadi papan semen benar-benar membuka mata. Ternyata kalau dikelola lewat konsep ekonomi sirkular, barang yang tadinya dianggap limbah bisa punya nilai ekonomis yang tinggi.
ReplyDeleteAku belum pernah nih mengoptimalkan sampah seperti membuatnya menjadi sabun atau eco enzym. Sampah ternyata masih bisa dioptimalkan lagi sehingga menambah nilainya ya. Keren nih programnya
ReplyDeleteLubang biopori ini tuh sudahlah bikinnya gampang, manfaatnya luar biasa pula. Saya pernah dengar cerita seorang teman yang suatu waktu sering hujan deras, dari semua rumah, hanya rumahnya yang gak kebanjiran karena air bisa dialirkan melalui lubang biopori, sehingga tidak menggenang bahkan sampai banjir
ReplyDeleteAku pernah bikin lilin aroma terapi dari minyak jelantah dan lilinnya bisa dijual. Sampah yang dimanfaatkan yang dimanfaatkan secara optimal tentu dapat mengurangi polusi tanah.
ReplyDeleteDi sini soal pemanfaatan jelantah jadi rupiah itu udah makin masih tau, Teh. Bener banget kalau dibuang sembarang ke wastafel, dahlah mampet itu wastafel, repot lagi bongkar-bongkarnya. Emang paling bener dikerjakan lagi aja jadi lilin lucu atau dijual sekalian jadi hepeng. Hihi
ReplyDeleteAku suka banget kalau isu ekonomi sirkular dibahas dari sisi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Sampah sering dianggap sebagai sesuatu yang selesai ketika sudah masuk tempat sampah, padahal perjalanan sebenarnya justru bisa dimulai dari sana. Kalau masyarakat, pelaku usaha, dan pemerintah bisa bergerak bersama, sampah bukan cuma persoalan lingkungan tapi juga bisa menjadi bagian dari solusi ekonomi.
ReplyDeleteSampah selalu dipandang sebagai sesuatu yang haus dibuang dan tidak berguna. Padahal jika sampah dikelola dengan baik, ia juga bisa mendatangkan nilai jual. Ngomong-ngomong soal minyak jelantah, ditempatku sekarang ibu-ibu suka mengumpulkannya karena setiap bulan ada anak-anak muda di daerahku yang datang menjemput ke rumah-rumah dan ibu-ibu senang karena minyak yang tadinya sering mereka buang bisa menjadi sejumlah rupiah.
ReplyDeleteSampah ini masalah banget dimana-mana, termasuk di lingkungan kosan juga. diedukasi buat dipilah gak semudah itu ya, tapi mau gak mau terus aja diedukasi. Tapi di lingkungan aku, warga udah ngejalanin pengelolaan sampah organik buat dijadiin kompos, magot, lumayan sampah jadi lebih terpilah pilah
ReplyDeleteRajin buanget Teh Lendy bikin biopori sendiri. MEmang kalau mendukung ekonomi sirkular harus usaha ya, termasuk memilah sampah yang kadang dirasa ribet.
ReplyDeleteSemoga makin banyak bank sampah serupa di tempat lain.
Keren ya, di zaman sekarang tuh orang-orang pada makin kreatif dengan ide-idenya yang luar biasa, yang gk cuma bisa menguntungkan diri mereka sendiri tapi juga bisa sangat bermnfaat buat orang lain, teruma untuk lingkungan yang sehat.
ReplyDeleteApalagi pengolahan sampah seperti ini.
Yaa semoga saja pemerintah semakin mendukung ide-ide dan usaha pengolahan sampah yang memiliki dampak besar buat sekitar.
Sebagai kepala keluarga, urusan sampah bukan cuma soal lingkungan, tapi juga soal masa depan anak-anak. Kalau sampah bisa diolah jadi sesuatu yang bernilai, kenapa harus terus dibuang? Dari rumah pun kita bisa mulai.
ReplyDeleteKeren ya yayasan ini. Bisa bikin sampah jadi bermanfaat. Nambah uang saku dan jadi sumber ekonomi sirkular. Semoga ambisi 1000 unit bank sampahnya bisa segera terwujud. Semoga juga banyak pihak yang terstimulasi untuk bisa memanfaatkan sampah juga. Supaya beban bumi bisa berkurang dari sampah ini.
ReplyDeletekeren banget sih gerakan ekonomsi sirkular YSBI ini programnya nyata dan udah punya banyak bank sampah. sayangnya di derah saya belum ada, hehe. tapi setuju soal mengelola sampah dari rumah, kalau bukan kita yang memulai siapa lagi ya?
ReplyDelete