Maafkan Ayah, Ibu.. Kami Belum Bisa Membanggakan Ayah dan Ibu
Bismillah,
Sedikit menulis artikel kontemplasi yaa..
Karena mendekati waktu pulang kampung, mendadak aku jadi baper to the max karena salah satu orangtua kami menyebutkan sesuatu yang sangat menusuk hati.
Aku bukan tipe yang mudah tersinggung, apalagi kalau orangtua yang berbicara...
Namun kali inii.. entah kenapa... hanya kalimat itu aja yang aku hi-lite dan selama berhari-hari mengendap di dasar hatiku.
Namun kali inii.. entah kenapa... hanya kalimat itu aja yang aku hi-lite dan selama berhari-hari mengendap di dasar hatiku.
Asal ingat, air mata menetes...
Rasanyaaa begituuu dalam dan ingin ku bantah melalui poster kajian atau parenting yang aku pahami.
Rasanyaaa begituuu dalam dan ingin ku bantah melalui poster kajian atau parenting yang aku pahami.
...tapiii, aku ingat-ingat kembali.
Kenapa bisa ada asap kalau tidak ada api?
Kenapa bisa ada asap kalau tidak ada api?
وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”
QS. Al-Baqarah: 216
Kontemplasi Sebelum Mudik Lebaran 1447 H
Seringnya kami absen ke acara silaturahm saat lebaran bukan tanpa alasan.
Apakah aku terkesan membela diri?
Apakah aku terkesan membela diri?
NO, sahabat lendyagasshi.
Biasanya kalau Ramadan tuh dari tahun lalu, kami memang jarang mudik.. mudiknya kami alihkan saat Hari Raya Idul Adha.
Biasanya kalau Ramadan tuh dari tahun lalu, kami memang jarang mudik.. mudiknya kami alihkan saat Hari Raya Idul Adha.
...tapi tahun ini, karena alasan yang in syaa Allah syar'i... kami memutuskan untuk mudik.
Memang mencari momen lebaran ini penting.
...tapi sekali lagi... memohon maaf pada sanak saudara jauh dan jarang berkomunikasi bukanlah sesuatu yang disyariatkan. Yang terpenting di momen Lebaran adalah silaturahm dengan berhubungan baik secara langsung.
...tapi sekali lagi... memohon maaf pada sanak saudara jauh dan jarang berkomunikasi bukanlah sesuatu yang disyariatkan. Yang terpenting di momen Lebaran adalah silaturahm dengan berhubungan baik secara langsung.
Untuk maaf-maafan, sangat disarankan kepada keluarga inti dan orang yang sering kita berinteraksi. Misal, guru-guru kita, sahabat, tetangga dan jangan lupa, rekan bisnis atau circle pergaulan yang biasanya kita berkumpul.
Karena bahaya lisan ini sangat mudah untuk dilakukan ━ bahkan seringkali kita gak menyadarinya, namun menyakiti hati orang lain. Maka...
Nabi ﷺ bersabda, “Sesungguhnya ada seorang hamba yang berbicara dengan suatu perkataan yang tidak dipikirkan bahayanya terlebih dahulu, sehingga membuatnya dilempar ke neraka dengan jarak yang lebih jauh dari pada jarak antara timur dan barat.”
(HR. Muslim)
Bahaya Lisan Bagi Kesehatan Mental
Terasa sekali yaa.. bagi yang punya anak gen Z atau malah gen alpha dan gen beta, anak-anak jaman sekarang itu kritis. Dan karena kemudahan akses sosial media, mereka juga memiliki jiwa yang rapuh.
Hal ini memang tidak bisa dinormalisasi, karena kerapuhan jiwa mereka adalah didikan kita juga, sebenarnya yaa..
Namun, ini beberapa yang kurasakan ketika kata-kata yang kurang nyaman itu datangnya dari keluarga atau orang yang dekat dengan kita. Hal itu akan berdampak negatif, seperti :
• Anak akan merasa tidak berharga
• Tidak dicintai
• Tidak mampu/ less motivation
• Sedih
• Marah
• Frustrasi
Jika ini terjadi terus-menerus, maka bisa menyebabkan masalah kesehatan mental, seperti:
• Depresi
• Kecemasan
• Stres
• Harga diri rendah
• Kesulitan dalam membentuk hubungan yang sehat dengan orang lain
Bahaya gasii..?
Tapi memang kita kan gak bisa menyenangkan bagi semua orang yaa... Hanya mungkin bisa di cek ke diri sendiri dulu.. "Apakah ketika kalimat ini dikatakan membuat saya sakit hati?"
Tapi memang kita kan gak bisa menyenangkan bagi semua orang yaa... Hanya mungkin bisa di cek ke diri sendiri dulu.. "Apakah ketika kalimat ini dikatakan membuat saya sakit hati?"
Kalau iya, lebih baik dihindari.
Beberapa Tips Mengatasi Dampak Negatif Perkataan Tidak Enak dari Orang Terdekat:
1. Jangan diinternalisasi: Coba untuk tidak mengambil perkataan orang lain secara personal dan tidak membuat kita merasa tidak berharga.
2. Cari dukungan: Berbicara dengan teman, keluarga, atau profesional kesehatan mental tentang apa yang kita rasakan.
3. Praktikkan self-care: Lakukan hal-hal yang membuat kita merasa nyaman dan bahagia, seperti olahraga, meditasi, atau hobi.
4. Tetapkan batasan: Jika perlu, tetapkan batasan dengan orang terdekat yang mengatakan hal-hal tidak enak.
5. Fokus pada kebaikan: Coba untuk fokus pada kebaikan dan kelebihan kita, bukan pada perkataan tidak enak orang lain.
Ingat!
Kita tidak bisa mengontrol apa yang orang lain katakan, tapi kita bisa mengontrol bagaimana kita meresponsnya.
Kesimpulan
Buatku, aku hapal betul dengan diriku sendiri yang in syaa Allah mudah melupakan dan menghapus "kenangan buruk" bagiku. Sepertinya, badan dan otakku menganut "Coping Mechanism" ━ yang
secara garis besar artinya adalah strategi koping dengan fokus terhadap masalah dengan cara mengatasi sumber stres secara langsung untuk menghilangkan penyebabnya.
Yang aku lakukan kemarin adalah mencoba mencari akar permasalahan dan semoga Allahu ta'ala meridloi cara yang aku ambil dengan memaklumi bahwa setiap manusia memiliki background keluarga dan masa lalu yang beraneka ragam.
Dengan memaklumi bahwa "sepatu" yang digunakan tidak pernah sama inilah, aku jadi memaklumi dan memahami bahwa bisa jadi, luka masa lalu beliau lebih berat dan struggling dibandingkan denganku.
Dan aku juga jujur, sering melibatkan pasangan dan anak pertama untuk diskusi ketika masalah yang aku alami ini sangat mengganggu pikiranku.
Aku berharap, dengan hanya didengarkan ((alhamdulillah kalau sama berpihak dan mendukungku)) ━ itu akan menjadi sumber kekuatan yang tak ternilai.
Kalau sahabat lendyagasshi tertarik dengan terapis energetik, bisa klik link tersebut yaa..
Akan ada berbagai tips ketika kamu mengalami sedih, marah bahkan terluka dengan suatu keadaan yang gak bisa kamu hindari.
Akan ada berbagai tips ketika kamu mengalami sedih, marah bahkan terluka dengan suatu keadaan yang gak bisa kamu hindari.
Key, mungkin yang bisa aku bilang cuma...
"Ujian dalam hidup, ketika dihadapi dengan kesabaran dan prasangka baik (husnudzan) kepada Allah, bukan sekedar cobaan biasa, melainkan tanda kasih sayang Allah untuk menaikkan derajat seseorang dan menghapuskan dosa-dosanya."
Amiin allahumma amiin.
Eid Mubarak!
Semoga kemenangan ini membawa keberkahan dan kebahagiaan buat kita semua.
Salam hangat,


Peluk Teh Lendy...Semoga sudah lebih baik situasi dan konsisinya saat ini
ReplyDeleteArtikel ini mengingatkanku sebagai ibu untuk menjaga lisan terutama pada anak...kadang bisa jadi aku nyelekit juga bicaranya hiks...
Belakangan aku baru lega saat anak2 secara langsung bilang menganggapku enggak pernah bikin mereka sakit ati. Sebelumnya, asli khawatir betul
ReplyDeleteJadi semacam pengingat diri apakah aku sudah bisa membahagiakan orang tua?? kalo merepotkan sepertinya sampai sekarang aku masih merepotkan karena bersama mereka aku selalu menjadi seorang anak yang inginnya selalu dilayani dan diperhatikan padahal mungkin saat ini posisinya sudah berubah aku yg harusnya melayani beliau...Semoga kita semua bisa menjaga lisan kita asehingga tidak menyakiti orang2 di sekitar kita ya tehhh
ReplyDeleteSetuju banget. Kita ga bisa ngatur mulut dan hati orang, tapi kita bisa mengatur mana yang harus dan ga harus kita dengar.
ReplyDeleteAku baperan parah sejak .. nikah 🙃 jadi ga tau kenapa, kondisi yang mengubah hormon secara total ini, bikin aku malah jadi sempat benci ke diri sendiri, menyalahkan ortu, mertua dan ... aku sempat benci sama pak suami dalam tempo lama!
ReplyDeleteDan hebatnya Allah SWT memberikan permata hati yang bikin aku banyak belajar, dan sekarang seringnya malah bersyukur sudah bisa "naik kelas" karena pelajaran² hidup yang sungguh bikin aku berubah 180 derajat!
Baca ini aku jadi flashback, dan jadi reminder untuk melihat bahwa "Memang ukuran sepatu kita itu tidak pernah ada yang sama." thanks for reminder ya Leeen. Daebak!
Pernah baca semacam quote gitu, Rasa sakit hati itu ibaran paku yang menancam di kayu. Walaupun dicabut, masih ada bekasnya...
ReplyDeleteDuh...kebayang yah...bisa keinget terus. Semoga Teh Lendy engga ya. Sudah lebih legowo menerima kata-kata yang bikin engga enak.
Semangat mbak Lendy.. Beda orang beda sepatu.. Itulah kita harus. Lihat dari berbagai. sisi. Emang. Sih pas awal tuh kadang rasanya sedih, kaget, marah campur. Tapi insyaallah Alloh. Kasih. Petu juk untuk memahami maksudnha
ReplyDeleteAku sampai sekarang teh merasakan itu
ReplyDeleteMakanya aku tidak lebih senang ketika akan mudik ke Makassar kecuali mengunjung rumah masa depan bapak dan keluarga bahkan prefer bertemu teman sekolah dan kuliah ketika mudik
Sebab aku khawatir anak anakku juga mendengar omongan kurang nyaman dari neneknya karena sampe sekarang masih sering denger celetukan mama yang nyelekit di hatiku
Memang saat kita bertemu keluarga yang setahun sekali atau jarang ketemu harus bisa mengendalikan diri ya Teh. Saya pun begitu, lebih menjaga lisan dan berbicara seperlunya saja, terkadang malah kalau rame bisa menimbulkan salah paham. Apalagi momentnya kan silaturrahmi, jadi lebih berhati-hati aja. Semangat Teh.
ReplyDeleteJadi ingat tulisan seorang ustaz Abu Fairuz : "Berpura-pura bodoh dan berlapang dada adalah seni menikmati hidup.. Benar benar real banget mb lenddy
ReplyDeleteAku pernah mengalami ini, tp saat masih sekolah dulu. Ada perkataan orangtua yg jujur menyakiti hati. Sampai skr msh ingat. Cuma bersyukurnya, hubungan kami udh jauuuuuh lebih baik.
ReplyDeleteDari situ aku juga belajar mba, untuk ga kluarin Kata2 nyakitin ke anak. Ga bisa 100% berhasil, apalagi aku emosian banget. Tapi ketika sadar, dan menyesal udah ngucapin yg ga bagus, aku berusaha minta maaf ke anak.
Untung ya anak2 tipe yg cepat melupakan, semogaaa ya. Soalnya begitu mood maminya udah bagus lagi, mereka pun kayak ga ada kejadian apa2 barusan 😅.
Semoga sebagai orangtua kita bisa menahan diri untuk ga mengeluarkan Kata2 menyakiti yaaa..kalaupun sedang marah, aku memilih untuk menjauh dulu, sampai emosi reda. Jangan sampe menyesal sudah mengucapkan Kata2 itu
Di lingkungan saya ada beberapa orang yang perkataanya... beuh mantap sekali, sehingga kalo lawan bicaranya baperan pasti udah langsung meledak tuh... nah disini anehnya ketika orang tersebut kita kick balik atau kita usilin, kita becandain malah marah - marah dan gak mau nerima kenyataan.
ReplyDeleteDari situlah bener banget memang lebih baik kita yang mengontrol diri sendiri dari pada mengontrol orang lain, atau mengubah oranglain agar sesuai dangan keinginan kita.
kadang memang orang secara tidak sadar sudah melukai kita dengan omongannya. Bahkan kadang bukan sebuah nasihat panjang atau cibiran melainkan dari pertanyaan yang ternyata bersifat sensitif pada kita.
ReplyDeleteDulu aku juga sering bersikap baperan mbak. Baperrrr banget malah. Kalo ada hal-hal atau ucapan yang gak menyenangkan hatiku, pastilah aku samperi orangnya dan kuhantemi. makanya dulu mah sering banget ribut sana-sini.
ReplyDeleteTapi seiring bertambah usia, aku udah lebih banyak bersabar ya. Mencoba memaknai dan merespon perkataan yang menyakitkan dengan respon yang lebih baik. Pertama biasanya ya kusabar-sabari dulu. Kalo dicoba diikhlaskan gabisa, yaudah langsung jaga jarak. Untungnya orangtua sama mertuaku aman ya, ga pernah keluar kata yang nyakitin.
Aku pun ke anakku selalu berhati-hati. Jagaaaa banget rasanya ni mulut, jangan sampe keluar kata-kata gak pantas pas lagi marah ke Anak.
Tontonan dracin dramanya absolut
Maraton sehari eh langsung tamat
Kadang mulut ini licin macem belut
Tak sadar buat orang dendam kesumat
Kita kdng suka dituntut menjaga lisan terhadap people2 in the world pada kenyataan nya malah kita yg kena bhaya lisan mereka hehe aku coba pahami kondisi ini dan suka sharing sama suami
ReplyDeleteKarena dulu aku diskusi sama ortu hmm ku gak dpt jawaban malah ku yv disalahi haha
Suami ku bilang ingat apa yg terjadi dikehidupan kita itu adalah atas kehendak Allah, pemilik seluruh kehidupan
Jika ada yg menyakiti atau berbicara yidak enak sama kita ada maknanya Itu bentuk teguran dan Allah ingin kita menyadarinya hmm sampai seknrg ku berusaha memahami itu teh
Sepakat Teh, kita ga bisa mengatur pikiran dan tingkah laku orang lain, yang kita bisa mengatur pikiran, perasaan dan tingkah laku diri kita sendiri, kadang perlu untuk melipir sejenak jika sesuatu itu mengganggu tidak harus berhadapan langsung yang hanya akan membuat luka yang ada semakin dalam dan sakit
ReplyDeleteSebenarnya, menurut saya masih banyak orang tua yang berbuat dzalim kepada anaknya. Terutama lewat lisan. orang rua kalau marah pada anak, maka semua bisa diungkit, sampai masalah anak yang tak bisa membalas air susu. sedih memang. Padahal anak juga sudah berusaha. dan dalam setiap konflik antar orang tua dan anak, orang tua selalu merasa benar. padahal anak juga tak selamanya salah. Tapi dari berbagai ceramah yang saya dengar. Anak harus memaafkan orang tua. Yang kita benci bukan orangnya, tapi sifatnya.
ReplyDeleteMembatasi diri dari hal-hal yang malah akan membuat diri tersakiti, nggak apa-apa kok.
ReplyDeleteSebab pastinya diri kita juga kan yang merasakan pedihnya. Apalagi kalau udah mendalam, sudah jangan sampai deh kena mental.
Semangat selalu Teh Lend. Sabarlah, dan ikhlaskan.
Jangan lupa untuk tetap bahagia
Selamat Lebaran mbak... Semoga saat ini sudah baikan ya. Memang perkataan orang, apalagi orang terdekat itu kadang jadi pikiran. Aku tuh dulu nggak begitu mikirin lha kalau ada omongan jelek dari orang, tapi akhir-akhirnya ini malah lebih sensitif gitu. Walaupun nggak aku pikirin berlarut-larut juga sih. Asal orangnya nggak marah dan masih berhubungan baik sama aku, aku nggak apa-apa. Tapi kalau orangnya marah ke aku? Nah itu yang bikinpanik dan nggak bisa tenang.
ReplyDeletePeluk virtual Mbak Lendy. Semoga saat ini hati dan perasaan sudah sembuh dan baik-baik ya 😇🙏
ReplyDeleteUjian banget memang ketika mendapati kalimat atau kata kurang enak dari orangtua. Bisa berhari-hari bahkan berminggu-minggu kepikiran serta sedih.
Untungnya, Alhamdulillah ada support system ya, keluarga inti. Suami dan anak-anak. Semoga segala ujian dan cobaan bisa dilalui dengan baik, penuh kesadaran, serta berharap ridho Allah SWT.
Terima kasih sudah berbagi tulisan yang sangat reflektif sekali. Semoga Allah mudahkan segala urusan dan lancarkan setiap kebaikan, aamiin.
Peluk jauh ya, Teh. Aku juga bisa merasakannya. Karena akupun pernah merasa sakit atas perkataan orang tua. Bahkan sampai saat INI rasanya, aku belum bisa melupakan rasa sakitnya, Teh
ReplyDeleteaku ngerasa artikel ini bukan sekadar bahas menjaga lisan secara teori. Tapi lebih ke realita yang sering banget kita alami terutama dari orang terdekat. Mayan bikin agak nyesek.
ReplyDeleteTerketuk dgn kalimat akhir tulisannya. Dan emg bener sih, aku selalu husnudzon aja ama Allah. Segala yg kualami saat ini dlm hdpku, aku anggap sebagai ujian yg membawa kematangan psikis hingga sosial.
ReplyDeleteApalagi 4 bulan terakhir ini disibukkan dgn merawat ibu yg lagi sakit. Jd otomatis pekerjaanku agak tertunda. Dan imbasnya, penghasilanku jg menurun drastis. Tp dgn doa beliau (ibunda), aku yakin selalu ada saja rezeki tak diduga. Dan buktinya, aku masih hidup dan sehat hingga skrg dan bs merawat beliau dgn baik.
Setting Boundaries serta bersikap "bodoamaaatt dah"
ReplyDeleteDua hal yg keknya perlu jadi prinsip!
Karena banyak peluang orang² meluncurkan kalimat yg bikin sakit atiii. Siapapun ituuu
Semangaattt terus yakk.
Ucapan yang terlihat biasa kayak meremehkan, membandingkan, atau menyalahkan. bisa pelan-pelan menggerus kesehatan mental seseorang. Apalagi kalau itu terjadi terus-menerus, efeknya bisa bikin orang jadi overthinking, kehilangan percaya diri, bahkan menarik diri dari lingkungan. Hal ini memang sejalan dengan kondisi kesehatan mental yang bisa terganggu karena tekanan emosional dan pengalaman negatif dari lingkungan sekitar
ReplyDeleteKeluarga kecilku bukan tipe yang mewajibkan mudik lebaran juga mbak Len. Aku nggak terlalu suka sama suasana mudiknya, lebih suka sama perjalanannya, nah karena mau perjalanan nyaman dan nggak banyak orang, seringnya mudik saat bukan lebaran Idulfitri.
ReplyDeleteKetika udah dewasa kek sekarang emang aku juga merasakan sih ada crash2nya sama ortu, juga mungkin ketidakcocokan sama saudara. Emang bukan yang problem besar banget, tetapi ya sudahlah kalau emang pas mudik fokes ke ortu, catch up kabar seperlunya aja.
sekarang malah kulihat banyak banget yang menghindari silaturahmi saat mudik karena ya menghindari rasa tersinggung akibat omongan orang di sekitar ya. kayak pertanyaan kapan nikah sebagainya yang membuat nggak nyaman
ReplyDeleteOrang yang paling mudah menyakiti adalah orang terdekat, karena merasa tinggat toleransi paling tinggi. Karena merasa keluarga dan terdekat akan menerima apa yang dilakukan.
ReplyDeleteSayangnya, itu justru membuka luka yang justru menjadi akar dikemudian hari. Dan inilah menjadi PR besar dalam pertumbuhan kehidupan saat ini, ditengah kerapuhan jiwa yang semakin tinggi, perlu untuk memperkuat cinta kasih yang kuat.
Sifat utama yang menjadi akar baik untuk kesehatan mental tetap kuat dan segar.
Buah simalakama memang teh kalau dalam suasana lebaran berkumpul seluruh keluarga. Terkadang sesuatu yang menyenangkan yang terucap tapi tidak jarang sesuatu yang menyakiti hati. Meskipun kalau saya melihatnya tidak bertujuan menyakiti secara langsung, tapi bagi kita itu hal sensitif. Saya tidak suka banget kalau pas ketemu eh malah body shamming,,,,ketemu jarang, ngobrol juga gak pernah,,,eh pas ketemu komen menyebalkan hehe...bawa santai saja teh,,,insya Allah jadi lebih relax ke kitanya.
ReplyDeleteKadang kita lupa kalau luka paling dalam justru sering datang dari lisan orang terdekat yang seharusnya jadi tempat pulang paling aman. Memang benar kata tulisan ini, kesehatan mental itu taruhannya besar banget kalau setiap hari harus menelan kritik tajam atau kata-kata yang menjatuhkan.
ReplyDeleteSetuju banget kalau kita perlu lebih bijak dalam bertutur kata, karena "lidah lebih tajam dari pedang" itu nyata dampaknya bagi psikologis seseorang. Terima kasih sudah mengingatkan pentingnya menjaga lisan demi kesehatan mental orang-orang tersayang di sekitar kita.